Salam dari Taman Bacaan Saulus

Salam dari Taman Bacaan Saulus
Pandangan

Senin, 05 Juni 2017

BAB 11 KANE DAN ABEL. SI HABIL TIBA DI AMERIKA, AWAL HIDUP

Nah, di Bab 11  ini Abel atau si Habil, resmi menggunakan nama Abel. Lika-liku hidup pun di mulai baginya, diawali perkenalannya dengan orang-orang di Kapal, akan menentukan juga jalan hidupnya kemudian. Selamat menikmati kisah ini, semakin seru ....

BAB 11

Wladek tinggal di konsulat Polandia di Konstanstinopel selama satu tahun. Bukan hanya beberapa hari sebagaimana ia harapkan. Sambil bekerja siang malam untuk Pawel Zaleski. Dan menjadi pembantu yang tak terpisahkan. Serta menjadi sahabat karibnya.

Tak ada satu hal pun yang terlalu sulit baginya. Dan Zaleski cepat mulai keheran-heranan bagaimana ia, sebelum kedatangan Wladek, dapat membereskan segala sesuatunya. Anak itu mengunjungi kedutaan Inggris sekali seminggu untuk makan di dapur bersama Ny. Henderson, wanita Skotlandia itu. Dan suatu saat bahkan bersama Konsul Kedua Kerajaan Inggris sendiri.

Sekitar mereka cara hidup Islam kuno mulai luntur. Dan kerajaan Uthman mulai tertatih-tatih. Mustafa Kemal adalah nama yang disebut-sebut setiap orang. Perasaan akan adanya perubahan tak menentu yang sedang terjadi membuat Wladek resah. Pikirannya selalu kembali ke Tuan Baron. Dan semuanya saja yang dicintainya di kastil. Keharusan untuk bertahan hidup di Rusia dari hari ke hari telah menjauhkan mereka dari alam pikirannya. Tapi di Turki mereka bangkit kembali di hadapannya. Merupakan perarakan pelan dan diam-diam. Kadang.kadang ia dapat melihat mereka kuat dan bahagia Leon sedang berenang di sungai . Floretyna sedang bermain-main sarang kucing di ranjangnya. Wajah Tuan Baron. Tegap dan bangga. Diterpa sinar lilin di waktu senja. Tetapi selalu wajah-wajah yang ia ingat. Sangat ia cintai.. Dan bergetar bila Wladek ingin mendekap mereka. Mereka berubah menjadi pemandangan yang mengerikan. Leon mati menindihi tubuhnya. Florentyna berlumuran darah sedang sekarat. Dan tuan Baron hampir buta. Patah.

Wadek mulai menyadari bahwa ia tidak bisa kembali ke tanah yang dihuni oleh hantu-hantu seperti itu. Kecuali bila ia dapatmembuat kehidupannyu menjadi sesuatu yang pantas. Dengan gagasan satu itu dalam pikirannya ia memusatkan hatinya, untuk pergi Ke Amerika. Sebagaimana teman setanah airnya Tadeusz Kosciusko telah berbuat lama sebelumnya. Orang ini telah diceritakan Tuan Baron penuh kisah-kisah memikat. Amerika Serikat yang oleh Pawel Zaleski dilukiskan sebagai “Dunia Baru”. Julukan ini mengilhami Wladek mempunyai harapan, terhadap masa depan. Dan kesempatan, suatu saat, kembali berjaya ke polandia. Pawel Zaleski-lah. yang mengumpulkan uang untuk membeli tiket kapal bagi Wladek menjadi imigran ke Amerika Serikat. Tiket itu memang sulit diperoleh, sebab selalu dipesan paling sedikit, setahun sebelumnya. Bagi Wladek seolah-olah seluruh Eropa Timur mencoba melarikan diri dan mulai baru sama sekali di Dunia Baru.

Dalam musim semi tahun 1921, Wladek Koskiewicz akhirnya meninggalkan Konstantinopel. Naik kapal Black Arrow menuju Pulau Ellis, New York. Ia mempunyai satu kopor berisikan seluruh miliknya. Dan seberkas surat-surat penting yang dikeluarkan oleh Pawel Zaleski.

Konsul Polandia mengantarkannya sampai dermaga. Dan memeluknya hangat. 'Pergilah bersama Tuhan, anakku."

Jawaban Polandia tradisional sudah barang tentu meluncur dari lubuk kedalaman masa kanak-kanak Wladek "Tetaplah bersama Tuhan," jawabnya.

Ketika mencapai puncak tangga naik kapal, Wladek ingat perjalanannya yang mengerikan dari Odessa ke Konstantinopel. Kali ini tak ada batubara yang nampak. Hanya orang-orang di mana-mana. Orang-orang Polandia, Lithuania, Estonia, Ukraina, dan lain-lain berbagai tipe ras yang tidakbiasa bagi Wladek. Ia memegang erat miliknya. Dan antri menanti. Suatu penantian pertama dari sekian banyak penantian yang akan mengiringinya masuk keAmerika Serikat.

Surat-suratnya diperiksa dengan teliti oleh petugas geladak yang jelas memiliki predisposisi mencurigai Wladek bahwa ia menghindari wajib militer di Turki. Tapi dokumen-dokumen Pawel Zaleski tanpa cela. Dengan diam Wladek memohon berkat atas sahabat setanahairnya itu. Karena ia melihat orang-orang lain ditolak.

Kemudian diadakan cacar serta pemeriksaan kesehatan. Bila Wladek tidak berada di Konstantinopel satu tahun sebelumnya dengan makanan bergizi dan kesempatan memulihkan kesehatan, maka ia pasti gagal dalam pemeriksaan itu. Akhirnya setelah berkali-kali dicek ulang, ia diizinkan ke geladak bawah ke ruangan kelas dek. Ada ruangan khusus pria, wanita, dan pasangan suami-isteri. Wadek cepat menuju ke ruangan khusus pria. Ia berjumpa dengan kelompok Polandia yang menempati satu blok besar tempat tidur. Setiap tempat tidur berisikan empat ranjang susun. Setiap ranjang susun itu dialasi kasur jerami. Selimut tipis. Tanpa bantal. Tak berbantal tidaklah mencemaskan Wladek yang tak pernah tidur berbantal sejak meninggalkan Rusia.

Wladek memilih ranjang susun di bawah seorang bocah yang kira-kira seumur dengannya. Dan ia memperkenalkan diri.

"Saya Wladek Koskiewicz.”

"Saya Jerzy Nowak dari Warsawa,,, anak itu dengan suka rela berbahasa polandia, bahasa ibunya.

“Dan aku akan mengadu untung di Amerika.,”Bocah itu mengacungkan tangannya.

Selama waktu sebelum kapal berlayar Wladek dan Jerzy saling menceritakan pengalaman mereka. Mereka berdua senang menemukan seseorang yang diajak berbagi kesendirian mereka. Tak ada yang mau mengakui sama sekali tidak mengenal Amerika . Jerzy ternyata sudah kehilangan orang-tuanya selama perang. Tapi punya sedikit tuntutan lain yang harus diperhatikan. Ia sangat kagum akan cerita Wladek: putra seorang baron. Dididik di pondok seorang penjerat binatang. Dipenjara oleh orang-orang Jerman dan orang-orang Rusia. Lolos dari Siberia. Kemudian dapat terbebas dari algojo Turki berkat gelang perak yang tak habis-habisnya diamati oleh Jerzy. Wladek dalam waktu 15 tahun telah mengumpulkan bekal lebih daripada yang diperkirakan Jerzy dapat ia kumpulkan sepanjang hidupnya. Semalam suntuk Wladek menceritakan masa silamnya. Sedang Jerzy mendengarkannya penuh minat. Tak ada yang mau tidur. Dan tak ada yang mau mengakui kecemasannya tentang masa depan.

Keesokan harinya Black Arrow berlayar. Wladek dan Jerzy berdiri di pegangan tangga. Dan memandangi kota Konstantinopel menghilang dalam bentangan biru selat Bosphorus. Setelah tenang melintasi laut Marmara, maka serangan laut Aegea mengguncang mereka dan kebanyakan para penumpang lain dengan gerakan mendadak yang dahsyat. Dua ruang cuci muka untuk para penumpang kelas, dengan sepuluh bak mandi terpisah, enam WC dan saluran air asin dingin tidak mencukupi. Setelah beberapa hari bau ruangan mereka sangat menyengat.

Makanan disajikan di meja panjang dalam bangsal makan yang besar dan kotor sop panas, kentang, ikan, daging rebus dan kol, roti coklat atau hitam.

Wladek telah merasakan makanan yang lebih buruk lagi. Tapi tidak sejak di Rusia. Dan ia senang dengan bekal yang telah dibungkuskan oleh Nyonya Henderson: sosis, kacang-kacangan, dan sedikit brandy. Wladek dan Jerzy berbagi makanan itu duduk rapat disudut tempat tidur mereka. Itu merupakan saling pengertian yang tak terucapkan. Mereka makan bersama. Melihat-lihat kapal bersama. Dan malam hari tidur di ranjang susun, satu di bawah, satunya di atas.

Pada hari ketiga di laur Jerzy membawa gadis polandia ke meja makan malam mereka. Nama gadis itu, demikian informasi yang diberikannya kepada Wladek secara sambil lalu, adalah Zaphia. Untuk pertama kali  hidupnya Wladek memandang gadis dua kali. Tapi ia tak dapat berhenti memandangi Zaphia. Zaphia menceriakan kembali ingatan akan Florentyna. Mata kelabu yang hangat. Rambut pirang memanjang hingga ke bahu dun suara yang empuk. Wladek merasakan ingin menyentuhnya. Gadis itu kadang tersenyum kepadaa Wladek. Wladek  sangat menyadari bahwa Jerzy jauh lebih tampan daripada dirinya. Ketika Jerzy mengawal Zaphia kembali ke ruangan wanita, Wladek mengikuti mereka.

Kemudian Jerzy berpaling kepadanya agak tersinggung " Apakah tak bisa ..mencari gadis sendiri? Ini milikku."

Wladek tak siap mengakui bahwa ia tak tahu apa-apa tentang mencari gadisnya sendiri.

"Masih ada cukup waktu untuk gadis-gadis bila kita tiba di Amerika.,; katanya  mengejek

"Mengapa menunggu sampai Amerika? Aku berniat memperoleh sebanyak-banyaknya di kapal ini.”

"Bagaimana engkau bisa melaksanakanya ?” tanya wladek sangat bergairah memperoleh pengetahuan. Tanpa mengakui ketidaktahuannya sendiri.

"Kita masih punya wakru 12 hari di bak mengerikan ini. Dan aku akan memperoleh 12 wanita lagi.,” bual Jerzy.

“Apa yang bisa kau perbuat dengan 12 wanita?,” tanya Wladek.

'Menyetubuhi mereka. Apa lagi?"

Wladek melongo.

'Ya, ampun!" kata Jerzy. "Jangan bilang bahwa orang yang selamat dari tangan orang-orang Jerman dan lolos dari orang Rusia, usia 12 tahun membunuh orang, dan hampir saja tangannya dipenggal segerombolan orang Turki biadab, tak pernah punya wanita?”

Ia tertawa. Dan cemoohan bersama berbagai.bahasa dari bangku-bangku tidur di sekitarnya mengharuskannya tutup mulut.

'Nah," lanjut Jerzy dengan berbisik "sudah tiba saatnya memperluas pendidikanmu. Sebab akhirnya aku menemukan sesuatu yang dapat kuanjurkan kepadamu." Ia menatap melintasi sisi bangku tidurnya, walaupun ia tak dapat melihat wajah Wladek dalam kegelapan. "Zaphia adalah gadis yang penuh pengertian. Aku berani berkata ia dapat diyakinkan untuk sedikit memperluas pendidikanmu. Akan kuatur itu.,”

Wladek tak menjawab.

Tak ada sepatah pun yang dikatakan lagi tentang hal itu. Tapi hari berikutnya Zaphia mulai memperhatikan Wladek. Waktu makan ia duduk di sampingnya. Dan berjam-jam mereka mengobrol tentang pengalaman dan harapan mereka. Ia adalah anak yatim dari Poznan. Sedang dalam perjalanan hendak bergabung dengan saudara-saudara sepupunya di Chicago. Wladek bercerita kepada Zaphia hendak pergi ke New York dan mungkin akan tingal bersama dengan Jerzy.

"Kuharap New York sangat dekat dengan Chicago." kata Zaphia.

“Kalau begitu kamu bisa datang dan menjengukku bila aku jadi walikota" kata Jerzy penuh semangat.

Zaphia mendengus meremehkan. "Engkau terlalu berwatak orang Polandia Jerzy. Engkau bahkan tak dapat bicara Inggris yang bagus seperti Wladek..”

“'Aku akan belajar " kata Jerzy penuh percaya diri ” Aku akan mulai dengan meng-Amerika-kan namaku. Sejak hari ini aku adalah George Novak. Nah, aku tak akan mengalami kesulitan apa-apa lagi. Setiap orang di Amerika Serikat akan mengira aku seorang Amerika. Engkau bagaimana Wladek Koskiewicz? Namamu tak banyak bisa diubah, ya kan?"

Wladek diam. Memandang kepada George yang baru saja menyandang nama baptis baru. Sambil menyesali namanya sendiri. Karena tak dapat menyandang gelar yang ia rasa sebagai warisannya yang sah. Ia membenci nama Koskiewicz. Sekaligus iapun membenci nama itu sebagai yang terus-menerus memperingatkannya akan dirinya sebagai anak haram.

“Aku bisa mengaturnya" katanya. ..Aku bahkan bisa membantumu memperbaiki Inggrismu bila kau mau."

“Dan aku akan membantumu menemukan gadis..”

Zaphia bercekikikan. "Tak usah kau urus. Ia telah menemukan seseorang.'

Jerzy atau George sebagaimana ia kini minta dipanggil, mengundurkan diri setelah makan malam. Masuk ke dalam salah satu perahu penolong yang terselubungi terpal bersama gadis berganti-ganti. Wladek ingin tahu apa yang dikerjakan George dalam perahu itu. Walaupun beberapa wanita pilihan George tidak hanya kumuh, melainkan juga jelas-jelas tak menarik. Bahkan bila disekrop bersih sekalipun.

Suatu malam setelah makan malam, ketika George menghilang lagi, Wladek dan Zaphia duduk di geladak. Dan Zaphia merangkul Wladek. Dan meminta menciumnya. Wladek menekankan bibirnya ke bibir Zaphia dengan kaku. Wladek merasa sangat tidak biasa dengan apa yang seharusnya ia lakukan. Wladek terkejut dan malu ketika lidah Zaphia lepas dari bibirnya. Setelah oemas beberapa saat, Wladek merasakan mulut Zaphia sangat menggairahkan. Dan ia tahu buah zakarnya menjadi kaku. Ia mencoba melepaskan diri dari Zaphia. Malu. Tapi Zaphia sama sekali tidak berkeberatan. Sebaliknya Zaphia mulai menekankan tubuhnya lembut-lembut pada tubuh Wladek dengan berirama. Dan menarik tangan Wladek turun ke bawah sampai pantat Zaphia. Zakar yang membengkak bergeseran dengan tubuh Zaphia. Memberinya kenikmatan luar biasa. Zaphia menarik mulutnya. Dan membisiki telinganya.

'Apa kau menghendaki aku melepas pakaian, Wladek?"

Wladek tak kuasa memberi jawaban.

Zaphia melepaskan diri darinya. Sambil tertawa.'Nah, mungkin besok." katanya. Sambil bangkit dari geladak dan meninggalkannya.

Ia sempoyongan kembali ke ranjangnya. Pusing. Merasa pasti ia besok akan menyelesaikan kerja yang tadi telah dimulai Zaphia. Begitu ia merebahkan diri di ranjang sambil memikirkan bagaimana cara menuntaskan kerja itu, tiba-tiba tangan besar mencekam rambutnya. Dan menariknya dari ranjang jatuh ke lantai. Dalam sekejap kegairahan seksnya lenyap. Dua orang yang belum pernah ia lihat sebelumnya mengungkuli di atasnya. Mereka menyeretnya ke sudut yang jauh dan melemparkannya ke dinding. Kini tangan besar menutup rapat mulut Wladek. Sedang sebuah belati menyentuh tenggorokan.
"Jangan bernafas" bisik seseorang yang memegangi belati. Ia menekankan bilah itu atas kulitnya.

'Yang kami kehendaki ialah gelang perak yang kaukenakan."

Mendadak ia sadar bahwa harta itu mungkin dicuri orang. Itu sangat mengejutkan Wladek. Sebagaimana dulu gagasan akan kehilangan tangannya. Sebelum ia sempat berpikir melakukan suatu apa, salah seorang itu merenggut gelang dari pergelangannya. Ia tak dapat melihat wajah mereka dalam kegelapan. Dan ia takut jangan-j angan harus kehilangan gelangnya untuk selama-lamanya. Tiba-tiba seseorang meloncat ke punggung pemegang belati. Ini memberi kesempatan kepada Wadek meninju orang yang memeganginya terpaku pada dinding. Para imigran yang mengantuk di sekitar mereka mulai terbangun. Mereka memperhatikan apa yang sedang terjadi. Dua orang itu meIarikan diri secepat mungkin. Tapi George sudah menusukkan belati ke sisi salah seorang penyerang..

"Nyahlah terkena kolera sana!,'teriak Wladek kepada orang yang melarikan diri.

"Nampaknya aku datang ke mari tepat pada waktunya" kata George, "Kukira mereka tak akan tergesa-gesa kembali." Ia memandangi gelang perak tergeletak di lantai penuh serbuk gergaji yang terinjak-injak.

“Sungguh hebat" katanya hampir bernada resmi "Pasti selalu ada orang yang ingin mencuri hadiah seperti ini darimu."

Wladek memungut gelang itu. Dan mengenakannya kembali ke pergelangannya.

'Nah, kamu hampir-hampir saja kehilangan benda itu untuk selama-lamanya." kata George. "Untung aku kembali agak terlambat malam ini."

"Mengapa engkau kembali agak terlambat? " Tanya Wladek.

"Reputasiku" jawab George membual. "Reputasiku ini sekarang mendahuluiku. Nyatanya aku menemukan seorang gila lain dalam perahuku malam ini. Sudah rnenurunkan pantalonnya. Namun aku segera terbebas darinya, ketika kuberitahu bahwa ia sedang bersama dengan gadis yang kukencan minggu lalu, tapi aku tak tahu dengan pasti jangan-jangan ia gadis yang terkena cacar. Aku belum pernah melihat seseorang berpakaian secepat itu."

'Engkau mengerjakan apa di perahu itu?" Tanya Wladek.

