Salam dari Taman Bacaan Saulus

Salam dari Taman Bacaan Saulus
Pandangan

Selasa, 26 Juli 2011

Panji Sakti - Khu Lung - Bagian 19 dan 20

Sambungan ...dari bagian 18 ke ...


Bagian ke 19: Menggali Mayat
Dua hari kemudian, ketika larut malam, di pinggir kota Pin Hong muncul lima sosok bayangan yang berlari cepat seperti terbang.
Namun kemudian muncul lagi sosok bayangan lain mengikuti mereka dari belakang dengan hati-hati sekali. Sosok bayangan tersebut ternyata seorang padri berusia empat puluh lebih.
Siapa kelima sosok bayangan itu, tidak lain adalah Kim Gan Siang Tie bersama tiga orang berpakaian hitam yang mengenakan kain hitam penutup muka pula.
Berselang beberapa saat kemudian, tiga orang berbaju hitam itu berhenti di bawah sebuah pohon.
Padri yang menguntit mereka pun segera bersembunyi di belakang pohon lain yang agak jauh dari situ, kemudian pasang kuping untuk mencuri pembicaraan mereka.
"Tidak salah di tempat ini?" tanya Kim Tie dingin.
"Ya, memang di rimba ini," sahut salah seorang berbaju hitam dengan hormat.
"Mayat itu dikuburkan di mana?" tanya Kim Tie lagi.
"Di belakang pohon ini," jawab orang berbaju hitam itu.
"Baiklah." Kim Tie manggut-manggut. "Cepat kalian bertiga ke sana, gali mayat itu!"
"Ya." Orang berbaju hitam itu mengangguk hormat, lalu mengajak kedua temannya ke belakang pohon itu. Ternyata kedua temannya itu membawa pacul.
Tak lama mereka bertiga sudah sampai di tempat yang dituju, dan segeralah mereka menggali tempat tersebut. Berselang beberapa saat kemudian, mereka berhenti menggali dan saling memandang.
"Eeeh? Heran…..!"
"Kenapa heran?" tanya temannya.
"Belum kelihatan mayat itu," sahut orang berbaju hitam berbadan jangkung.
"Iya." Temannya menggaruk-garuk kepala. "Padahal sudah sekian dalam kita menggali, tapi kok belum menemukan mayat itu? Sungguh mengherankan!"
Ketiga orang itu memang tidak mengubur mayat tersebut, tapi ketika itu mereka bertiga melihat dengan kepala mata sendiri, mayat tersebut dikuburkan di tempat ini.
Akan tetapi, mereka telah menggali sedalam lima meteran, masih belum menemukan mayat tersebut, itu membuat mereka bertiga terheranheran dan tidak habis berpikir.
Kemana mayat itu?
Mungkinkah mayat itu telah berubah menjadi mayat hidup, sehingga bangkit dari kubur? Itu bagaimana mungkin? Tidak masuk akal!
"Bagaimana?" tanya Kim Tie dari jauh. "Sudah kalian keluarkan mayat itu?"
Ketiga orang berbaju hitam itu tidak menyahut. Salah seorang yang berbadan jangkung memandang kedua temannya seraya bertanya dengan suara rendah.
"Bagaimana baiknya?"
"Apa boleh buat! Jawab saja yang sesungguhnya!" sahut temannya yang berbadan pendek.
"Tapi…..," sambung temannya yang agak gemuk badannya. "Belum tentu dipercaya."
"Kalau begitu, kita harus bagaimana?" tanya orang berbaju hitam jangkung.
"Hei!" Terdengar suara bentakan Kim Tie. "Bagaimana kalian bertiga, kok tidak menjawab? Sudah kalian keluarkan belum mayat itu?"
"Sebentar lagi!" sahut yang berbadan gemuk.
"Kenapa begitu lama?" tegur Gin Tie. "Menggali sosok mayat saja harus membuang begitu banyak waktu!"
"Kami......"
Ucapan orang berbaju hitam pendek terputus, sebab ia melihat sosok bayangan berkelebat ke hadapan mereka. Sosok bayangan itu ternyata Gin Tie.
Ketika melihat ketiga orang itu berhenti menggali, timbullah kecurigaan Gin Tie.
"Apa gerangan yang telah terjadi?" tanyanya dingin.
"Terjadi….. hal yang amat ganjil," jawab orang berbaju hitam gemuk.
"Oh?" Gin Tie tertawa dingin. "Mayat itu hilang kan?"
"Benar." Orang berbaju hitam gemuk mengangguk. "Mayat itu memang telah hilang entah ke mana?"
"Kok bisa hilang?" Gin Tie menatap mereka bertiga.
"Ini….. ini…..." Orang berbaju hitam gemuk tergagap. "En….. entahlah."
"Kau tidak mengerti kan?" sambung Gin Tie dingin.
"Ya. Urusan ini memang sangat mengherankan," jawab orang berbaju hitam gemuk sambil menundukkan kepala.
"Hmm!" dengus Gin Tie dingin. "Mayat yang telah dikubur bisa hilang, itu sungguh di luar dugaan!"
"Aku….. aku tidak bohong......"
"Tidak bohong?" bentak Gin Tie gusar. "Keng Tay Cun, engkau sungguh berani sekali!"
Nama yang disebutkan tadi, sungguh mengejutkan padri yang bersembunyi di belakang pohon.. Ternyata orang berbaju hitam gemuk itu orang berilmu tinggi dalam rimba persilatan. Lalu siapa pula yang lainnya? Pikir padri itu. Siapa kedua orang yang mengenakan baju kuning emas dan baju putih perak itu? Keng Tay Cun berkepandaian tinggi, namun kenapa begitu hormat dan tunduk pada kedua orang itu?
Sementara orang berbaju hitam gemuk itu sudah menggigil sekujur badannya, Gin Tie memanggil namanya, itu pertanda…...
"Ampun…..!" mohonnya dengan suara bergemetar. "Tie Kun (Raja baju perak) ampunilah hamba…..!"
"Hmm!" dengus Gin Tie dingin. "Mayat itu ke mana sekarang?"
"Hamba memang mengubur mayat itu di sini, tapi entah kenapa mayat itu…..." Mendadak orang berbaju hitam gemuk itu menjerit menyayat hati. "Aaaakh…..!"
Ia terpental beberapa meter dengan mulut memuntahkan darah segar, sepasang matanya mendelik-delik kemudian terkulai tak bergerak lagi. Orang berbaju hitam gemuk itu telah mati. Ternyata tadi sebelum ia menyelesaikan ucapannya, Gin Tie telah turun tangan terhadapnya.
Menyaksikan itu, padri yang bersembunyi di belakang pohon terkejut bukan main. Sungguh dahsyat pukulan orang berbaju putih perak itu! Tenaga dalamnya telah mencapai tingkat tinggi.
Mendadak Kim Tie berkelebat ke sisi Gin Tie. Sementara Gin Tie terus menerus menatap orang berbaju hitam jangkung.
"Cepat katakan! Apa gerangan yang telah terjadi?" tanya Gin Tie dingin.
"Hamba tidak berani bohong, Hek Siau Liong memang…..."
"Hei!" bentak Gin Tie. "Sungguh berani engkau menyebut nama itu!"
"Ampun!" tersentak orang berbaju hitam jangkung itu. "Lain kali hamba…..."
Gin Tie tertawa dingin, itu membuat orang berbaju hitam jangkung semakin terkejut dan sekujur badannya mulai menggigil seperti kedinginan.
