Salam dari Taman Bacaan Saulus

Salam dari Taman Bacaan Saulus
Pandangan

Jumat, 28 April 2017

BAB 08 KANE DAN ABEL. KAIN mulai UNJUK GIGI

OH YA, Mengingatkan saja. Judul cerita ini tertulis Kane dan Abel. Dalam keseharian kita di Indonesia kayaknya lebih baik diterjemahkan sebagai KAIN dan HABIL, dua anak ADAM yang salah satunya dibunuh oleh saudaranya.

Kali ini kita lihat perjalanan hidup Si Kain itu ya, selang seling dengan si Habil... yuk kita ikuti.

BAB 8

William kembali ke Sekolah Sayre di bulan September. Lebih mapan dan terbuka untuk bergaul. Ia langsung mencari persaingan di antara mereka yang lebih tua daripadanya. Apa yang dipelajarinya tak pernah memuaskannya, kecuali bila ia menonjol di dalam-nya. Dan teman-teman sebayanya hampir selalu terlalu lemah untuk menjadi saingannya. William mulai menyadari bahwa kebanyakan dari mereka dengan latar belakang berprivilese seperti keluarganya, tak mempunyai insentif satu pun untuk bersaing. Dan persaingan yang lebih ketat terdapat dari pihak anak-anak yang dibanding dengan dia sendiri relatif tidak begitu mampu.

Pada tahun 1915 "wabah" mengumpulkan merek korek api melanda Sekolah Sayre. William mengamati gerakan keranjingan ini penuh perhatian seminggu lamanya. Tapi ia tak ikut. Dalam waktu beberapa hari merek-merek biasa mulai diperjual-belikan seharga 10 sen. Sedang merek-merek langka bisa mencapai harga 50 sen. William mempertimbangkan keadaan itu dan memutuskan untuk menjadi agen dan bukan menjadi kolektor.

Hari Sabtu berikutnya ia pergi ke toko Leavitt dan Pierce, salah seorang pedagang tembakau terbesar di Boston. Dan menghabiskan waklu siang hari itu untuk mencatat semua nama pabrik korek api besar di seluruh dunia. Secara khusus ia mencatat bangsa-bangsa yang tidak sedang berperang. Ia menanamkan modal $ 5 untuk membeli kertas tulis, amplop, dan prangko. Dan ia menulis kepada direktur atau presiden direktur semua perusahaan yang telah ia daftar. Suratnya sederhana. Walau telah ia tulis kembali 7 kali.

Tuan Direktur yang terhormat,

Saya seorang kolektor merek-merek korek api yang penuh dedikasi. Tapi saya tak mampu membeli semua korek api. Uang saku saya hanya satu dollar seminggu. Tapi saya menyertakan prangko 3 sen untuk ongkos kirim guna membuktikan bahwa saya memang serius dalam hobi saya ini. Maaf saya mengganggu tuan pribadi. Tapi nama tuan adalah satu-satunya nama yang dapat saya kirimi surat ini.

Hormat saya,
William Kane (usia 9 tahun)
P.S. Merek korek api tuan adalah salah satu merek favorit saya.

Dalam waktu 3 minggu William menerima 55% jawaban. Itu menghasilkan 78 buah merek berbeda-beda. Hampir semua koresponden juga mengembalikan prangko 3 sen itu. Hal mana telah diantisipasi William sebelumnya.

Selama 7 hari berikutnya William mendirikan bursa merek di sekolah. Selalu mencek apa yang dapat ia jual. Bahkan sebelum ia membelinya. Ia mengetahui bahwa beberapa anak tak berminat terhadap merek korek api yang langka. Tapi hanya meminati perwajahannya. Dengan mereka ini William tukar-menukar merek yang menyebabkan ia memperoleh merek-merek langka. Merek-merek inilah yang sangat menguntungkan bila dijual kepada para kolektor yang lebih dapat membeda-bedakan. Setelah jual-beli selama 2 minggu ia merasa pasaran sudah memuncak. Dan jika ia tak hati-hati,dengan liburan yang sudah mendekat, minat bisa mulai menghilang. Dengan publisitas yang gencar dalam bentuk selebaran tercetak Yang menelan biaya setengah sen per lembar, dipasang di bangku setiap murid, William mengumumkan akan mengadakan lelangan seluruh merek korek api-nya. Semuanya berjumlah 211 buah. Lelang diadakan di ruang cuci selama makan siang. Dan dihadiri lebih banyak murid-murid daripada pertandingan hoki sekolah.

Hasilnya William menerima uang masuk kotor $57.32. Dengan untung bersih $51.32 atas investasi semula. William memasukkan $25.00 deposito di bank dengan bunga 2.5%.Ia membeli sebuah kamera seharga $10.00. Memberi dana $5 kepada Persatuan Orang-orang Muda Kristen yang telah memperluas kegiatan mereka dengan menolong kaum imigran. Membelikan bunga ibunya. Dan mengantongi beberapa dollar sisanya. Bursa merek korek api ambruk malah sebelum akhir triwulan. Itu menjadi salah satu dari banyak kesempatan di mana William lolos ketikasedang berada di puncak pasaran. Kedua nenek merasa bangga ketika diberitahu secara rinci. Itu mirip cara suami mereka dahulu meraih harta kekayaar dalam suasana panik tahun 1873.

Ketika liburan tiba, William tak dapat menolak godaan untuk mengusahakan apakah mungkin memperoleh keuntungan lebih dari 2.5% atas investasinya di tabungan bank. Selama 3 bulan berikutnya, lagi-lagi melalui nenek Kane, ia menginvestasikan uang dalam saham yang sangat dianjurkan oleh The Wall Street Journal. Selama triwulan berikutnya di sekolah ia kehilangan lebih dari setengah uangnya yang ia peroleh melalui merek korek api. Itu adalah kali satu-satunya dalam hidupnya di mana ia hanya mengandalkan kepakaran The Wall Street Journal atau mengandalkan informasi yang dapat diperoleh di setiap sudut jalan.

Karena marah kecolongan $20 lebih, William memutuskan untuk merebutnya kembali selama liburan Paskah. Ia memilih pesta serta pertemuan-pertemuan mana yang menurut ibunya harus dihadirinya. Dan hasilnya tinggal ada 14 hari lagi yang bebas. Waktunya pas untuk usaha baru. Ia menjual semua sisa saham The Wall Street Jourual. Dan ia hanya menerima $12 bersih. Dengan uang ini ia membeli kayu, 2 roda, as serta tali. Semuanya seharga $5 setelah diadakan tawar-menawar. Lalu ia mengenakan topi dan pakaian yang telah kesempitan. Dan pergi menuju stasiun kereta api. Ia berdiri di dekat pintu keluar. Nampak sangat lapar dan letih. Ia memberitahu para pelancong yang dipilihnya bahwa hotel-hotel utama di Boston itu dekat dengan setasiun. Maka tak usah naik taksi atau bendi yang kadang-kadang masih ada. Sebab ia, William, dapat mengangkut bagasi dengan keretanya dengan bayaran 20% dari ongkos taksi. Dan gerak jalan itu menyehatkan mereka. Demikian tambahnya. Dengan bekerja 6 jam sehari ia tahu dapat memperoleh sekitar $4.

Lima hari sebelum permulaan triwulan baru, ia telah mengembalikan apa yang telah hilang semula dan bahkan menambah untung $10. Kemudian ia menghadapi masalah. Para sopir taksi mulai jengkel dengannya. William menandaskan bahwa ia akan pension pada usia 9 tahun, jika setiap sopir memberinya 50 sen untuk menutup biaya pembuatan kereta angkutnya. Mereka setuju. Dan William menerima $ 8.50 lagi. Ketika pulang ke Beacon Hill, William menjual keretanya seharga $ 2 kepada teman sekolah dua kelas di atasnya. Sambil berjanji ia tidak akan kembali mengerjakannya lagi. Temannya itu segera mengetahui bahwa para sopir telah menunggunya. Apa lagi pada hari-hari berikutnya sisa minggu itu selalu turun hujan.

Pada hari ia kembali ke sekolah, William kembali mendepositokan uangnya di bank dengan bunga 2,5%. Selama tahun berikutnya keputusan itu tak membuatnya cemas sebab ia melihat tabungannya naik dengan mantap. Tenggelamnya kapal Lusitania di bulan Mei 1915 dan pernyataan perang Wilson melawan Jerman di bulan April 1917 tak melibatkan William. Tak ada suatu pun atau seorang pun yang dapat mengalahkan Amerika. Demikianlah ia menegaskan kepada ibunya. William bahkan menginves-tasikan $10 dalam Obligasi Kemerdekaan untuk mendukung penilaiannya.

Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-11 kolom kredit dalam buku kas William menunjukkan keuntungan $ 412. Ia telah menghadiahkan sebuah vulpen kepada ibunya. Dan dua orang neneknya dihadiahinya bros dari toko emas setempat. Vulpen itu sebuah Parker. Dan bros itu tiba di rumah neneknya dalam kemasan Shreve, Crump dan Low yang ia temukan setelah lama mencari-cari kotak-kotak bekas dibelakang toko terkenal tersebut. Demi adilnya perlu dijelaskan bahwa William tidak hendak menipu neneknya. Tapi ia telah belajar dari pengalaman dengan merek korek api bahwa kemasan yang bagus bisa melariskan barang dagangan. Kedua nenek itu melihat bahwa bros itu tak memiliki logo Shreve, Crump dan Low. Tapi mereka mengenakannya juga dengan bangga.

Mereka berdua tetap mengikuti setiap gerakan William. Dan mereka telah memutuskan supaya William di bulan September yang akan datang meneruskan ke kelas satu Sekolah Menengah St.Paul, di Concord, New Hampshire sebagaimana telah diren-canakan. Untunglah anak itu tahu membalas budi dengan memperoleh beasiswa karena unggul di bidang matematika. Dengan demikian mengadakan penghematan sekitar $300 setahun bagi keluarga. William menerima beasiswa. Dan kedua nenek itu mengembalikan uangnya bagi "anak yang kurang mampu". Demikian ungkapan mereka. Anne tak suka memikan William harus meninggalkannya masuk sekolah asrama. Tapi nenek berdua mendesak. Dan yang lebih penting lagi Anne tahu bahwa itu yang dikehendaki Richard. Ia menjahitkan label nama William. Menandai sepatunya. Memeriksa pakaian William. Dan akhirnya mengemasi kopornya. Bantuan para pelayan ditolaknya. Ketika tiba saat William harus berangkat, ibunya menanyakan berapa uang saku di muka yang dibutuhkannya sebelum permulaan triwulan.

'Tak usah,' jawabnya tanpa keterangan lebih lanjut

William mencium pipi ibunya. Ia tak dapat memperkirakan betapa ibunya akan merindukannya. Ia berangkat menapak jalan. Mengenakan pantalon pertamanya. Rambutnya dipangkas sangat pendek. Menjinjing kopor kecil menuju Roberts, pak sopir. Ia naik ke dalam Rolls-Royce di bagian belakang. Dan mobil itu meluncur membawanya pergi. Ia tidak menengok ke belakang. Ibunya terus melambai-lambaikan tangan. Kemudian menangis. William juga ingin menangis. Tapi ia tahu ayahnya tak akan menyetujuinya.

Hal pertama yang nampak aneh bagi William Kane mengenai sekolah menengahnya ini ialah bahwa anak-anak itu tak ada seorang pun yang mempedulikan William siapa dia. Tak ada lagi pandangan kagum. Tak ada lagi pengakuan kehadirannya secara diam-diam. Salah seorang anak yang lebih tua kebetulan menanyakan namanya. Dan yang lebih buruk lagi ketika diberitahu, tak nampak terkesan. Bahkanada beberapa yang memanggilnya Bill. Langsung dibetulkannya dengan penjelasan bahwa tak seorangpun menyebut ayahnya dengan Dick.

