Salam dari Taman Bacaan Saulus

Salam dari Taman Bacaan Saulus
Pandangan

Selasa, 09 November 2010

Panji Sakti - Khu Lung - Bagian 2

Bagian ke 2: Tiga Pukulan Satu Jurus Pedang
Pemuda berjubah hijau itu memang cukup tampan. Sepasang alisnya berbentuk seperti golok, sepasang matanya, bersinar tajam dan hidungnya mancung.
Akan tetapi, kedua bibir atas dan bawah agak tipis. Wajahnya dingin dan angkuh, bahkan tampak tak berperasaan dan tak berbudi. Dia bukan pemuda yang berbudi luhur.
Orang tua pincang kelihatan tidak terkesan baik pada pemuda itu. Begitu melihat kemunculannya, keningnya pun berkerut.
"Ci Yen! ada urusan apa engkau ke mari?" tanyanya dengan nada dingin.
Ternyata pemuda berjubah hijau itu bernama Tu Ci Yen, anak yatim piatu yang diangkat anak oleh cung cu Siauw Thian Lin. Itu karena dia tergolong anak yang cerdik dan pandai.
Tidak hanya cerdik dan pandai, Tu Ci Yen pun berhati licik dan pandai bermuka-muka di hadapan Siauw Thian Lin suami istri. Oleh karena itu, Siauw Thian Lin dan istri sangat menyayangi sekaligus memanjakannya, maka menyebabkannya menjadi angkuh sekali. Siapa pun tidak berada dalam matanya, kecuali kedua orang tua angkatnya itu.
Tentunya Siauw Thian Lin tidak mengetahui akan hal itu. Kalau ada yang melaporkan, mereka suami istri pun tidak akan percaya, bahwa anak angkat mereka itu begitu macam.
Itu karena Tu Ci Yen selalu berlaku sopan di hadapan mereka, bahkan sangat menurut. Akan tetapi, di belakang Siauw Thian Lin suami istri, Tu Ci Yen bersikap angkuh dan sama sekali tidak memandang sebelah mata pada orang lain.
Mengenai orang tua pincang, berhubung dia itu jongos tiga turunan keluarga Siauw, maka Siauw Thian Lin suami istri masih harus menaruh hormat dan merasa segan padanya. Justru itu membuat Tu Ci Yen semakin penasaran. Walau merasa kurang puas dalam hatinya, pemuda itu tidak berani bersikap maupun berlaku kurang ajar di hadapan orang tua pincang tersebut.
Meskipun begitu, Tu Ci Yen telah bersumpah dalam hati dengan penuh rasa benci dan dendam.
"Hmm! Lo nu cai (budak tua) suatu hari nanti Siau Ya (tuan muda) pasti memperlihatkan kelihayan tindakan siau ya, pokoknya kau akan mati secara mengenaskan!"
Walau pernah bersumpah demikian dalam hati, saat ini ia sama sekali tidak berani berbuat apa-apa, sebaliknya malah bersikap hormat sekali terhadap orang tua pincang itu.
"Ngie peh (ayah angkat) memerintahku ke mari untuk mengundang lo jin keh ke rumah." ujarnya sambil menjura.
"Ada urusan apa?" tanya orang tua pincang, dengan nada suara agak lembut.
Mata Tu Ci Yen yang tajam itu mengarah pada Siau Liong. Ia tampak tertegun dan kemudian mengerutkan kening seraya berkata pada orang tua pincang.
"Siau tit (keponakan) juga tidak begitu jelas. Sepertinya..... berkaitan dengan urusan Ciok Lau San Cung (Perkampungan Loteng Batu)."
Begitu mendengar nama perkampungan itu disebut Tu Ci Yen, air muka Siau Liong langsung berubah, sekujur badannya pun menggigil.
Untung orang tua pincang dan Tu Ci Yen tidak mengetahui akan hal itu, seandainya tahu......
Sementara orang tua pincang memejamkan matanya, berselang sesaat baru dibukanya kembali dengan perlahan lalu memandang Tu Ci Yen dengan penuh perhatian.
"Ada urusan apa dengan San Si Ciok Lau San Cung (Perkampungan Loteng Batu di San Si)?"