"Masih ada lain kali, Kauw Cing Lun?" bentak Gin Tie mengguntur.
Padri berusia pertengahan yang bersembunyi di belakang pohon, hatinya tergetar keras. Bukan karena nama Kauw Cing Lun, melainkan karena nama Hek Siau Liong.
Hek Siau Liong adalah orang yang sedang dicari partai besar dalam bu lim termasuk padri tersebut.
Sungguh tak terduga, karena kebetulan melihat lima sosok bayangan berlari cepat seperti terbang menuju rimba itu, maka padri itu pun menguntit mereka. Ternyata kelima orang itu ke rimba tersebut untuk menggali mayat Hek Siau Liong…...
Betapa terperanjatnya padri itu mengetahui hal tersebut. Siapa yang membunuh Hek Siau Liong? Bagaimana mereka tahu? Dan….. ternyata mayat Hek Siau Liong telah hilang.
Untuk apa mereka menggali mayat Hek Siau Liong? Bahkan mayat tersebut malah telah hilang. Kemana mayat itu? Apakah….. ada orang lain memindahkannya? Kalau tidak, mungkinkah mayat itu telah berubah menjadi mayat hidup?
Padri berusia pertengahan itu terus berpikir, tapi mendadak ia dikejutkan oleh jeritan yang menyayat hati.
"Aaaakh…..!" Orang berbaju hitam jangkung terpental ke sisi mayat Keng Tay Cun, dan mati seketika dengan mulut mengalirkan darah segar.
Kini tinggal orang berbaju hitam pendek, yang sukmanya telah hilang entah ke mana ketika menyaksikan kematian kedua temannya itu, sekujur badannya terus menggigil.
"Kenapa engkau?" tanya Gin Tie dingin. "Hamba......" Suara orang berbaju hitam pendek bergemetar. "Hamba…..."
"Ketakutan ya?" tanya Gin Tie. Namun sungguh mengherankan, karena suaranya berubah agak lembut.
"Hamba…..."
"Pin Ngo (Baju hitam kelima), mulai saat ini engkau menjadi Pin It (Baju hitam kesatu), mengerti engkau?"
"Te….. terima kasih Tie Kun!" ucap orang berbaju hitam pendek sambil memberi hormat. "Hamba sangat berterima kasih atas kebaikan Tie Kun!"
"Tahukah engkau apa sebabnya, kedudukanmu bisa diangkat saat ini?" tanya Gin Tie sambil menatapnya.
"Hamba….. hamba…..."
"Engkau tidak tahu?" Gin Tie tertawa ringan.
"Hamba memang tidak tahu, mohon Tie Kun memberi penjelasan!" Orang berbaju hitam pendek menundukkan kepala.
"Apakah engkau masih ingat akan ucapanmu tadi?"
"Hamba tidak ingat."
"Bukankah tadi engkau mengucapkan, apa boleh buat! Jawab saja yang sesungguhnya! Engkau ingat sekarang?"
"Hamba sudah ingat."
"Karena engkau mengucapkan itu, maka telah menyelamatkan nyawamu sendiri, dan mengangkat kedudukan. Engkau sudah mengerti sekarang?"
"Hamba….. hamba telah mengerti."
"Nah, jawablah yang sesungguhnya!"
"Tapi sebelumnya, hamba mohon ampun. Kalau Tie Kun bersedia mengampuni hamba, barulah hamba berani memberitahukan hal yang sesungguhnya."
Gin Tie berpikir sejenak, kemudian mengangguk.
"Baiklah. Aku bersedia mengampunimu."
"Terima kasih Tie Kun!" ucap orang berbaju hitam pendek lalu menarik nafas. "Sesungguhnya Keng Tay Cun dan Kauw Cing Lun mati secara penasaran."
"Oh?" Gin Tie tertawa dingin. "Engkau membela mereka?"
"Hamba tidak membela mereka, melainkan berkata sesungguhnya," ujar orang berbaju hitam pendek.
"Berkata sesungguhnya?" Gin Tie menatap orang berbaju hitam pendek itu. "Kalau begitu, mayat itu ke mana?"
"Bocah itu memang telah terpukul dan tertusuk pedang anak buah hamba......"
"Itu tidak perlu kau jelaskan!" potong Gin Tie. "Aku cuma bertanya di mana mayat bocah itu?"
"Mayat itu memang dikubur di sini, mengenai…..."
"Kalian yang mengubur mayat itu?" tanya Kim Tie mendadak.
"Walau bukan kami yang menguburnya, tapi kami juga berada di tempat ini menyaksikan mayat bocah itu dikuburkan di sini, setelah itu barulah kami pergi."
"Semua anak buah kalian juga ikut pergi?" tanya Kim Tie.
"Ya." Orang berbaju hitam pendek mengangguk. "Kami semua pergi bersama."
Kim Tie tampak berpikir keras, lama sekali barulah membuka mulut bertanya pada orang berbaju hitam pendek itu.
"Ketika itu, kalian melihat ada orang lain melewati rimba ini?"
"Tidak melihat siapa pun."
"Engkau berkata sesungguhnya, sama sekali tidak berdusta?" Kim Tie menatapnya.
"Hamba sama sekali tidak berdusta," jawab orang berbaju hitam pendek sambil memberi hormat.
"Ngmm!" Kim Tie manggut-manggut. "Mengenai kematian kedua orang itu, bagaimana menurut pandanganmu?"
"Itu…..." Orang baju hitam pendek ragu menjawabnya.
"Jawab saja! Aku tidak akan menghukummu," ujar Kim Tie sungguh-sungguh.
"Mohon maaf, menurut hamba, kematian mereka berdua sungguh penasaran dan tak berharga sama sekali."
Kim Tie tertawa.
"Tak berharga memang benar," ujarnya, "Namun belum tentu penasaran."
"Oh?"
"Mayat itu telah hilang, seharusnya mereka memberitahukan secara jujur," lanjut Kim Tie. "Tidak pantas berunding secara diam-diam untuk berdusta, itu pertanda mereka tidak setia terhadap kami. Orang yang tidak setia, tentunya harus dihukum mati. Mengerti, engkau?"
"Hamba….. hamba mengerti." Orang berbaju hitam pendek mengangguk dengan badan menggigil. Untung pada waktu itu ia mengucapkan begitu, kalau tidak, nyawanya pasti sudah melayang. "Mereka berdua memang tidak mati penasaran."
"Baiklah. Di sini sudah tiada urusanmu lagi. Engkau boleh mengambil tanda pengenal mereka, lalu pulang dan suruh anak buahmu ke mari untuk mengubur mayat mereka berdua itu," ujar Kim Tie sambil mengibaskan tangannya.
"Hamba turut perintah." Orang berbaju hitam memberi hormat, lalu segera mendekati dua sosok mayat itu untuk mengambil tanda pengenal mereka. Setelah itu, barulah ia pergi sambil menarik nafas lega.
(Bersambung bagian 20)

Bagian ke 20: Orang Tua Gunung Salju

Setelah orang berbaju hitam pendek itu pergi, di rimba itu masih berdiri dua orang, yakni Kim Gan Siang Tie. Ternyata mereka berdua belum meninggalkan tempat itu.
"Mengenai urusan ini, bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Kim Tie.
"Shia coh hanya menduga…..."
"Menduga apa?"
"Cuma ada satu kemungkinan."
"Kemungkinan apa?"
"Dibawa pergi oleh orang lain."