Wilayah William yang baru ialah sebuah kamar kecil dengan rak-rak buku dari kayu. Dua buah meja. Dua kursi. Dua ranjang. Dan sebuah bangku duduk dari kulit yang telah lusuh. Kursi, meja dan ranjang lain ditempati oleh seorang anak dari New york bernama Matthew Lester. Ayah Matthew Lester adalah direktur bank Lester di New york, sebuah bank keluarga lain yang kuno.

William lekas terbiasa dengan rutin sekolah. Bangun pukul 7.30. Cuci muka. Sarapan di ruang makan utama dengan seluruh sekolah. Dua ratus duapuluh anak "melahap" telur, daging, dan bubur. Setelah sarapan, kapela. Sebelum makan siang tiga kali pela-jaran @ 50 menit. Dan sesudah makan siang dua kali pelajaran lagi. Diikuti dengan pelajaran musik. Pelajaran  musik dibenci William karena ia tak dapat menyanyikan satu not pun dengan nada yang tepat. Dan ia bahkan tak berminat untuk memainkan instrumen apa pun. Sepak bola di musim gugur. Hoki dan squash di musim dingin. Dan mendayung serta tenis di musim semi. Maka tinggal sedikit waktu senggang yang tersisa. Sebagai penuntut ilmu matematika ia memperoleh bimbingan pelajaran khusus di bidang matematika tiga kali seminggu dari guru privatnya G. Raglan, yang dikenal oleh anak-anak dengan nama Grumpy.

Selama tahun pertama William membuktikan dirinya pantas menerima beasiswa. Selalu di antara anak-anak di peringkat atas dalam hampir semua mata pelajaran. Dan dalam kelasnya sendiri nomor wahid dalam matematika. Hanya teman barunya Matthew Lester merupakan saingan riel baginya. Dan itu hampir pasti karena mereka berdua berbagi kamar. Sementara mengukuhkan diri di bidang akademis, William juga memperoleh reputasi sebagai ahli keuangan. Walau investasi pertamanya dalam pasar ternyata runyam, ia tak meninggalkan keyakinannya bahwa memperoleh uang cukup banyak dan mendapatkan modal cukup besar di bursa saham adalah hakiki. Ia selalu waspada memperhatikan The Wall Street Journal, laporan-laporan perusahaan. Dan selagi umur 12 tahun mulai mengadakan eksperimen dengan map investasi bayangan. Ia mencatat setiap pembelian dan penjualan bayangannya, yang baik maupun yang tidak begitu baik dalam buku kas yang baru diperolehnya dengan warna berbeda-beda. Lalu ia membandingkan pekerjaannya itu dengan sisa pasar pada akhir setiap bulan. Ia tidak menggubris saham-saham yang didaftar di atas. Ia malah memusatkan perhatian terhadap perusahaan-perusahaan yang lebih suram. Beberapa di antaranya hanya mengadakan transaksi di counter, sehingga tak mungkin membeli saham mereka lebih banyak lagi pada satu saat yang bersamaan. William mengharapkan 4 hal dari investasinya ini: penerimaan berganda yang rendah, garis pertumbuhan yang tinggi, dengan dukungan aset yang kuat, dan penampilan perdagangan yang positif. Ia menemukan sedikit saham yang memenuhi semua kaidah ketat ini. Tapi bila ditemukannya, hampir semuanya pasti menunjukkan keuntungan.

Pada saat ia dapat membuktikan bahwa secara teratur ia mengalahkan Indeks Dow Jones dengan rencana investasi bayangannya, William tahu ia lagi-lagi siap menginvestasikan uangnya sendiri. Ia mulai dengan $100. Dan tak pernah berhenti mempercanggih metodanya. Ia selalu mengikuti keuntungan dan memotong kerugian. Begitu saham berlipatganda ia menjual setengah miliknya dan membiarkan sete-ngahnya tetap utuh. Lalu memperdagangkan saham yang masih dimilikinya sebagai bonus. Beberapa penemuan awalnya seperti Eastman Kodak dan I.B.M. melaju menjadi pimpinan nasional. Ia juga mendukung Sears, sebuah perusahaan besar pemesanan melalui pos. Sebab ia yakin bahwa itu merupakan kecenderungan yang semakin lama semakin pesat.

Menjelang akhir tahun pertamanya, ia menjadi konsultan dari setengahnya staf sekolah dan beberapa orang-tua. William Kane senang di sekolah.

***

Anne Kane sedih dan kesepian di rumah karena William pergi sekolah di St. Paul. Dengan lingkungan keluarga yang terdiri dari ia sendiri dan dua orang nenek itu yang kini telah mendekati usia senja. Ia sangat sadar bahwa dirinya baru berusia 30 tahun lebih dan bahwa kecantikan serta kelembutannya telah menghilang tanpa meninggalkan ganti. Ia mulai menyambung kembali benang-benang persahabatanya yang terputus karena kematian Richard. Ia berdabat kembali dengan beberapa sahabat lamanya.

"John dan Milly Preston ibu emban baptis William, yang dikenalnya sepanjang hidupnya. Mereka mulai mengundangnya untuk makan bersama dan mengunjungi teater. Selalu mengikutsertakan seseorang pria khusus. Untuk mencoba mencari pasangan bagi Anne. Pilihan keluarga Preston kebanyakan selalu kasar. Dan biasanya Anne tertawa sendiri atas usaha mereka menjadi Mak Comblang. Tapi suatu hari tahun 1919, tepat setelah William kembali ke sekolah mengikuti triwulan musim dingin, Anne diundang lagi untuk makan bersama berempat. Milly mengakui belum pernah berjumpa dengan tamunya itu. Henry Osborne. Hanya menurut perkiraan mereka ia kuliah di Harvard bersamaan waktu dengan masa kuliah John.

'Sebenarnya " demikian pengakuan Milly melalui telepon "John tak tahu banyak tentang dia, sayang, hanya bahwa dia cukup tampan. "

Mengenai penilaian itu, pendapat John dibenarkan oleh Anne dan Milly. Henry Osborne sedang berdiang di perapian ketika Anne datang. Dan ia segera bangkit untuk mempersilakan Milly memperkenalkan mereka. Sebuah sosok setinggi 1.80 meter lebih, dengan mata berwarna gelap, hampir-hampir hitam, dan rambut hitam lurus. Ia cukup jangkung dan atletis. Anne merasakan sekilas kesenangan karena malam itu di-pasangkan dengan orang yang penuh energi dan bertenaga muda ini. Sedang Milly harus puas dengan seorang suami yang sudah mendekati usia setengah baya bila dibandingkan dengan rekan sekuliahnya yang ganteng ini. Lengan Henry Osbome diemban. Dan perban itu hampir menutupi dasi Harvardnya seluruhnya.

"Luka dari medan perang?" Anne bertanyapenuh simpati.

“Bukan. Aku terjatuh dari tangga seminggu setelah aku kembali dari front barat." katanya sambil tertawa.

Kali itu adalah suatu santap bersama yang akhir-akhir ini sudah langka bagi Anne. Pada kesempatan demikian itu waktu berjalan sangat cepat, namun menyenangkan dan tak perlu dipertanggungjawabkan. Henry Osborne menjawab semua pertanyaan Anne yang menyelidik. Setamat dari Harvard ia bekerja dalam manajemen real estate sebuah perusahaan di Chicago, kota kelahirannya. Tetapi ketika pecah perang ia tak dapat menahan diri untuk diri untuk mencoba orang-orang Jerman. Ia punya segudang cerita hebat tentang Eropa dan kehidupannya di sana sebagai seorang letnan muda melestarikan kehormatan Amerika di sungai Marne. Milly dan John tak pernah melihat Anne tertawa begitu banyak sejak kematian Richard. Dan mereka saling tersenyum penuh pengertian ketika Henry bertanya apakah boleh mengantarkannya pulang.

"Apa yang hendak kaulakukan sekarang sekembalimu ke tanah yang pantas bagi para pahlawan?' tanya Anne ketika Henry Osborne mengendarai mobil Stutz-nya memasuki Charles Street.

"Belum benar-benar mengambil keputusan" jawabnya. "Untung aku punya sedikit uang sendiri sehingga aku tak usah buru-buru melakukan sesuatu. Mungkin memulai perusahaan real estate sendiri disini di Boston. Aku selalu kerasan di kota ini sejak masa studiku di Harvard."

'Jadi tak akan kembali ke Chicago?"

'Tidak. Tak ada yang menarikku ke sana. Orangtuaku keduanya telah meninggal. Dan aku anak tunggal. Maka aku bisa mulai baru di mana pun yang aku pilih. Harus belok di mana?"

'Oh, yang pertama ke kanan" kata Anne.

“Tinggal di Beacon Hill?"

“Ya. Sekitar 125 meter di sisi kanan Chestnut. Rumah merah di sudut Louisburg Square."

Henry Osborne memarkir mobil. Dan menemani Anne ke pintu depan rumahnya. Setelah mengucapkan  'Selamat malam" ia sudah pergi sebelum Anne sempat berterimakasih. Anne memperhatikan mobil Henry meluncur pelan kembali ke Beacon Hill. Ia tahu bahwa ia ingin berjumpa lagi dengannya. Maka ia senang dan tidak terperanjat sepenuhnya, ketika Henry menilponnya pagi-pagi hari berikutnya.

“Orkes Boston Symphony, Mozart dan pahlawan baru yang tampan itu, Mahler, hari Senin berikutnya . Apakah berminat?"

Anne tercengang betapa ia sangat mengharapkan hari Senin itu segera tiba. Nampaknya sudah sedemikian lama ada seseorang pria yang ia anggap simpatik nengejar-ngejarnya. Henry Osborne datang tepat pada waktunya untuk acara bersama itu. Mereka saling berjabatan tangan agak kikuk. Dan Henry menerima minuman Scotch dengan es.

"Senang ya tinggal di l,ouisburg Square. Sungguh beruntung."

"Ya, kukira memang demikian. Aku sebenarnya belum pernah memikirkannya benar. Aku lahir dan dibesarkan di Commonwealth Avenue. Bila aku boleh mengemukakan pendapat kurasa di sini agak kaku"

"Mungkin aku sendiri akan membeli rumah di Hill sini jika aku memutuskan untuk menetap di Boston."

"Tapi tak begitu kerap ditawarkan di pasaran,' kataAnne "mungkin engkau beruntung. Apakah tidak sebaiknya kita berangkat sekarang? Aku tak suka datang terlambat dalam pergelaran orkes. Dan harus menginjak kaki orang lain bila hendak mencapai tempat duduk."

Henry melirik jamnya. "Ya, baiklah. Tak pantas bila tak melihat masuknya dirigen. Tapi tak usah khawatir tentang kaki-kaki orang lain kecuali kakiku. Sebab kita menempati tempat duduk dekat gang."

Alunan musik meriah membuat wajar bila Henry menggandeng tangan Anne ketika menuju ke Ritz. Orang lain satu-satunya yang berbuat demikian sejak Richard meninggal adalah William. Dan itupun setelah diyakinkan benar. Sebab ia menganggap itu kurang jantan. Sekali lagi waktu berlalu dengan cepat bagi Anne: apakah karena makanan enak ataukah karena ditemani Henry? Kali ini ia membuat Anne tertawa dengan cerita-cerita tentang Harvard. Dan membuatnya menangis dengan kenang-kenangan perang. Walaupun Anne sadar bahwa Henry Nampak lebih muda dari dirinya sendiri, namun Henry telah berbuat banyak dalam kehidupannya hingga Anne selalu merasa muda belia dan belum berpengalaman bila ditemaninya. Anne menceriterakan kepada Henry tentang kematian suaminya. Dan menangis lebih keras lagi. Henry menggandeng tangannya. Dan Anne membicarakan putranya dengan rasa bangga dan rasa sayang yang membara.