"Tentu saja menyetubuhi mereka, tolol. Kaukira apa?" Dan dengan ucapan itu George menggelundung dan tidur.

Wladek memandangi langit-langit. Lalu menyentuh gelang perak. Memikirkan apa yang dikatakan George. Merenung-renung bagaimana rasanya “menyetubuhi" Zaphia.

Hari berikutnya mereka diserang badai. Dan semua penumpang diharuskan berada di geladak bawah. Bau yang diperkeras oleh sistem pemanasan kapal serasa meresap sampai ke sumsum Wladek.

 "Dan yang paling celaka,” geram George “Aku tak akan berhasil mencapai lengkap 12 orang sekarang ini."

Ketika badai reda, hampir semua penumpang mengungsi ke geladak. Wladek dan George menyeruat di gang penuh orang. Bersyukur atas udara yang Segar. Banyak gadis-gadis tersenyum kepada Ceorge. Tapi bagi Wladek nampaknya mereka- sama sekali tidak memperhatikannya. Seorang gadis berambut hitam, dengan pipi merah jambu diterpa angin, berpapasan dengan George dan tersenyum kepadanya. George berpaling ke Wadek.

"Akan kudapat dia malam ini.,”

Wladek menatap gadis itu. Dan mengamati caranya memandang kepada George.

"Nanti malam,, kata George ketika gadis itu berpapasan sejauh telinga dapat mendengai kata-katanya. Gadis itu pura-pura tidak mendengarnya. Dan pergi agak terlalu cepat.

"Berpalinglah Wadek, dan perhatikan apakah ia menengok kembali kepadaku. "

Wladek berputar. “ya, ia menengok kepadamu." katanya keheran-heranan.

"Ia milikku nanti malam.” kata George. “Apakah engkau telah memiliki Zaphia?”

"Belum. Nanti malam,” kata Wladek.

"Sudah waktunya, ya kan? Engkau tak akan pernah melihat gadis itu lagi sesampai di New York.,,

Memang betul. Malam itu George datang makan malam bersama gadis berambut hitam. Tanpa berkata sepatah katapun, Wladek dan Zaphia meninggalkan mereka. Sambil saling memeluk pinggang. Pergi ke geladak.

Dan berjalan-jalan mengelilingi kapal beberapa kali. Wladek melirik wajah Zaphia yang cantik dan muda. Maka Wadek memutuskan: sekarang atau tak akan pernah terjadi. Wladek membimbingnya ke sudut yang penuh bayangan. Dan mulai menciumi Zaphia sebagaimana Zaphia menciumnya: dengan mulut terbuka. Zaphia undur sedikit hingga pundaknya bersandar pada dinding. Dan Wladek bergerak bersamanya. Zaphia menurunkan tangan Wladek pelan hingga ke payudara. Ia coba-coba menyentuhnya. Kaget karena lunak. Zaphia melepas beberapa kancing bajunya. Dan meyelipkan tangan Wladek ke dalamnya. Rasa pertama menyentuh daging telanjang sangatlah nikmatnya.

"Buset. Tanganmu dingin ! " kata Zaphia.

Wladek merapatkan diri pada Zaphia. Mulut kering. Napas tersengal. Zaphia sedikit merenggangkan kakinya. Dan Wladek dengan kaku menyerbu melalui beberapa lapis pakaian di antara mereka. Beberapa menit lamanya Zaphia bergerak mengikutinya dengan simpati. Lalu mendorongnya pergi.

"Jangan di sini di geladak." katanya. "Mari cari perahu."

Tiga perahu pertama yang mereka tengok ternyata sudah terisi. Tapi akhirnya mereka menemukan satu perahu kosong. Lalu menggeliut di bawah terpal. Dalam kegelapan Zaphia membuat beberapa penyesuaian pakaiannya hingga Wadek tak dapat membayangkan bagaimana. Dan Zaphia dengan lembut menariknya menindih dirinya. Zaphia hanya butuh waktu sebentar untuk merangsang Wladek hingga memuncak seperti semula melalui beberapa lembar pakaian di antara mereka.Ia memasukkannya di antara kaki Zaphia dan hampir mencapai saat orgasme, ketika Zaphia menarik mulutnya.

"Lepaskan pantalonmu" bisik Zaphia.

Wladek merasa seperti orang gila. Tapi buru-buru melepaskan pantalonnya. Lalu menyerbu daging empuk yang menyerahkan diri terakhir mereka kepadanya. Langsung memuncak. Merasakan lendir basah-basah lengket meleleh ke dalam bagian dalam paha Zaphia. Wladek terlentang pusing. Senang karena kejutan tindakan itu. Tiba-tiba ia sadar takik kayu perahu penyelamat itu menyakiti siku dan lututnya.

"Apakah ini pertama kali engkau bercintaan dengan gadis?" Tanya Zaphia. Mengharapkan supaya Wladek merapat.

"Tidak. Sudah barang tentu tidak." kata Wladek.

"Apa kau cinta padaku, Wladek?"

"Ya, aku cinta padamu." katanya. "Dan begitu aku telah mapan di New York aku akan datang menemuimu di Chicago."

"Itu yang kusukai, Wladek." kata Zaphia sambil menutup kancing bajunya. "Aku juga cinta padamu."

Ketika Wladek kembali, pertanyaan George yang pertama adalah "Apa sudah kau setubuhi?"

"Ya"

“Apa hebat?"

“Ya' kata Wladek ragu. Kemudian ia tertidur. Di pagi hari mereka terbangun karena hiruk-pikuk penumpang-penumpang lain. Mereka senang karena tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir mereka di kapal Black Arrow (Panah Hitam). Beberapa dari mereka sudah bangun berada di geladak sebelum matahari terbit. Mereka mengharap melihat tanda pertama adanya daratan. Wladek mengemasi miliknya yang sedikit itu ke dalam kopor barunya. Ia mengenakan satu-satunya setelannya. Dan pet. Lalu bergabung dengan Zaphia dan George di geladak. Ketiga-tiganya memandang kabut yang menyelimuti laut. Dengan diam mereka menunggu melihat Amerika Serikat untuk pertama kalinya.

"Itu dia!" teriak seorang penumpang di geladak di atas mereka. Dan mereka bersorak ketika melihat garis kelabu Long Island makin mendekat di pagi harimmusim semi.
Kapal-kapal penyeret buru-buru datang di sisi kapal Black Arrow dan memandunya memasuki pelabuhan New York melewati di antrra Brooklyn dan Staten Island. Patung Kemerdekaan raksasa itu nampak memandangi mereka dengan tajam, sementara mereka kagum memandang kaki langit Manhattan yang menjulang. Obor patung Kemerdekaan itu diangkat tinggi-tinggi di langit dini hari.

Akhirnya mereka berlabuh dekat gedung bermenara dan berpuncak bata merah di Ellis Island. Para penumpang yang mempunyai kabin pribadi adalah yang pertama-tama meninggalkan kapal. Wladek tidak memperhatikan mereka hingga hari itu. Mereka mestinya mempergunakan geladak tersendiri dengan bangsal makan tersendiri pula. Kopor-kopor mereka diangkut para kuli. Dan di geladak mereka disambut wajah-wajah penuh senyum. Wladek tahu itu tak akan berlaku baginya. Setelah beberapa gelintir orang istimewa turun kapal, maka kapitan mengumumkan dengan corong kepada semua sisa penumpang bahwa mereka tak boleh meninggalkan kapal selama beberapa jam. Mereka menggerutu kecewa. Dan Zaphia duduk di geladak. Menangis. Airmatanya bercucuran. Wladek mencoba menghiburnya. Akhirnya seorang petugas berkeliling mengedarkan kopi petugas kedua membawa label bernomor yang digantungkan di leher penumpang. Nomor Wladek B l27. Itu mengingatkannya akan kali terakhir ketika ia masih merupakan nomor belaka. Ia masuk mau dijadikan apa? Apakah Amerika seperti kamp-kamp Rusia? Di tengah sore hari (mereka tidak lagi diberi makan maupun informasi apa pun) mereka dibawa masuk dok di Ellis Island. Di sana para pria dipisahkan dari para wanita. Dan dikirim ke berbagai bangsal.

Wladek mencium Zaphia dan tak mau melepaskannya, sambil menempati urutannya. Seorang petugas yang lewat lalu memisahkan mereka.

"Baiklah. Ayo jalan terus.,, katanya. ..pegang erat-erat. Dan kami segera akan menikahkan kalian berdua.,'

Wladek tak melihat Zaphia lagi ketika ia dan George didorong maju. Mereka bermalam di gudang tua dan pengap. Mereka tak dapat tidur. Sebab para penerjemah lalu-lalang melalui deretan ranjang, sambil memberikan pertolongan singkat tapi ramah kepada para imigran yang masih kebingungan.

Pagi hari kesehatan mereka diperiksa. Rombongan pertama paling ditekan. Wladek diharuskan mendaki tangga yang sangat terjal. Dokter yang berseragam biru itu menyuruhnya mengerjakan itu dua kali. Sambil mengawasi gaya jalannya dengan hati-hati Wladek berusaha sekuat tenaga mengurangi kepincangannya.

Dan akhirnya dokter itu puas. Wladek lalu diperintahkan melepas topi dan kolar yang kaku, sehingga wajah, mata, rambut, tangan, dan leher dapat diperiksa dengan cermat. Orang di belakang Wladek tepat, mempunyai bibir sumbing. Dokter segera menghen-tikannya. Pundak kanan diberi tanda salib dengan kapur. Lalu dikirim ke sisi lain gudang itu. Setelah pemeriksaan fisik selesai, Wladek bergabung dengan George, antri panjang di luar ruang Pemeriksaan Umum. Di situ setiap orang diwawancarai sekitar lima menit. Tiga jam kemudian ketika George dipanggil masuk ruangan, Wladek keheran-heranan apa yang hendak ditanyakan kepadanya. Ketika George akhirnya keluar ia menggerutu kepada Wladek. "Mudah saja. Kamu akan lolos begitu saja." katanya. Wladek dapat merasakan telapak tangannya berkeringat, ketika ia maju.

Ia mengikuti petugas memasuki ruangan kecil tanpa hiasan. Ada dua orang pemeriksa sedang duduk dan kesetanan menulis di kertas-kertas resmi.

“Bisa berbahasa Inggris?" tanya pemeriksa pertama.

'Ya, pak. Cukup lancar." jawab Wladek yang sebenarnya menginginkan berbicara bahasa Inggris lebih banyak dalam perjalanan itu.

"Siapa namamu?"

"Wladek Koskiewicz  pak."

Orang-orang itu menyerahkannya sebuah buku hitam besar. "Tahukah kamu apa ini?"

"Ya pak. Kitab Suci."

"Apa kamu percaya kepada Tuhan?"

"Ya pak. Aku percaya."

"Letakkan tanganmu atas Kitab Suci dan bersumpahlah bahwa kamu akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dengan sebenarnya."

Wladek memegang Kitab Suci dengan tangan kiri, dan meletakkan tangan kanan di atasnya. "Aku berjanji akan mengatakan kebenaran."

"Kamu berkebangsaan apa? "

"Polandia"

"Siapa yang membayar tiketmu ke mari?,,

"Aku membayarnya dengan uang yang kuperoleh di Konsulat Polandia di Konstantinopel.,,

Salah seorang petugas memeriksa surat-surat Wladek. Mengangguk. Lalu bertanya"Apa sudah punya alamat rumah yang kau tuju?"

"Ya, pak. Aku akan tinggal di rumah Tuan Peter Novak. Ia adalah paman sahabatku. Ia tinggal di New York."

"Baik. Apakah sudah punya pekerjaan yang akan kau lakukan?"

"Sudah pak. Aku akan bekerja di toko roti Tuan Novak."

"Apakah pernah ditahan? "

Rusia sekilas melintas di benak Wladek. Itu tak termasuk. Turki? Ia tak akan menyebutnya.
“Tidak pak. Tak pernah."

“Apakah kamu seorang anarkis?"

“Bukan pak. Aku benci orang-orang komunis. Mereka membunuh kakak perempuanku."

"Apa kamu tinggal berdasarkan hukum Negara Amerika Serikat?"

"Ya Pak."

"Apa kamu punya uang?"

'Ya pak."

"Bolehkah kami melihatnya?"

"Ya pak." Wladek meletakkan setumpuk lembaran uang kertas dan beberapa uang logam.
'Terimakasih.' kata pemeriksa. "Kau boleh memasukkan uangmu ke dalam saku."

Pemeriksa kedua melihat Wladek. "Dua puluh satu ditambah dua puluh empat menjadi berapa?"

'Empat puluh lima' jawab Wladek tanpa ragu.

'Lembu itu punya kaki berapa?"

Wladek hampir-hampir tak mempercayai pendengarannya. "Empat pak" kalanya. Keheran-heranan jangan-jangan pertanyaan tersebut merupakan suatu kiat.

"Dan seekor kuda?"

"Empat, pak" jawab Wladek. Tetap bengong.

"Mana yang akan kau lempar ke laut bila kau berada di laut dalam sebuah perahu kecil yang perlu diperingan: Roti atau uang?"

'Uang pak." kata Wladek.

“Bagus." Penguji mengambil kartu yang telah diberi tanda "Diterima'. Dan menyerahkannya kepada Wladek. "setelah menukarkan uangmu, tunjukkan kartu ini kepada Pejabat Imigrasi. Sebutkan nama lengkapmu. Dan kamu akan memperoleh kartu registrasi. Kamu lalu akan diberi sertifikat tanda masuk. Bila kamu tak melakukan kejahatan selama lima tahun, dan lulus ujian membaca dan menulis dalam bahasa Inggris, dan setuju mendukung Konstitusi, kamu akan diizinkan memohon kewarganegaraan penuh Amerika Serikat. Selamat berjuang, Wladek.”

"Terimakasih pak."

Di loket penukaran uang, Wladek menyerahkan hasil tabungannya selama delapan belas bulan di Turki. Dan uang lembaran 50 rubel tiga lembar. Maka uang Turki itu ditukar dengan $ 47.20. Sedang uang rubel dikatakan tak ada nilainya sama sekali. Ia hanya dapat mengenang Dokter Dubien yang rajin menabung selama 15 tahun.

Langkah terakhir ialah menghadap pejabat Imigrasi, yang duduk di belakang balustrada di pagar jalan ke luar di bawah potret presiden Harding. Wladek dan George menghadapnya.

"Nama lengkapmu', tanya petugas kepada George.

"George Novak" jawabnya tegas. petugas menulis nama itu di atas sebuah kartu.

"Dan alamatmu?" tanyanya.

“286 Broome Street, New york, New york.”

Petugas itu menyerahkan kartu kepada George."Ini sertifikat Imigrasimu, 2l871 George Novak. Selamat datang di Amerika Serikat George. Aku juga seorang Polandia. Engkau akan senang di sini. Selamat dan sukses!'

George tersenyum dan bersalaman dengan petugas. Berdiri di sisi dan menunggu Wladek. Petugas memandang kepada Wladek. Wladek menyerahkan kartu yang telah ditandai "Diterima.”

“Nama lengkapmu?" tanya petugas.

Wladek ragu.

"Siapa namamu?" ulang orang itu agak lebih keras. Sedikit kurang sabar.

Wladek tak dapat mengeluarkan kata-katanya. Betapa ia membenci nama petani itu.

"Untuk terakhir kalinya, siapa namamu?,, George memandangi Wladek. Demikian pula orang-orang lain yang antri menghadap petugas imigrasi. Wladek tetap belum bicara. Petugas itu tiba-tiba menyambar pergelangan tangannya. Mengamati tulisan di gelang perak dengan cermat, menuliskannya di kartu dan menyerahkannya kepada Wladek.
"21872 - Baron Abel Rosnovski. Selamat datang di Amerika Serikat. Selamat dan sukses, Abel."

Jumat, 05 Mei 2017

BAB 10 KANE DAN ABEL. SANG KAIN KEHILANGAN IBU

SEMENTARA Wladek melawan Kehidupan keras di pembuangan, Kane si Kain, mengalami kesulitan dengan ibunya yang ditipu seorang Henry Osborne, hingga .... silakan ikuti kelanjutannya

BAB  10

Masa depan adalah sesuatu yang menggelisahkan Anne. Bulan-bulah pertama perkawinannya sangat bahagia. Hanya dikeruhkan oleh kecemasannya tentang ketidaksenangan William yang semakin besar terhadap Henry. Dan ketidakmampuan suaminya yang baru untuk mulai bekerja. Henry sedikit mudah tersinggung dalam hal ini. Inilah yang memperjelas Anne bahwa Henry masih terkacaukan orientasinya karena perang. Dan ia tidak mau tergesa-gesa memulai sesuatu yang mungkin akan tetap melibatkannya sepanjang sisa hidupnya. Anne berpendapat hal ini memang pahit untuk ditelan. Dan akhirnya persoalan ini menjadi bahan cek-cok mereka yang pertama.

"Aku tak mengerti mengapa engkau belum juga membuka bisnis real estate itu. Padahal biasanya engkau sangat bergairah, Henry."

"Tak bisa. Waktunya belum cocok. Pada saat ini pasaran tanah tak begitu cerah."

"Engkau telah mengatakan hal itu hampir setahun yang lalu. Aku khawatir jangan-jangan tak akan cukup cerah bagimu."

"Pasti akan cukup cerah. Yang benar ialah aku membutuhkan modal lebih banyak lagi untuk memulai. Sekarang jika kauberi uangmu, aku bisa mulai langsung esok pagi."

“ ltu mustahil, Henry. Engkau tahu isi wasiat Richard. Alimentasiku diberhentikan pada hari kita menikah. Dan sekarang aku hanya tinggal memiliki modalnya."

“ Sedikit dari modal itu akan membantuku memulai bisnis. Dan jangan lupa anakmu yang sangat berharga itu memiliki 20 juta lebih dalam perseroan keluarga."

"Nampaknya engkau tahu banyak tentang perseroan William,” kata Anne curiga.

“Oh, ayohlah Anne, beri aku kesempatan menjadi suamimu. Jangan buat aku seperti tamu di rumah sendiri."

"Uangmu kena apa, Henry? Kukira engkau punya cukup uang untuk memulai bisnismu sendiri. Itulah kesanmu padaku."

“Engkau selalu tahu bahwa aku secara financial bukan sekelas dengan Richard. Dan bahkan ada masanya, Anne, engkau menyatakan bahwa hal itu tak jadi soal. 'Aku akan menikah denganmu Henry, walau engkau takberduit sepeser pun.'' kata Henry merajuk.