"Oh?" Kim Tie tertawa. "Untuk apa orang tersebut membawa pergi mayat itu?"
"Ini merupakan persoalan yang sulit dipecahkan," jawab Gin Tie. "Akan tetapi......"
"Kenapa?"
"Mungkin bocah itu bernasib mujur. Walau sudah terpukul dan tertusuk pedang namun dia tidak mati."
"Ng!" Kim Tie manggut-manggut. "Itu memang masuk akal, kemudian diketahui orang, maka dia ditolong."
"Maksud sang coh setelah Keng Tay Cun dan teman-temannya pergi, orang itu pun keluar dari tempat persembunyian, lalu menggali sekaligus membawa pergi bocah itu?"
"Benar." Kim Tie mengangguk. "Orang itu tahu bocah tersebut belum putus nyawanya, maka menolongnya. Kalau tidak, untuk apa membawa pergi sosok mayat?"
"Kini mayat itu telah hilang, tidak bisa diselidiki asal-usulnya lagi. Bagaimana sang coh?"
"Engkau ingin bertanya padaku tentang apa yang kucurigakan itu?" Gin Tie tersenyum sambil menatapnya.
"Ya." Gin Tie mengangguk.
"Tahukah engkau, siapa yang sedang kita kejar itu?" tanya Kim Tie mendadak.
"Sang coh bercuriga bahwa dia adalah anjing kecil itu?" Gin Tie tersentak.
"Ng!" Kim Tie mengangguk. "Seharusnya engkau sudah menduga ke situ. Dalam tiga bulan ini, anjing kecil itu tiada jejak dan kabar beritanya, apakah dia bisa menyusup ke dalam bumi?"
Semakin mendengar, padri yang bersembunyi di belakang pohon itu pun semakin mengerti, bahwa mereka berdua itu Kim Gan Siang Tie namun tidak jelas mereka berdua itu raja apa?
Selain itu, padri tersebut pun tidak tahu siapa yang mereka maksud anjing kecil itu.
"Kalau begitu, kini kita harus bagaimana?" tanya Gin Tie.
"Kita cuma menduga-duga saja," jawab Kim Tie. "Betul atau tidak kita belum bisa memastikannya, maka sebaiknya kita pulang dulu untuk berunding. Ayoh, mari kita pulang!"
Tampak dua sosok bayangan berkelebat pergi, begitu cepat bagaikan kilat. Sehingga sungguh mengejutkan padri yang bersembunyi di belakang pohon.
"Sungguh tinggi ginkang mereka….." gumamnya, lalu berdiri lurus. Namun mendadak ia mendengar suara yang amat kecil mendengung di dalam telinganya.
"Hweshio kecil! Kau tidak usah bersembunyi lagi! Orang-orang yang mau mengubur kedua mayat itu telah datang! Tiga li dari sini menuju selatan, di sana terdapat sebuah vihara, lo hu (aku orang tua) menunggumu di sana."
"Sicu ko jin (orang berkepandaian tinggi) dari mana?" tanya padri berusia pertengahan itu. Ia juga menggunakan ilmu menyampai suara.
"Lo hu bukan orang tinggi, melainkan orang pendek. Hweshio kecil, kalau engkau tidak berani ke vihara itu ya sudahlah!"
"Kalau begitu, sicu jalan duluan, aku pasti segera menyusul ke sana."
"Baiklah. Tapi engkau harus cepat menyusul ke sana! Kalau lo hu tunggu lama, engkau akan tahu rasa."
Tak lama tampak sosok bayangan berkelebat bagaikan segulung asap menuju selatan.
Bukan main terkejutnya padri itu. Sepasang matanya terbelalak ketika menyaksikan ginkang yang begitu tinggi.
Siapa padri itu? Ternyata murid kepala ciangbun jin Gobi pay Seng Khong Taysu, yang dipanggil Goan Siu hweshio. Dia diutus untuk mencari Hek Siau Liong.
Ketika menyaksikan ginkang yang begitu luar biasa, dia terkejut sekali. Namun dia murid kepala ciangbun jin Gobi pay, tentu tidak mau mempermalukan gurunya. Ia segera mengembangkan ginkangnya menuju vihara tersebut.
Dalam waktu sekejap perjalanan padri itu sudah mencapai tiga li. Di sisi sebuah pohon rindang, terdapat sebuah vihara yang sudah tua. Tampak seorang tua renta duduk di dekat pintu vihara itu. Orang itu berusia delapan puluhan, rambut dan jenggotnya sudah memutih semua.
Orang tua renta itu duduk bersila dengan mata terpejam, persis padri tua sedang bersemedi.
Goan Siu hweshio berdiri tak jauh, dari tempat itu, sepasang matanya menatap orang tua renta itu dengan penuh perhatian.
"Mungkinkah orang tua itu?" tanya Goan Siu hweshio dalam hati, ia tampak ragu.
Mendadak orang tua renta itu membuka matanya, mengarah pada Goan Siu hweshio dengan menyorot tajam.
"Hweshio kecil, engkau sudah sampai di sini tapi kenapa berdiri begitu jauh? Merasa takut ya?" tegur orang tua renta itu.
"Lo sicu (orang tua), kalau siau ceng (aku padri kecil) takut, tentunya tidak akan ke mari," sahut Goan Siu hweshio.
Orang tua renta itu tersenyum lembut.
"Kalau tidak takut, duduklah di sini untuk mengobrol!" ujarnya.
Goan Siu hweshio ragu sejenak, kemudian mendekati orang tua renta itu, lalu duduk bersila sekaligus merapatkan sepasang telapak tangannya di dada.
"Lo sicu, mohon tanya ada petunjuk apa?" tanya Goan Siu hweshio.
Orang tua renta itu tidak segera menjawab, melainkan tersenyum sambil balik bertanya.
"Hweshio kecil, siapa namamu?"
"Siau ceng bernama Goan Siu."
"Engkau murid Siauw Lim atau murid Gobi?"
"Siau ceng murid Gobi. Mohon tanya siapa lo sicu?"
"Wuah!" Orang tua renta tertawa. "Lo hu sudah lupa nama sendiri, engkau tidak perlu bertanya!"
"Lo sicu…..."
"Hweshio kecil, lo hu ingin bertanya, sudikah engkau menjawab?" Orang tua renta menatapnya tajam.
"Lo sicu mau bertanya apa?"
"Dengar-dengar para partai besar sedang berusaha mencari Hek Siau Liong. Benarkah itu?"
Goan Siu hweshio mengangguk.
"Benar."
"Mengapa kalian berusaha mencarinya?"
"Itu karena partai Kay Pang menyebarkan bu lim tiap pada berbagai partai besar lainnya untuk mohon bantuan mencari Hek Siau Liong. Itu disebabkan apa, siau ceng tidak mengetahuinya."
Orang tua renta itu tampak tertegun, kemudian sepasang matanya menyorot tajam dan dingin.
"Apa?! Engkau bilang pihak Kay Pang yang menyebarkan bu lim tiap?"
"Betul." Goan Siu hweshio mengangguk, dan merasa terkejut akan sorotan yang tajam dan dingin itu.
Mendadak orang tua renta itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Pengemis cilik Sang sungguh ceroboh, harus dipukul pantatnya!"
Goan Siu hweshio tersentak, sebab yang dimaksudkan pengemis cilik Sang adalah Kay Pang Pangcu (Ketua Kay Pang) masa kini. Usianya sudah lima puluhan, tapi orang tua renta ini menyebutnya pengemis cilik dan menambahkan harus dipukul pantatnya. Orang tua renta berani mengatakan begitu, sebetulnya siapa orang tua renta itu? Goan Siu hweshio tidak habis berpikir.