Henry bilang ia selalu menghendaki anak laki-laki. Henry hampir-hampir tak menyebut Chicago atau kehidupannya sendiri di rumah. Tapi Anne merasa pasti bahwa Henry merindukan keluarganya. Ketika Henry mengantarkannya pulang malam itu, ia masih tinggal sebentar menemani minum. Ketika pergi ia dengan lembut mencium pipi Anne. Anne mengenangkan kembali malam itu detik demi detik hingga akhirnya ia tertidur.

Mereka mengunjungi teater pada hari Selasa. Hari Rabu menjenguk villa musim panas Anne di pantai utara. Hari Kamis mengendarai mobil memasuki daerah pedalaman hingga jauh di Massachussetts yang berselimuti salju. Lalu berbelanja barang -barang antic pada hari Jumat. Dan berpacaran pada hari Sabtu. Setelah hari Minggu mereka jarang berpisah. Milly dan John Preston “sungguh-sungguh senang" bahwa usaha percomblangan mereka ternyata sangat berhasil. Milly berkeliling di Boston untuk bercerita di mana-mana bahwa dialah yang berjasa mempertemukan mereka berdua itu.

Pengumuman tentang pertunangan mereka di musim panas tidak mengherankan siapapun kecuali William. Ia sungguh-sungguh tidak menyukai Henry sejak hari Anne saling memperkenalkan mereka berdua dengan rasa bangga yang memang pada tempatnya. Percakapan mereka berdua berupa pertanyaan-pertanyaan panjang dari pihak Henry, Ia ingin membuktikan menjadi teman William. Dan William menjawab pendek sepatah-sepatah. Menunjukkan bahwa ia tidak mau menjadi temannya. Dan ia tak pernah berubah pendirian. Anne menganggap kebencian putranya itu karena rasa cemburu. Hal mana memang bisa dimengerti. William memang merupakan pusat perhatian Anne sejak Richard meninggal. Apa lagi memang sudah sewajarnya bahwa menurut penilaian William tak ada seorang pun yang bisa menggantikan tempat ayahnya. Anne meyakinkan Henry bahwa setelah beberapa waktu, William akan melu-pakan rasa kebenciannya.

Anne Kane menjadi Ny. Henry Osborne pada bulan Oktober tahun itu di katedral keuskupan St. paul tepat pada saat daun-daun keemasan dan merah mulai luruh. Sembilan bulan lebih sedikit setelah mereka berdua berjumpa. William pura-pura sakit supaya tak usah menghadiri pernikahan itu. Dan tetap tinggal di sekolah. Kedua nenek itu menghadiri pernikahan. Tetapi mereka tak kuasa menyembunyikan ketidak-setujuan mereka terhadap perkawinan kembali Anne. Khususnya dengan seseorang yang nampakjauh lebih muda daripadanya. "Hanya dapat berakhir dengan bencana!" kata nenek Kane.

Hari berikutnya suami-isteri baru itu berpesiar menuju Yunani. Dan baru kembali di Rumah Merah di Beacon Hill pada minggu kedua bulan Desember. Tepat saatnya untuk menyambut William yang pulang berlibur Natalan. William kaget rumahnya sudah di cat dan dihias kembali hingga tak ada lagi jejak ayahnya. Setelah Natal sikap William terhadap ayah tirinya tak menunjukkan tanda melembut. Walau telah ada hadiah sepeda baru (menurut pandangan Henry) atau suapan (menurut pikiran William). Henry Osborne menerima sikap ini dengan pasrah. Tetapi Anne merasa sedih karena suami barunya yang hebat itu.tak cukup berusaha merebut rasa sayang putranya.

William merasa tidak kerasan di rumah yang telah terduduki ini. Dan sepanjang hari kerapkali lama menghilang. Bila Anne menanyakan ke mana ia pergi, tidak ada jawaban. Atau hanya menerima jawaban singkat. Sudah pasti tidak pergi mengunjungi neneknya. Walau kedua nenek itu juga merindukan Willlam. Ketika liburan Natal berakhir, William kelewat senang kembali ke sekolah. Dan Henry tidak sedih melihatnya pergi. Tetapi Anne merasa tak enak menghadapi kedua orang yang terjalin dalam hidupnya itu.

Jumat, 21 April 2017

BAB 07 KANE DAN ABEL. ANAK HARAM ITU ADALAH SEORANG BARON!

ANAK HARAM ITU. TERNYATA PUTRA SANG BARON !!! Namun segera ia ditinggalkan untuk selamanya dan kehilangan kakak yang paling dikasihinya, mati karena perkosaan.

BAB 7

Wladek adalah satu-satunya orang masih hidup yang mengenal baik ruang bawah tanah itu. Di mana ia masih bermain sembunyi-sembunyian bersama Leon. Ia banyak mengalami masa-masa bahagia selagi bebas di kamar-kamar kecil terbuat dari batu itu. Tak risau oleh suatu urusan apa pun. Karena ia tahu ia dapat kembali ke kastil kapan saja ia mau.

Seluruhnya ada 4 ruangan tahanan dengan dua lantai. Dua kamar,besar dan kecil, berada di lantai dasar. Yang kecil berdempetan dengan dinding kastil. Ada kisi-kisi terpasang tinggi di dinding yang menyalurkan cahaya tipis. Turun 5 tangga lagi ada dua kamar batu lagi. Selamanya gelap. Dan hanya ada sedikit udara. Wladek menuntun Baron ke kamar kecil di atas. Di situ Baron tetap duduk di sudut. Diam. Tak bergerak. Tetap menatap ruang. Anak itu lalu menunjuk Florentyna menjadi pembantu pribadi Baron.

Karena Wladek adalah satu-satunya orang yang berani tinggal sekamar dengan Baron, maka para pelayan tak pernah mempersoalkan wewenangnya. Dengan demikian pada usia 9 tahun, ia mengambil-alih tanggungjawab sehari-hari dari para sesama tawanan. Para penghuni baru kamar tahanan itu semula bersikap tenang-tenang, kemudian kaget karena dikurung. Mereka tidak merasakan aneh mengalami situasi yang menyebabkan seorang anak yang berusia 9 tahun mengendalikan kehidupan mereka. Dan di dalam ruangan bawah tanah itu ia menjadi tuan mereka.

Ia membagi pelayan yang berjumlah 24 orang itu menjadi 3 kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 8 orang. Dan di mana mungkin selalu mencoba mempersatukan keluarga. Secara teratur ia memindah-mindahkan mereka dalam sistim giliran ganti-berganti. Delapan jam pertama di ruang atas supaya memperoleh cahaya, meghirup udara, mendapat makanan dan bisa gerak badan. Giliran kedua, dan ini yang paling disukai, bekerja untuk yang menawan mereka di kastil. Dan 8 jam terakhir untuk tidur di ruang bawah tanah bagian bawah. Tak seorang pun kecuali Baron dan Florentyna dapat tahu dengan pasti kapan Wladek tidur. Sebab ia selalu hadir mengawasi para pelayan bila bergerak pindah tempat pada akfiir setiap giliran. Makanan dibagikan setiap 12 jam. Para prajurit memberikan jatah susu kambing, roti hitam, cantel dan kadang-kadang kacang. Sernuanya dibagi menjadi 24 porsi. Dan Baron selalu mendapat 2 porsi tanpa diberitahu.

Bila Wladek telah mengorganisasikan setiap giliran kerja, ia kembali menghampiri Baron di kamar tahanan kecil. Semula ia mengharapkan bimbingan daripadanya. Tapi mata tuannya senantiasa tertancap tetap keras tak goyah seperti juga mata prajurit Jer-man yang ganti-berganti berjaga. Tuan Baron belum pernah berbicara sejak ia dijebloskan dalam tahanan di dalam kastilnya sendiri. Janggutnya tumbuh panjang dan kusut di dada. Dan kerangkanya yang kokoh itu kini mulai rapuh. Pandangnya yang dahulu bangga kini menjadi pasrah. Wladek hampir-hampir tak dapat mengingat lagi suara tersayang pengayomnya. Dan ia membiasakan diri dengan gagasan bahwa ia tidak akan mendengarnya lagi. Selang beberapa lama ia menuruti kehendak Baron yang tak terucapkan dengan tinggal diam juga di hadapannya.

Ketika masih aman hidup di kastil, Wladek tak pernah memikirkan hari sebelumnya yang setiap jam sangat menyibukkannya. Kini ia bahkan tak dapat ingat jam sebelumnya sebab tak ada sesuatu pun yang berubah.

Menit-menit tanpa harapan berganti menjadi jam. Jam berganti menjadi hari. Kemudian menjadi bulan, yang urutannya segera ia lupa mana yang sedang dijalaninya. Hanya kedatangan makanan, cahaya atau kegelapan memberi petunjuk bahwa ada 12 jam lagi yang baru berselang. Sementara intensitas cahaya ataupun serangan badai, dan kemudian terbentuknya es pada dinding ruang tahanan yang hanya meleleh bila matahari terbit, semuanya mengisyaratkan kedatangan tiap musim dengan cara yang tak pernah dapat dipelajarinya dalam pelajaran ilmu alam. Selama malam-malam panjang, Wladek lebih menyadari lagi bau busuk maut yang telah meresapi sampai ke sudut-sudut empat ruangan tahanan itu. Kadang-kadang terusir hilang oleh sinar matahari pagi. Terhembus angin sepoi. Ataupun yang paling melegakan bila jatuh curah hujan.

Pada akhir suatu hari yang tak henti-hentinya diterpa badai, Wladek dan Florentyna memanfaatkan hujan dengan mencuci diri di air genangan di lantai tahanan sebelah atas. Keduanya tidak melihat bahwa mata Baron membelalak ketika Wladek membuka kaos yang telah compang-camping dan bergulung-gulung di air yang relatif bersih. Dan Wladek terus menggosok diri hingga tubuhnya menampakkan garis-garis putih. Tiba-tiba Baron berbicara.

"Wladek" perkataannya hampir tak terdengar

"Aku tak dapat melihatmu dengan jelas" katanya. Suaranya bergetar. "Kemarilah."

Wladek tercenung oleh suara pengayomnya. Sekian lama sudah Baron berdiam diri. Dan Wladek bahkan tak memandang ke arahnya. Ia langsung tahu bahwa ini menandai penyakit gila yang telah mencekam 2 orang pelayan senior.

"Kemarilah nak"

Wladek mematuhi. Ia berdiri di hadapan tuan Baron. Baron memicingkan matanya yang telah melemah. Suatu tindakan penuh konsentrasi. Ia mencari-cari bocah itu dengan tangannya. Ia meraba dada Wladek dan menatapnya tak percaya.

"Wladek, apakah engkau dapat menjelaskan sedikit kelainan ini?"

"Tidak, tuan" kata Wladek malu. "Sejak lahir sudah begitu. Ibu asuhku selalu berkata bahwa itu ciri dari Tuhan Bapa pada diriku."

"Wanita tolol. Itu ciri dari ayahmu sendiri" kata Baron lembut. Lalu tenggelam diam beberapa saat. Wladek tetap berdiri di hadapannya.

Tak bergerak. Ketika akhirnya Baron berbicara lagi suaranya tegas. “Duduklah,nak."

Wladek langsung patuh. Ketika ia duduk, sekali lagi ia melihat gelang perak tebal kini melingkar longgar di pergelangan Baron. Seberkas cahaya melalui celah di dinding membuat ukiran lambang Ronovski berkilauan dalam kegelapan ruang tahanan.