"Dengar-dengar perkampungan itu telah diserang mendadak oleh penjahat. Pek Mang Ciu tay hiap (Pendekar Pek Mang Ciu) suami istri terbunuh, dan seluruh keluarganya yang berjumlah dua puluh lima orang dibantai, tiada seorangpun dapat meloloskan diri."
Sekujur badan orang tua pincang tampak bergemetar. Jenggotnya yang sudah putih itu pun bergerak, dan sepasang matanya menyorot tajam.
"Tahuhkah dari mana kabar berita itu? Kabar angin atau sungguhan?" tanyanya.
Tu Ci Yen menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menjawab dengan bahu terangkat sedi kit.
"Tentang itu siau tit tidak mengetahuinya, kalau mau jelas, tanya saja pada ayah angkat!"
"Kapan kejadian itu?"
"Setengah bulan yang lalu."
Sementara itu, Siau Liong cuma duduk diam dan mematung. Sepasang matanya terus memandang pada api di dalam tungku. Entah apa yang sedang dipikirkannya?
Orang tua pincang melirik Siau Liong sejenak, lalu berkata.
"Siau Liong, engkau duduk saja di sini! Lo ciau pergi sebentar, dan akan segera kembali ke mari."
Siau Liong tetap tercenung sambil memandang api di dalam tungku. Apa yang dikatakan orang tua pincang seakan tidak masuk ke telinganya.
Orang tua pincang mengernyitkan kening, kemudian berkata lagi dengan suara yang agak keras.
"Siau Liong, kenapa engkau? Apakah yang lo ciau katakan barusan, engkau tidak dengar?"
Meskipun orang tua pincang mengeraskan suaranya, Siau Liong masih tetap duduk melamun.
Orang tua pincang mengernyitkan kening lagi, kemudian serunya dengan suara lantang.
"Siau Liong!"
Siau Liong tampak tersentak kaget, tapi mukanya tidak memperlihatkan perubahan apa pun, cuma kelihatan melongo.
"Heh! lo jin keh, ada urusan apa?"
"Siau Liong, engkau sedang memikirkan apa?" Orang tua pincang balik bertanya sambil menatapnya.
"Aku tidak memikirkan apa-apa." Siau Liong menggeleng-geleng kepala.
Orang tua pincang tahu, Siau Liong tidak mau berterus terang, maka tidak mendesaknya. Ia hanya tersenyum penuh kasih sayang seraya berkata.
"Engkau duduk di sini saja! lo ciau mau pergi membicarakan suatu urusan dengan cung cu, dan akan segera kembali ke mari. Engkau mengerti?"
Siau Liong manggut-manggut dengan wajah tanpa memperlihatkan perasaan apa pun.
"Aku mengerti." katanya.
Orang tua pincang menatapnya lagi, lalu bangkit berdiri perlahan-lahan. Namun ketika baru mengayunkan kakinya, tiba-tiba hatinya tergerak.
"Ci Yen, engkau tinggal di sini sebentar menemaninya!" ujarnya kepada Tu Ci Yen.
Tu Ci Yen tidak rela dalam hati, namun tidak berani menolak. Ia mengangguk terpaksa seraya berkata.
"Ya, baiklah."
Pada waktu bersamaan, Siau Liong pun membuka mulut.
"La jin keh, jangan merepotkan tay ko (saudara) ini!"
Orang tua pincang tertegun. Ia memandang Siau Liong dan bertanya.
"Engkau seorang diri berada di sini tidak akan merasa kesepian?"
"Tidak," jawab Siau Liong. "Aku justru ingin duduk seorang diri agar bisa tenang."
Orang tua pincang manggut-manggut. Ia tidak mengatakan apa lagi, lalu pergi untuk menemui Siauw Thian Lin bersama Tu Ci Yen.


Berselang beberapa saat kemudian, orang tua pincang sudah kembali ke rumah kecil itu.
Siau Liong masih tetap duduk di tempat, sama sekali tidak beranjak. Hanya saja saat ini ia bersandar ke belakang, dan kedua matanya terpejam seakan sudah pulas.
Orang tua pincang itu sendiri pun tidak tahu apa sebabnya dirinya begitu menaruh perbatian dan merasa sayang pada Siau Liong.
Kini orang tua pincang itu bertambah memperhatikannya. Berdasarkan mimik Siau Liong, dalam benak orang tua pincang terpikir suatu urusan. Kemungkinan besar Siau Liong ada hubungan dengan urusan itu.