Anne meledak dalam tangis. Airmatanya bercucuran. Dan Henry berusaha menghiburnya. Sisa sore itu dihabiskannya dalam pelukan suaminya sambil membicarakan masalah itu sekali lagi. Anne berhasil meyakinkan dirinya bahwa baru saja ia kurang bersikap sebagai isteri dan kurang murah hati. Ia memiliki lebih banyak uang daripada yang mungkin bisa diperlukannya. Apakah ia tak dapat mempercayakan sedikit dari uangnya itu kepada orang yang dipercayai mereksa sisa hidupnya?

Berdasarkan pemikiran-pemikiran tersebut ia setuju menyumbang Henry $ 100.000 untukmendirikan perusahaan real estate di Boston. Dalam waktu sebulan Henry telah menemukan kantor baru yang bagus di bagian kota yang elit. Ia menunjuk stafnya. Dan mulai bekerja. Kemudian ia cepat bergaul dengan para politisi di kota dan tokoh-tokoh real estate di Boston. Mereka berbicara tentang larisnya lahan pertanian dan mereka membuat Henry merasa tersanjung. Anne tak begitu mempedulikan mereka sebagai relasi sosial. Tapi Henry merasa bahagia dan Nampak sukses dalam pekerjaan.

Ketika William berusia 15 tahun, ia duduk di kelas tiga Kolese St. Paul. Secara keseluruhan ia menduduki peringkat ke-6. Dan ia nomor wahid dalam matematika. Ia juga menjadi tokoh yang sedang menanjak dalam Kelompok Diskusi. Sekali seminggu ia menulis surat kepada ibunya. Melaporkan kemajuannya. Selalu mengalamatkan surat-suratnya dengan: Kepada Nyonya Richard Kane. Ia menolak mengakui adanya Henry Osborne. Anne tak begitu yakin apakah ia harus membicarakan hal ini dengannya. Dan setiap Senin ia harus hati-hati mengambil surat William dari kotak surat supaya Henry jangan sampai melihat sampulnya. Ia tetap berharap bahwa pada waktunya William akan bisa menyukai Henry. Tapi jelaslah bahwa harapan itu sama sekali tidak realistis, ketika dalam salah satu surat kepada ibunya, William meminta izinnya untuk liburan musim panas bersama sahabatnya Matthew Lester. Dalam kamp liburan musim panas di Vermont dulu, kemudian bersama keluarga Lester di New York. Permintaan izin ini terasa bagaikan pukulan yang menyakitkan bagi Anne. Tapi ia mengambil jalan keluar yang mudah. Dan ia menyetujui rencana William. Nampaknya Henry juga condong demikian.

William membenci Henry Osborne. Dan memelihara kebencian ini dengan penuh nafsu. Sebab ia tak tahu dengan pasti kebencian itu mau diapakannya. Ia bersyukur bahwa Henry tidak pernah menjenguknya di sekolahan. Ia pasti tak dapat bertenggang rasa membiarkan anak-anak lain melihat ibunya bersama dengan orang itu. Sudah cukup menyakitkan bahwa ia harus hidup serumah dengan Henry di Boston.

Untuk pertama kali sejak pernikahan ibunya, William merasa cemas menghadapi liburan yang akan datang.

Mobil Packard keluarga Lester tanpa suara mengantarkan William dan Matthew ke kamp liburan di Vermont. Dalam perjalanan, Matthew secara iseng menanyakan kepada William mau apa bila tiba saatnya meninggalkan St. Paul.

"Kelak bila aku tamat sekolah menengah, aku jadi nomor wahid dalam kelas, menjadi wali kelas, dan aku akan memperoleh Beasiswa Matematika Hamilton Memorial untuk ke Harvard." jawab William tanpa ragu.

"Mengapa itu semua begitu penting?" Matthew bertanya polos.

“Ayah ku melakukan ketiga-tiganya"

“Jika engkau selesai mengalahkan ayahmu, aku akan memperkenalkanmu dengan ayahku."

William tersenyum.

Kedua anak itu menikmati liburan selama 6 minggu di Vermont. Penuh gairah. Dan sangat menyenangkan. Mereka memainkan semua permainan. Dari catur sampai sepak bola. Ketika waktu telah habis, mereka pergi ke New York untuk menikmati bulan terakhir dari liburan mereka bersama dengan keluarga Lester.

Mereka disambut oleh seorang kepala pelayan di pintu depan, ymg menyebut Matthew dengan "Tuan” dan seorang gadis umur 12 tahun dengan wajah berbintik-bintik yang menyebutnya "Si Gendut". Itu membuat William tertawa. Sebab sahabatnya itu sangat kurus. Sedang gadis itu sendiri yang gemuk.

Gadis itu tersenyum dan menunjukkan gigi yang hampir seluruhnya tersembunyi di balik alat penyangga gigi.

"Engkau tak akan pernah bisa percaya bahwa Susan adalah adikku." kata Matthew penuh cemooh.

“Tidak. Kukira memang tidak." kata William sambil tersenyum kepada Susan " Ia jauh lebih cantik daripada kamu."

Sejak saat itu Susan sangat mendewa-dewakan William. William sangat menghormati ayah Matthew sejak saat mereka berjumpa. Dalam banyak hal ayah Matthew mengingatkannya akan ayahnya sendiri.

Dan ia memohon kepada Pak Charles Lester supaya diizinkan melihat bank besar yang ia pimpin. Charles Lester mempertimbangkan permohonan William itu dengan hati-hati. Tak ada anak yang diizinkan memasuki tempat tertib khusus di Broad Street nomor 17 sebelum itu. Bahkan putranya sendiri pun tidak. Maka ia mengadakan kompromi sebagaimana biasanya para bankir. Dan mengantarkan William berputar-putar di gedung Wall Street pada hari Minggu siang.

William sangat terpesona melihat berbagai bagian: ruang besi penyimpan brandkas, ruang valuta asing, ruang dewan, dan ruang presiden direktur. Kegiatan-kegiatan bank Lester jauh lebih luas daripada kegiatan bank Kane dan Cabot. Dan William tahu dari akun investasi pribadinya yang memberinya salinan laporan umum tahunan, bahwa Lester memiliki modal dasar yang jauh lebih besar daripada modal Kane dan Cabot. William diam. Sambil memikir-mikir' Sementara mereka diantar pulang dengan mobil.

"Nah William, apakah senang melihat bank?"

Charles Lester bertanya cerdik.

"Oh ya Pak!" jawab William. "Ya saya senang"

William berhenti sejenak. Kemudian menambahkan "Saya berminat memimpin bank anda suatu saat, Pak Lester."

Charles Lester tertawa. Ia akan menceritakan pada waktu makan malam kepada tamu-tamunya tentang reaksi William Kane terhadap perusahaan Lester' Hal mana juga membuat mereka tertawa.

Hanya William tidak bermaksud membuat lelucon dengan ucapannya itu.

Anne kaget ketika Henry kembali lagi kepadanya untuk meminta uang lagi.

“Aman seperti rumah" kata Henry meyakinkan. 'Tanya ke Alan Llyod. Sebagai presiden direktur bank ia hanya dapat memperhatikan kepentingan-kepentinganmu."

“Tapi dua ratus lima puluh ribu?. “ tanya Anne.

 "Suatu kesempatan emas, sayangku. Anggaplah sebagai investasi yang akan bernilai Dua kali lipat dalam waktu dua tahun.”

Setelah diskusi lagi agak lama, Anne lagi-lagi menyetujuinya. Dan hidup kembali menapak di jalan rutin dengan lancar. Ketika ia mengecek portofolio investasinya di bank, ia menemukan bahwa modalnya menyusut menjadi $ 150.000. Tapi Henry nampaknya menghubungi orang-orang yang tepat. Dan berpegang teguh pada transaksi yang jitu. Anne berpikir hendak memperbincangkan seluruh persoalan itu dengan Alan Llyod di bank Kane & Cabot. Tapi akhirnya melepas gagasan tersebut. Hal itu akan berarti menunjukkan ketidakpercayaan kepada suami. padahal maksud Anne justru supaya seluruh dunia ini menghormati suaminya. Dan sudah barang tentu Henry tidak akan mengemukakan hal itu bila ia belum pasti bahwa pinjamannya akan disetujui Alan.

Anne juga mulai memeriksakan ke dokter Mac_Kenzie lagi. Untuk mencari keterangan apakah masih ada harapan untuk melahirkan seorang bayi lagi. Tapi dokter MacKenzie masih melawan ide tersebut. Dengan tekanan darah tinggi yang menyebabkannya keguguran kali lalu, Andrew MacKenzie beranggapan usia 35 bukanlah usia baik bagi Anne untuk memikirkan menjadi ibu lagi. Anne mengemukakan gagasan tersebut kepada kedua nenek William, tapi mereka berdua sepenuh hati menyetujui pandangan dokter yang baik itu. Kedua nenek itu tak begitu mempedulikan Henry. Dan mereka sama sekali tak menginginkan seseorang keturunan Osborne yang hendak mengklaim harta karun keluarga Kane setelah mereka tiada. Anne lalu mulai pasrah hanya menjadi ibu anak tunggal. Henry menjadi sangat marah tentang apa yang ia lukiskan sebagai penghianatan Anne. Dan ia berkata kepada Anne bahwa seandainya Richard masih hidup, Anne pasti mencoba lagi. Betapa besar perbedaan dua pria itu. Demikian pikir Anne. Dan ia tak dapat menerangkan cintanya kepada kedua pria itu. Ia mencoba melembutkan Henry. Sambil berdoa supaya proyek-proyek bisnisnya dapat berjalan lancar serta membuatnya sepenuhnya sibuk. Ia pasti sudah mulai bekerja hingga sore di kantor.

Di bulan Oktober pada hari Senin, pada akhir pekan setelah merayakan ulang tahun kedua perkawinan mereka, Anne mulai menerima surat-surat bisu dari seorang 'sahabat". Memberi informasi kepadanya bahwa Henry mulai mengawal wanita-wanita lain di Boston. Dan khususnya seorang wanita yang tak hendak disebut namanya oleh penulis surat itu. Mula pertama Anne langsung membakar semua surat-surat itu.

Dan walau mencemaskan Anne, namun ia tak pernah membicarakannya dengan Henry. Sambil berdoa semoga setiap surat itu menjadi surat terakhir. Ia bahkan tak punya keberanian membicarakan soal itu dengan Henry ketika Henry meminta uangnya yang $ 150. 000 terakhir.

“Aku pasti kehilangan seluruh transaksi bila aku tak memiliki uang itu sekarang juga, Anne.”

“Tapi tinggal itu yang kumiliki, Henry. Jika aku memberimu uang lagi, aku tak punya apa-apa lagi."

“Rumah ini saja pasti bernilai dua ratus ribu lebih. Engkau dapat menggadaikannya esok pagi.

"Rumah ini milik William"

“William, William, William. Selalu William yang menghalangi suksesku." Teriak Henry meledak.

Henry pulang ke rumah setelah tengah malam. Menyesal. Dan memberitahukan biar Anne tetap memegang uangnya. Dan biar ia yang kalah. Sebab dengan demikian mereka paling sedikit masih saling mencintai. Anne terhibur oleh kata-kata itu. Dan ke-mudian mereka memadu cinta. Anne menandatangani cek $150.000 esok harinya, mencoba melupakan bahwa itu akan membuatnya tak berduit sepeser pun.

Kecuali bila Henry menarik kembali transaksi yang kini ia kejar. Anne hanya keheran-heranan. Suatu kebetulan ataukah lebih dari itu bahwa Henry meminta uang tepat sejumlah yang masih sisa dari warisannya?
Bulan berikutnya Anne tak mendapat haid.
Dr. MacKenzie cemas. Tapi berusaha tak menunjukkannya. Kedua nenek William merasa ngeri. Dan memperlihatkan perasaan itu. Sedang Henry merasa senang. Dan meyakinkan Anne bahwa itu adalah hal paling hebat yang terjadi atas dirinya seumur hidupnya. Ia bahkan menyetujui membangun sayap baru bagi bagian anak-anak di rumah sakit. Itu telah direncanakan Richard sebelum ia meninggal.

Ketika William mendengar berita itu dari surat ibunya, sepanjang sore ia termenung. Tak bisa menceritakan apa yang sedang digelutinya. Bahkan kepada Matthew pun tidak. Hari Sabtu berikutnya, setelah mendapat izin istimewa dari tuan rumah, Grumpy Raglan, ia naik kereta api ke Boston. Dan setiba di sana, mengambil 100 dollar dari tabungannya di bank. Ia lalu menuju ke kantor pengacara Cohen. Kantor Cohen dan Yablons di Jefferson Street. Tuan Thomas Cohen, seorang rekanan senior, seseorang yang besar dan kaku, dengan dagu menggelambir, merasa agak heran ketika William diantar masuk kantornya.
'Saya belum pernah dipekerjakan oleh seseorang berusia 16 tahun sebelum ini" Tuan Cohen memulainya. "Ini merupakan hal yang sangat baru bagi saya." - ia ragu - "Tuan Kane". Ia merasa bahwa sebutan “Tuan Kane" tidak meluncur lancar dari lidahnya. “Khususnya karena ayah anda tidak begitu bagaimana ya - dikenal bersimpati dengan rekan-rekan seagamaku."

“Ayahku” jawab William “adalah pengagum karya-karya besar bangsa Yahudi. Dan khususnya sangat menghormati perusahaan anda bila mengurusi perkara antara pesaing. Aku mendengarnya. Dan Tuan Llyod menyebut nama anda pada beberapa ke-sempatan. Itulah sebabnya saya memilih anda, Tuan Cohen. Bukan anda memilih saya. Kiranya ini cukup meyakinkan."

Tuan Cohen cepat mengesampingkan persoalan usia William. "Ya memang, memang. Kiranya aku dapat mengecualikan putra Richard Kane. Nah, apa yang dapat kami lakukan untuk anda?"

"Saya ingin anda menjawab tiga pertanyaan bagi saya, tuan Cohen. Satu: saya ingin mengetahui apakah jika ibu saya, Nyonya Henry Osborne, melahirkan anak, laki-laki atau perempuan, anak itu akan memiliki hak-hak menurut hukum atas perseroan keluarga Kane? Dua: apakah saya mempunyai kewajiban hukum terhadap Tuan Henry Osborne oleh karena ia menikah dengan ibu saya? Dan tiga: pada usia berapa saya dapat mendesak supaya Tuan Henry Osborne meninggalkan rumah saya di Louisburg Square di Boston?"

Pena Tuan Cohen membalap gila di atas kertas di mukanya. Mencipratkan bercak-bercak biru di atas tutup meja yang sudah berbintikkan tinta.

William meletakkan 100 dollar di atas meja. Pengacara itu kaget. Tapi mengambil uang itu dan menghitungnya.

'Pergunakan uang itu dengan cermat, tuan Cohen. Saya membutuhkan seorang pengacara yang baik bila saya kelak meninggalkan Harvard."

"Anda sudah diterima di Harvard, tuan Kane? Selamat. Kuharap anakku juga ke sana.'

“Belum. Saya belum. Tapi dalam dua tahun ini saya akan diterima di sana. Saya akan kembali ke Boston untuk menemui anda dalam waktu satu minggu, tuan Cohen. Jika selama hidup saya, saya mendengar tentang persoalan ini bukan dari anda sendiri, tapi dari orang lain, anda boleh menganggap hubungan kita terputus. Selamat siang, tuan."

Thomas Cohen juga akan mengucapkan selamat siang, seandainya ia bisa melontarkan kata-kata itu sebelum William menutup pintu di belakangnya.

William kembali ke kantor pengacara Cohen dan Yablons seminggu kemudian.

"Ah tuan Kane." kata Thomas Cohen. "Senang berjumpa anda lagi. Suka minum kopi?"

"Terimakasih. Tidak."

“Apakah aku harus menyuruh seseorang membelikan Coca Cola?"

Wajah William tak mengungkapkan suatu apapun.

“Langsung soal bisnis. Bisnis." kata tuan Cohen. Agak malu. "Kami telah mengadakan sedikit penyelidikan untuk kepentingan anda, tuan Kane. Dengan bantuan perusahaan detektif swasta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang anda ajukan yang tidak melulu akademis. Dapat kukatakan dengan tegas kami telah menemukan jawaban-jawaban atas semua pertanyaan anda. Anda menanyakan apakah jika ada keturunan Tuan Osborne dengan ibu anda, dia dapat mengklaim tanah milik Kane atau khususnya mengklaim perseroan warisan ayah anda kepada anda. Jawabannya tegas: tidak. Tapi sudah barang tentu Nyonya Osborne dapat menyerahkan sebagian dari 500.000 dollar warisan ayah anda kepada ibu anda kepada siapa pun yang ia sukai."

Tuan Cohen mendongak.

"Namun barangkali menarik juga bagi anda untuk mengetahui bahwa ibu anda telah menarik seluruh 500.000 dollar dari rekening pribadinya di bank Kane & Cabot selama 18 bulan terakhir ini. Tapi kami tak dapat menelusuri bagaimana penggunaan uang ter-sebut. Mungkin ibu anda memutuskan untuk men-depositokan jumlah uang tersebut di bank lain.. “

William nampak terkejut. Suatu tanda kehilangan kendali diri yang pertama kali dilihat Thomas Cohen.

"Tak ada alasan bagi ibu untuk melakukan hal itu..”kata William "Uang itu hanya bisa terbang ke satu orang."

Pengacara tetap diam. Mengharapkan mendengar lebih banyak lagi. Tapi William menguatkan diri. Dan tak menambahkan sepatah kata pun. Maka tuan Cohen melanjutkan.
“Jawaban atas pertanyaan anda yang kedua ialah anda tidak mempunyai kewajiban hukum perorangan apapun terhadap tuan Henry Osborne. Menurut ketentuan wasiat ayah anda, ibu anda merupakan wali seluruh milik bersama Tuan Alan Llyod dan Nyonya John Preston, bapa dan ibu baptis anda yang masih hidup, hingga anda akil balig berusia 21 tahun."

Thomas Cohen mendongak lagi. Wajah William tak menampakkan ekspresi suatu apa pun. Cohen sudah tahu bahwa itu berarti ia harus melanjutkan.

"Dan ketiga, tuan Kane, anda tak pernah bisa mengusir tuan Osborne dari Beacon Hill selama ia tetap menikah dengan ibu anda dan terus tinggal di sana bersamanya. Milik itu jatuh ke tangan anda karena hukum alam pada saat kematian ibu anda. Jika seandainya saat itu tuan Osborne masih hidup, anda dapat menuntutnya untuk pergi. Menurut hematku itu semua telah menjawab apa yang anda tanyakan, tuan Kane.'

"Terimakasih, tuan Cohen.” kata William. “..Saya sungguh berterimakasih atas efisiensi dan diskresi anda dalam hal ini. Kini mungkin anda dapat memberitahu tarif profesional anda?"