"Aku tak tahu berapa lama orang-orang Jerman bermaksud menyekap kita di sini. Semula aku mengira bahwa perang ini akan selesai dalam beberapa minggu. Aku keliru. Dan kini kita harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa perang ini akan berlangsung sangat lama. Dengan pertimbangan itu kita harus memanfaatkan waktu kita secara konstruktif. Sebab aku tahu hidupku sudah mendekati akhirnya."

"Tidak, tidak," Wladek protes. Tapi Baron melanjutkan seolah-olah ia tak mendengarnya.

"Hidupmu, anakku, masih harus dimulai. Oleh karena itu aku akan mengusahakan kelanjutan pendidikanmu."

Baron tak bicara lagi hari itu. Seolah-olah ia sedang memikirkan implikasi pernyataannya. Dengan demikian Wladek memperoleh guru baru. Dan oleh karena tidak ada buku maupun kertas untuk menulis maka Wladek harus mengulangi apa yang dikatakan Baron. Ia diajari bagian-bagian besar puisi Adam Mickiewicz dan Jan Kochanowski.Serta nukilan-nukilan panjang dari epos Aeneas. Di dalam ruang kelas yang menyeramkan itu Wladek belajar ilmu bumi, matematika, dan menambah kemahirannya dalam empat bahasa: Rusia, Jerman, Perancis, dan Inggris.Tapi sekali lagi saat-saat yang bahagia baginya ialah bila ia sedang diajari sejarah. Sejarah bangsanya yang selama seratus tahun mengalami dibagi-bagi. Harapan akan Polandia yang bersatu, tak tercapai. Lebih lanjut orang-orang Polandia cemas karena Napoleon kalah dan menyerahkan Polandia ke Rusia pada tahun 1812. Wladek mempelajari kisah-kisah pawira dari masa-masa bahagia sebelumnya. Ketika Raja Jan Casimir mempersembahkan polandia kepada Bunda Maria setelah memukul mundur orang-orang Swedia di CZestochowa. Dan bagaimana pangeran Radziwill, tuan tanah besar dan pencinta perburuan, beristana di kastil besar dekat Warsawa. pelajaran Wladek yang terakhir setiap hari ialah sejarah keluarga Rosnovski. Berulangkali ia tak jemu-jemunya diberitahu bagaimana leluhur Baron yang telah bertugas pada tahun 1794 di bawah Jendral Dabrowski, dan kemudian pada tahun 1809 di bawah Napoleon sendiri telah dianugerahi wilayah dan kebaronan oleh sang Kaisar sendiri. Ia juga mempelajari bahwa kakek Baron duduk dalam Dewan kota Warsawa. Dan bahwa ayahnya juga telah berperan dalam membangun polandia baru. Wladek sangat bahagia ketika Baron mengubah ruang tahanan kecil itu menjadi ruang kelas.

Para prajurit di pintu ruang bawah tanah bergantian setiap 4 jam. Dan mereka dilarang keras berbicara dengan para tawanan. Sepotong-sepotong Wladek mengetahui perkembangan perang. Tahu tentang tindakan-tindakan Hindenburg dan Ludendorff. pecahnya Revolusi di Rusia. Kemudian penarikan diri Rusia dari perang dalam Perjanjian Brest-Litovsk.

Wladek mulai percaya bahwa satu-satunya jalan lolos dari ruang tahanan bagi teman-temannya ialah kematian. Selama dua tahun berikutnya pintu lubang neraka yang kotor itu dibuka 9 kati. Dan Wladek mulai bertanya-tanya dalam dirinya apakah ia sedang memperlengkapi dirinya dengan pengetahuan yang sia-sia belaka bila ia tak lagi akan mengenyam kebebasan.

Baron melanjutkan mengajarnya walau penglihatan dan pendengarannya semakin berkurang. Wladek setiap hari harus duduk semakin dekat dengannya.

Florentyna, - kakak, ibu dan sahabat karibnya - terrlibat dalam perjuangan fisik melawan bau busuk dari keadaan mereka yang serba sulit. Kadang-kadang para prajurit menyediakan seember pasir atau jerami segar untuk menutupi lantai yang terkotori. Dan bau busuknya selama beberapa hari berikutnya lalu kurang menyengat. Kutu-kutu merayap kemana-mana dalam kegelapan mencari secuil remah roti atau kentang yang terjatuh. Dan membawa serta penyakit dan Iebih-lebih kekotoran. Bau pesing kencing manusia dan binatang serta kotorannya menyengat lobang hidung mereka. Dan secara teratur membuat Wladek sakit dan mual.

Yang pertama-tama ia rindukan ialah supaya bisa bersih kembali. Dan berjam-jam ia duduk memandangi langit-langit ruang tahanan. Ia mengenang kembali jembangan penuh air panas mengepulkan asap. Dan sabun kasar yang dipergunakan niania mencuci dekil Leon dan dia sendiri akibat main-main sehari. Dengan banyak gerutu dan kecak lidah karena lutut belepotan atau kuku-kuku kumuh. Ah, kejadian itu begitu dekat di tempat, namun begitu jauh di masa lalu.

Menjelang musim semi tahun 1918 hanya 26 orang tawanan yang dikurung bersama Wladek masih hidup. Baron selalu diperlakukan setiap orang sebagai tuan rumah. Sedang Wladek kini menjadi pramulayannya. Wladek merasa paling sedih dengan keadaan Florentyna tersayang yang kini berusia 20 tahun. Sejak lama Florentyna sudah tak punya harapan lagi dalam hidup ini. Dan ia sudah yakin akan menghabiskan sisa hidupnya dalam ruang bawah tanah. Wladek tak pernah mengakui berputus asa di hadapannya. Tetapi walaupun ia baru berusia 12 tahun, ia juga mulai bertanya-tanya apakah berani mengharapkan masa depan yang mana pun.

Suatu sore di awal musim gugur, Florentyna mendekati Wladek di ruang tahanan besar atas.

"Baron memanggilmu." Wladek cepat bangkit. Menyerahkan pembagian makanan kepada pelayan senior. Ia menghadap orang tua itu. Baron menderita sakit keras. Dan Wladek melihat sejelas-jelasnya seakan-akan untuk pertama kalinya betapa penyakit itu telah menghabiskan sebagian besar tubuh Baron. Tinggal kulit berbintik hijau menutupi wajah yang kini seperti tengkorak. Baron meminum air. Dan Florentyna memberinya dari buli-buli setengah penuh yang tergantung pada tongkat di luar kisi-kisi batu. Ketika orang besar itu selesai minum, ia berbicara pelan-pelan dan nampak sangat sukar.

"Engkau telah menyaksikan begitu banyak maut, Wladek hingga tambahan satu lagi tak begitu banyak berbeda bagimu. Aku mengakui tak takut lagi meninggalkan dunia ini. "

"Tidak. Tidak. Tidak bisa! " teriak Wladek. Memegang erat-erat orang tua itu untuk pertama kalinya dalam hidupnya. "Kita sudah hampir menang. Jangan menyerah, Baron. Prajurit penjaga telah meyakinkan aku bahwa perang sudah hampir selesai. Kemudian kita akan dibebaskan."

"Berbulan-bulan lamanya mereka telah menjanjikan hal itu kepada kita Wladek. Kita tak dapat memperrcayai mereka lagi. Dan bagaimanapun juga aku khawatir aku tak ingin hidup di dunia baru yang sedang mereka ciptakan."

Ia berhenti sejenak sambil mendengarkan anak itu menangis. Satu-satunya gagasan Baron ialah mengumpulkan airmata itu dijadikan air minum. Kemudian ia ingat bahwa air mata itu asin. Dan ia tertawa kepada dirinya sendiri. "Panggil kepala pelayan dan pelayanku, Wladek."

Wladek langsung menurut. Tak tahu mengapa mereka dibutuhkan.

Kedua pelayan itu baru saja bangun dari tidur nyenyak. Mereka datang dan berdiri di hadapan Baron. Setelah ditahan selama 3 tahun, tidur adalah komoditi paling mudah dicapai. Mereka masih juga mengenakan seragam penuh bordiran. Tapi seragam itu tak dapat lagi dikatakan pernah menjadi hijau dan emas warna kebanggaan Rosnovski. Mereka berdiri diam menantikan kata-kata tuan mereka.

"Apakah mereka sudah siap, Wladek?" tanya Barol

"Ya, tuan. Apakah tak dapat melihat mereka?'

Wladek menyadari untuk pertama kalinya bahwa Baron kini sudah buta sama sekali."Bawa mereka maju supaya aku dapat meraba mereka"

Wladek menghadapkan mereka berdua. Dan Baron meraba wajah mereka.“Duduklah," perintahnya. "Dapatkah kalian berdua mendengarku, Ludwig, Alfons?"

"Ya,tuan"

"Namaku Baron Rosnovski"

"Kami tahu, tuan" sahut kepala pelayan polos.

“Jangan menyela" kata Baron. "Aku hampir meninggal." Kematian menjadi begitu biasa bagi kedua orang itu hingga mereka tidak protes.

"Aku tak bisa membuat wasiat baru, karena aku tak punya kertas, pena atau tinta. Maka dari itu aku membuat wasiatku di hadapan kalian. Dan kalian dapat bertindak sebagai dua saksi sebagaimana diakui oleh hukum kuno Polandia. Apakah kalian mengerti apa yang kukatakan?"

“Ya, tuan" kedua orang itu menjawab serempak.

"Putra sulungku, Leon, telah meninggal." Baron berhenti sejenak. "Maka aku mewariskan seluruh tanah dan milikku kepada bocah yang dikenal dengan nama Wladek Koskiewicz. "

Wladek menyadari telah beberapa tahun ia tak mendengar nama keluarganya. Maka ia tidak langsung memahami apa arti kata-kata Baron.

"Dan sebagai bukti keputusanku," lanjut Baron, memberikan gelang keluargaku kepadanya."

Orang tua itu pelan-pelan mengangkat lengan kanannya. Melepas gelang dari pergelangannya dan menunjukkannya kepada Wladek yang bungkam. Wladek didekap Baron erat-erat. Lalu jari-jari orang tua itu merayapi dada anak itu seakan-akan hendak memastikan bahwa itulah Wladek. "Anakku," katanya sambil memasang gelang perak di pergelangan anak itu.

Wladek menangis. Dan terkulai di dekapan Baron sepanjang malam. Hingga akhirnya ia tak lagi dapat mendengar degup jantung dan merasakan jari-jari yang kaku memeganginya. Di pagi hari jasad Baron disingkirkan oleh para penjaga. Dan mereka mengijinkan Wladek mengubur Baron di sisi Iron putranya. Di makam keluarga dekat dengan kapela. Ketika mayat diturunkan ke dalam liang lahat yang digali oleh Wladek sendiri, baju Baron yang telah compang-camping terbuka. Dan Wladek terkesima melihat dada orang tua yang telah meninggal itu.

Ia hanya punya satu putik susu.

***

Dengan demikian Wladek Koskiewicz umur 12 tahun mewarisi 60.000 alae tanah. Sebuah kastil. Dan rumah peristirahatan. Dua puluh tujuh pondok. Dan sebuah koleksi lukisan-lukisan sangat berharga. Demikian pula perabotan rumah dan perhiasan emas-emasan. Sementara ia hidup dalam ruangan kecil dari batu di bawah tanah. Sejak hari itu para tawanan yangmasih tinggal memperlakukan Wladek sebagai tuan mereka. Dan kerajaannya berupa empat ruangan tahanan. Pengikutnya adalah 13 orang pelayan Ditambah dengan Florentyna, satu-satunya kekasih tersayang.