"Hweshio kecil, sungguhkah engkau tidak tahu sebab musababnya?" tanya orang tua renta itu lagi.
"Siau ceng sungguh tidak tahu."
"Benarkah?"
"Siau ceng adalah pengikut Budha, bagaimana mungkin siau ceng berani berdusta?"
"Oh? Ha ha ha!" Orang tua renta tertawa gelak. "Berapa banyak hweshio yang berdusta, diam-diam makan daging dan main perempuan."
"Omitohud! Semoga Sang Budha mengampuni lo sicu." ucap Goan Siu hweshio sambil merapatan sepasang tangannya di dada.
"Jangan menyebut Omitohud kalau hati tidak bersih!" ujar orang tua renta dan tertawa gelak lagi, kemudian menambahkan, "Kalau Seng Khong tahu engkau berani berkata demikian pada lo hu kepalamu yang gundul itu pasti diketok."
"Lo sicu…..." Goan Siu hweshio terbelalak.
"Sudahlah hweshio kecil, engkau tidak tahu sebab musabab itu tidak apa-apa, lo hu percaya engkau tidak bohong," ujar orang tua renta itu. "Kini Hek Siau Liong itu telah mati, kalian tidak perlu mencarinya lagi."
"Apa yang dikatakan lo sicu memang benar. Tapi menurut siau ceng, urusan itu perlu diselidiki."
"Mengapa?"
"Lo sicu, tentunya lo sicu mendengar pemicaraan orang yang berbaju kuning emas dan putih perak itu, kan?"
"Tidak salah. Engkau pun sudah dengar. Nah, bagaimana menurut pendapatmu, hweshio kecil?"
"Menurut siau ceng memang masuk akal dia telah ditolong orang."
"Benar, hweshio kecil." Orang tua renta mangut-manggut. "Kalau begitu, kenapa tadi engkau bilang masalah itu harus diselidiki?"
"Karena…..." Goan Siu hweshio menatapnya. "Lo sicu, itu adalah urusan Kay Pang."
"Lo hu paham." Orang tua renta manggut-manggut. "Maksudmu lo hu jangan turut campur kan?"
"Siau ceng tidak bermaksud begitu, itu memang urusan Kay Pang."
"Tidak salah." Orang tua renta tersenyum. "Itu memang urusan pengemis kecil Sang, tapi asal lo hu berkata padanya, dia pasti tidak berani membantah. Tapi….. lo hu masih ada urusan lain, tidak bisa pergi menemuinya…..."
"Lo sicu......" Goan Siu hweshio tercengang.
"Hweshio kecil, bersediakah engkau mewakili lo hu menyampaikan pesan pada pengemis kecil itu?"
"Maksud lo sicu?"
"Suruh dia segera memberitahukan pada partai besar lainnya, tidak usah mencari Hek Siau Liong lagi!"
"Lo sicu…..."
"Engkau tidak mau membantu lo hu?"
"Siau ceng mau membantu, tapi….. bagaimana mungkin Sang Pangcu akan menuruti pesan ini?"
"Oooh!" Orang tua renta tersenyum. "Kalau cuma pesan dengan mulut, tentunya pengemis kecil itu tidak mau menurut. Tapi lo hu akan memberimu suatu barang, serahkan padanya! Setelah dia melihat barang tersebut, dia pasti menurut."
Hati Goan Siu hweshio tergerak.
"Itu barang kepercayaan lo sicu?"
"Hweshio kecil," ujar orang tua renta sambil tertawa. "Jangan banyak bertanya! Setelah engkau bertemu pengemis kecil itu, dia akan memberitahukan padamu siapa lo hu."
"Oooh!" Goan Siu hweshio manggut-manggut.
Orang tua renta mengeluarkan sebuah kantong kecil yang terbuat dari semacam kain warna merah, lalu diberikan pada Goan Siu hweshio dengan wajah serius.
"Simpan baik-baik barang ini, jangan sampai hilang!" pesannya, "Dan juga engkau tidak boleh melihat isinya!"
"Ya." Goan Siu hweshio mengangguk sambil menerima barang tersebut. "Siau ceng tidak berani melanggar pesan lo sicu."
"Bagus." Wajah orang tua renta berseri. "Lo hu minta bantuanmu, tentunya tidak secara cuma-cuma."
"Maksud lo sicu?"
"Kini lo hu akan mengajarmu tiga jurus tangan kosong, tapi cuma mengajar satu kali saja. Engkau bisa ingat berapa bagian, itu adalah urusanmu."
"Lo sicu…..."
"Hweshio kecil, lihat baik-baik!" ujar orang tua renta sambil menggerak-gerakkan sepasang tangannya.
Goan Siu hweshio melihat dengan penuh perhatian, jurus tangan kosong itu tampak sederhana, namun justru sangat aneh.
Berselang beberapa saat kemudian, orang tua renta itu menghentikan gerakannya.
"Hweshio kecil, engkau sudah ingat?" tanyanya sambil menatapnya tajam.
Goan Siu hweshio merapatkan sepasang telapak tangannya di dada.
"Siau ceng sungguh bodoh, cuma ingat enam bagian." jawabnya dengan hormat.
"Ha ha ha!" Orang tua renta tertawa gelak. "Engkau bisa ingat enam bagian, itu sudah bagus. Bahkan engkau pun harus merasa puas, karena kalau engkau bertemu salah seorang Cit Khi (Tujuh Orang Aneh) atau Pat Hiong (Delapan Orang Buas) itu, engkau tidak akan kalah melawan salah seorang itu dengan tiga jurus tangan kosong yang baru kau pelajari itu."
Goan Siu hweshio merasa girang sekali, namun wajahnya tampak ragu.
Menyaksikan itu, orang tua renta tertawa gelak.
"Engkau tidak percaya, hweshio kecil?" tanyanya.
Seketika juga wajah Goan Siu hweshio kemerah-merahan. Ia tidak menyahut melainkan cuma merapatkan sepasang telapak tangannya di dada.
"Engkau tidak percaya tidak apa-apa. Tapi kelak engkau akan tahu bagaimana keampuhan tiga jurus tangan kosong itu."
"Lo sicu......"
"Baiklah. Lo hu masih ada urusan lain, kita berpisah di sini saja," ujar orang tua renta, lalu mendadak berkelebat pergi dalam keadaan duduk bersila.
Betapa terkejutnya Goan Siu hweshio, sebab gurunya belum mampu berbuat begitu. Maka dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian orang tua renta itu. Siapa sebenarnya orang tua renta tersebut? Goan Siu hweshio sama sekali tidak dapat menerkanya.
*
* *
Setengah bulan telah berlalu, namun para murid partai besar masih terus mencari jejak Hek Siau Liong. Tentunya para murid partai besar itu telah mengetahui tentang Hek Siau Liong yang ditolong oleh seseorang.
Mengapa para murid partai besar masih terus mencari Hek Siau Liong? Apakah Goan Siu hweshio tidak pergi menemui Kay Pang Pangcu menyerahkan barang orang tua renta dan menyampaikan pesannya itu?
Padahal sesungguhnya, Goan Siu hweshio telah melaksanakan itu dengan baik, sedangkan Kay Pang Pangcu pun sudah tahu siapa orang tua renta itu.