"Seratus dollar belum memadai untuk pekerjaan itu, tuan Kane. Tapi kami percaya akan hari depan anda dan ..”

"Aku tak ingin dipertontonkan kepada setiap orang, tuan Cohen. Anda harus memperlakukan saya sebagaimana anda memperlakukan seseorang yang mungkin tak akan anda urusi lagi' Atas dasar pertimbangan itu, saya harus bayar berapa?-"
Tuan Cohen berpikir sesaat' "Dalam situasi seperti itu, kami akan membebankan 120 dollar, Tuan Kane'"

William mengambil lembaran uang $20 enam lembar dari saku dalamnya' Dan menyerahkannya kepada Tuan Cohen. Kali ini pengacara tidak menghitungnya.

“Saya berterimakasih atas bantuan anda Tuan Cohen. Saya yakin kita akan berjumpa lagi. Permisi Tuan."

"Silakan, tuan Kane. Bolehkah saya mengatakan bahwa saya belum pernah berjumpa dengan ayah anda; akan tetapi setelah berurusan dengan anda, saya menginginkan seandainya saya dulu mengenalnya! "

William tersenyum melunak "Terimakasih, tuan"'

Mempersiapkan kedatangan seorang bayi membuat Anne sibuk sekali. Ia merasa mudah lelah' Dan banyak istirahat' Setiap kali ia menanyakan Henry tentang bisnisnya. Henry selalu mengajukan jawaban yang cukup meyakinkan Anne bahwa segala-galanya berjalan lancar tanpa memberikan rincian kepadanya'

Kemudian suatu pagi surat kaleng itu mulai berdatangan lagi. Kali ini lebih terinci. Dengan nama-nama para wanita yang terlibat, dan tempat_tempat dimana Henry bisa dilihat bersama wanita_wanita itu.

Anne membakar itu semua, bahkan sebelum ia dapat mengingat-ingat nama-nama tempatnya. Ia tidak mau percaya bahwa suaminya bisa berbuat serong sementara ia sedang mengandung anaknya. Seseorang pasti iri hati dan mengincar Henry. Maka ia, entah pria entah wanita, harus berbohong. Surat-surat itu tetap berdatangan. Kadang-kadang dengan nama_nama baru. Anne masih tetap menghancurkan surat_surat tersebut. Tapi kini surat-surat itu mulai mencekam pikirannya. Ia menginginkan membicarakan seluruh hal itu dengan seseorang. Tapi tak dapat menemukan seseorang yang dapat ia percaya. Kedua nenek itu pasti akan terkejut. Dan bagaimana pun juga sudah berprasangka terhadap Henry. Alan Liyod di bank tak dapat diharapkan bisa memahaminya, sebab ia tak menikah. Dan William masih terlalu muda. Tak ada seorang pun yang cocok. Anne mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikiater setelah mendengarkan ceramah tentang Sigmund Freud. Tetapi anggota keluarga Cabot tak pernah bisa memperbincangkan masalah keluarga dengan seseorang yang asing sama sekali.

Persoalan ini akhirnya memuncak dengan cara yang belum siap dihadapi Anne. Suatu Senin pagi Anne menerima 3 pucuk surat. Satu yang biasa dari William dialamatkan kepada Ny. Richard-Kane. William menanyakan apakah ia boleh berlibur bersama temannya Matthew Lester. Sepucuk surat kaleng lain menginsinuasikan bahwa Henry sedang ber-affair dengan, dengan . . . Milly Preston. Dan surat ketiga dari Alan Llyod, sebagai presiden direktur bank, menanyakan apakah Anne mau meneleponnya dan membuat kencan untuk bertemu. Anne kaget. Terduduk.

Napas sesak. Dan merasa tak enak badan. Dan memaksa diri membaca kembali ketiga pucuk surat itu.

Surat William benar-benar menyengatnya karena sama sekali tak ada rasa keterlibatan. Anne sama sekali tak senang mengetahui bahwa William lebih suka berlibur musim panas bersama Matthew Lester. Mereka tetap semakin renggang semenjak pernikahan Anne dengan Henry. Surat kaleng yang menginsinuasikan bahwa Henry mempunyai affair dengan teman terdekatnya tak mungkin dianggap sepi saja. Anne tetap ingatbahwa Milly-lah pertama-tama yang memperkenalkan dirinya kepada Henry. Dan MillyJah ibu baptis William. Surat ketiga dari Alan Llyod, yang telah menjadi pimpinan bank Kane & Cabot sejak kematian Richard, entah bagaimana membuatnya lebih cemas lagi. Satu-satunya surat lain yang pernah diterimanya dari Alan ialah surat ikut berbelasungkawa atas kematian Richard. Ia takut kalau-kalau surat yang satu ini berarti kabar yang lebih buruk lagi.
Ia menelepon bank. Operator langsung menyambungkannya.

"Alan, kau mau bertemu dengan aku?"

"Ya, sayang, suatu waktu aku ingin ngobrol-ngobrol. Kapan cocok untukmu?"

"Apakah ada kabar buruk?" tanya Anne.

"Tidak tepat begitu. Tapi aku tidak suka mengatakan sesuatu melalui telepon. Tak ada yang perlu kaurisaukan. Apa ada waktu senggang untuk makan siang?"

“Ya, Alan"

"Nah, kita bertemu di restoran Ritz pukul satu. Aku ingin segera bersua denganmu, Anne."
Pukul satu. Hanya tinggal 3 jam lagi. Pikirannya meloncat dari Alan ke William, lalu ke Henry. Tapi berhenti di Milly Preston. Apakah memang benar?

Anne memutuskan untuk mandi hangat berlama-lama. Lalu mengenakan pakaian baru. Tapi semuanya sia-sia. Ia merasa dan kini mulai nampak membengkak. Mata kaki dan betisnya, yang selalu anggun dan langsing, menjadi berbintik-bintik dan gembung.

Sungguh mengejutkan bila memperkirakan betapa keadaannya dapat menjadi semakin memburuk sebelum kelahiran si bayi. Ia mendesah di muka cermin. Dan berusaha menampakkan wajah lahiriah secerah mungkin.

"Engkau nampak sangat cantik, Anne. Jika seandainya aku bukan bujangan tua dan hal itu dianggap telah lalu bagiku, maka aku tanpa malu-malu akan berpacaran denganmu." kata bankir berambut keperakan itu. Sambil menyambutnya dengan ciuman pada kedua belah pipi seolah-olah ia seorang jenderal Perancis. Ia membimbing Anne menuju mejanya.

Telah menjadi suatu tradisi yang tak terucapkan bahwa meja di sudut selalu ditempati oleh presiden direltur bank Kane & Cabot bila ia tidak makan siang di bank. Richard selalu berbuat demikian. Kini giliran Alan Llyod. Ini adalah pertama kalinya Anne pergi makan bersama seseorang. Para pelayan berseliweran mengitari mereka seperti kalakatu. Nampaknya tahu dengan tepat kapan harus pergi dan muncul lagi tanpa mengganggu pembicaraan pribadi.

"Kapan bayimu akan lahir, Anne?"

"Oh, masih tiga bulan lagi."

"Kuharap tak ada komplikasi. Seingat saya - "

“Memang.” demikian pengakuan Anne "dokter memeriksaku sekali seminggu. Dia tidakpuas dengan tekanan darahku. Tapi aku tak begitu cemas."

“Nah, aku senang, sayang." katanya. Dan menyentuh tangannya dengan lembut seperti kebiasaan seorang paman.”Engkau memang nampak letih. Kuharap engkau tidak berlebih-lebihan melakukan segala sesuatunya.” Alan Llyod mengangkat tangannya sejenak. Seorang pelayan muncul di sisinya. Dan mereka berdua memesan.

“Anne, aku membutuhkan saranmu."

Anne sangat sadar akan kemampuan diplomasi Alan Llyod. Ia pasti tidak mengajaknya makan siang bersama untuk meminta saran. Dalam benak Anne sudah pasti Alan akan memberi nasihat sebagai teman.

“Apakah engkau mempunyai perkiraan seberapa jauh kemajuan proyek-proyek real estate Henry? "

"Tidak. Sama sekali tidak.” kata Anne. "Saya tak pernah melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan bisnis Henry. Alan tentu ingat saya juga tak pernah mencampuri bisnis Richard. Mengapa? Apa ada sesuatu yang mencemaskan?''

"Tidak. Tidak. Tak ada yang mencemaskan yang diketahui di bank. Malah sebaliknya. Kita tahu bahwa Henry mengikuti tender kontrak besar dari kota ini untuk membangun kompleks rumah sakit baru. Saya hanya menanyakan karena ia datang ke bank untuk meminjam 500.000 dollar. "

Anne tertegun.

"Kulihat hal ini membuatmu kaget." kata Alan."Nah, sekarang kita tahu dari rekening sahammu bahwa engkau masih punya cadangan sedikit di bawah 20.000 dollar. Dan masih ada kelebihan tarikan uang sejumlah 17.000 dollar dalam rekeningmu pribadi."

Anne meletakkan sendok sup. Ngeri. Ia tak menyadari bahwa batas kemampuan keuangannya telah terlampaui. Alan dapat melihat kesedihan Anne.

"Tapi ini bukan inti persoalan mengapa engkau kuajak santap siang ini, Anne." tambah Alan cepat. “Bank tetap senang mengeluarkan uang untuk rekening pribadimu sepanjang sisa hidupmu. William memperoleh uang sejuta dollar lebih setahunnya sebagai bunga dari perseroan. Maka kelebihan debetmu hampir tak ada artinya. Demikian pula jumlah 500.000 dollar yang diminta Henry. Walau harus mendapatkan dukunganmu sebagai penjaga hukum William."

"Saya tak menyadari bahwa saya punya kekuasaan atas keuangan perseroan William" kata Anne.

"Engkau memang tak punya kekuasaan atas jumlah modal. Tapi secara hukum bunga uang perseroan itu dapat diinvestasikan dalam proyek apa pun yang diperkirakan dapat menguntungkan William. Dan di bawah pengawasanmu, aku, dan Milly Preston sebagai bapa dan ibu baptis, hingga William berusia 21 tahun. Sekarang sebagai presiden direktur perseroan William, saya dapat melepaskan 500. 000 dollar itu seizinmu. Milly telah memberitahu aku bahwa ia senang memberikan izinnya. Sehingga engkau telah mendapat 2 suara, maka pendapatku itu menjadi tidak sahih lagi."

"Milly Preston apakah sudah memberikan persetujuannya, Alan?"

"Sudah. Apakah ia belum pernah membicarakannya denganmu?”
Anne tidak langsung menjawab.

“Apa pendapatmu?" Anne akhirnya bertanya.

"Begini. Aku belum memeriksa rekening Henry. Sebab ia baru mendirikan perusahaannya 18 bulan lalu. Dan ia tidak se-bank dengan kita. Maka aku tak punya perkiraan berapa penerimaan dan pengeluarannya di tahun yang sedang berjalan ini. Dan berapa laba yang dapat diramalkannya di tahun 1923. Aku tahu ia telah mengajukan permohonan untuk melaksanakan kontrak pembanguiran rumah sakit baru. Dan desas-desus mengabarkan ia dipandang serius."

“Apakah engkau menyadari bahwa selama 18 bulan aku telah memberi uang 500.000 dollar dari uang-ku sendiri?"

"Setiap saat ada sejumlah besar uang tunai ditarik dari rekening, penghitung utama selalu memberitahukannya kepadaku. Aku tak tahu bahwa untuk itulah engkau menarik uangmu itu. Dan itu bukan urusanku, Anne. Uang itu warisan Richard. Dan engkaulah yang berhak mempergunakannya sesuai pendapatmu "

“Nah, dalam kasus bunga perseroan keluarga, itu adalah hal lain. Jika engkau memutuskan menarik 500.000 dollar untuk diinvestasikan dalam perusahaan Henry, maka bank harus memeriksa pembukuan Henry. Sebab uang itu akan dianggap sebagai investasi lain dalam portofolio William. Richard tak memberi kuasa kepada para wali untuk meminjam, hanya menginvestasi bagi William. Aku telah menjelaskan situasi ini kepada Henry. Dan jika kita harus jalan terus dan melakukan investasi ini, maka para wali harus memutuskan berapa persentase dari perusahaan Henry akan mejadi pengganti yang wajar dari 500.000 dollar itu. Sudah barang tentu William selalu tahu apa yang kita kerjakan dengan penghasilan perseroannya. Sebab kita tak punya alasan menolak permohonan William untuk menerima pernyataan kuartalan rencana investasi dari bank tepat seperti semua para wali. Menurut hematku ia niscaya mempunyai pemikiran-pemikiran sendiri mengenai hal ini, yang sepenuhnya akan ia sadari setelah ia menerima laporan kuartalan berikutnya.

"Mungkin engkau senang mengetahui bahwa sejak permulaan usianya yang ke-16, William selalu mengirimkan kembali pandangan pribadinya mengenai setiap investasi yang kita laksanakan. Pada mulanya aku memeriksanya dengan minat seorang penjaga yang penuh itikad baik. Akhir-akhir ini aku mempelajarinya dengan penuh rasa hormat. Bila William kelak menempati posisinya di dewan Kane & Cabot, bank ini mungkin akan terlalu kecil baginya."

"Aku tak pernah dimintai nasihat tentang perwalian William sebelumnya." kata Anne putus asa.

“Nah, sayang, engkau melihat laporan-laporan kiriman bank pada tanggal satu setiap kuartal. Sebagai wali engkau selalu dapat menanyakan sesuatu tentang investasi yang kita laksanakan untuk William."

Alan Llyod mengambil secarik kertas dari sakunya. Dan tetap diam hingga pelayan selesai menuangkan anggur Nuits-St. -George. Begitu ia tak terdengar lagi, Alan melanjutkan.

"William memiliki 21 juta lebih yang diinvestasikan bank dengan bunga 4,5 persen hingga ulang tahunnya yang ke-21 Kita menginvestasikan bunganya setiap kuartal dalam saham dan surat obligasi. Di masa lalu kita tidak pernah menginvestasikan dalam perusahaan pribadi. Mungkin engkau terkejut, Anne, mendengar bahwa kita sekarang melakukan reinvestasi itu atas dasar setengah setengah: 50% mengikuti nasihat bank, dan 5O% mengikuti saran-saran yang dikemukakan William. Pada saat ini kita agak menang; sangat memuaskan hati Tony Simmons, direktur penanaman modal. Ia telah dijanjikan sebuah Rolls-Royce oleh William dalam tahun mana pun bila ia bisa mengalahkan William melebihi 10%."

“Tapi bagaimana William dapat memiliki 10.000 dollar untuk membeli Rolls-Royce jika ia kalah taruhan, bila ia tak diizinkan menyentuh uang itu sebelum umur 21?"

“Anne, aku tak tahu jawabannya. Yang aku tahu ialah ia terlalu punya harga diri untuk mendatangi kita, dan aku yakin ia tak akan membuat tandingan itu bila ia tak dapat menepatinya. Apakah kebetulan kau pernah melihat buku kasnya?"

“Pemberian kedua neneknya itu?"

Alan Llyod mengangguk.

"Tidak. Aku tak melihatnya sejak ia sekolah di asrama. Aku tak tahu bahwa buku kas itu masih ada."

"Masih ada” kata bankir itu “ dan aku berani menggaji sebulan untuk mengetahui sejauh mana kolom kreditnya sekarang ini. Aku mengandaikan engkau telah tahu bahwa ia kini mempergunakan bank Lester di New York dan bukan bank kita. Mereka tidak menerima rekening pribadi untuk uang di bawah 10.000 dollar. Aku juga yakin mereka tidak akan mengadakan pengecualian, bahkan bagi putra Richard Kane juga tidak."

“Putra Richard Kane" kata Anne.

"Maaf, aku tak mau berkata kasar"

“Tidak. Tak pelak lagi: dialah putra Richard Kane. Tahukah kau ia tak pernah minta uang padaku sepeser pun sejak usia 12 tahun?" tanya Anne. Ia berhenti sejenak. "Kupikir aku perlu memperingatkanmu Alan, bahwa ia tak akan senang diberitahu harus menanamkan modal 500.000 dollar dari uang perseroannya ke dalam perusahaan Henry."

"Mereka tak dapat akur?" tanya Alan sambil mengernyitkan alis.

"Tidak bisa." kata Anne.

"Saya sedih mendengarnya. Sudah pasti transaksi ini akan sulit jika William benar-benar melawan seluruh rencana ini. Walaupun ia tak memiliki wewenang atas perseroan hingga usia 21, kita telah mengetahui melalui sumber kita sendiri bahwa ia tidak akan melangkah lebih jauh daripada menemui pengacara bebas untuk mengetahui posisi hukumnya."

"Ya ampun!" kata Anne "pasti hanya main-main."

“Oh, sangat serius. Tapi engkau tak usah khawatir. Secara jujur, kami di bank sangat terkesan. Dan setelah menyadari dari mana datangnya penyelidikan itu, kami meneruskan beberapa informasi yang biasanya kami pegang sendiri. Karena suatu sebab khusus ia jelas tidak mau mendekati kami secara langsung."

"Ya Tuhan" kata Anne "ia akan jadi seperti apa jika sudah berusia 30?"

“Itu tergantung" kata Alan "apakah ia cukup beruntung untuk jatuh cinta dengan seseorang secantik kamu. Itu selalu merupakan kekuatan Richard."

“Kamu ini perayu kawakan, Alan. Apakah persoalan 500.000 dollar itu bisa ditunda sampai aku berkesempatan membicarakannya dengan Henry?"

"Tentu, sayang. Aku tadi sudah bilang aku datang untuk meminta saranmu."
Alan memesan kopi. Dan memegang tangan Anne dengan lembut. "Dan ingat. Jaga dirimu baik-baik, Anne. Engkau jauh lebih penting daripada nasib beberapa ribu dollar."

Ketika Anne pulang ke rumah setelah makan siang ia mulai cemas tentang 2 surat lainnya yang ia terima pagi itu. Satu hal ia yakini sekarang setelah mendengar dari Alan Llyod tentang putranya: ia bertindak bijaksana bila ia mengalah dan mengizinkan William dalam cuti yang akan datang berlibur bersama Matthew Lester.

Kemungkinan bahwa Henry dan Milly mempunyai affair, menimbulkan masalah yang tak mampu ia pecahkan secara sederhana. Ia duduk di kursi berlapis kulit merah darah, kesayangan Richard. Melalui jendela memandang ke taman bunga mawar merah dan putih yang indah. Ia tak melihat apa-apa. Hanya berpikir. Anne selalu menbutuhkan waktu lama untuk mengambil keputusan. Tapi bila ia sudah memutuskannya, ia jarang membaliknya.
Henry pulang lebih awal daripada biasanya, pada sore itu. Dan Anne bertanya-tanya apa sebabnya. Tapi ia segera mengetahuinya.