Kembali ia melakukan apa yang ia rasakan sebagai rutin yang tak habis-habisnya hingga akhir musim dingin tahun 1918. Pada suatu hari yang terang dan lembut para tawanan mendengar serentetan tembakan dan suara pertempuran singkat. Wladek yakin tentara Polandia datang membebaskannya. Dan kini ia dapat mengklaim warisannya yang sah. Ketika para prajurit Jerman meninggalkan pintu besi ruang tahanan bawah tanah, para tahanan tetap berhimpitan diam ngeri di ruang bawah. Wladek berdiri sendiri di pintu masuk. Sambil mengulir-ulir gelang perak di seputar pergelangan. Menang. Menunggu pembebas-pembebasnya. Akhirnya mereka yang telah mengalahkan orang-orang Jerman tiba. Dan mereka berbicara bahasa Slavis kasar yang tak asing lagi baginya dari masa sekolahnya dahulu. Dan ia telah belajar menakutinya lebih dari bahasa Jerman. Wladek digiring ke gang tanpa upacara bersama pengikutnya. Para tahanan menunggu. Kemudian diperiksa secara serampangan. Lalu  dijebloskan kembali ke dalam tahanan bawah tanah. Para penakluk baru itu tidak sadar bahwa anak berusia dua belas tahun itu adalah tuan dari apa yang dapat mereka lihat. Mereka tidak berbicara bahasanya. Perintah mereka jelas. Dan tak dapat dipertanyakan lagi. Bunuhlah musuh bila menolak Perjanjian Brest-Litovsk. Perjanjian itu membuat bagian Polandia milik mereka. Dan mereka yang tak menolak peranjian tersebut kirimkan ke kamp 201 selama sisa hidup mereka. Orang-orang Jerman telah pergi dengan tanpa perlawanan, untuk mundur di belakang perbatasan baru. Sementara itu Wladek dan pengikut-pengikutnya menunggu. Mereka mengharapkan hidup baru. Namun mereka tak tahu nasib mereka yangbelum menentu.

Setelah menginap dua malam lagi di ruang bawah tanah, Wladek pasrah dalam kepercayaan bahwa mereka akan dipenjarakan lagi untuk periode yang lama. Prajurit-prajurit baru itu tak berbicara sama sekali dengannya. Suatu peringatan akan hidup yang telah dialaminya selama 3 tahun sebelumnya. Ia mulai menyadari bahwa neraka itu sementara waktu agak longgar di bawah orang-orang Jerman. Namun kini lagi-lagi menjadi ketat.

Di pagi hari ketiga, mereka semua, lima belas tubuh kurus dan kumuh, digiring ke rumputan di muka kastil. Hal mana membuat Wladek keheran-heranan. Dua orang pelayan telah meninggal karena tidak biasa dengan terik matahari yang menyengat. Wladek sendiri mengalami kesulitan dengan matahari yang menyilaukan. Maka ia selalu harus melindungi matanya. Para tahanan berdiri di rumput. Diam. Mereka me-nunggu tindakan para prajurit selanjutnya. Para prajurit memerintahkan mereka semua menanggalkan pakaian dan mandi di sungai. Wladek menyembunyikan gelang perak dalam saku. Lalu lari ke pinggir sungai. Kakinya terasa lemah. Bahkan sebelum sam-pai di sungai. Ia meloncat. Megap-megap mencari nafas. Karena airnya dingin.Walau terasa nyaman di kulitnya. Para tahanan lainnya segera bergabung dengannya. Dan sia-sia mereka berusaha menghilangkan dekil selama tiga tahun.

Ketika Wladek letih naik dari sungai, ia melihat para prajurit memandang aneh kepada Florentyna yang sedang mandi di sungai. Mereka tertawa-tawa dan menunjuk ke Florentyna. Wanita-wanita lainnya nampaknya tak menimbulkan perhatian sebesar itu' Salah seorang prajurit, bertubuh besar, berwajah buruk, matanya tak pernah berpindah dari Florentyna sekejap pun. Ia menangkap lengan Florentyna ketika kembali dari tebing sungai. Mendorongnya terjatuh di tanah. Cepat-cepat melepas pakaiannya. Nampak kelaparan. Melipat pakaian itu rapi diletakkan di rumput. Wladek melotot keheran-heranan melihat pelir orang itu membengkak dan berdiri tegak. Ia menyerang prajurit itu yang kini menahan Florentyna di tanah. Ia menanduk tengah perutnya dengan segala kekuatan yang dapat dikerahkannya. Orang itu terhuyung. Prajurit lain menyambar Wladek dan menahannya tak berdaya dengan tangan terkunci di belakang punggung. Kegaduhan itu menarik perhatian prajurit-prajurit lain. Dan mereka datang melihatnya. Penangkap Wladek kini tertawa. Tertawa terbahak-bahak' Keras tanpa humor. Kata-kata prajurit lain hanya menambah kecemasan Wladek.

"Masuklah pelindung agung" kata prajurit pertama.

"Datang membela kehormatan bangsanya" sambung yang kedua.

'Paling sedikit marilah kita izinkan dia melihat dari pinggir gelanggang,' tambah prajurit yang kini memegangnya.

Tawa yang lebih keras menyelai komentar-komentar yang tak selalu dimengerti oleh Wladek. Ia melihat prajurit telanjang itu dengan tubuhnya yang tambun pelan-pelan mendekati Fiorentyna. Florentyna mulai menjerit . Sekali lagi Wladek meronta. Mencoba melepaskan diri dari ceigkeraman erat. Tapi ia tak berdaya di tangan prajurit. Prajurit telanjang itu menindih Florentyna. Mulai menciuminya. Dan menamparnya ketika Florentyna mencoba melawan atau mengelak. Akhirnya ia memasukinya. Florentyna memekik seperti belum pernah didengar Wladek. Para prajurit terus berbicara dan tertawa di antara mereka sendiri. Bahkan ada beberapa yang tidak menontonnya.

"Buset! masih perawan" kata prajurit pertama ketika melepas diri dari Florentyna'

Semuanya tertawa.

"Kamu telah memudahkannya bagiku" prajurit kedua menimpali.

Mereka tertawa lebih keras lagi. Ketika Florentyna menatap mata Wladek, Wladek mulai muntah-muntah. Prajurit yang memeganginya tak ambil pusing. Ia hanya memperhatikan supaya muntahan bocah itu tidak mengotori seragam atau sepatunya. Prajurit pertama yang zakarnya kini berlumuran darah lari ke sungai. Ia bersorak ketika mencebur di air. Prajurit kedua telah melepas pakaian. Sementara prajurit lain menahan Florentyna supaya tetap terlentang. Prajurit kedua agak lebih lama menikmati permainannya. Dannampak puas dengan menampar Florentyna. Ketika akhirnya ia memasukinya, Florentyna menjerit lagi. Tapi tak sekeras sebelumnya.

"Ayohlah Valdi. Engkau telah cukup menikmatinya." Ketika mendengar perkataan itu, prajurit tersebut mendadak menarik diri dari Florentyna. Dan ia mengikuti teman seperjuangannya menceburkan diri di sungai. Wladek memaksa diri memandang Florentyna. Florentyna memar. Dan berlumuran darah diantara kakinya. Prajurit yang memegangi Wladek bicara lagi.

"Ayoh, pegangi bajingan cilik ini Boris. Sekarang giliranku."

Prajurit pertama keluar dari sungai. Lalu memegangi Wladek erat-erat. Lagi-lagi Wladek mencoba memukulnya. Dan ini membuat para prajurit tertawa lagi.

"Nah, sekarang kita tahu kekuatan penuh tentara Polandia."

Tertawaan yang tak terderitakan itu berlangsung terus. Sementara prajurit lain melepas pakaian dan mulai gilirannya dengan Florentyna. Florentyna kini terlentang acuh tak acuh terhadap segala cumbuannya. Ketika ia telah selesai dan pergi ke sungai, prajurit kedua kembali dan mulai mengenakan pakaiannya. “Kukira kini ia mulai menikmatinya" katanya sambil duduk berjemur memandangi temannya. prajurit keempat mulai mendekati Florentyna. Ketika sampai ia membalikkannya. Dan memaksa mengangkangkan kakinya selebar mungkin. Tangannya yang besar itu cepat menelusuri tubuh ramping. Ketika dimasuki, jeritan Florentyna menjadi erangan. Wladek menghitungng ada enam belas prajurit yang memperkosa kakaknya. Ketika prajurit terakhir selesai menggarap Florentyna ia menyumpah. Dan menambahkan “Kiranya aku main-main dengan wanita mati," dan ia meninggalkannya di rumput. Tak bergerak.

Mereka semua tertawa lebih keras lagi, ketika prajurit yang kecewa itu turun ke sungai. Akhirnya penjaga Wladek melepaskannya. Ia lari ke sisi Florentyna. Sementara para prajurit tiduran di rumput sambil minum-minum anggur dan vodka yang mereka ambil dari gudang tuan Baron. Dan mereka makan roti dari dapur.

Dengan pertolongan dua orang pelayan Wladek membawa Florentyna ke pinggir sungai. Dan di sana ia menangis ketika mencoba membersihkan darah dan busa. Sia-sia belaka. Sebab seluruh tubuh Florentyna telah memar merah dan hitam. Tak bisa apa-apa. Tak bisa berbicara. Ketika Wladek usai merawat sebaik kemampuannya, ia menutup tubuh Florentyna dengan jaketnya. Dan memeluknya. Ia mengecupnya di muIut. Lembut-lembut. Wanita pertama yang pernah ia cium. Florentyna tersandar dalam pelukannya. Tapi ia tahu Florentyna tak mengenalinya. Dan sementara air mata bercucuran membasahi wajahnya mengalir ke tubuh yang memar, ia merasakan Florentyna terkulai. Ia menangis ketika membawa jasad Florentyna ke tebing sungai. Para prajurit pergi diam-diam ketika melihat Wladek menuju ke kapela. Ia meletakkan jasad Florentyna di rumputan di sebelah makam Baron. Dan mulai menggali liang lahat. Ketika matahari sore hendak terbenam menyebabkan kastil memantulkan bayangan panjang di makam, ia telah usai menggali. Dan ia menguburkan Florentyna di sebelah Leon. Dan membuat salib dengan dua tongkat yang dipasangnya di sebelah kepala. Wladek ambruk di tanah antara Leon dan Florentyna. Langsung tertidur. Tak peduli apakah ia akan bangun kembali.

BAB 06 KANE DAN ABEL. ANAK SI KAYA JUGA JENIUS ... !

Dalam Bab ini Kane, William Kane tumbuh dikeluarga kaya, yang juga kehilangan ayah pada usia muda. Terdidik untuk menjadi sukses, namun .., ada cacat dalam kehidupan keluarga. Mari kita ikuti kelanjutan kisah ini .....

BAB 6

Kane tumbuh cepat. Dan dipandang sebagai anak tersayang oleh semua saja yang berhubungan denganya. Dalam tahun-tahun awal kehidupannya mereka itu umumnya sanak-saudara yang tergila-gila akan dia dan pelayan-pelayan yang sangat menyayanginya.

Lantai teratas rumah keluarga Kane yang dibangun pada abad ke-18 di Louisburg Square di atas Beacon Hill, telah diubah menjadi ruangan perawatan anak. Penuh sesak dengan mainan. Sebuah ruang tidur dan sebuah ruang duduk disediakan bagi perawat yang baru saja dipekerjakan. Lantai  itu cukup jauh dari Richard Kane supaya ia tidak diganggu oleh masalah-masalah tumbuhnya gigi, popok basah, serta teriakan-teriakan yang tak teratur dan tidak berdisiplin untuk minta tambah makanan. Suara pertama, gigi pertama, langkah pertama dan kata pertama semuanya dicatat oleh ibu William dalam buku keluarga. Demikian pula pertambahan tinggi dan beratnya. Anne heran bahwa angka-angka statistik itu hanya berbeda sedikit dari angka-angka bayi lain yang ia kenal di Beacon Hill.