Sementara Siau Liong diam saja, rupanya ia memang pulas. Orang tua pincang tidak mau mengejutkannya. Ia berjalan ke dalam dengan langkah ringan.
Akan tetapi, pada waktu bersamaan, Siau Liong membuka matanya, lalu duduk tegak sambil tersenyum.
"Oh! Sudah balik, lo jin keh?"
Orang tua pincang manggut-manggut dengan wajah penuh kasih sayang.
"Engkau tidak tidur?" tanyanya lembut.
"Sepasang mataku memang tidur, namun..... hatiku tidak ikut tidur," sahut Siau Liong.
Orang tua pincang mengerti akan ucapan itu, tapi tidak mengatakan apa pun. Dia lalu duduk di hadapan Siau Liong dan menatapnya tajam.
"Siau Liong," tanyanya, "Engkau pasti berangkat esok pagi?"
"Lo jin keh, justru mendadak pikiranku berubah," jawab Siau Liong berterus terang.
"Oh?" Orang tua pincang tampak gembira sekali. Sepasang matanya pun bersinar-sinar. "Jadi engkau bersedia tinggal tiga bulan di sini?"
"Ya." Siau Liong mengangguk. "Lo jin keh, kupikir tidak seharusnya aku menolak kebaikan lo jin keh. Oleh karena itu aku mengambil keputusan untuk menuruti apa yang lo jin keh atur itu."
"Ha ha!" Orang tua pincang tertawa gembira. "Ini sungguh bagus. Lo ciau gembira sekali."
Orang tua pincang tertawa lagi. Berselang sesaat ia melanjutkan ucapannya dengan wajah ceria.
"Siau Liong, lo ciau yakin engkau pasti sudah mengantuk sekali. Nah, mari kita tidur, segala apa pun kita bicarakan esok saja."
*
* *
Sejak itu, Siau Liong tinggal bersama orang tua pincang. Tugasnya memotong rumput dan merawat taman bunga di halaman belakang rumah keluarga Siauw.
Siang hari, Siau Liong bekerja, malam harinya tidur bersama orang tua pincang di rumah kecil itu. Orang tua pincang pun telah menyediakan sebuah ranjang kayu untuknya.
Pekerjaan Siau Liong sungguh ringan, sama sekali tidak melelahkannya. Namun justru malah membuatnya tak bergairah.
Entah sudah berapa kali, ia bermohon pada orang tua pincang agar diberikan pekerjaan lain, namun orang tua pincang selalu mengalihkan pembicaraan, atau mengatakan tunggu beberapa hari akan dibicarakan lagi.
Apa boleh buat, Siau Liong terpaksa menunggu. Sehari lewat sehari, tak terasa sebulan telah berlalu. Begitu cepat, sehingga Siau Liong tidak menyadarinya.
Dalam waktu sebulan ini, Siau Liong mengetahui satu hal yang sangat mengejutkannya, yakni keluarga Siauw yang berjumlah dua puluh orang lebib itu rata-rata memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.
Cung cu Siauw Thian Lin mempunyai seorang putri berusia empat belas tabun, namanya Hui Ceh yang berparas cantik jelita.
Selain Tu Ci Yen, anak angkat itu, masih ada tiga murid lain yang masing-masing bernama Siauw Shauw Lam, berusia tujub belas, Siauw Kim Beng berusia enam belas dan Siauw Peng Yang berusia enam belas juga.
Ketiga murid itu masih terhitung keponakan cung cu Siauw Thian Lin. Usia mereka lebih muda dari Tu Ci Yen, maka harus memanggilnya toa suheng (saudara tertua seperguruan). Berdasarkan ini, dapatlah diketahui bahwa cung cu Siauw Thian Lin merupakan tokoh persilatan yang berilmu tinggi.
Satu bulan bukan waktu yang pendek. Oleh karena itu, Siau Liong pun mulai kenal dengan orang-orang keluarga Siauw.
Siau Liong memang tergolong pemuda yang sangat tampan, babkan juga sopan dan ramah tamah. Oleh karena itu semua keluarga Siauw, baik yang tua maupun yang muda sangat menyukainya.
Pada suatu malam, ketika Siau Liong berbaring di ranjang kayu dengan mata terpejam dan pikiran menerawang, mendadak orang tua pincang menegurnya dengan suara rendah.