“Aku dengar engkau makan siang bersama Alan Llyod hari ini." katanya sambil masuk kamar.

"Siapa yang menceritakannya kepadamu, Henry?"

“Aku punya mata-mata di mana-mana" kata Henry sambil tertawa.

“Ya, Alan mengundangku makan siang. Ia ingin tahu apa pendapatku bila bank menanamkan modal 500.000 dollar dari perseroan William ke dalam perusahaanmu."

"Lalu apa jawabmu?" tanya Henry. Mencoba tak begitu kedengaran cemas.

“Aku jawab aku ingin membicarakannya denganmu terlebih dahulu. Tetapi mengapa engkau tak memberitahu aku terlebih dahulu, bahwa kamu telah mengadakan pendekatan dengan bank, Henry? Aku merasa telah dikelabuhi ketika aku untuk pertama kalinya mendengar segalanya dari Alan."
'
"Kukira engkau tak berminat sama sekali terhadap bisnis, sayang. Dan aku hanya tahu secara kebetulan bahwa engkau, Alan Llyod dan Milly Preston adalah wali dan masing-masing mempunyai suara atas penghasilan investasi William. "

“Bagaimana dapat mengetahui, jika aku sendiri tak menyadari situasinya?” kata Anne.

“Engkau tak membaca cetakan huruf kecil, sayangku. Terus terang aku juga tak membacanya hingga akhir-aklir ini. Sangat kebetulan Milly Preston menceritakan kepadaku tentang perseroan itu secara rinci. Ia tak hanya menjadi ibu baptis William, nampaknya ia juga menjadi wali. Ia nampak terkejut ketika ia pertama kali diberitahu. Nah, marilah kita coba apakah situasi itu bisa dibalik menjadi keuntungan kita. Milly berkata ia akan mendukungku jika engkau setuju."

Hanya mendengar nama Milly saja sudah membuat Anne merasa tidak enak.

"Menurut hematku kita tak perlu menyentuh uang William." kata Anne. "Aku belum pernah beranggapan persereon itu sebagai sesuatu yang ada hubungannya denganku. Aku lebih senang bila itu dibiarkan saja. Dan tetap meneruskan menyuruh bank menanamkan kembali bunganya seperti yang sudah-sudah.'

"Mengapa puas dengan rencana investasi bank jika aku sedang memperoleh tawaran bagus dengan kontrak pembangunan rumah sakit di kota ini? William akan memperoleh uang lebih banyak lagi dari perusahaanku. Alan pasti setuju dengan rencana itu'"

"Aku taktahu pasti apa pendapatnya. Ia tadi sangat berhati-hati, walau ia mengatakan bahwa kontrak itu hebat bila dapat diperoleh. Dan bahwa engkau mendapatkan kesempatan baik untuk memenangkannya."

"Persis!"

"Tapi ia ingin melihat pembukuanmu dulu sebelum menarik kesimpulan apa pun. Dan ia juga menanyakan apa yang terjadi dengan uangku yang 500.000 dollar itu."

“Uang kita yang 500.000 ribu dollar itu baik-baik saja. Seperti yang akan kaulihat sebentar lagi. Aku akan mengirimkan buku kasku kepada Alan esok pagi sehingga ia bisa memeriksanya sendiri. Aku dapat memastikan ia akan sangat terkesan."

"Kuharap demikian Henry, demi kebaikan kita berdua." kata Anne. "Nah, kini kita tunggu saja. Kita lihat bagaimana pendapatnya. Kau tahu aku selalu mempercayai Alan."

'Tapi kau tak mempercayaiku." kata Henry.

“Ah, bukan demikian Henry. Aku tak bermaksud-?”

"Ah, aku hanya berolok-olok. Aku mengandaikan engkau pasti mempercayai suamimu sendiri."

Anne merasakan dalam dirinya sembulan air mata yang di depan Richard selalu ia tekan. Tetapi di muka Henry ia bahkan tak mencoba menahannya.

“Kuharap aku bisa. Aku tak pernah mencemaskan soal uang sebelum ini. Dan justru sekarang aku harus mengatasi persoalan itu. Keterlaluan. Bayi ini selalu menbuatku lelah dan murung."

Sikap Henry cepat berubah menjadi seorang penghibur. "Aku tahu, sayangku. Dan aku tak menghendaki engkau pernah berpusing-pusing tentang bisnis. Aku selalu dapat menangani segi itu, Nah, mengapa tak pergi tidur sore-sore? Dan aku akan membawakan makan malam di nampan. Itu akan memberiku cukup waktu untuk kembali ke kantor dan mengambil berkas-berkas yang akan kutunjukkan Alan esok pagi'"

Anne menyetujui. Tapi begitu Henry pergi, ia tak mencoba pergi tidur. Walau begitu lelah sekali pun. Ia malah duduk tegak di ranjang membaca buku Sinclair Lewis. Ia tahu akan memakan waktu sekitar seperempat jam untuk sampai di kantor Henry. Maka ia menunggu sampai genap 20 menit. Lalu meneleponnya.

Nada berdering terus berlanjut hampir semenit. Dua puluh menit kemudian Anne mencoba lagi untuk kedua kalinya. Tetap tak diangkat. Anne terus mencoba tiap 20 menit. Tapi tak seorang pun mengangkatnya. Ucapan Henry tentang kepercayaan mulai menggema di telinganya. Sangat menyakitkan.

Ketika Henry akhirnya pulang setelah tengah malam, ia nampak cemas mendapati Anne duduk di ranjang. Anne masih tetap membaca Sinclair Lewis'

“Seharusnya jangan tetap berjaga menunggu aku'"

Henry memberikan ciuman hangat kepada Anne, Anne mengira ia mencium bau parfum. Ataukah ia kini menjadi terlalu curiga?

"Aku harus tinggal lebih lama lagi daripada yang kuharapkan. Mulanya aku tak dapat menemukan semua berkas yang dibutuhkan Alan. Seketaris tolol itu memfile beberapa berkas dengan judul yang salah."

“Pasti sangat kesepian di tengah malam buta harus sendirian di kantormu." kataAnne
"Ah, tak begitu terasa jika ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan.' kata Henry sambil naik ranjang dan merebahkan diri. Berpunggungan dengan Anne. “Paling sedikit ada yang harus dikatakan untuk mendukung hal itu. Dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan jika telepon tidak selalu berdering mengganggu."

Dalam beberapa menit ia sudah tertidur. Anne tetap berbaring terjaga. Kini sudah pasti akan melaksanakan keputusannya yang sudah diambilnya siang tadi.

Ketika Henry berangkat bekerja setelah sarapan hari berikutnya, Anne membaca suratkabar Globe Boston dan meneliti iklan mini. Ini bukannya karena Anne tak lagi tahu dengan pasti Henry mau pergi ke mana.

Kemudian ia menelepon membuat kencan yang menyebabkan ia pergi ke bagian selatan Boston beberapa menit sebelum tengah hari. Anne kaget karena kekumuhan bangunan-bangunan. Sebelum itu ia belum pernah mengunjungi bagian selatan kota, dan dalam keadaan normal ia dapat saja menjalani seluruh hidupnya tanpa mengetahui bahwa ada tempat-tempat yang sedemikian itu.

Ada tangga sempit dari kayu. Kotor penuh batang korek api. Puntung rokok. Dan sampah lain. Dengan kertas-kertas beterbangan menuju sebuah pintu. Dengan jendela penuh jalad.
Bertuliskan huruf-huruf besar hitam: GLEN RICARDO. Dan di bawahnya: DETEKTIF SWASTA (Terdaftar di Persemakmuran Massachussets). Anne mengetuk lembut.

“Masuk saja. Pintu terbuka." teriak suara dalam agak serak.

Anne masuk. Orang itu duduk di belakang meja. Kakinya terjulur di atasnya. Ia mendongak dari sebuah majalah penuh gambar wanita. Puntung cerutunya hampir terjatuh dari mulut ketika melihat Anne.

Baru pertama kali itu seseorang bermantol bulu cerpelai masuk ke dalam kantornya.

“Selamat pagi" sambutnya. Sambil cepat bangkit. “Namaku Glen Ricardo." Ia membungkuk dan mengulurkan tangan berbulu. Berwarna coklat karena nikotin. Anne menjabatnya. Ia bersyukur karena mengenakan sarung tangan. "Apakah sudah janjian?"

Tanya Ricardo. Bukannya karena ia amat mempersoalkannya. Ia selalu sedia memberi konsultasi kepada seseorang bermantol bulu cerpelai.

"Ya, sudah janji."

“Ah, kalau begitu, anda pasti Nyonya Osborne. Bolehkah aku mengambil mantol anda?"

“Aku lebih suka tetap mengenakannya." Kata Anne. Karena ia tidak melihat tempat di mana Ricardo hendak menggantungkan mantolnya, kecuali dilantai.

"Sudah barang tentu. Tentu." Anne melirik Ricardo ketika Ricardo duduk kembali dan menyulut cerutu baru. Anne tak peduli bahwa Ricardo mengenakan setelan hijau muda, dasi bintik-bintik, dan rambutnya diminyaki terlalu tebal. Hanya ia ragu apakah di tempat lain lebih baik. Maka ia tetap duduk.

"Nah, apa masalahnya?" kata Ricardo yang sedang memperuncing pensil  pendek dengan pisau tumpul. Serutan pensil jatuh di mana-mana kecuali di keranjang sampah. “Apakah kehilangan anjing, permata, atau suami?"

“Pertama-tama tuan Ricardo, saya menginginkan hal ini dirahasiakan sepenuhnya." demikian Anne memulainya.

"Tentu. Sudah barang tentu. Itu dengan sendirinya." jawab Ricardo. Tanpa mendongak dari pensilnya yang kini mulai menghilang.

“Tapi saya toh mengatakannya juga!" kata Anne.

“Sudah barang tentu. Sudah barang tentu!"

Anne berpikir jika orang itu berkata "tentu saja" sekali lagi, ia akan menjerit. Ia menarik napas panjang. 'Saya menerima surat-surat kaleng yang menginsinuasikan bahwa suami saya mempunyai affair dengan seorang sahabat dekat. Saya ingin tahu siapa pengirim surat itu dan apa dakwaan-dakwaan itu ada benarnya."

Anne merasa sangat lega setelah mengungkapkan kekhawatirannya untuk pertama kalinya. Ricardo memandangnya. Acuh. Seolah-olah bukan pertama kali ia mendengar ungkapan kecemasan seperti itu. Ia menyusupkan tangan mengusap rambutnya yang hitam panjang. Yang sesuai dengan kuku-kukunya. Demikian pengamatan Anne.

"Baiklah" Ricardo memulai. "Soal suami itu mudah. Siapa yang bertanggungjawab atas pengiriman surat-surat kaleng akan jauh lebih sulit dicari. Anda menyimpan surat-surat itu sudah barang tentu?"

“Hanya yang terakhir" kata Anne.

Glen Ricardo mengeluh. Dan menjulurkan tangan di atas meja. Lelah. Anne dengan enggan mengeluarkan surat dari tasnya. lalu ragu sejenak.

“Aku tahu perasaan anda Nyonya Osborne. Tapi aku tak bisa melaksanakan pekerjaanku dengan tangan satu terbelenggu di belakang punggungku."

"Sudah barang tentu tuan Ricardo. Maaf."

Anne tak dapat mempercayainya sendiri ia sudah mengatakan "Sudah barang tentu."

Ricardo membaca suratnya. Dua atau tiga kali,lalu meneruskannya 'Semua surat-surat itu diketik pada kertas jenis ini dan dikirim dengan amplop sejenis ini?"

“Ya, kukira demikian." kata Anne "Sejauh saya ingat.'

"Nah, jika surat berikutnya datang, pastikan - "

“Apakah anda merasa pasti akan ada surat lagi?" Anne menyela.

"Sudah pasti." Maka disimpanlah surat itu. "Nah, sekarang katakan ciri-ciri khas suami nyonya. Apa ada fotonya?"


"Ya, ada." sekali lagi Anne ragu.

“Saya hanya ingin melihat wajahnya. Saya tak mau membuang-buang waktu saya dengan mengejar-ngejar seseorang yang bukan orangnya." kata Ricardo.

Anne membuka tasnya lagi. Dan menyerahkan sebuah foto Henry dalam seragam seorang Letnan.

Pinggiran foto telah geripis.

“Tuan Osborne orangnya tampan." kata deteklif itu. *Kapan foto ini dibuat?"

"Kira-kira lima tahun lalu." kata Anne. "Saya tak mengenalnya ketika ia dalam dinas militer.'

Ricardo menanyai Anne beberapa menit lamanya tentang gerak-gerik Henry setiap hari. Anne heran betapa sedikit yang ia ketahui tentang kebiasaan atau masa silam Henry.

"Tak banyak yang dapat dilacak, nyonya Osborne. Tapi aku akan berusaha sebaik-baiknya. Nah, tariff saya 10 dollar sehari. Ditambah biaya pengeluaran. Saya akan membuat laporan tertulis untuk nyonya kira-kira seminggu sekali. Pembayaran di muka dua minggu sebelumnya.' Tangannya merentang di atas meja lagi. Lebih getol dari sebelumnya.

Anne membuka tasnya sekali lagi. Mengambil 2 lembar kertas 100 dollaran. Dan menyerahkannya kepada Ricardo. Ricardo mengamati lembaran uang itu dengan hati-hati. Seolah-olah ia tidak ingat lagi gambar orang Amerika terkemuka mana yang tertera di situ. Benyamin Franklin memandang tenang kepada Ricardo yang jelas-jelas tak melihat orang besar itu beberapa watlu lamanya. Ricardo menyerahkan $60 kepada Anne dalam lembaran 5 dollaran yang lusuh.

'Saya lihat anda juga bekerja pada hari-hari Minggu, tuan Ricardo." kata Anne yang merasa senang dengan perhitungan awangnya.

"Sudah barang tentu." katanya. "Apakah hari Kamis seminggu lagi pada waktu yang sama cocok untuk anda, nyonya Osborne?"

"Sudah barang tentu, " kata Anne. Dan ia cepat-cepat pergi menghindari bersalaman dengan orang di belakang meja itu.

Ketika William membaca dalam laporan kuartalan perseroan Kane & Cabot bahwa Henry Osborne ("Henry Osborne' ia mengulangi nama itu dengan keras supaya yakin benar dapat mempercayainya) mengajukan permohonan 500.000 dollar untuk investasi pribadi, ia mengalami hari sial- Untuk pertama kalinya selama empat tahun di St. Paul ia muncul sebagai nomor dua dalam tes matematika. Matthew Lester yang mengalahkannya bertanya apakah William lagi tak enak badan.

Sore itu William menelepon Alan Llyod di rumah. Direktur Kane & Cabot itu tak begitu kaget menerima teleponnya setelah Anne menyingkap ketidakharmonisan hubungan putranya dengan Henry.

"William, nak, apa kabar dan beritanya dari St.Paul? "

"Kabar baik semua pada akhir pekan ini, Pak. Tapi itu bukan alasannya aku menilpon."

Taktik pendekatan sebuah truk Mack. Pikir Alan” Bukan. Aku tak mengira demikian." katanya kalem."Apa yang bisa saya bantu?"

"Aku ingin menjenguk bapak esok sore"

"Di hari Minggu, William?"

"Ya, itu satu-satunya hari saya bisa meninggalkan sekolahan. Aku akan menemui bapak di mana saja' Dan kapan saja." William mengemukakan pernyataan itu seolah-olah sebagai suatu konsesi dari pihaknya'

“Dan jangan sekali-kali ibuku mengetahui pertemuan kita."

"Nah, William" Alan Llyod memulainya.

Suara William makin tegas. "Aku tak perlu mengingatkan bapak, bahwa investasi uang perseroan ke dalam usaha pribadi ayah tiriku walau bukannya illegal, namun pasti dianggap tidak ethis.”

Alan Llyod bungkam beberapa saat. Keheran-heranan apakah ia harus meredakan anak itu melalui telepon. Anak itu! Ia juga berpikir hendak membantahnya. Tapi kini waklunya telah lewat.

"Baiklah William. Mengapa tidak santap siang bersamaku di Hunt Club jam satu?,,

"Nah sampai jumpa esok dengan bapak', Telepon berbunyi klik. Paling sedikit konfrontasi itu akan terjadi di sekitar rumahku. Pikir Alan Llyod agak lega. Sambil meletakkan gagang telepon. Menyumpah-nyumpahi Tuan Bell karena menemukan pesawat gila itu.

Alan memilih Hunt Club karena ia tidak menghendaki pertemuannya bersifat terlalu pribadi. Hal pertama yang diminta William ketika ia tiba di wisma klab itu ialah supaya diizinkan main golf setelah makan siang.

“Dengan senang, nak,, kata Alan. Dan memesan tempat golf pertama untuk pukul 3. Ia heran ketika William sama sekali tidak membicarakan permohonan Henry Osborne selama makan siang. Bahkan jauh dari itu. Anak itu dengan penuh pengetahuan membicarakan pandangan presiden Harding mengenai pembaharuan tarif dan ketidak-mampuan Charles G. Dawes sebagai Direktur Anggaran. Alan mulai bertanya-tanya apakah William karena telah memikirkannya masak-masak, sudah berubah pendapat mengenai pembicaraan tentang pinjaman Osborne. Tapi meneruskan pertemuan itu tanpa mau mengakui telah berubah pandangan. Nah, jika itu citra yang dikehendaki anak itu dalam permainannya, baiklah baginya. Demikian pikir AIan. Ia menginginkan melewati sore hari itu dengan tenang main golf.

Sesudah makan siang yang menyenangkan, dan yang lebih enak lagi: minum anggur (William membatasi diri hanya minum 1 gelas saja), mereka ganti pakaian di wisma golf dan berjalan ke tempat golf pertama.

“Apakah masih berhandikap 9, pak?" tanya William.

"Ya, sekitar itu, nak. Mengapa?"

"Apakah setuju dengan 10 dollar satu lubang, pak?"

Alan Llyod ragu, sebab ingat bahwa golf adalah satu-satunya permainan yang dimainkan William dengan bagus. "Ya baik!"

Pada lubang pertama tak ada yang dibicarakan. Lubang itu diselesaikan Alan dalam empat. Sedang William lima pukulan. Alan juga memenangkan lubang kedua dan ketiga dengan mulus. Ia mulai sedikit santai. Senang dengan permainannya. Ketika mereka sampai ke lubang ke-empat mereka sudah berada sekitar 800 meter dari wisma golf. William menunggu Alan untuk mengayun stick-nya.