Perawat, impor dari Inggris, mendidik anak itu mengikuti cara hidup yang pasti akan menggembirakan  hati seorang opsir kavaleri Austria. Ayah William menjenguknya setiap petang pukul 6. Oleh karena ia tak mau bicara dengan William dalam bahasa kanak-kanak, maka akhirnya ia sama sekali tidak mengajaknya bicara. Keduanya hanya saling memandang. William lalu memegang jari telunjuk ayahnya yang biasanya dipergunakan untuk mengecek neraca. Dan William memegangnya erat-erat. Richard lalu mau tersenyum. Pada akhir tahun pertama kegiatan rutin itu agak diubah. Dan si bocah diizinkan turun ke lantai bawah untuk menemui ayahnya. Richard duduk di kursi berpunggung tinggi. Berlapis kulit merah darah la mengamati putra sulungnya keluar masuk antara empat kaki kursi. Muncul lagi bila sama sekali tidak diharapkan. Hal ini membuat Richard menyimpulkan pengamatan bahwa anak itu kelak pasti akan menjadi Senator. William mulai mengayunkan langkah-langkah pertamanya pada usia 13 bulan sambil memegang erat ujung jas ayahnya. Kata pertama yang terlontar adalah Dada.Itu menyenangkan setiap orang. Termasuk nenek Kane dan nenek Cabot yang merupakan pengunjung tetap. Mereka memang tidak mendorong kereta anak-anak di mana William diajak jalan-jalan mengelilingi Boston. Namun mereka berkenan berjalan-jalan selangkah di belakang perawat di dalam taman pada tiap hari Kamis siang. Sambil memandangi bayi-bayi yang berpakaian kurang rapi. Sementara anak-anak lain memberi makan kepada itik-itik di taman umum, William berhasil mengusap-usapan angsa di danau Istana Venesia milik tuan Jack Gardner.

Selang dua tahun, kedua nenek itu dengan saran dan sindiran menyampaikan bahwa sudah tiba saatnya untuk seorang keturunan lagi, seorang saudara kandung William. Anne menuruti saran mereka. Ia hamil.

Tapi lalu merasa sedih karena merasa dan Nampak makin lama makin pucat ketika memasuki bulan ke-4.

Dr. MacKenzie berhenti tersenyum ketika memeriksa perut membesar dari seseorang yang mengharapkan menjadi ibu lagi itu. Dan ketika Anne keguguran pada minggu yang ke-16, ia tidak begitu terperanjat. Tapi tak membolehkan Anne terlalu bersedih. Dalam catatan ia menulis: "pra-eklampsia."

Lalu  ia memberitahu Anne, "Anne, sayang, yang menyebabkanmu merasa tidak enakbadan akhir-akhir ini ialah tekanan darah tinggi. Dan mungkin akan makin bertambah tinggi sesuai berlanjutnya kehamilan. Saya kuawatir dokter belum menemukan obat mujarab terhadap tekanan darah tinggi. Dalam kenyataannya kita hanya mengetahuinya sedikit saja.Yang jelas itu merupakan keadaan gawat bagi setiap orang, lebih-lebihmbagi wanita yang sedang hamil."

Anne menahan airmatanya. Ia memikirkan implikasi di kemudian hari tidak akan melahirkan anak lagi.

'Pasti tak akan terjadi selama kehamilanku yang akan datang?" tanyanya sambil merumuskannya dengan memberi peluang bagi dokter itu untuk memberi jawaban yang positif.

“Aku akan sangat heran bila itu tak muncul lagi, sayang. Aku menyesal harus mengatakan ini kepadamu, tapi aku sangat menasehatkan untuk tidak hamil lagi."

“Tapi tak mengapa bagiku bila nampak pucat berapa bulan bila itu berarti . . . . "

“Aku tak berbicara soal pucat dan merasa lesu, Anne. Aku bicara soal tak usah mengambil risiko yang tidak perlu dengan hidupmu."

Sungguh merupakan tamparan dahsyat bagi Richard dan Anne. Kedua-duanya menjadi anak tunggal karena ayah mereka meninggal dalam usia relative masih muda. Mereka berdua mengasumsikan bahwa mereka akan membina keluarga sesuai dengan besarnya rumah tangga mereka yang mengepalai dan sesuai dengan tanggungiawab mereka terhadap generasi berikutnya. "Lalu wanita muda itu punya kewajiban apa lagi?" tanya nenek Cabot dan nenek Kane. Tak ada yang berani menyebut soal itu lagi. Dan William menjadi pusat perhatian setiap orang.

Richard, setelah 6 tahun bertugas dalam dewan lalu mengambil alih jabatan presiden direktur Bank Kane dan Cabot dan Perusahaan ketika ayahnya meninggal pada tahun 1904. Ia selalu membenam diri dalam pekerjaan bank. Bank itu sendiri yang terletak di State Street, merupakan benteng arsitektur dan perpajakan yang kokoh. Punya cabang-cabang di New York, London, dan San Francisco. Bank yang di San Francisco menjadi masalah bagi Richard. Sebab tepat pada hari kelahiran William bank itu runtuh bersama bank Crocker National,Wells Fargo, dan bank California. Bukan secara finansial, melainkan sungguh-sungguh runtuh secara harafiah rata dengan tanah didalam gempa bumi di tahun 1906 itu. Richard yang wataknya memang seseorang yang hati-hati, secara komprehensif diasuransi oleh Llyod di London. Dan karena bersifat gentlemen semua, mereka membayar penuh hingga ke sen-sennya. Maka Richard dapat membagun kernbali. Namun Richard terpaksa mengalami tahun yang tidak enak. Ia harus mondar-mandir melintasi Amerika dari Boston ke San Francisco, dengan kereta api empat hari supaya dapat mengawasi pembangunan kembali. Ia membuka kantor baru di Union Square bulan Oktober 1907. Untung saja masih tepat waktu untuk mengalihkan perhatiannya terhadap masalah-masalah lain di Pantai Timur. Bank-bank New York menunjukkan pelputaran yang lamban. Dan banyak bank-bank kecil tidak mampu mengatasi penarikan uang besar-besaran. Lalu jatuh bangkrut. J.P. Morgan, direktur bank Morgan yang legendaries itu mengajak Richard mendirikan konsorsium supaya dapat bertahan selama krisis. Richard setuju. Tindakan yang berani ini berhasil. Dan masalahnya mulai mengecil. Tetapi sudah barang tentu sesudah Richard mengalami beberapa malam tak bisa tidur.

Di lain pihak, William tidur nyenyak. Tak menyadari gawatnya gempa bumi dan runtuhnya bank-bank. Bagaimanapun juga masih ada angsa-angsa yang harus diberi makan. Dan perjalanan pulang-pergi dari dan ke Milton, Brookline dan Beverley sehingga ia bisa diperkenalkan kepada sanak-saudaranya yang terhormat.

Awal musim semi tahun berikutnya Richard memperoleh permainan baru sebagai imbalan atas investasi modal yang hati-hati dalam diri seseorang yang bernama Henry Ford. Henry Ford mengaku dapat memproduksi mobil bagi rakyat. Bank menjamu tuan Ford dengan santap siang. Dan Richard dapat dibujuk untuk membeli Model T seharga $ 850. Henry Ford meyakinkannya bahwa jika bank mau mendukungnya maka biaya bisa ditekan menjadi $ 350 selama beberapa tahun dan setiap orang akan membeli mobil itu. Dengan demikian memastikan diperolehnya keuntungan besar bagi bank pendukungnya. Richard mendukungnya. Dan itulah pertama kalinya dia meng -investasikan uang dengan baik dalam usaha seseorang yang mau menekan harga produksinya hingga separuh harga.

Richard semula cemas bahwa mobilnya yang berwarna hitam kelam itu mungkin dianggap bukan kendaraan representatif bagi seorang presiden direktur sebuah bank. Tetapi ia akhirnya yakin kembali karena kendaraan itu menarik pandangan terkagum-kagum orang-orang yang ada di trotoar. Dengan kecepatan 16 kilometer sejam mobil itu lebih berisik daripada kuda. Tapi untungnya tidak meninggalkan kotoran di tengah jalan Mount Vernon. Satu-satunya percekcokan dengan tuan Ford ialah karena tuan Ford tidak medengarkan saran bahwa Model T harus diprodusi dalam berbagai warna. Tuan Ford bersiteguh bahwa setiap mobil harus berwarna hitam supaya harga dapat ditekan. Anne yang Iebih perasa daripada suaminya mengenai penerimaan pihak masyarakat orang-orang sopan, tidak akan mengendarai mobil sebelum keluarga Cabot memilikinya sendiri.
Dilain pihak William sangat mengagumi ‘otomobil’ Itulah julukan dari pers. Dan William langsung mengandaikan bahwa kendaraan itu dibeli untuk menggantikan kereta dorong yang kini jadi mubazir. Ia juga lebih suka kepada sopirnya daripada kepada perawatnya.  Sopir mengenakan kacamata dan topi papak. Nenek Kane dan nenek Cabot menegaskan tak akan bepergian dalam kendaraan yang mengerikan itu. Dan memang tak pernah. Walau masih juga harus dijelaskan bahwa nenek Kane diangkut kemakamnya dengan sebuah mobil. Namun tak pernah diberitahu.

Selama dua tahun berikutnya Bank tambah kuat dan semakin besar. Demikian pula William. Orang-orang Amerika sekali lagi menanamkan modal untuk memperluas usaha. Dan sejumlah besar uang masuk ke dalam  bank Kane dan Cabot untuk diinvestasikan kembali ke  dalam proyek-proyek seperti pabrik kulit Lowell yang sedang mengembang di I-owell, Massachussetts. Richard  mengawasi perkembangan bank dan anaknya dengan rasa puas. Tanpa merasa terperanjat. Pada usia 5 tahun, ia melepaskannya dari tangan para wanita, dan mempekerjakan seorang guru privat, tuan Munro. Guru ini digaji $ 450 per tahun. Richard memilihnya sendiri di antara 8 orang pelamar, yang sebelumnva telah diseleksi oleh sekretaris pribadi Richard. Tuan Munro harus menjamin bahwa William siap masuk sekorah St. Paul pada usia 12 tahun. William segera rnenyukai tuan Munro yang menurut perkiraannya sangat tua dan sangat pandai. Dalam kenyataan Tuan Munro berusia 23 tahun dan memiliki ijazah bahasa Inggris dengan tanda  kehormatan pujian dari Universitas Edinburgh. William cepat belajar membaca dan menulis dengan mudah.Tapi yang benar-benar ia senangi ialah angka. Satu-satunya keluhannya ialah di antara 8 pelajaran yang diberikan setiap hari kerja, hanya ada pelajaran berhitung satu kali. William cepat menjelaskan kepada ayahnya bahwa 1/8 hari kerja merupakan investasi waktu yang kecil bagi seseorang yang kelak suatu saat akan menjadi presiden direktur sebuah bank.

Untuk  mengimbangi kekurangan pandangan ke depan dari gurunya, William diam-diam menghubungi sanak-keluarganya yang bisa ia temui untuk meminta persoalan-persoalan hitungan yang dapat dikerjakannya dengan mencongak. Nenek Cabot yang tak pernah yakin bahwa pembagian angka utuh dengan 4 harus menelorkan hasil yang sama dengan bila dikalikan dengan l/4, dengan cepat dikalahkan oleh cucunya. Memang nenek Cabot ini bila harus mengalikan 1/4 atau membagi 4 seringkali menghasilkan angka yang berbeda. Akan tetapi nenek Kane mempunyai- sedikit kecenderungan untuk menjadi pandai. Ia dengan berani menggarap pecahan-pecahan biasa, hasil perkalian dan pembagian 8 kue di antara 9 anak.