Orang tua renta itu, ternyata Swat San Lo Jin (Orang tua Gunung Swat San) yang pernah menggetarkan bu lim enam puluhan tahun yang lalu.
Kalau begitu, Kay Pang Pangcu telah mengabaikan pesan Swat San Lo Jin tidak memberi kabar pada partai besar lainnya agar berhenti mencari Hek Siau Liong? Kay Pang Pangcu Sang Hun Hun begitu berani tidak menurut pada pesan Swat San Lo Jin, sungguh besar nyalinya. Apakah dia tidak takut akan membuat gusar bu lim lo cianpwe (orang tua tingkat tinggi rimba persilatan) itu?
Tentunya Kay Pang Pangcu itu tidak berani. Akan tetapi dalam hal tersebut, terdapat suatu sebab. Kalau tidak, bagaimana mungkin Kay Pang Pangcu berani mengabaikan amanat bu lim lo cianpwe itu?
Kenapa Kay Pang Pangcu Sang Hun Hun begitu berani? Siapa pun tidak mengetahuinya. termasuk Swat San Lo Jin sendiri kecuali para Ciangbun Jin partai besar itu. Kalau begitu, asal-usul Hek Siau Liong memang luar biasa sekali.

Senin, 04 Juli 2011

Panji Sakti - Khu Lung - Bagian 18

Bagian ke 18: Ekspedisi Yang Wie
Di sebelah utara Kota Teng Hong, terdapat sebuah bangunan yang amat megah, yakni Gedung Yang Wie Piau Kok (Ekspedisi Yang Wie) yang amat terkenal.
Dalam lima tahun ini, semua pengiriman ekspedisi itu tidak pernah diganggu penjahat yang mana pun. Maka nama ekspedisi tersebut terus melambung tinggi. Hal itu membuat pengelola ekspedisi lain menjadi iri. Namun mereka sama sekali tidak berani macam-macam terhadap ekspedisi Yang Wie.
Terkenalnya Ekspedisi Yang Wie juga karena pemimpinnya tergolong bu lim ko ciu. Para anak buahnya tiada satu pun yang berkepandaian rendah, rata-rata memiliki kepandaian kelas tinggi.
Oleh karena itu, para penjahat yang mana pun tidak berani mengganggu ekspedisi tersebut.
Walau demikian, ekspedisi Yang Wie tidak melupakan satu hal, yakni mengirim upeti kepada para penyamun. Justru karena itu, para penjahat yang mana pun sangat menghormati ekspedisi itu.
Di halaman belakang gedung ekspedisi Yang Wie terdapat sebuah bangunan kecil. Bangunan itu merupakan tempat terlarang. Jika malam sudah larut semua jendela bangunan kecil itu tertutup rapat. Suasana di sekitarnya pun tampak gelap gulita.
Akan tetapi, malam ini tampak berbeda. Biasanya tiada seorang pun berada di dalam bangunan kecil itu, namun saat ini tampak dua orang duduk berhadapan. Yang seorang mengenakan baju kuning emas, yang seorang lagi mengenakan baju putih perak. Masing-masing mengenakan kain penutup wajah yang warnanya sama dengan bajunya.
Kedua orang itu duduk diam dengan mulut membungkam. Berselang beberapa saat kemudian, orang berbaju kuning emas membuka mulut.
"Engkau sudah mengutus orang untuk menyelidiki?" tanyanya dengan suara rendah.
"Sudah." Orang berbaju putih perak mengangguk.
"Bagaimana hasilnya?" tanya orang berbaju kuning emas. "Sudah menyelidiki semua itu?"
"Tidak semua," jawab orang berbaju putih perak. "Cuma sebagian saja."
"Kalau begitu, beritahukanlah yang sebagian itu!"
"Ya." Orang berbaju putih perak mengangguk. "Itu adalah bu lim tiap (Kartu rimba persilatan) yang disebarkan Partai Kay Pang."
"Oh?" Orang berbaju kuning emas tampak berpikir keras. "Kalau begitu, urusan itu sangat mengherankan."
"Kenapa mengherankan?"
"Demi mencari seseorang bernama Hek Siau Liong, pihak Kay Pang telah menyebarkan bu lim tiap minta bantuan pada partai besar lainnya. Nah, bukankah urusan kecil dibesar-besarkan? Tentunya merupakan urusan yang luar biasa."
Orang berbaju putih perak manggut-manggut.
"Itu memang luar biasa."
Orang berbaju kuning emas tertawa-tawa.
"Maka sungguh mengherankan," ujar orang berbaju kuning emas. "Urusan itu pasti mengandung sesuatu yang sulit dimengerti orang lain."
"Oh?"
"Tahukah engkau bagaimana peraturan bu lim tiap itu?"
"Shia coh tahu tentang itu."
Orang berbaju perak menyebut dirinya shia coh (aku tingkat rendah), itu berarti orang berbaju kuning emas berkedudukan lebih tinggi. Jadi siapa kedua orang itu?
"Kalau begitu, aku bertanya, kenapa hanya mencari Hek Siau Liong harus menyebarkan bu lim tiap?"
Orang berbaju putih perak berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Aku mengerti, tentunya berkaitan dengan diri Hek Siau Liong."
"Tidak salah. Itu pertanda asal-usul Hek Siau Liong sangat luar biasa," ujar orang berbaju kuning emas. "Kalau tidak, bagaimana mungkin pihak Kay Pang akan menyebarkan bu lim tiap."
"Betul." Orang berbaju putih perak mengangguk.
"Tentunya….." tambah orang berbaju kuning emas. "Tidak mungkin urusan kecil dibesarkan begitu, lagi pula partai besar lainnya pasti akan bertindak kalau pihak Kay Pang berani main-main dengan bu lim tiap."
"Kalau begitu......" Orang berbaju putih perak tampak berpikir sejenak. "Sang coh (atasan) menganggap asal-usul Hek Siau Liong itu......"
Ternyata orang berbaju kuning emas itu atasan orang berbaju putih perak. Orang berbaju kuning emas tidak menyahut, sebaliknya malah bertanya.
"Sungguhkah Hek Siau Liong telah dibunuh?"
"Apakah sang coh bercuriga akan laporan Toan Beng Thong?"
Orang berbaju kuning emas menggelengkan kepala.
"Itu tidak perlu bercuriga, lagi pula Toan Beng Thong tidak akan berani memberi laporan palsu."
"Ya." Orang berbaju putih perak manggut-manggut. "Sang coh benar."
"Engkau mau menyuruh mereka untuk menyelidiki asal-usul Hek Siau Liong?" tanya orang berbaju kuning emas.
"Sudah diselidiki…..."
"Oh?" Orang berbaju kuning emas mengarah padanya. "Bagaimana hasilnya?"
"Tiada hasilnya." Orang berbaju putih perak menggelengkan kepala. "Bahkan orang-orang partai besar pun tidak mengetahui asal-usulnya."
Orang berbaju kuning emas tampak tercengang.
"Itu.....," ujarnya bergumam. "Sungguh mengherankan!"
"Ya, memang sungguh mengherankan."
"Ohya." Orang berbaju kuning emas teringat sesuatu. "Mengenai asal-usul marga pemuda Se dan orang-orangnya itu, sudah diselidiki?"
"Tentang itu, shia coh sudah mengutus beberapa orang pergi ke Lam Hai untuk menyelidikinya."
"Ngm!" Orang berbaju kuning emas manggut-manggut. "Kira-kira kapan mereka pulang?"