"Sama sekali tidak ada kemungkinan untuk meminjamkan 500.000 dollar dari uang perseroanku kepada perusahaan atau orang siapa pun yang berkaitan dengan Henry Osborne."

Alan salah pukul. Pukulannya melenceng masuk rough. Satu-satunya manfaat ialah pukulan itu menjauhkan dia dari William. Dan William memberikan pukulan yang bagus hingga memberinya cukup waktu berfikir tentang bagaimana harus menanggapi William dan menangani bola. Setelah Alan Llyod main tiga pukulan lagi, mereka akhirnya bertemu di green.

Alan memberikan lubang itu.

"William, engkau tahu sebagai wali aku hanya punya satu suara di antara 3 orang wali. Dan kau harus pula menyadari bahwa kau tidak punya kekuasaan atas keputusan perseroan, sebab engkau tidak akan mengendalikan uangmu dengan hak penuh sebelum engkau berusia 21 tahun. Engkau harus juga menyadari bahwa kita seharusnya tidak membicarakan hal ini sama sekali."

"Saya sadar akan implikasi hukumnya, pak. Tapi karena 2 orang wali lainnya tidur bersama Henry Osborne'

Alan Llyod nampak terkejut.

“Jangan berkata bahwa bapak adalah satu-satunya orang di Boston yang tak tahu bahwa Milly Preston sedang beraffair dengan ayah tiriku."

Alan Llyod tak berkata sepatah pun.

William melanjutkan "Saya memerlukan kepastian bahwa saya memperoleh suara bapak, dan bahwa bapak akan melakukan segalanya dalam kekuasaan bapak untuk mempengaruhi ibuku melawan piutang ini. Bahkan sampai sangat jauh sekali pun dengan menceritakan kebenaran tentang Milly Preston. "

Alan melakukan pukulan tee yang lebih buruk lagi.

William langsung ke tengah lapangan. Alan melakukan pukulan berikutnya. Masuk perdu. Yang tak pernah ia sadari keberadaannya. Ia mengumpat keras-keras 'Tahi!" untuk pertama kalinya selama empat puluh tiga tahun. (Itupun ia pada kesempatan itumasih mendapat lindungan juga ).

"Itu tuntutan yang agak terlalu banyak" kata Alan ketika bergabung dengan William di green kelima.

“Itu bukan apa-apa bila dibandingkan dengan apa yang kulakukan bila aku tak pasti akan dukungan bapak."

"Kukira ayahmu tak menyetujui adanya ancaman, William." kata Alan sambil mengamati bola William terjun 4 meter.

"Satu-satunya hal yang tak disetujui ayahku ialah Osborne" tukas William. Alan Llyod menyentil dua kali empat kaki dalam lubang itu.

"Bagaimanapun juga pak, bapak harus sadar bahwa ayah menyertakan klausul dalam perseroan bahwa uang yang diinvestasikan oleh perseroan adalah urusan pribadi dan pemberi dana tersebut tak boleh tahu bahwa keluarga Kane terlibat sendiri. Itu me-rupakan peraturan yang tak pernah ia langgar selama hidupnya sebagai bankir. Dengan cara demikian ia selalu dapat memastikan tak ada pertentangan kepentingan antara investasi bank dan investasi perseroan keluarga."

"Nah, ibumu mungkin merasa bahwa peraturan itu bisa dilanggar oleh seorang anggota keluarga."

'Henry Osborne bukan anggota keluargaku. Dan jika aku mengawasi perseroan hal itu akan menjadi peraturan yang tak akan kulanggar. Tepat seperti ayahku."

"Mungkin engkau akan menyesal mengambil sikap begitu kaku, William.,'

"Kukira tidak, pak"

"Coba pikirkan sesaat akibat yang akan menimpa ibumu, bila mengetahui soal Milly. “ tambah Alan.

"Ibuku sudah kehilangan 500.000 dollar dari uangnya sendiri, pak. Apakah itu belum cukup untuk seorang suami? Mengapa aku masih harus kehilangan 500.000 dollar juga?"

"Kita belum tahu bahwa akan terjadi seperti itu William. Investasi itu mungkin masih akan menghasilkan pemasukan uang yang banyak. Aku belum berkesempatan memeriksa pembukuan Henry dengan cermat."

William mengerdip ketika Alan memanggilnya Henry.

"Aku dapat meyakinkan anda pak, bahwa Henry telah meludeskan seluruh uang ibuku itu. Tepatnya ia kini tinggal punya uang 33.412 dollar. Saran saya, pak, pembukuan Osborne tak perlu begitu diperhatikan. Tapi harap dicek lebih teliti lagi tentang latar belakangnya, berkas prestasi bisnisnya di masa silam, dan rekanan-rekanannya. Tak usah saya sebutkan bahwa dia itu penjudi berat.,,

Dari tempat permulaan golf ke-g Alan memukul bolanya langsung masuk ke danau di muka mereka. Sebuah danau yang dapat dilewati oleh pemain-pemain wanita pemula sekali pun. Alan menyerahkan lubang itu.

"Bagaimana engkau dapat memperoleh informasi tentang Henry?" tanya Alan. Merasa hampir pasti bahwa William memperolehnya melalui kantor pengacara Thomas Cohen.

"Saya lebih suka tidak mengatakannya, pak."

Alan mempunyai pertimbangan sendiri. Ia berpendapat mungkin membutuhkan as troef itu yang kini masih disimpannya untuk kemudian dimanfaatkan dalam kehidupan William.

"Jika apa yang kautuntut itu ternyata benar, William, sudah barang tentu aku harus menganjurkan kepada ibumu untuk menolak setiap investasi dalam perusahaan Henry. Dan menjadi kewajibanku untuk menuntaskan seluruh permasalahan itu secara terbuka juga dengan Henry."

" Semoga demikian, pak."

Alan mengayunkan pukulan lebih baik lagi. Tapi ia merasa bukan dia yang sedang menang.

William melanjutkan. "Mungkin bapak tertarik juga untuk mengetahui bahwa Osborne membutuhkan 500.000 dollar dari perseroan saya bukan untuk kontrak pembangunan rumah sakit melainkan untuk melunasi utang lama di Chicago. Saya kira anda tak menyadari hal itu, pak?"

Alan tak berkata apa-apa. Ia memang tak menyadari hal itu. William memenangkan lubang tersebut. Ketika mereka mencapai lubang ke-18, Alan turun 1 lubang. Dan baru akan menyelesaikan putaran paling buruk yang pernah ia ingat. Ia memberikan pukulan sentilan lima kaki yang paling sedikit akan memungkinkannya berbagi lubang terakhir dengan William setengah setengah."

"Apa masih punya bom lagi buatku?" tanya Alan.

"Sebelum atau sesudah pukulan sentilan anda, pak.” Alan tertawa. Dan memutuskan membuat gertakan. "Sebelum pukulan sentilan William," katanya sambil bersandar pada stick.

"Osborne tidak akan memenangkan tender rumah sakit. Ini telah dipikirkan oleh mereka yang memperhatikan bahwa ia telah menyuap pejabat-pejabat muda dalam pamong praja kota. Tak ada satu pun yang akan dikemukakan secara terbuka. Tapi supaya pasti tak akan ada balasan kelak, perusahaannya telah dihapus dari daftar terakhir. Kontrak itu akhirnya dimenangkan Kirkbride dan Carter. Bagian terakhir informasi itu sangat rahasia, pak. Bahkan Kirkbride dan Carter pun tak akan diberitahu hingga seminggu sebelum hari Kamis. Maka saya akan sangat berterimakasih bila bapak menyimpannya untuk bapak sendiri."

Alan tak bisa memasukkan bola dengan pukulan sentilan. Sedang William memenang kan lubangnya. Ia berjalan menuju pak Presiden Direktur dan bersalaman dengan hangatnya.

"Terimakasih untuk permainan ini, pak. Menurut hematku bapak harus membayarku 90 dollar."

Alan mengambil uang lembaran 100 dollar dari dompetnya. Dan menyerahkannya kepada William.

"William, sudah tiba saatnya engkau berhenti menyebutku 'bapak'. Namaku sebagaimana kau ketahui adalah Alan."

"Terimakasih Alan." William mengembalikannya 10 dollar.

Alan Llyod tiba di bank pada hari Senin pagi. Sedikit lebih banyak yang dikerjakan daripada yang telah diantisipasi sebelum pertemuannya dengan William.

Ia memerintahkan 5 manager bagian langsung mengecek kecermatan insinuasi William. Ia takut jangan-jangan ia telah mengetahui apa yang akan menjadi hasil penyelidikan mereka. Dan karena posisi Anne di bank ia memastikan supaya bagian satu tidak mengetahui apa yang ditemukan bagian lain. Instruksinya kepada setiap manager jelas: semua laporan harus bersifat sangat rahasia. Dan hanya untuk Presiden Direktur sendiri. Menjelang Rabu minggu itu juga ia telah memperoleh lima laporan pendahuluan di atas meja. Semuanya nampak sesuai dengan penilaian William, walau setiap manager meminta waktu lebih banyak lagi untuk memverifikasi beberapa kete-rangan rinci. Alan memutuskan tidak akan membuat cemas Anne sebelum ia menemukan evidensi kongkrit untuk dilanjutkan lagi. Untuk sementara waktu yang paling baik yang dapat ia laksanakan ialah memanfaatkan jamuan makan malam yang diselenggarakan keluarga Osborne malam itu. Dengan demikian ia dapat menasehati Anne supaya menolak semua keputusan langsung tentang pinjaman itu.

Ketika Alan tiba di jamuan itu, ia kaget melihat betapa Anne nampak lelah dan tegang. Hal ini mem-pradisposisikan Alan untuk lebih memperlembut pendekatannya. Ketika ia berhasil menjumpainya sendirian, mereka hanya punya waklu beberapa saat. Ah, seandainya Anne tidak akan melahirkan bayi. Justru pada saat semua ini sedang terjadi. Pikirnya.

Anne berpaling dan tersenyum kepadanya. “Kau memang baik hati mau datang Alan, padahal kau pasti sangat sibuk di bank."

“Aku tak dapat melewatkan salah satu pestamu, sayang. Pestamu masih tetap menjadi sanjungan kota Boston."

Anne tersenyum. "Kau pasti tak pernah mengatakan sesuatu yang salah, Alan.'

"Oh, terlalu sering Anne. Apakah sudah punya waktu untuk memikirkan lagi soal pinjaman?. Ia mencoba bernada sambil lalu.

"Belum. Tak punya waktu, Alan. Aku tenggelam dalam urusan-urusan lain. Bagaimana pembukuan Henry?"

"Baik. Tapi kami hanya memperoleh angka-angka satu tahun untuk diperiksa, maka kupikir kita perlu memasukkan akuntan-akuntan kita untuk menceknya lagi. Itu hal biasa bagi seseorang yang menjalankan usaha kurang dari tiga tahun. Saya yakin Henry bisa memahami posisi kita dan akan menyetujuinya.,,

“Anne sayang, pesta meriah.“ kata suatu suara lewat bahu Alan. Alan tak mengenali wajah itu. Kiranya salah seorang politikus teman Henry. ..Bagaimana kabar sang calon ibu?" lanjut suara tersebut berlebih-lebihan.

Alan menyelinap pergi. Ia berharap telah memberikan tenggang waktu kepada banknya. Dalam pesta tersebut ada banyak kaum politisi. Dari Balai Kota. Bahkan ada dua orang dari DPR. Itulah yang membuat Alan keheran-heranan jangan-jangan William ternyata salah mengenai kontrak besar itu. Bukannya oleh karena bank harus menyelidiki hal itu: pengumuman resmi dari Balai Kota akan keluar minggu depan. Ia berpamitan dengan tuan dan nyonya rumah.

Mengambil mantol hitamnya dari ruang pengganrungan mantol, dan pergi.

"Minggu depan menjelang saat ini" katanya keras.

Seolah-olah meyakinkan dirinya sambil berjalan menyusuri Chestnut Street ke rumahnya sendiri . . .

Selama pesta Anne punya waktu untuk memperhatikan Henry bila dekat Milly Preston. Pasti tak ada tanda-tanda nyata bahwa ada sesuatu di antara mereka. Nyatanya Henry malah lebih sering bersama John Preston. Anne mulai keheran-heranan apakah ia tidak salah penilaian terhadap suaminya. Dan merencanakan hendak menunda janji pertemuannya dengan Glen Ricardo hari berikutnya. Pesta itu usai 2 jam lebih lama daripada perkiraan Anne. Ia mengharapkan bahwa hal itu berarti para tamu semuanya menikmati pesta tersebut.

'Pesta besar Anne. Terimakasih atas undangannya.” LagiJagi itu suara keras kembali. Ia pergi paling akhir. Anne tak dapat mengingat-ingat namanya.

Ada kaitannya dengan Balai Kota. Ia menghilang di jalan.

Anne tersandung-sandung naik ke atas. Melepaskan pakaiannya sebelum mencapai ranjang. Ia berjanji pada diri sendiri tak akan mengadakan pesta lagi.

Sebelum melahirkan bayinya dalam waktu 10 minggu ini.

Henry sudah melepas pakaian. "Apa berkesempatan bicara dengan Alan, sayang?"

“Ya,” jawab Anne. 'Ia berkata pembukuanmu nampaknya baik. Tapi karena hanya diperoleh angka-angka untuk 1 tahun, ia harus memasukkan akuntan-akuntannya sendiri untuk mencek ganda. Agaknya itu kebijaksanaan perbankan yang lazim.”

'Kebijaksanaan perbankan yang lazim yang harus dikutuk. Apakah tidak merasakan kehadiran William di belakang ini semua? Ia mencoba menghalangi pinjaman itu, Anne."

"Bagaimana kau dapat berkata demikian? Alan tak mengatakan apa-apa tentang William.,,

“Ia tak mengatakannya?" suara Henry melengking. "Ia tak berusaha mengatakan bahwa Wiliam makan siang bersamanya pada hari Minggu di lapangan golf, sementara kita berada di rumah sendirian?,,

“Apa?" kata Anne "Aku tak percaya. William tak akan pernah datang ke Boston tanpa menjengukku. Kau pasti keliru, Henry."

'Eh, sayangku. Setengah penduduk kota ada disana. Dan aku tak dapat membayangkan bahwa William bepergian 80 kilometer jauhnya hanya untuk main golf dengan Alan Llyod. Dengarkan Anne, aku membutuhkan pinjaman itu. Bila tidak, aku akan gagal berkualifikasi memperoleh tender kontrak kota. Suatu saat, dan kini saat itu sudah sangat dekat, engkau harus memutuskan mempercayai William atau aku. Aku harus memeperoleh uang itu seminggu lagi dari besok. Hanya 8 hari dari sekarang. Sebab bila aku tak dapat menunjukkan kepada Balai Kota bahwa aku mampu menangani sejumlah itu, aku akan didiskualifikasi. Didiskualifikasi karena William tidak menyetujui engkau kawin denganku. Ayohlah Anne, maukah engkau menelepon Alan besok, dan mengatakan supaya ia mentransfer uang itu?"

Suaranya yang marah-marah itu mendengung di telinga Anne. Membuatnya merasa lemas dan pusing.

“Tidak. Bukan besok, Henry. Bisa menunggu hingga hari Jumat? Besok aku menghadapi hari yang berat."

Dengan susah payah Henry menguatkan diri. Lalu menghampiri Anne yang sedang berdiri mengaca di cermin. Henry mengusap perut Anne yang membuncit. “Aku menghendaki supaya bayi kecil ini diberi kesempatan sebaik kesempatan William."

Hari berikutnya Anne memperingatkan diri seratus kali bahwa ia tak akan menemui Glen Ricardo. Tapi menjelang siang hari ia toh naik taksi. Ia menaiki tangga kayu yang berkerpas. Sangat takut akan apa yang akan didengarnya. Ia masih dapat berbalik kem-bali. Ia ragu. Kemudian mengetuk pintu.

"Masuk"

Ia membuka pintu.

"Ah, nyonya Osborne. Senang berjumpa dengan anda lagi. Silakan duduk."

Anne duduk. Dan mereka saling memandang. 'Beritanya tak begitu baik." kata Glen Ricardo. Sambil mengusap rambut hitamnya yang panjang.

Hati Anne tenggelam. Ia merasa sakit.

"Selama 7 hari yang lalu Tuan Osborne tidak kelihatan bersama Nyonya Preston atau wanita lain."

"Tapi anda mengatakan beritanya tak begitu baik." kata Anne.

'Tentu saja, Nyonya Osborne. Saya mengandaikan anda mencari-cari alasan untuk perceraian. Isteri-isteri yang marah biasanya tidak datang menemui saya dengan harapan saya akan membuktikan suami mereka tak bersalah.'

"Tidak. Tidak." kata Anne pipi memerah karena lega. "Itu berita paling baik yang kudengar beberapa minggu ini."

"O, baiklah." kata Tuan Ricardo. Agak kaget.

"Marilah berharap minggu kedua juga tidak mengungkapkan apa-apa.'

"Oh, anda sekarang dapat menghentikan penyelidikan itu, Tuan Ricardo. Saya yakin minggu depan anda tak akan menemukan sesuatu yang ada akibatnya."

"Kukira itu tidakbijaksana, Nyonya Osborne. Menarik kesimpulan akhir atas dasar observasi 1 minggu, berarti paling sedikit terlalu dini.,,

'Baiklah bila anda berpendapat itu akan membuktikan masalahnya. Tapi aku masih tetap percaya penuh bahwa anda tidak akan menyingkapkan sesuatu yang baru minggu depan.,,

"Bagaimana juga" lanjut Glen Ricardo sambil mengepulkan asap cerutu yang bagi Anne nampaknya lebih besar dan berbau lebih harum daripada seminggu sebelumnya “anda sudah membayar untuk dua minggu itu."

"Bagaimana surat-suratnya?,, tanya Anne. Tiba-tiba ia ingat akan surat-surat itu. ..Saya kira surat_surat itu dikirim oleh seseorang yang iri atas prestasi suami saya."

'Nah, sebagaimana telah saya tunjukkan minggu yang lalu, Nyonya Osborne, melacak pengirim surat kaleng tak pernah mudah. Namun kami telah berhasil melokasikan toko di mana alat-alat tulis itu dibeli. Dan mereknya agak tidak biasa. Tapi saat ini tak ada yang harus saya laporkan lagi dari segi itu. Sekali lagi saya mungkin mendapat petunjuk-petunjuk minggu depan sekitar waktu ini. Apakah masih menerima surat-surat lagi beberapa hari yang lalu?"

"Tidak. Tak ada surat."