"Nek," kata William ramah tapi cukup tegas bila nenek tak berhasil menemukan jawaban atas teka-teki bilangan itu. "Nenek bisa membelikan aku mistar geser. Nanti aku tak akan mengganggumu lagi'"

Nenek terkejut atas cucunya yang cepat matang itu. Tapi ia membelikannya juga sebuah. Ia hanya bertanya-tanya dalam hati apakah cucunya benar-benar tahu cara menggunakan alat itu. Itulah kali pertama dalam hidupnya Nenek Kane diketahui mengambil jalan pintas mengelak dari persoalan.

Kesulitan-kesulitan Richard mulai memberat dan merambat ke timur. Direktur cabang kantornya di London meninggal di meja tulisnya. Dan Richard merasa dirinya dibutuhkan di Lombard Street. Ia mengajak Anne dan William menemaninya ke Eropa. Dengan pertimbangan bahwa pendidikan itu tak akan merugikan anaknya. Anak itu akan dapat mengunjungi tempat-tempat yang kerapkali dibicarakan tuan Munro. Anne, yang belum pernah ke Eropa, sangat bergairah menyambut rencana tersebut. Ia memenuhi tiga buah kopor besar dengan pakaian-pakaian baru yang sangat mahal dan menarik. Dengan pakaian-pakaiannitu ia hendak berkonfrontasi dengan Dunia kuno. William merasa ibunya tidakwajar karena melarangnya membawa alat utama untuk bepergian yaitu seredanya.

Keluarga Kane berangkat ke New York dengan kereta api. Untuk kemudian menumpang Aquitania yang menuju ke Southamptbn' Anne terkejut ketika melihat para penjaja kaum imigran yang menawarkan dagangannya di jalanan. Dan ia merasa gembira karena telah selamat berada di kapal. Dan ia beristirahat dalam kabin. Di lain pihak William sangat kagum akan luasnya kota New York. Hingga saat itu ia selalu membayangkan bahwa bank ayahnya adalah bangunan terbesar di Amerika. Mungkin malah terbesar di seluruh dunia. Ia ingin membeli es krim merah jambu dan kuning dari seorang penjual dengan gerobak dorong.

Tapi ayahnya tak mau tahu. Bagaimanapun juga Richard tidak pernah membawa uang receh. William langsung kagum akan kapal besar itu begitu ia melihatnya. Dan dengan cepat menjadi sahabat kapten kapal. Kapten memperlihatkannya segala seluk-beluk kapal primadona milik Cunard. Richard dan Anne sudah barang tentu makan bersama di meja kapten. Mereka merasa perlu memohon maaf kepada kapten, sebelum kapal itu meninggalkan Amerika, karena anak rnereka menyita banyak waktu awak kapal.

"Tak mengapa" jawab nakhoda yang berjanggut putih itu."William dan saya telah menjadi sahabat. Saya hanya berharap bisa menjawab semua pertanyaannya tentang waktu, kecepatan, dan jarak. Saya harus ditatar terlebih dahulu oleh insinyur utama se-tiap malam supaya dapat mengantisipasi dan kemudian lulus di hari berikutnya."

KapalAquitania memasuki The Solent dan masuk dok di Southampton setelah mengarungi samudra selama 10 hari. William enggan meninggalkan kapal itu. Dan pasti akan mengucurkan airmata jika seandainya tak nampak ada Rolls-Royce Silver Ghost lengkap dengan sopirnya telah menunggu mereka di dermaga, siap untuk mengantar mereka ke London. Richard mengambil keputusan pada saat itu juga bahwa mobil itu harus diangkut kembali ke New York pada akhir perjalanan mereka. Suatu keputusan yang diambil di luar pembawaan wataknya melebihi keputusan apa pun yang diambilnya selama seluruh sisa hidupnya. Kepada Anne ia memberitahu bahwa ia ingin menunjukkan mobil itu kepada Henry Ford.

Keluarga Kane selalu menginap di hotel Ritz di Piccadilly  bila mereka berada di London. Hal itu memang lebih enak bagi kantor Richard di kota. Sementara Richard sibuk dengan urusan bank, Anne memanfaatkan waktunya untuk menunjukkan kepada William: Menara London, Istana Buckingham, dan pergantian pengawal istana. Menurut William semuanya 'hebat", kecuali logat bahasa Inggris yang sulit dipahaminya.

“Mengapa mereka tidak bicara seperti kita, Bu?" tanyanya. Dan ia heran mendengar jawaban bahwa pertanyaannya lebih sering dikemukakan terbalik, sebab ' mereka' memang lebih dahulu. Kesenangan William di waktu senggang ialah menonton prajurit dalam seragam merah menyala, dengan kancing baju kuningan yang mengkilat. Mereka bertugas menjaga di luar Istana Buckingham. William mencoba berbicara dengan mereka. Tapi mereka memandang jauh melampauinya rnenatap ruang hampa. Bahkan tak pernah berkedip.

“Apa bisa membawa pulang satu, bu?" tanyanya kepada ibunya.

“Oh tidak nak. Mereka harus tinggal disini menjaga Raja"

“Tapi ia sudah punya banyak.Apa aku boleh minta satu saja?"

Sebagai suatu 'traktasi khusus' (ini kata-kata Anne) Richard mengambil libur satu siang untuk mengajak Anne dan William ke West End menonton pantomim Inggris tradisional berjudul Jack and the Beanstalk dimainkan di Hippodrome London. William suka akan Jack. Dan langsung ingin menebang setiap pohon yang ia lihat. Sebab ia membayangkan semua pohon melindungi monster' Setelah pertunjukan usai mereka minum teh di restoran Fortnum & Mason, di Piccadilly. Dan Anne mentraktir William dengan 2 buah kue krim dan sebuah kue doughnut. Kermudian setiap hari William minta diantarkan kembali ke Fortnum untuk ”menyikat" doughbun.

Demikian nama Yang ia berikan.

Liburan itu berlangsung terlalu cepat bagi William dan ibunya. Tetapi Richard setelah puas dengan perkembangan di Lombard Street, dan merasa senang dengan direktur yang baru saja ditunjuk, mulai merindukan hari keberangkatan mereka pulang. Setiap hari banyak tilgram berdatangan dari Boston. Itu membuainya gelisah ingin cepat kembali ke ruang dewan pimpinannya sendiri. Dan akhirnya ketika sebuah berita menginformasikan bahwa ada 2500 orang pekerja di penggilingan kapuk di Lawrence Massachussetts mogok, padahal banknya menanamkan investasi besar di dalamnya, maka ia merasa senang bahwa hari keberangkatannya yang telah ia rencanakan tinggal 3 hari lagi.

William sangat merindukan pulang kembali dan menceritakan kepada tuan Munro hal-hal mengasyikkan yang ia lakukan di Inggris. Ia ingin bertemu kembali dengan 2 orang neneknya' Mereka berdua belum pernah melakukan sesuatu yang sangat mengasyikkan seperti menonton teater hidup beserta publiknya sekaligus. Anne juga senang menjelang waktu pulang. Walau ia menikmati pelesiran ini seasyik William, sebab pakaian-pakaiannya dan kecantikannya sangat dikagumi oleh orang-orang Inggris yang biasanya tidak begitu demonstratif. Sebagai traktasi terakhir kepada William sehari sebelum keberangkatan, Anne mengajaknya menghadiri pesta di Eaton Square yang diselenggarakan oleh isteri direktur bank cabang Londonn yang baru saja ditunjuk. Nyonya ini juga punya anak laki-laki bernama Stuart berumur 8 tahun. Dan Wiliam selama 2 minggu bermain bersamanya. Ia telah menganggapnya sebagai sahabat dewasa yang tak terpisahkan. Tetapi pesta itu agak kurang menarik karena Stuart merasa tidak enak badan. Dan karena bersimpati dengan sahabat barunya William mengatakann kepada ibunya bahwa ia juga akan jatuh sakit. Anne dan William kembali ke hotel Ritz lebih awal dari rencana semula. Anne tidak begitu kecewa. Ia akan mempunyai waktu lebih banyak lagi untuk mengawasi pengepakan kembali kopor-kopor besarnya. Ia sendiri yakin bahwa William hanya bermain sandiwara untuk menyenangkan Stuart. Ketika malam hari ia menidurkan William, ia mendapatkan William benar sesuai kata-katanya. William agak panas. Dan selama makan malam ia mengatakannya kepada Richard.

'Mungkin karena tegang mengingat harus pulang" tebaknya. Tanpa merasa khawatir.

*Kuharap demikian," jawab Anne."Aku tak menghendaki ia sakit dalam perjalanan laut selama 6 hari."

'Esok hari ia sudah sembuh" jawab Richard mengemukakan garis pegangan yang tak mungkin dilalaikan. Tetapi ketika Anne membangunkan William keesokan harinya, 

William ternyata penuh bintik-bintikmerah.

Suhu badannya naik sampai 39 derajat C. Dokter hotel mendiagnosa William terserang campak. Dan secara sopan mendesak supaya William tidak diajak bepergian melalui laut. Tak hanya demi kebaikannya sendiri, melainkan juga demi kesehatan para penumpang lain-lainnya. Maka William harus dibiarkan tidur dengan botol penyeka. Dan dinanti hingga ia benar-benar pulih kembali. Richard tak bisa menerima penundaan selama dua minggu.Maka ia memutuskan berangkat seperti yang telah direncanakan. Dengan enggan Anne mengizinkan perubahan pesan tempat yang tergesa-gesa itu. William merengek-rengek supaya diizinkan menemani ayahnya. Waktu 14 hari sebelum kapal itu kembali di Southampton lagi nampaknya berabad-abad bagi anak itu. Richard penuh kasih sayang. Ia mempekerjakan seorang perawat untuk menjaga William. Dan William diyakinkannya bahwa kesehatannya benar-benar buruk.

Anne mengantarkan Richard ke Southampton dengan mobil Rolls-Royce baru.

"Aku akan kesepian di London tanpa kau, Richard." Ia memberanikan diri mengatakannya dengan malu-malu pada saat mereka berpisah. Padahal ia tahu Richard tak senang dengan wanita emosional.

"Ya,sayang, aku berani berkata aku akan agak kesepian juga di Boston tanpa kau." katanya. Pikirannya tertuju kepada para buruh pemogok di penggilingan.

Anne kembali ke London dengan kereta api. Memikirkan bagaimana ia akan menyibukkan diri selama dua minggu berikutnya. Malam harinya William membaik. Dan di pagi hari bintik-bintik itu tak begitu ganas lagi. Tetapi dokter dan perawat sama-sama mendesak supaya William tetap di ranjang. Anne memanfaatkan waktu ekstra ini untuk menulis surat panjang kepada keluarganya. Sementara William tetap tiduran sambil protes. Tapi pada hari Selasa ia sendiri bangun pagi-pagi. Dan memasuki kamar tidur ibunya. Kembali  seperti dirinya sendiri.Ia naik ranjang berada disebelah ibunya. Dan tangannya yang dingin segera membangunkan ibunya. Anne lega melihatnya jelas-jelas telah pulih kembali. Ia mengebel memesan sarapan di tempat tidur bagi mereka berdua. Suatu pemanjaan yang tak pernah akan diizinkan oleh ayah William.

Pintu diketuk pelan. Dan seseorang dengan seragam kuning keemasan dan merah masuk membawa nampan perak besar berisikan sarapan. Telur, daging, tomat, roti bakar dan jelai. Sungguh sebuah pesta!

William memandang makanan dengan rakusnya. Seolah-olah ia tak dapat ingat lagi kapan ia makan lengkap yang terakhir kali. Kebetulan Anne melayangkan pandang ke koran pagi. Richard selalu membaca The Times bila sedang di London. Maka pimpinan hotel juga mengandaikan bahwa Anne juga memerlukan yang serupa.