"Paling cepat pun harus dua puluh hari, kita baru bisa menerima kabar beritanya."
Orang berbaju kuning emas manggut-manggut lagi, kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana dengan mayat Hek Siau Liong?"
"Toan Beng Thong telah melapor, mayat itu telah dikubur."
"Tahu jelaskah tempat itu?"
"Pinggir kota Pin Hong, tapi tidak begitu jelas tempat penguburannya."
"Orang Pin Hong sana tahu?"
"Justru orang sana yang melakukannya."
"Oooh!" Orang berbaju kuning emas manggutmanggut.
"Sang coh menanyakan tentang itu, apakah berniat pergi menyelidikinya?" tanya orang berbaju putih perak.
"Betul." Orang berbaju kuning emas mengangguk. "Mengenai asal-usul Hek Siau Liong, aku telah menduga dalam hati, maka perlu memeriksa mayatnya."
"Oh?" Orang berbaju putih perak agak tercengang.
"Kalau memperoleh bukti yang sesuai dengan dugaanku, kita pun akan memperoleh suatu kebanggaan pula."
"Bagaimana dugaan sang coh mengenai asal-usul Hek Siau Liong?" tanya orang berbaju putih perak mendadak.
"Sekarang engkau jangan bertanya dulu!" Orang berbaju kuning emas tertawa ringan. "Sebelum ada bukti, aku tidak akan memberitahukan."
"Ya." Orang berbaju putih perak mengangguk.
"Ohya!" Orang berbaju kuning emas mengalihkan pembicaraan. "Apakah Tancu (pemimpin aula) keenam, ketujuh dan kedelapan melaporkan sesuatu?"
"Tidak."
"Tancu keempat dan kelima?"
"Mereka berdua sudah tiba di daerah Ciat Tang, namun belum menemukan apa-apa."
"Bagaimana daerah lain?" tanya orang berbaju kuning emas serius. "Belum ada laporan apa-apa?"
"Memang sudah ada laporan dari dua daerah, tapi ternyata telah salah mencari orang." Orang berbaju putih perak memberitahukan.
"Oh? Jadi bagaimana urusan itu?" tanya orang berbaju kuning emas sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Sudah dibereskan." Orang berbaju putih perak tertawa terkekeh. "Shia coh tidak melepaskan satu pun."
"Oh?" Orang berbaju kuning emas juga tertawa.
"Boleh membunuh seratus, tapi tidak boleh melepaskan satu pun," ujar orang berbaju kuning emas.
"Memang harus begitu." Orang berbaju kuning emas manggut-manggut sambil tertawa gelak. "Pantas Taytie (Maha raja) menaruh harapan padamu."
Orang berbaju putih perak tersenyum.
"Dan masih mendapat dukungan dari sang coh," sambungnya.
"Wuaah!" Orang berbaju kuning emas lagi. "Engkau semakin pandai omong, bahkan juga mulai menepuk pantat."
"Terima kasih atas pujian sang coh!" ucap orang berbaju putih perak sambil tertawa. "Shia coh…..."
Mendadak pada waktu bersamaan, terdengar suara yang dingin dari atap bangunan itu.
"Kim Gin Siang Tie (Sepasang raja emas perak), cepatlah kalian berdua menyambut Taytie Giok Cih (Surat perintah dari maha raja)!"
Ternyata kedua orang itu sepasang raja emas perak. Orang berbaju kuning emas adalah Kim Tie (Raja emas), sedangkan orang berbaju putih perak adalah Gin Tie (Raja perak).
Kalau begitu, siapa pula Taytie (Maha raja) itu? Yang jelas maha raja itu adalah kepala pimpinan mereka.
Setelah mendengar suara itu, Kim Gin Siang Tie segera bangkit berdiri, lalu menjura hormat.
"Mohon masuk!" ucap mereka berdua serentak.
Serrrt! Berkelebat sosok bayangan ke dalam bangunan itu. Sosok bayangan itu adalah seorang yang kurus kecil, mukanya ditutupi dengan kain hitam, mengenakan baju yang pinggirannya berwarna kuning emas, bagian depan terdapat sebuah gambar macan tutul.
Siapa orang itu dan apa kedudukannya? Dia salah seorang dari empat pengawal Taytie, Liong, Houw, Sai, Pa (Naga, Harimau, Singa, Macan tutul).
Begitu kaki menginjak lantai, Pa Si (Pengawal macan) pun segera mengeluarkan segulung kertas.
"Kalian berdua terimalah Giok Cih ini!" ujar orang itu.
"Ya," sahut Kim Gin Siang Tie sambil memberi hormat. Kemudian Kim Tie maju menerima surat perintah itu dan mengucap, "Silakan duduk!"
Pengawal itu menggelengkan kepala.
"Tidak usah." sahutnya. "Aku harus segera pulang untuk melapor."
Kim Gin Siang Tie berdiri menghormat, sedangkan pengawal itu memandang mereka berdua sambil berkata.
"Memerintahkan aku untuk bertanya pada kalian, apakah sudah ada kabar berita tentang anjing kecil itu?"
"Harap lapor kepada Taytie!" jawab Gin Tie. "Kalau sudah ada kabar berita, kami berdua pasti segera pulang ke markas untuk melapor."
"Ngm!" Pengawal itu manggut-manggut. "Itu sungguh mengherankan. Sudah hampir tiga bulan, kenapa masih belum ada kabar berita tentang anjing kecil itu? Apakah anjing kecil itu telah lenyap ditelan bumi?"
Kim Gin Siang Tie diam saja.
"Taytie sangat tidak puas akan urusan itu, menganggap para bawahan tidak becus melaksanakan suatu tugas. Oleh karena itu, beliau memerintahku untuk memperingatkan kalian. Kalau tidak melaksanakan tugas itu dengan baik, maka kalian pasti dihukum berat."
"Mohon lapor pada Taytie, kami telah berusaha keras untuk menyelidiki masalah itu, bahkan kami pun mulai bercuriga dan akan mengutus beberapa orang untuk mengadakan pemeriksaan. Kalau kami melalaikan tugas itu, kami bersedia dihukum berat."
"Bagus." Pengawal itu manggut-manggut. "Ohya! Mengenai partai besar lain yang mencari Hek Siau Liong, menurut Taytie harus diselidiki juga. Mungkin dia membantu anjing kecil itu, maka kalian berdua harus menaruh perhatian mengenai urusan tersebut!"
Padahal Gin Tie ingin memberitahukan, bahwa Hek Siau Liong telah dibunuh oleh orang-orang bawahannya, namun ia tidak berani sembarangan mencetuskannya.
"Taytie sudah mengetahui urusan itu?" tanya Kim Tie.
"Bukan cuma itu, bahkan juga mengetahui tentang kejadian pinggir kota Pin Hong itu!"
"Oh?" Kim Gin Siang Tie terkejut bukan main.
"Tapi…..," tambah pengawal itu, "Taytie menganggap kemungkinan besar anak itu bukan Hek Siau Liong."
"Mengapa?" Gin Tie heran. "Apakah ada Hek Siau Liong palsu?"
"Itu sulit dikatakan, namun Taytie sangat cerdas dan mampu menduga sesuatu dengan tepat."
"Apakah Taytie juga mengetahui bahwa partai besar lain sedang berusaha mencari Hek Siau Liong?" tanya Kim Tie.
"Ng!" Pengawal itu mengangguk.
"Juga mengetahui apa sebabnya partai besar lain berusaha mencari Hek Siau Liong?" tanya Gin Tie lagi.