"Baiklah. Nampaknya akan menghasilkan yang paling baik ya. Demi kebaikan anda, kita harapkan saja agar pertemuan minggu depan, pada hari Kamis, adalah pertemuan kita yang terakhir."

“Ya," kata Anne senang. "Semoga demikian. Apakah minggu depan saya dapat membereskan soal biayanya?"

"Sudah barang tentu. Tentu."
Anne hampir saja lupa tentang kata-kata "Sudah barang tentu" itu. Tapi kali ini kalimat 
tersebut membuatnya tertawa. Ketika ia naik kendaraan diantar pulang ia memutuskan bahwa Henry harus memperoleh pinjaman 500.000 dollar itu. Dan mendapatkan pe-luang untuk membuktikan bahwa William dan Alan salah. Ia belum juga pulih kembali dari rasa kaget mengetahui bahwa William datang ke Boston tanpa memberitahunya. Mungkin Henry memang betul mengandaikan bahwa William mulai main belakang.

Henry sangat gembira ketika Anne mengatakan kepadanya malam itu tentang keputusannya mengenai pinjaman dan ia menyerahkan dokumen-dokumen sah hari berikutnya untuk ditandatangani Anne. Menurut perkiraan Anne, Henry pasti telah menyiapkan dokumen-dokumen itu beberapa waktu sebelumnya.

Apalagi tandatangan Milly Preston sudah tergores di atasnya. Atau apakah Anne lagi-lagi terlalu curiga? Ia menghalau gagasan tersebut dan dengan cepat menan-datanganinya.

Anne telah siap sepenuhnya menghadapi Alan ketika Alan meneleponnya hari Senin pagi.

“Anne, biarkan saya paling sedikit menahan persoalan ini hingga hari Kamis yang akan datang. Saat itu kita sudah akan tahu siapa yang memenangkan tender rumah sakit."

'Tidak, Alan. Keputusan sudah dibuat. Henry membutuhkan uangnya sekarang ini. Ia harus membuktikan kepada Balai Kota bahwa ia secara financial cukup kuat untuk melaksanakan kontrak. Dan kau telah memperoleh tandatangan dari 2 orang wali sehingga tanggungiawab tak lagi terletak di tangan-mu."

“Bank selalu dapat menjamin posisi Henry tanpa memindahkan uang itu. Saya yakin Balai Kota pasti menerimanya. Bagaimanapun juga aku belum punya cukup waktu untuk memeriksa lagi pembukuan perusahaannya."

"Tapi kau punya cukup waktu untuk makan siang bersama William seminggu yang lalu pada hari Minggu, tanpa berusaha memberitahuku. "

Di ujung telepon sebelah sana hening sejenak.

“Anne, aku -"

“Jangan bilang engkau tak berkesempatan memberitahuku. Hari Rabu engkau meng-hadiri pesta kami. Dan waktu itu engkau dengan mudah dapat mengemukakan hal itu kepadaku. Tapi engkau memilih tak mengatakannya. Kau berkesempatan menasihatiku untuk mengundur keputusan tentang pinjaman Henry.”

“Anne, maafkan aku. Aku dapat memahami betapa aneh itu nampaknya. Dan mengapa engkau kaget. Tapi sungguh ada alasannya. Percayalah. Bolehkah saya datang dan menjelaskan segala-galanya kepada-mu?"

'Tidak Alan. Tak boleh. Kalian berkomplot melawan suamiku. Tak ada seorang pun dari kalian yang memberinya peluang untuk membuktikan diri. Nah, aku akan memberinya peluang itu."

Anne meletakkan telepon. Merasa puas diri. Ia merasa bersikap setia kepada Henry. Dengan cara yang terutama sepenuhnya memberi silih atas keraguan terhadap suaminya.
Alan Llyod menelepon kembali. Tapi Anne memberi instruksi pembantunya untuk mengatakan selama seluruh sisa hari itu ia pergi. Malam itu ketika Henry pulang, ia senang mendengar betapa Anne menanggapi Alan.

"Semuanya akan berakhir sebaik-baiknya, sayangku. Akan kaulihat sendiri. Hari Kamis pagi aku akan memperoleh kontrak. Dan engkau akan mencium Alan dan berbaikan dengannya. Tapi sebaiknya engkau menghindar sampai hari itu. Sebenarnya, jika kamu mau, kita bisa merayakannya dengan makan siang di Ritz dan melambai kepadanya dari sisi lain dalam ruangan itu."

Anne tersenyum setuju. Ia bagaimanapun juga ingat bahwa ia sedianya harus menjumpai Ricardo untuk terakhir kalinya hari Kamis pukul 12. Tapi masih cukup waktu untuk berada di Ritz pukul satu. Dan ia dapat merayakan kedua kemenangan tersebut sekaligus.
Alan berkali-kali mencoba menghubungi Anne.

Tapi pembantu Anne selalu siap mohon maaf dengan alasan tak dapat dihubungi. Karena dokumen itu telah ditandatangani 2 orang wali, ia tak dapat menahan pembayaran lebih lama dari 24 jam. Pembahasaannya sangat khas sebuah persetujuan hukum yang dikonsep oleh Richard Kane. Tak ada lubang yang dapat diterobos. Ketika cek 500.000 dollar meninggalkan bank dibawa kurir khusus pada hari Selasa sore, Alan menulis surat panjang lebar kepada William menjelaskan kejadian-kejadian yang memuncak dalam transfer uang. Ia hanya menahan temuan-temuan laporan de-partemen yang belum dikonfirmasikan. Ia mengirimkan salinan surat kepada tiap direktur di bank, sebab sadar bahwa walau telah bertindak sangat sopan, namun ia telah membuka diri terhadap tuduhan menyembunyikan sesuatu.

William menerima surat Alan Llyod di St. paul pada hari Kamis pagi. Ketika itu ia sedang sarapan bersama Matthew. Sarapan pagi pada hari Kamis di Beacon Hill seperti biasanya terdiri dari telur dan daging, roti hangat, dan bijii-bijian dingin dan sepoci kopi panas.
Henry sekaligus tegang bercampur riang. Menghardik pelayan. Dan bercanda dengan pejabat pamong praja yang meneleponnya untuk mengatakan nama perusahaan yang memperoleh kontrak pembangunan rumah sakit akan dipasang di papan pengumuman Balai Kota sekitar pukul 10.

Anne hampir-hampir merindukan berjumpa dengan Glen Ricardo untuk terakhir kalinya. 
Ia membolak-balik majalah Vogue. Mencoba tidak memperhatikan Henry yang sedang memegangi Globe suratkabar dari Boston dengan tangan gemetar.

"Apa yang hendak kaulakukan pagi ini?" Tanya Henry memulai percakapan.

"Oh, tak banyak, sebelum makan siang merayakan kemenangan kita. Apakah sayap untuk anak-anak di rumah sakit itu nanti bisa diberi nama Richard untuk mengenangnya?"

"Bukan untuk mengenang Richard, sayangku. Ini akan merupakan prestasiku. Maka biarlah menjadi kehormatan bagimu. Bagian' anak-anak sayap Nyonya Henry Osborne." tambah Henry bergaya agung.

“Sungguh ide yang bagus." kata Anne sambil meletakkan majalahnya. Ia tersenyum kepada Henry. “Aku jangan kaubiarkan minum champagne terlalu banyak. Sebab aku harus memeriksakan ke Dokter Mackenzie siang hari ini. Dan kukira ia tak akan membenarkan jika aku mabok 9 minggu sebelum bayiku lahir. Kapan kau tahu dengan pasti bahwa engkau memperoleh kontrak itu?"

"Aku sudah tahu sekarang," kata Henry. "Sekretaris yang baru saja kuajak bicara percaya sepenuhnla tentang hal itu. Tapi ini baru resmi pukul sepuluh."

"Hal pertama yang harus kaulakukan Henry, ialah menilpon Alan dan menyampaikan kabar baik ini- Aku mulai merasa bersalah dengan caraku menanggapinya minggu lalu."

“Kau tak perlu merasa bersalah apa pun" Ia juge tak berusaha memberimu informasi tentang tindakan-tindakan William."

"Tidak. Tapi ia mencoba menjelaskannya kemudian, Henry. Dan aku tak memberinya kesempatan untuk menceritakan kisah dari sisi pandangannya."

'Baiklah. Baiklah. Sekehendakmulah. Jika ini membuatmu senang. Aku akan meneleponnya pukul l0 lebih 5 menit. Kemudian engkau bisa mengatakan kepada William bahwa aku telah memperoleh sejuta lagi untuknya. " Ia melihat jamnya. “Lebih baik aku pergi sekarang. Ucapkan semoga beruntung kepada-ku."

'Kukira kau tak perlu keberuntungan ,' kata Anne.'Memang tak perlu. Tak perlu. Hanya basa-basi. Sampai jumpa nanti di Ritz pukul satu." Ia mengecupnya di dahi. "Nanti malam engkau bisa tertawa tentang Alan, William, dan kontrak. Anggaplah sebagai masalah masa lalu. Percayalah. Ayohlah, sayang.,,

"Kuharap demikian, Henry."

Sarapan yang tak tersentuh telah tersedia di muka Alan Llyod. Ia sedang membaca halaman-halaman finansial di Globe, Boston. Melihat sebuah paragraph kecil di kolom kanan yang memberitakan bahwa pada pukul sepuluh pagi itu kota Boston akan mengumumkan perusahaan mana yang memenangkan tender kontrak pembangunan rumah sakit senilai 5 juta dollar.

Alan Llyod sudah memutuskan rangkaian tindakan apa yang harus diambil jika Henry gagal memperoleh kontrak, dan segala sesuatu yang menjadi tuntutan William ternyata tepat. Ia akan bertindak tepat sebagaimana tindakan Richard bila menghadapi masalah sama: bertindaklah sesuai kepentingan bank.

Laporan-laporan bagian mengenai keuangan pribadi Henry sangat menggelisahkan Alan Llyod. Osborne sungguh-sungguh seorang penjudi berat. Dan tak ada jejak yang dapat dilacak bahwa uang perseroan yang 500.000 dollar itu masuk ke perusahaan Henry. Alan Lloyd mencecap air jeruk. Dan membiarkan seluruh sisa sarapannya tak tersentuh. Minta maaf kepada pemilik rumah. Dan berjalan ke bank. Hari itu cuaca memang nyaman.

"William, apa mau main tennis sore ini?" Mereka baru sarapan. Dan Matthew Lester berdiri mengungkuli William yang sedang membaca surat dari Alan Llyod untuk kedua kalinya.

'Kau bilang apa?"

"Apa kamu jadi tuli ataukah jadi pikun? Apa kamu mau kuhantam habis-habisan di lapangan tennis sore ini?"

"Tidak. Aku tak akan ada di sini sore ini, Matthew. Aku, harus menghadiri hal-hal yang lebih penting."

"Sudah tentu, sobat. Aku lupa bahwa kamu libur untuk mengadakan perjalanan misterius menuju Gedung Putih. Aku tahu Presiden Harding sedang mencari seorang penasehat perpajakan. Dan engkaulah orang yang setepat-tepatnya menggantikan tempat si pandir Charles G. Dawes. Katakan kepadanya engkau akan menerimanya, asal ia mempersilakan Matthew Lester menjadi jaksa agung pemerintahan yang akan datang."

William tak menanggapi.

"Aku tahu lelucon tadi takbegitu lucu. Tapi kukira pantas diberi komentar." kata Matthew ketika duduk di sebelah William. Dan melihat lebih cermat lagi kepada temannya. “Telurnya iya kan. Rasanya seakan-akan keluaran kamp tawanan perang Rusia.-“

"Matthew aku butuh pertolonganmu." Demikian William memulainya, sambil memasukkan surat Alan ke dalam amplop.

"Engkau mendapat surat dari adikku. Dan ia piker engkau boleh juga jadi pengganti Rudolf Valentino."

William berdiri. “Jangan berolok-olok, Matthew. Jika bank ayahmu dirampok, apakah engkau hanya membuat lelucon tentang peristiwa itu?"

Ungkapan pada wajah William jelas-jelas serius.

Nada Matthew berubah. “Tidak. Sudah pasti tidak."

"Baiklah. Marilah keluar dari sini. Nanti kujelaskan segalanya."

Anne meninggalkan Beacon Hill pukul sepuluh lebih sedikit. Ia hendak berbelanja sebelum mengunjungi Glen Ricardo untuk pertemuan yang terakhir kalinya. Telepon mulai berdering ketika ia menghilang memasuki Chestnut Street. Pembantu mengangkatnya. Ia menengok melalui jendela. Dan mengatakan bahwa majikannya sudah terlalu jauh untuk disusul. Seandainya Anne kembali untuk menerima telepon tersebut, ia akan menerima informasi tentang keputusan Balai Kota mengenai kontrak pembangunan rumah sakit.

Ia malah membeli kaos kaki baru dari sutera. Dan mencoba parfum baru. Ia tiba di kantor Glen Ricardo pukul 12 lebih sedikit. Ia berharap parfum baru dapat melawan bau asap cerutu.

'Kuharap aku tidak terlambat Tuan Ricardo" demikian Anne memulai dengan cepat.

'Silakan duduk, Nyonya Osborne." Ricardo tidak nampak sangat gembira. Tapi, demikian pikir Anne, Ricardo tak pernah nampak gembira. Kemudian ia menyadari bahwa Ricardo tak mengisap cerutu seperti biasanya.

GIen Ricardo membuka map coklat bagus. Satu-satunya benda baru yang dilihat Anne dalam kantor itu. Lalu melepas beberapa lembar kertas.

"Mari mulai dengan surat kaleng, Nyonya Osborne."

Anne sama sekali tak menyukai nada suaranya.

"Ya, baiklah." Akhirnya keluar juga jawabannya. 'Surat-surat itu dikirim oleh seseorang bernama Ny. Ruby Flowers."

"Siapa? Mengapa?" kata Anne. Ia tak sabar menanti jawaban yang ia tak mau dengar.

"Kukira salah satu sebab ialah Nyonya Flowers sekarang ini sedang menuntut suami Nyonya"

"Nah, itu menjelaskan seluruh rahasia ini" kata Anne "Ia pasti menginginkan pembalasan. Berapa tuntutan piutang nyonya itu terhadap Henry?"

'Ia tak menginsinuasikan soal utang, Nyonya Osborne."

“Nah, apa yang di insinuasikan-nya?"

Glen Ricardo mengangkat diri di kursi-nya seolah-olah gerakan itu membutuhkan sepenuh tenaga tangannya untuk menaikkan kerangkanya yang sudah letih itu. Ia menghampiri jendela dan melongok keluar menengok orang banyak di pelabuhan Boston.

"Ia menuntutnya karena pengingkaran janji, Nyonya Osborne."

'Ah masa?" kata Anne.

“Nampaknya mereka bertunangan hendak melangsungkan pernikahan ketika Tuan Osborne berjumpa Nyonya. Tiba-tiba pertunangan diputus tanpa ada alasan yang jelas."
'Penambang emas. Ia pasti menghendaki uang Henry."

"Tidak. Kiranya tidak demikian. Begini. Nyonya Flowers itu sudah kaya. Sudah barang tentu tidak sekelas dengan anda, tapi bagaimanapun juga sudah kaya. Suaminya yang telah almarhum memiliki perusahaan pembotolan minuman ringan dan mening-galkannya dalam keadaan finansial aman."

'Suaminya yang telah almarhum - berapa umurnya?"

Detektif itu berjalan kembali ke meja. Dan membalik-balik selembar dua lembar dari map. Kemudian ibujarinya menyusuri kertas itu ke bawah. Akhirnya kuku hitam itu berhenti.
“Ia akan berusia 53 di hari ulang tahunnya yang akan datang."

'Oh, ya Tuhan.' kata Anne. "Wanita yang kasihan. Ia pasti membenciku."

“Saya berani berkata ia memang membenci anda, nyonya Osborne. Tapi itu tak akan menolong kita. Sekarang aku akan meneliti aktivitas-aktivitas lain dari suami nyonya."
Jari-jari penuh nikotin itu membalik-balik beberapa lembar kertas lagi. Anne mulai merasa sakit.

Mengapa ia datang? Mengapa ia tak membiarkan begitu saja minggu lalu? Ia tak perlu tahu itu. Mengapa ia tidak bangkit dan pergi? Betapa ia menginginkan Richard berada di sampingnya. Richard.pasti tahu bagaimana harus menanggapi seluruh situasi itu.

Anne tak dapat bergerak. Terpaku oleh Glen Ricardo dan isi map baru yang bagus itu.

'Minggu lalu Tuan Osborne sendiri dua kali bersama Nyonya Preston selama 3 jam lebih."

"Tapi itu tak membuktikan apa-apa" Anne mulai putus asa. 'Aku tahu mereka sedang membicarakan dokumen keuangan yang sangat penting."

“Di sebuah hotel kecil di La Salle Street."

Anne tak lagi menyela detektif itu.

"Pada dua kesempatan itu mereka berdua terlihat berjalan masuk hotel. Bergandengan tangan. Berbisik-bisik. Dan tertawa-tawa. Sudah barang tentu tidak memberi kesimpulan apa-apa. Tapi kami punya foto mereka berdua ketika masuk dan meninggalkan hotel."

'Hancurkan foto itu." kata Anne tenang.

Glen Ricardo berkedip. “Sesuka hati Nyonya. Celakanya masih ada lagi berita lain. Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa Tuan Osborne tak pernah kuliah di Harvard. Ia juga bukan opsir Angkatan Udara Amerika. Memang ada Henry Osborne di Harvard yang tingginya 1 meter 57, berambut kasar, dan berasal dari Alabama. Ia terbunuh di Maine tahun 1917. Kami juga mengetahui suami anda jauh lebih muda daripada pengakuannya. Dan nama aslinya ialah Vittorio Togna. Dan ia berdinas -"

"Aku tak mau mendengarnya lebih lanjut.lagi.' kata Anne. Airmata bercucuran membasahi pipi 'Aku takmau mendengarnya lagi."

"Sudah barang tentu, Nyonya Osborne. Aku mengerti. Aku hanya menyesal bahwa beritaku menyedihkan. Kadang-kadang dalam pekerjaanku-"

Anne berjuang berusaha mengendalikan diri. "Terimakasih tuan Ricardo. Saya sungguh menghargai apa yang telah anda lakukan. Saya harus membayar berapa?"

'Nah, anda telah membayar 2 minggu di muka. Ada 7 hari tambahan lagi. Dan biaya saya menjadi 73 dollar."

Anne menyerahkan uang lembaran 100 dollar. Dan bangkit dari kursinya.

"Jangan lupa uang kembalinya, nyonya Osborne."