"Oh, lihat." kata William sambil memandangi foto di halaman dalam "Foto kapal ayah. Apa arti musibah itu, bu?'

Seluruh lebar halaman koran dipenuhi gambar Titanic.

Anne tak peduli lagi akan tuntutan sopan-santun bagi keluarga Cabot atau Kane. Ia meledak dalam tangis sejadijadinya. Mendekap anak laki-laki satu-satunya. Mereka duduk di ranjang selama beberapa saat. Berpegang-pegangan. William tak tahu mengapa. Anne menyadari bahwa mereka berdua kehilangan orang yang paling mereka cintai di dunia ini.
Sir Piers Campbell, ayah Stuart muda, tiba di kamar suite 107 hotel Ritz. Ia menunggu di kamar tunggu. Sementara sang janda mengenakan gaun hitam. Satu-satunya gaun gelap yang ia miliki. William berpakaian sendiri. Tetap belum tahu apa arti musibah itu. Anne meminta Sir Piers menjelaskan kepada anaknya implikasi berita itu sepenuhnya. William hanya berkata, *Aku sebenarnya ingin naik kapal bersamanya. Tapi mereka tak mengizinkan." Ia tidak menangis. Sebab ia tak mau percaya bahwa ada yang dapat membunuh ayahnya. Ayahnya pasti di antara orang-orang yang terlepas dari maut.

Selama karier Sir Piers sebagai politikus, diplomat, dan kini presiden direktur bank Kane & Cabot London, ia belum pernah melihat seseorang yang begitu muda tetapi penuh kesadaran akan kemampuan dirinya. Sikap tenang tak kehilangan akal hanya dianugerahkan kepada sedikit orang saja. Demikian komentarnya beberapa tahun kemudian. Richard Kane menerima anugerah itu. Dan kini telah diwariskan kepada anak tunggalnya. Pada hari Kamis berikutnya dalam minggu itu William genap 6 tahun. Tapi ia tak membuka hadiah-hadiahnya salah satu pun.

Daftar orang-orang yang terlepas dari maut tiba dari Amerika secara bertahap. Lalu dicek dan dicek ulang oleh Anne. Semuanya memberi kepastian bahwa Richard Lowell Kane tetap masih hilang di laut. Diandaikan  telah tenggelam. Selang satu minggu lagi William pun telah melepaskan harapan akan ayah yang lolos dari maut.

Anne merasa sangat sedih harus naik Aquitania. Namun  William nampaknya sangat bergairah bepergian di laut. Berjam-jam ia duduk di atas dek pengamat. Memandangi air tak berbentuk.

'Esok aku akan menemukannya" demikian setiap kali ia berjanji kepada ibunya. Mula-mula penuh keyakinan. Kemudian dengan suara yang hampir tak menyembunyikan ketidakpercayaannya sendiri.

'William, tak ada seorang pun yang dapat bertahan hidup selama 3 minggu di Atlantik Utara."

*Bahkan ayahku juga tidak?"

'Ayahmu pun juga tidak."

Ketika Anne kembali ke Boston, kedua nenek itu menunggunya di Rumah Merah. Mereka menyadari kewajiban yang dipercayakan kepada mereka. Tanggungjawab telah dikembalikan kepada kedua nenek itu. Anne secara pasif menerima peranan mereka yang memang berhak. Baginya hidup tak mempunyai tujuan lagi kecuali William, yang nasibnya kini Nampak tegas akan diawasi oleh mereka. William tahu sopan-santun. Tapi ia tak bersikap membantu mereka. Siang hari ia dengan diam mengikuti pelajaran Tuan Munro.Dan malam hari ia menangis di pangkuan ibunya.

*Ia butuh ditemani anak-anak lain" kedua nenek itu menjelaskan. Dan mereka memecat Tuan Munro serta perawat. Mereka menyekolahkan William ke Sekolah Sayre dengan harapan supaya ia mulai memasuki dunia riel. Dan selalu ditemani anak-anak lain sehingga kembali menemukan dirinya sendiri seperti semula. Richard mewariskan sebagian besar milik tanahnya kepada William supaya tetap di dalam lingkungan keluarga, hingga William mencapai usia 21 tahun. Testamen itu dibubuhi klausul. Richard mengharapkan putranya kelak menjadi presiden direktur bank Kane & Cabot atas jasanya sendiri. Itulah satu-satunya bagian testamen ayahnya yang memberi in-spirasi kepada William. Selanjutnya semua menjadi miliknya karena hak kelahirannya. Anne menerima modal sebesar $ 500.000.Dan suatu penghasilan seumur hidup sebesar $ 100.000 setahun setelah dipotong pajak. Ini otomatis akan berhenti bila ia menikah kembali. Ia juga menerima rumah di Beacon Hill, villa musim panas di Pantai Utara, rumah di Maine, dan sebuah pulau kecil di lepas Teluk Cod. Semuanya harus diwariskan kepada William bila Anne meninggal.

Kedua nenek menerima $ 250.000, dan surat-surat yang jelas-jelas menunjukkan tanggungjawab mereka bila Richard mendahului mereka ke alam baka. Perwalian keluarga ini harus ditangani oleh bank. Dan bapak serta ibu emban baptis William bertindak sebagai rekan wali. Penghasilan perwalian harus diinvestasikan kembali tiap tahun dalam usaha-usaha konservatif.

Setelah setahun penuh barulah kedua nenek itu selesai berkabung. Dan walau Anne baru berusia 28 tahun, namun kini untuk pertama kali ia nampak sesuai umurnya.

Kedua nenek itu, tidak seperti Anne, menyembunyikan kesedihan mereka di muka William, hingga akhirnya William memperingatkan mereka akan hal itu.

“Apakah nenek tak merasa kehilangan ayah?" tanyanya sambil memandang nenek Kane dengan mata biru yang mengingatkan akan putranya sendiri.

'Ya nak, tapi ia tak menghendaki kita hanya duduk terkumpul-kumpul dan merasa iba terhadap diri kita sendiri."

*Tapi aku ingin kita selalu mengenangnya – selalu”suara William meledak.

'William, aku akan bicara kepadamu untuk pertama kalinya seolah-olah engkau telah dewasa. Kita akan menjunjung tinggi kenangan kepadanya. Engkau akan berperan dalam tugas hidupmu sesuai dengan harapan ayahmu. Engkaulah kini yang menjadi kepala keluarga dan waris harta karun. Oleh karena itu engkau harus mempersiapkan diri dengan kerja supaya pantas menerima warisan itu dengan semangat yang sama sebagaimana ayahmu bekerja untuk menambah warisan itu bagimu."

William tidak menjawab. Dengan demikian ia mempunyai motivasi untuk hidup yang tak ia miliki sebelumnya. Dan ia bertindak sesuai saran neneknya. Ia belajar hidup menyandang kesedihannya tanpa mengeluh. Dan sejak saat itu dengan tegar ia terjun dalam tugasnya di sekolah. Dan hanya merasa puas bila nenek Kane nampak terkesan. Dalam segala mata pelajaran ia menonjol. Dan dalam matematika ia tak hanya menduduki peringkat pertama dalam kelas, melainkan juga beberapa tahun mendahului kelasnya.Ia bertekad apa yang diraih ayahnya akan ia capai dengan lebih baik lagi. Ia bahkan tumbuh lebih dekat lagi dengan ibunya. Dan mencurigai setiap orang yang bukan keluarganya. Hingga ia kerapkali dianggap sebagai anak yang kesepian. Sendiri. Dan secara tak wajar dianggap sebagai seorang penyombong.

Ketika ia menginjak usia 7 tahun, kedua nenek itu memutuskan untuk mengajarinya tentang nilai uang. Mereka memberinya uang saku 1 dollar seminggu. Tapi mereka menuntutnya membuat pembukuan dari setiap sen yang ia keluarkan. Mengingat itu semua mereka menghadiahkannya sebuah buku kas dijilid dengan kulit berwarna hijau seharga 95 sen. Uang itu mereka ambilkan dari uang saku mingguannya yang pertama. Sejak minggu kedua nenek membagikan uang saku satu dollar itu pada hari Sabtu pagi.

William menginvestasikan 50 sen. Membelanjakannya 20 sen. Dan mendanakan 10 sen sesuai pilihannya. Dan menyisakan 20 sen sebagai cadangan. Pada akhir setiap triwulan kedua nenek William memeriksa buku kas serta laporan tertulisnya mengenai setiap transaksi. Sesudah triwulan pertama, William telah siap mengerjakan akuntansinya sendiri. Ia telah mendanakan $1.30 kepada Pandu Amerika yang baru saja didirikan. Dan menginvestasikan $5.55 yang ia mintakan kepada nenek Kane untuk dimasukkan dalam rekening tabungan di bank bapak emban baptisnya J.P. Morgan yang telah almarhum. Ia telah membelanjakan $2.60 yang tak perlu ia pertanggung-jawabkan. Dan telah menahan $2.60 sebagai cadangan Buku kas itu merupakan sumber kepuasan bagi kedua nenek. Tak pelak lagi: William adalah putra Richard Kane.

Di sekolah William masih bersahabat dengan beberapa teman. Sebagian karena ia malu bergaul dengan seseorang yang bukan anggota keluarga Cabot, Lowell, atau anak-anak keluarga yang lebih kaya dari keluarganya sendiri. Ini memperketat kalangan sahabatnya hingga ia menjadi anak yang sangat serius.Hal ini mencemaskan ibunya. Padahal ibunya menginginkan supaya William dapat hidup lebih normal. Dan dalam hati ibunya tidak menyetujui adanya buku kas induk ataupun rencana investasi itu. Anne lebih menyukai bila William mempunyai banyak teman-teman muda daripada penasehat-penasehat tua. Biar ia kotor dan memar daripada tetap mulus tak bercela. Biar mengumpulkan katak dan kura-kura daripada mengumpulkan saham dan laporan perusahaan. Pendek kata biar menjadi seperti anak kecil lainnya. Tetapi Anne tak pernah berani mengatakan kepada nenek tentang kecemasannya. Pendek kata nenek berdua tak berminat terhadap bocah kecil lainnya siapa pun.

Pada hari ulang tahunnya yang ke-9 William menyerahkan buku kas kepada neneknya untuk pemeriksaan tahunan yang kedua kali. Buku kas hijau menunjukkan tabungan selama dua tahun sebanyak 50 dollar lebih. Ia secara khusus merasa bangga dapat menunjukkan kepada neneknya sebuah entri lama ditandai “B6". Itu menunjukkan bahwa ia telah mengambil uangnya dari bank J.P. Morgan langsung ketika ia mendengar kematian bankir besar tersebut. Sebab ia ingat bahwa bank ayahnya sendiri merosot nilai sahamnya setelah pengumuman kematiannya. Wiliam lalu menginvestasikan kembali uang itu 3 bulan kemudian sebelum umum menyadari bahwa perusahaannya lebih besar daripada perorangan siapa pun orangnya.

Nenek berdua cukup terkesan. Mereka mengizinkan William menjual sepedanya dan membeli sepeda baru. Setelah itu ia masih mempunyai modal lebih dari $ 100. Uang itu lalu diinvestasikan oleh nenek Kane dalam perusahaan Standard Oil di New Jersey. Minyak itu hanya bisa menjadi lebih mahal lagi. Demikian kata William penuh pengertian. Ia dengan cermat menyusun buku kasnya yang selalu disesuaikan hingga hari ulang tahunnya yang ke-21. Seandainya pada waktu itu kedua nenek itu masih hidup, mereka pasti akan bangga akan entri terakhir di kolom kanan yang berjudul “Aset".