"Walau Taytie mengetahui partai Kay Pang yang menyebarkan bu lim tiap, tapi tidak mengetahui jelas sebab musababnya, hanya yakin itu merupakan urusan yang luar biasa sekali. Taytie sudah memberi petunjuk dan mengatur sesuatu. Setelah kalian berdua membaca surat perintah itu, tentu akan mengetahuinya."
"Taytie masih ada petunjuk lain?" tanya Kim Tie.
"Ada. Yaitu mengenai pemuda marga Se dan orang-orangnya. Taytie memerintah kalian berdua serta para anak buah kalian, untuk sementara ini jangan mencari gara-gara dengan mereka."
"Itu kenapa?" tanya Gin Tie heran.
"Taytie telah mencurigakan sesuatu, namun karena belum mendapat bukti, maka beliau tidak memberitahukan."
Kim gin Siang Tie diam tak menyahut.
"Baiklah. Laksanakan tugas kalian dengan baik dan berhati-hati, aku harus segera pulang untuk melapor!" ujar pengawal dengan suara dalam sambil memandang mereka.
Usai berkata begitu, pengawal itu pun berkelebat pergi, begitu cepat bagaikan kilat. Dapat dibayangkan betapa tingginya ginkang pengawal tersebut.
*
* *

Panji Sakti - Khu Lung - Bagian 17

Lanjutan ....

Bagian ke 17: Asal Usul
"Nak," ujar Kian Kun Ie Siu kemudian. "Engka mau ke Lam Hai, mungkinkah ingin mencari Ca Hong To (Pulau Pelangi) yang merupakan dongeng dalam bu lim itu?"
Kini Siau Liong telah mengetahui tentang diri orang tua buta itu, maka ia pun tidak berani berdusta lagi.
"Ya." Siau Liong mengangguk. "Kalau tidak mempelajari bu kang tingkat tinggi Pulau Pelangi itu, bagaimana mungkin mampu melawan Siang Hiong Sam Koay dan Pat Tay Hiong Jin? Itu berarti boan pwe tidak bisa membalas dendam berdarah itu."
"Ngmm!" Kian Kun Ie Siu manggut-manggut. "Engkau tahu Pulau Pelangi itu berada di Lam Hai bagian mana?"
"Boan pwe tidak tahu."
"Engkau percaya di Lam-Hai terdapat Pulau Pelangi?"
"Boan pwe percaya."
"Nak…..," ujar Kian Kun Ie Siu setelah berpikir sejenak. "Lo ciau punya usul, engkau bersedia mendengarnya?"
"Lo jin keh!" Siau Liong tersenyum. "Beritahukanlah tentang usul lo jin keh itu!"
"Lo ciau usul agar engkau tidak usah ke Pulau Pelangi itu."
"Lho?" Siau Liong tertegun. "Kenapa?"
Kian Kun Ie Siu tersenyum lembut, namun wajahnya tampak serius sekali.
"Lo ciau akan menunjukkan sebuah jalan untukmu, inilah usul lo ciau."
"Oh?" Siau Liong heran. "Jalan apa?"
"Pergi menemui seseorang."
"Menemui seseorang?" Sepasang mata Siau Liong berbinar. "Boan pwe mohon petunjuk!"
"Nak, orang itu Pendekar Aneh Rimba Persilatan yang memiliki bu kang tingkat tinggi."
"Benarkah orang itu memiliki bu kang tinggi?" tanya Siau Liong agak ragu.
"Tayhiap itu memang memiliki bu kang yang luar biasa tinggi." Kian Kun Ie Siu memberitahukan. "Dia boleh dikatakan bu lim te it (Nomor satu rimba persilatan)."
"Kalau begitu, berarti tiada tanding di kolong langit?"
"Tidak salah." Kian Kun Ie Siu mengangguk. "Bu lim ko ciu (Orang berkepandaian tinggi rimba persilatan), tiada seorang pun yang melawannya dalam tiga jurus."
"Oh! Kalau begitu, dia pasti tersohor dalam bu lim?"
"Benar. Namun tayhiap itu tidak mau cari nama di rimba persilatan. Dia hidup tenang bersama isterinya tercinta." Kian Kun Ie Siu memberitahukan. "Asal engkau pergi menemui tayhiap itu dan belajar bu kangnya, maka engkau pun akan mampu melawan Siang Hiong Sam Koay seorang diri."
"O, ya?" Siau Liong tampak gembira sekali. "Lo jin keh, boan pwe harus ke mana menemui tayhiap itu?"
"Lo ciau pasti beritahukan, tapi…..."
"Kenapa?"
"Terlebih dahulu engkau harus tinggal di sini tiga bulan."
"Itu….. kenapa, lo jin keh?"
"Lo ciau akan mewariskan kepadamu tiga jurus sakti pelindung panji, sekaligus mengangkatmu sebagai generasi kelima pemegang panji itu."
"Lo jin keh…..."
"Engkau mengabulkan?"
"Apakah ini merupakan syarat, lo jin keh?"
"Boleh dibilang ya, boleh juga dibilang tidak."
"Maksud lo jin keh?"
Kian Kun Ie Siu menarik nafas ringan, setelah itu ia berkata,
"Usia lo ciau sudah tujuh puluhan. Karena mengidap semacam penyakit aneh, maka sepasang mata lo ciau jadi buta. Oleh karena itu, tiga jurus sakti pelindung panji harus ada pewarisnya. Engkau berbakat dan berhati bajik, maka engkaulah pewarisnya."
"Lo jin keh…..."
"Nak, engkau harus memiliki dasar lwee kang perguruan lo ciau, setelah itu barulah engkau pergi menemui tayhiap itu." Kian Kun Ie Siu menjelaskan. "Tentunya tidak sulit lagi bagimu untuk mempelajari bu kangnya. Seandainya tayhiap itu menolak, tapi begitu melihat Jit Goat Seng Sim Ki ini, dia pasti menerimamu. Engkau mengerti, Nak?"
"Boan pwe mengerti." Siau Liong mengangguk hormat. "Terima kasih atas kebaikan lo jin keh, boan pwe turut perintah."
"Nak," ujar Kian Kun Ie Siu. "Kalau begitu, kenapa engkau masih belum bersujud mengangkat lo ciau sebagai guru?"
"Itu pasti, tapi…..."
"Apa yang engkau ragukan lagi, Nak?"
"Mohon maaf, lo jin keh! Boan pwe ingin tahu siapa tayhiap itu?"
Wajah Kian Kun Ie Siu berubah.
"Engkau tidak mempercayai omongan lo ciau?" tanyanya.
"Boan pwe percaya, namun ingin tahu siapa tayhiap itu."
"Oh?" Kening Kian Kun Ie Siu berkerut. "Seandainya lo ciau tidak memberitahukan dulu, engkau pun tidak mau mengangkat lo ciau sebagai guru?"
"Walau boan pwe harus ke Lam Hai mencari Pulau Pelangi itu, tetap akan mengangkat lo jin keh sebagai guru dan bersedia menjaga panji itu."
"Ngmm!" Kian Kun Ie Siu manggut-manggut, wajahnya pun berubah lembut lagi. "Baiklah lo ciau beritahukan."
"Terima kasih, lo jin keh!"
"Nak, pendekar rimba persilatan itu pernah bertarung dengan Siang Hiong Sam Koay seorang diri belasan tahun yang lalu, dia adalah Pek tayhiap."