Anne menggelengkan kepala. Disertai halauan tangan tak berminat akan hal itu.

"Apakah anda baik-baik saja, Nyonya Osborne? Anda nampak agak pucat. Mau minum air atau sesuatu yang lain?"

"Saya baik-baik saja" kata Anne berdusta.

'Mungkin bisa saya antar pulang dengan mobil?"

'Tidak. Terimakasih, Tuan Ricardo. Saya bisa pulang sendiri." Ia berpaling tersenyum kepadanya.”-Sungguh baik hati menawarkan pertolongan."

Glen Ricardo menutup pintu dengan tenang, setelah kliennya pergi. Ia berjalan pelan ke jendela. Menggigit ujung cerutu besarnya yang terakhir. Menyemburkan gigitan cerutu itu. Dan menyumpahi pekerjaannya.

Anne berhenti di atas tangga yang kotor. Memegang palang erat-erat. Hampir pingsan. Bayi dalam kandungan menendang-nendang. Membuatnya ingin muntah. Ia menemukan taksi di sudut blok. Lalu masuk di tempat duduk belakang. Ia tak dapat menahan sedu-sedan. Memikirkan apa yang harus dikerjakan sesudah itu. Begitu tiba di rumah di Red House, ia langsung pergi ke kamar tidurnya, sebelum salah seorang staf dapat melihat kesedihannya. Telepon berdering ketika ia masuk kamar. Ia mengangkatnya.

Karena kebiasaan. Bukan. karena ingin tahu siapa yang menelepon.

'Apakah boleh bicara dengan Nyonya Kane?"

Anne langsung mengenali nada suara Alan yang patah. Sebuah suara lain yang letih. Tak bahagia.

"Hallo Alan. Ini Anne."

"Anne, sayangku. Saya menyesal mendengar berita pagi ini."

"Bagaimana engkau bisa mengetahuinya Alan? Bagaimana mungkin? Siapa yang memberitahu?"

"Balai Kota meneleponku dan memberi informasi rinci pukul sepuluh lebih sedikit. Aku kemudian mencoba meneleponmu. Tapi pembantu mengatakan engkau sedang pergi berbelanja.'

"Ya, Tuhan." kata Anne. "Aku sudah lupa sama sekali tentang kontrak itu." Ia duduk terisak. Tak mampu bernapas bebas.

"Apa engkau baik-baik saja Anne?"

"Ya, aku sehat-sehat saja." kata Anne berusaha menyembunyikan sedu-sedan dalam suaranya' Tapi takberhasil. "Apa kata Balai Kota?"

'Kontrak pembangunan rumah sakit dimenangkan oleh sebuah perusahaan yang bernama Kirkbride dan Carter. Nampaknya Henry tak termasuk 3 nama teratas. Sepagi suntuk aku berusaha menghubunginya-Nampaknya ia telah meninggalkan kantor sesudah pukul sepuluh. Dan sejak itu ia belum kembali. Kukira kau tak mengetahui di mana dia sekarang Anne?"

'Tidak. Sungguh aku tak tahu di mana dia sekarang."

'Apakah mau kujenguk, sayang?"katanya. "Aku dapat mengunjungimu dalam beberapa menit."

'Terimakasih, Alan." Anne berhenti sebentar. Menarik napas tersendat-sendat. "Maafkan aku atas cara memperlakukanmu beberapa hari yang lalu. Seandainya Richard masih hidup, ia tak akan memaafkan aku."

"Jangan bodoh, Anne. Persahabatan kita sudah berlangsung terlalu lama untuk terpengaruh oleh insiden seperti ini."

Keramahan suaranya meledakkan tangis Anne lagi. Ia bergetar hingga ke kaki-kakinya.

'Aku harus pergi Alan. Aku dengar seseorang di pintu depan. Mungkin itu Henry."

'Hati-hati, Anne. Dan jangan cemas tentang hari ini. Selama aku presiden direktur, bank selalu akan membantumu. Jangan ragu menelepon jika memerlukan aku."

Anne meletakkan telepon. Suara menggemuruh di telinganya. Usaha pernapasan sesak. Ia ambruk ke lantai. Kemudian rasa yang telah lama terlupakan menyerangnya. Perut terasa teremas-remas dengan dahsyatnya.

Beberapa saat kemudian pelayan tenang mengetuk di pintu. Ia menengok ke dalam. William berada di belakangnya. Ia tak memasuki kamar tidur ibunya, sejak pernikahan ibunya dengan Henry Osborne.

Keduanya langsung menyerbu ke sisi Anne. Sebelah menyebelah. Anne tersentak-sentak. Tak menyadari kehadiran mereka. Bintik-bintik busa menyembul-nyembul di bibir atas. Dalam beberapa detik serangan itu berlalu. Dan ia tergeletak merintih lirih.

'Ibu" William mendesak "Ada apa?"

Anne membuka mata dan menatap liar kepada anaknya.

"Richard. Syukurlah engkau telah datang. Aku membutuhkanmu.'

"Ini William, ibu."

Pandangannya bergetar. "Aku tak punya kekuatan lagi, Richard. Aku harus menebus kesalahanku.Maafkan -"

Suaranya berubah menjadi raungan ketika sentakan dahsyat menyerangnya lagi.

“Ini ada apa?" tanya William tak bisa apa-apa.

'Kukira ini bayi yang akan lahir " kata pelayan.

"Padahal seharusnya masih beberapa minggu lagi."

"Telepon Dokter Mackenzie secepatnya.,, kata William sambil lari ke pintu kamar tidur. "Matthew, naiklah cepat!" teriaknya.

Matthew menaiki tangga dan bergabung dengan William di kamar tidur.

"Tolong aku mengangkat ibu sampai ke mobil,' Matthew berlutut. Kedua remaja itu mengangkat Anne. Dan membawanya dengan hati-hati turun tangga. Keluar menuju mobil. Anne megap-megap dan mengerang. Jelas merasa kesakitan bukan kepalang. William lari kembali ke rumah. Menyambar telepon dari pelayan. Sedang Matthew menunggu di mobil.

"Dokter Mackenzie?"

"Ya, siapa ini?"

"Nama saya William Kane - anda mestinya tak mengenal saya, pak"

'Tak mengenalmu, anak muda? Akulah yang membidani kelahiranmu. Apa yang bisa saya bantu?.

"Kiranya ibu hendakmelahirkan. Aku akan mengangkutnya ke rumah sakit secepatnya. Dalam beberapa menit sudah tiba di sana.,,

Nada Dokter Mackenzie berubah. ..Baiklah William, jangan cemas. Aku di sini menantimu. Dan sesuatunya sudah bisa diatasi bila kamu tiba di sini.,,

"Terimakasih dokter." William ragu. ..Ibu nampaknya terserang semacam ayan. Apa itu biasa?,, kata-kata William itu membuat dokter tertegun.

"Tidak begitu biasa. Tapi akan sembuh setelah melahirkan bayi. Kemarilah secepat mungkin.,,

William meletakkan telepon. I-ari keluar rumah. Dan bergegas masuk Rolls-Royce. Matthew mengendarai mobil itu tersendat-sendat. Tak pernah berpindah dari persneling satu. Dan tak berhenti karena apa pun sampai tiba di rumah sakit.

Dua remaja itu mengangkut Anne. Dan seorang perawat dengan usungan cepat membantu mereka langsung ke bagian kebidanan. Dr. Mackenzie berdiri dipintu masuk kamar bedah. Menunggu. Ia mengambil-alihnya. Dan meminta supaya kedua remaja itu menunggu di luar.

William dan Matthew duduk di bangku sambil diam. Menunggu. Tangis mengejutkan dan jeritan dari ruang kebidanan. Tak pernah mereka mendengar suara seperti itu dari ruang kebidanan. lalu disusul keheningan yang lebih mencekam lagi. Untuk pertama kali dalam hidupnya William merasa sama sekali tak berdaya. Kedua remaja itu berdiri. Dan dokter itu memandang Matthew Lester.

"William?" tanyanya.

"Bukan dokter. Saya Matthew Lester. Ini William." Dokter itu berpaling dan meletakkan tangan di pundakWilliam.

"William, aku sungguh menyesal. Ibumu meninggal beberapa menit yang lalu . . . dan bayi itu, perempuan, lahir mati."

Kaki William serasa loyo. Dan ia terduduk di bangku.

'Kami telah berusaha sepenuh kemampuan untuk menyelamatkan mereka. Tapi terlambat." Dokter menggeleng-gelengkan kepala. Lesu.'Ibumu tak mau mendengar nasihatku. Ia mendesak agar dapat melahirkan lagi. Sebetulnya itu tak boleh terjadi."

William duduk. Mula-mula diam saja. Tertegun atas kata-kata yang meluncur bak pelecut. Kemudian ia berbisik. "Bagaimana mungkin ia bisa mati. Bagaimana Kau biarkan dia mati? "
Dokter itu duduk di bangku di antara dua remaja.

“Ia tak mau mendengarkanku.”ulangnya pelan. "Aku telah memperingatkannya berkali-kali sesudah keguguran. Tak boleh melahirkan lagi. Tapi ketika ia menikah lagi, ia dan ayah tirimu tak pernah menganggap serius peringatanku. Tekanan darahnya terlalu tinggi selama kehamilan ini. Memang mencemaskanku. Tapi tak pernah mendekati taraf berbahaya. Tetapi ketika kaubawa ke mari hari ini, tanpa alasan yang jelas telah meningkat ke taraf eklampsia."

"Eklampsia?"

“Kejang-kejang. Kadang-kadang pasien dapat mengatasi beberapa serangan. Kadang-kadang mereka begitu saja berhenti bernapas."

William menarik napas. Menggigil. Kepalanya dibenamkan di antara kedua belah tangannya. Matthew Lesster membimbing sahabatnya dengan lembut melalui gang. Dok1er Mackenzie mengikuti mereka. Ketika mereka mencapai lift ia memandang William.
"Tekanan darahnya naik begitu mendadak. Sangat tidak biasa. Dan ia tak sungguh-sungguh berjuang. Hampir-hampir seolah-olah ia tak peduli. Aneh. Apakah ada sesuatu yang mencemaskannya akhir-akhir ini?"

William mendongakkan wajahnya yang basah air mata. “Bukan sesuatu" katanya penuh kebencian. "Seseorang."

Alan Llyod sedang duduk di sudut kamar tamu ketika dua orang remaja itu pulang kembali di Red House. Ia bangkit ketika mereka masuk.

"William,' katanya langsung. *Aku menyalahkan diriku karena mengabulkan pinjaman itu".

William menatapnya. Tak menyerap apa yang dikatakan Alan.

Matthew Lesster memecahkan keheningan. "Kukira itu sudah tak penting lagi, Pak." katanya tenang.

'Ibu William baru saja meninggal dalam melahirkan."

Alan Llyod pucat lesi. Ia memperteguh diri dengan memegang perapian. Dan berpaling. Itu adalah untuk pertama kalinya salah seorang dari mereka berdua melihat seorang dewasa menangis.

'Itu salahku." kata bankir itu. "Aku tak akan pernah memaafkan diriku. Aku tak memberitahu kepadanya segala yang kuketahui. Aku sangat mencintainya hingga aku tak mau membuatnya bersedih."

Kecemasannya mampu membuat William menjadi tenang.

"Pasti bukan salahmu, Alan." katanya tegas. 'Engkau telah berbuat segalanya menurut kemampuanmu. Aku tahu itu. Dan sekarang akulah yang membutuhkan pertolongan-mu."
Alan Llyod berdekap tangan. 'Apakah Osborne sudah diberitahu tentang kematian ibumu?"

"Aku tak tahu. Dan tak peduli"

"Aku mencoba menghubunginya sehari suntuk mengenai investasi itu. Ia meninggalkan kantornya tak lama setelah pukul 10. Dan ia belum kembali sejak itu."

"Ia akan muncul di sini cepat atau lambat." Kata William geram.

Setelah Alan Llyod pergi, William dan Matthew duduk sendirian di ruang depan hampir semalaman suntuk. Terkantuk-kantuk. Pukul 4 pagi ketika William menghitung dentang jam keluarga, ia mendengar suara di jalan. Matthew menatap jendela memandang jalanan. William dengan kaku menghampirinya dan bergabung dengannya. Mereka berdua mengamati Henry Osborne terhuyung-huyung melintasi Louisburg Square. Sambil membawa botol di tangannya.

Beberapa saat ia meremas-remas kunci. Dan akhirnya muncul di gang tengah menuju ruang muka. Berkedip bingung memandangi kedua remaja.

'Aku menginginkan Anne. Dan bukan kalian. Mengapa kalian tidak berada di sekolahan? Aku tak menghendaki kalian." katanya dengan suara tebal dan parau. Dan ia mencoba menyingkirkan William.

"Anne di mana?"

"Ibuku telah meninggal." kata William tenang.

Henry Osborne memandanginya tolol. Beberapa saat lamanya. Pandangan yang kedungu-dunguan itu melenyapkan pengendalian diri William.

"Di mana kau ketika ia membutuhkan seorang suami?" ia berteriak.

Osborne berdiri. Diam. Agak sempoyongan. ..lalu bayinya?"

“Lahir mati. Anak perempuan."

Henry Osborne merebahkan diri di kursi. Air mata kemabukan mengucuri wajahnya. 

"Apakah ia kehilangan bayiku yang kecil?"

William hampir tercampur aduk marah dan sedih”Bayimu? Berhentilah memikirkan dirimu sendiri sekali saja." teriaknya. “Kau tahu Dr. Mackenzie menasehatinya supaya tak mengandung lagi."

"Apakah kita juga ahli dalam hal itu juga seperti dalam hal-hal lainnya? Seandainya kamu hanya mengurusi bisnis gilamu itu sendiri, aku pasti bisa mengurusi isteriku sendiri, tanpa campur tanganmu."

"Dan uangnya, nampaknya."

“Uang. Kamu blasteran cilik yang kikir. Aku berani bertaruh kehilangan uang jauh lebih melukaimu daripada kehilangan apa pun!"

"Ayo bangun!" hardik William sambil menggigit kata-katanya.

Henry Osborne bangkit. Ia memecahkan botol di pinggir kursi. Wiski membasahi permadani. Ia terhuyung-huyung menuju William. Sambil mengacungkan pecahan botol. 

William berdiri tegak di lantai.

Sementara Matthew menengahi mereka. Dan dengan nudah mengambil pecahan botol dari genggaman si pemabok.

William mendorong temannya minggir. Lalu maju hingga wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Osborne.

"Sekarang dengarkan aku baik-baik. Aku mau engkau keluar dari rumah ini dalam waktu satu jam. Jika dalam hidupku aku masih mendengar tentang dirimu lagi, aku akan mengadakan penyelidikan tentang apa yang terjadi dengan investasi uang ibuku yang 500.000 itu dalam perusahaanmu. Dan aku akan membuka lagi penelitianku tentang siapa sebenarnya kamu itu dan bagaimana masa silammu di Chicago- Jika sebaliknya aku tak pernah mendengar tentang dirimu lagi, kuanggap buku kas kita berimbang. Dan persoalannya ditutup. Sekarang pergilah, sebelum kubunuh kau!"

Kedua remaja itu mengawasinya pergi. Tersedu-Bingung. Dan marah bukan kepalang.

Esok harinya William mengunjungi bank. Ia langsung diantar ke ruang Presiden Direktur. Alan Llyod sedang mengepak beberapa dokumen ke dalam kopor. Ia mendongak dan menyerahkan secarik kertas kepada William tanpa bicara. Itu adalah surat singkat kepada semua anggota dewan menawarkan pengundurannya sebagai presiden direktur bank.

“'Apa bisa mengundang seketarismu masuk kemari?"

'Sesukamulah"

Alan Llyod memijit tombol di sisi mejanya. Dan seorang setengah baya berbusana konservatif memasuki ruangan dari pintu samping.

"Selamat pagi, Tuan Kane' katanya ketika ia melihat William. “Aku ikut sangat berbelasungkawa mendengar tentang ibu anda."

"Terimakasih" kata William. "Apakah ada orang lain yang telah melihat surat ini?"

"Tidak tuan. "kata sekretaris. “Saya sedang hendak mengetik 12 lembar untuk ditandatangani Tuan Llyod."

“Nah, jangan ketik surat itu. Dan harap konsep ini dianggap tak pernah ada. Jangan pernah menyebut ini kepada siapa pun. Mengerti?"_

Ia menatap mata biru pemuda usia 16 tahun itu.

Persis ayahnya. Pikirnya. “Ya, Tuan Kane." Ia pergi dengan tenang. Menutup pintu. Dan Alan Llyod mendongak.

“Kane dan Cabot pada saat ini tidak menbutuhkan presiden direktur baru, Alan." kata William. "Engkau melakukan semuanya yang akan dilakukan ayah juga dalam keadaan demikian ini."

"Tak semudah itu" kata Alan.

“Semudah itu." kata William. "Kita dapat membicarakan hal ini lagi jika aku sudah berusia 21 tahun dan bukan sebelumnya. Hingga saat itu aku akan sangat berterimakasih bila engkau menyelenggarakan bankku dengan cara diplomatis dan konservatif seperti biasa. Aku tak menghendaki sesuatu pun yang telah terjadi dibicarakan di luar kantor ini. Hancurkan semua informasi yang kau miliki tentang Henry Osborne. Dan anggaplah persoalan ini telah ditutup."

William mencabik surat pengunduran diri Alan. Dan memasukkan sobekan kertas itu ke dalam api. Ia merangkul Alan.

"Aku tak punya keluarga lagi sekarang, Alan. Hanya kamu. Demi Tuhan, jangan tinggalkan aku."

William diantar pulang ke Beacon Hill. Nenek Kane dan nenek Cabot duduk diam di ruang tamu. Mereka berdua berdiri ketika William masuk. Itulah untuk pertama kalinya William menyadari ia kini adalah kepala keluarga Kane.

Pemakamannya dilangsungkan 2 hari kemudian di katedral keuskupan St. Paul. Hanya sanak-keluarga dan sahabat-sahabat dekat yang diundang. Yang tidak nampak hadir dalam pemakaman itu ialah Henry Osborne. Ketika para pelayat pergi, mereka menyalami William. Kedua neneknya berdiri satu langkah di belakangnya, seperti pengawal, mengawasi dan menyetujui betapa ia bersikap tenang dan terhormat. Ketika semua orang sudah pergi, William mengantar Alan Llyod ke mobilnya.

Presiden direkltur itu senang dengan permohonan William.

"Seperti kau ketahui Alan, ibuku selalu berniat membangun sayap untukbagian anak-anak di Rumah Sakit Umum Massachusett sebagai kenangan akan ayahku. Aku menghendaki supaya keinginannya itu dipenuhi."