Mendengar itu, Siau Liong merasa dirinya seperti tersambar geledek di siang hari bolong. Sekujur badannya bergemetar dan air mata pun mengucur.
Sudah lama Kian Kun Ie Siu menetap di dalam goa, maka tidak tahu apa yang telah terjadi dalam rimba persilatan.
"Lo jin keh!" Siau Liong menghapus air matanya. "Lo jin keh kenal Pek tayhiap?"
"Kenal." Kian Kun Ie Siu mengangguk. "Lo ciau dan Pek tayhiap pernah bertemu beberapa kali, hubungan kami pun sangat baik."
Mendengar itu, Siau Liong berduka sekali sehingga air matanya mengucur lagi, namun berusaha menahan isak tangisnya.
Cing Ji yang berdiri di luar, mendengar juga isak tangis Siau Liong. Gadis itu mengira Siau Liong dimarahi kakeknya.
Segeralah ia menerjang ke dalam ruang rahasia itu, dan melihat wajah Siau Liong yang pucat pias seperti kertas.
Kian Kun Ie Siu tidak melihat bagaimana wajah Siau Liong, namun mendengar isak tangisnya yang memilukan.
Ketika menyaksikan wajah Siau Liong yang pucat pias itu, Cing Ji terkejut bukan main.
"Siau Liong ko, kenapa engkau…..?" tanyanya cemas dan penuh perhatian.
Siau Liong tidak menyahut. Tak lama ke mudian, hatinya sudah tenang kembali, dan memandang Cing Ji seraya berkata,
"Cing Ji, terima kasih atas perhatianmu! Aku…... aku tidak apa-apa."
Begitu mendengar jawaban Siau Liong, Cin Ji pun menarik nafas lega, namun wajahnya penu diliputi keheranan.
"Kenapa Siau Liong ko?"
"Adik Cing, aku tidak bisa menahan rasa duka di dalam hati…..," ujar Siau Liong dan kemudia mengarah pada Kian Kun Ie Siu. "Lo jin keh maafkan sikap boan pwe barusan!"
"Nak, lo ciau tidak menyalahkanmu." Kian Kun Ie Siu tersenyum lembut.
"Terima kasih, lo jin keh!" ucap Siau Lion dan melanjutkan, "Kini tidak perlu ke Ciok La San Cung lagi."
"Kenapa?" Kian Kun Ie Siu tertegun. "Maksudmu?"
"Percuma boan pwe ke sana."
"Nak." Kian Kun Ie Siu mengerutkan kening "Apakah engkau telah ke sana?"
"Boan pwe justru datang dari sana."
"Pek tayhiap menolakmu, Nak?"
"Tidak."
"Kalau begitu, engkau tidak bertemu Pek tayhiap?"
"Lo jin keh, Ciok Lau San Cung itu sudah tiada penghuninya."
"Apa?!" Kening Kian Kun Ie Siu berkerut-kerut. "Kok Ciok Lau San Cung tiada penghuninya?"
"Pek tayhiap dan isterinya telah meninggal, seluruh penghuni perkampungan itu pun telah mati."
"Haah…..?" Kian Kun Ie Siu terkejut bukan main. "Apakah Pek tayhiap dan isterinya dibunuh oleh para iblis itu?"
"Ya." Siau Liong mengangguk.
"Itu bagaimana mungkin? Iblis mana yang memiliki bu kang yang lebih tinggi dari Pek tayhiap?"
Siau Liong mulai menangis sedih lagi.
"Lo jin keh, meskipun Pek tayhiap memiliki bu kang yang luar biasa tinggi, bagaimana mampu melawan Mo, Tok, Koay, Hiong (Iblis, Racun, Siluman, Buas) yang bergabung itu?"
"Hah? Apa?" Sekujur badan orang tua itu tergetar saking terkejutnya. "Apakah Pat Tay Hiong Jin yang turun tangan jahat terhadap Pek tayhiap dan isterinya?"
"Mereka berdelapan atau bukan, boan pwe tidak berani memastikan. Tapi boan pwe menduga mereka berdelapan itu."
"Apakah tiada seorang pun yang dapat lobos dari perkampungan itu?" tanya Kian Kun Ie Siu mendadak.
"Ada seseorang yang lolos."
"Siapa orang itu?" tanya Kian Kun Ie Siu cepat.
"Lo jin keh….." jawab Siau Liong sedih. "Orang itu boan pwe."
"Oh?" Kian Kun Ie Siu tertegun, tapi kemudian wajahnya tampak berseri. "Nak, kalau begitu engkau adalah…..."
"Lo jin keh, sesungguhnya boan pwe marga Pek, bernama Giok Liong." Siau Liong memberitahukan secara jujur.
"Hah…..?" Kian Kun Ie Siu memeluknya erat-erat. "Nak…..."
"Lo jin keh…..." Air mata Siau Liong berderai.
"Nak, sungguhkah engkau tidak tahu siapa-siapa pembunuh itu?" tanya Kian Kun Ie Siu.
"Lo jin keh," jawab Siau Liong sedih. "Ketika itu tengah malam, seseorang menotok jalan tidur boan pwe, lalu membawa boan pwe pergi ke suatu tempat yang rahasia, maka boan pwe tidak tahu jelas siapa pembunuh-pembunuh itu."
"Oh!" Kian Kun Ie Siu berpikir sejenak. "Tahukah engkau siapa yang membawamu pergi?"
"Boan pwe tidak tahu. Ketika boan pwe mendusin, saat itu sudah hari kedua. Lagi pula boan pwe baru sadar diri bahwa boan pwe berada di dalam sebuah goa." Siau Liong menjelaskan. "Di sini boan pwe terdapat secarik kertas yang berisi beberapa baris tulisan berupa suatu pesan, bahwa setelah boan pwe mendusin dan tiada orang ke mari menjemput, maka tidak boleh pulang ke Ciok Lau San Cung, harus segera berangkat ke Lam Hai mencari Cai Hiong To untuk mempelajari bu cang tingkat tinggi di pulau itu demi membalas dendam berdarah itu."
"Oh?" Kian Kun Ie Siu mengerutkan kening. "Siapa orang itu?"
"Boan tidak tahu." Siau Liong melanjutkan, "Setelah boan pwe mendusin, boan pwe pun terus menunggu, namun tiada seorang pun yang datang menjemput boan pwe. Malam harinya, boan pwe memberanikan diri pulang ke Ciok Lau San Cung, namun perkampungan itu sepi sekali. Di mana-mana terdapat noda darah, bahkan tampak pula beberapa makam baru, yakni makam kedua orang tua boan pwe. Betapa sedihnya boan pwe, tapi masih menyadari bahaya yang mengancam boan pwe, maka boan pwe segera kabur. Kemudian boan pwe menempuh jalan siang dan malam berangkat ke Lam Hai."
"Nak, kalau engkau tidak menemukan Pulau Pelangi, sulitlah bagimu untuk menuntut balas."
"Benar, lo jin keh."
"Nak," ujar Kian Kun Ie Siu setelah berpikir. "Mulai malam ini, lo ciau akan mengajarmu lwee kang sekaligus mewariskan tiga jurus sakti pelindung panji. Tiga bulan kemudian, engkau boleh berangkat ke Lam Hai. Bagaimana, Nak?"
"Boan pwe turut perintah," ucap Siau Liong. Ia lalu bersujud di hadapan Kian Kun Ie Siu. "Teecu (murid) memberi hormat pada Suhu!"
*
* *