"Siau Liong! Engkau sudah tidur?"
Siau Liong segera membuka matanya, lalu duduk seraya menjawab.
"La Jin Keh, aku belum tidur. Ada urusan apa?"
"Bagaimana kalau kita mengobrol sejenak?"
Orang tua pincang turun dari ranjang kayu, lalu melangkah ke tempat duduk yang tak jauh dari ranjang itu.
Siau Liong juga turun mengikuti orang tua pincang, kemudian mereka pun duduk menghadap tungku.
Sepasang mata orang tua pincang menatap Siau Liong dalam-dalam dengan penuh perhatian, kemudian berbatuk ringan dan bertanya.
"Siau Liong, sudab berapa lama engkau tinggal di sini?"
"Hingga hari ini sudah satu bulan."
Orang tua pincang manggut-manggut, lalu bertanya lagi.
"Bagaimana kesanmu di sini?"
"Baik, lagi pula semua orang pun sangat baik terbadap diriku."
"Tahukah kamu apa sebabnya?" tanya orang tua pincang sambil tertawa.
Siau Liong berpikir sejenak, kemudian tersenyum.
"Aku mengerti, semua ini karena muka lo jin keh."
Orang tua pincang menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak begitu, Siau Liong, jawabanmu cuma benar separuh."
Siau Liong tertegun. Ia memandang orang tua pincang dengan mata terbelalak lebar.
"Kenapa jawabanku cuma benar separuh, lo jin keh?" tanyanya heran.
"Separuhnya lagi….." Orang tua pincang tersenyum lembut. "Justru karena engkau tahu diri, sopan dan ramah terhadap siapa pun. Maka semua orang baik padamu. Mengertikah engkau?"
"Ooooh!" Wajah Siau Liong agak kemerah- merahan. "Lo Jin Keh…..."
Orang tua pincang menggoyang-goyangkan tangannya, agar Siau Liong tidak melanjutkan ucapannya.
"Siau Liong, memang baik bersikap sopan dan ramah tamah. Akan tetapi, terlampau sopan dan ramah tamah malah dianggap bermuka-muka. Mengertikah engkau?"
"Ya." Siau Liong manggut-manggut. "Terima kasih atas nasihat lo jin keh!"
Orang tua pincang tertawa, lalu mengalihkan pembicaraan.
"Siau Liong, dalam sebulan ini apa yang kamu temukan?"
Pertanyaan yang tiada ujung pangkal itu membuat Siau Liong melongo dengan mulut ternganga lebar.
"Maksud lo jin keh?"
"Misalnya lo ciau sendiri, apakah engkau merasa diri lo ciau lain dari yang lain?"
Ucapan itu membuat Siau Liong paham. Matanya pun berbinar-binar seketika.
"Lo jin keh memiliki ilmu silat yang tinggi." jawabnya.
Orang tua pincang tertawa, gembira sekali.
"Jadi engkau telah tahu itu?"
"Ya." Siau Liong mengangguk. "Sepuluh hari yang lalu, aku telah mengetahuinya. Lo jin keh adalah orang yang berilmu tinggi."
"Siau Liong!" Orang tua pincang tertawa lagi. "Katamu itu tidak salah, lo ciau memang memiliki ilmu silat yang tinggi, namun….." Orang tua pincang menggeleng-gelengkan kepala, kemudian melanjutkan.
"Dibandingkan dengan Thai Ceng Sin Kang (tenaga sakti pelindung badan) yang dimiliki keluarga Pek di Ciok Lau San Cung, sama juga seperti gunung kecil bertemu gunung besar."
Air muka Siau Liong langsung berubah. Ia pun lalu bangkit berdiri.
"Lo jin keh!" ujarnya terkejut.
Mendadak wajah orang tua pincang pun berubah serius.
"Duduklah, Siau Liong! Jangan gampang emosi!" tegur orang tua pincang dengan halus sambil menatap Siau Liong tajam.
Siau Liong menarik nafas dalam-dalam agar bisa tenang, lalu duduk dan memandang orang tua pincang itu.
"Lo jin keh...."
Orang tua pincang menggoyang-goyangkan tangannya, agar Siau Liong tidak melanjutkan ucapannya.
"Siau Liong, lo ciau telah melihat jelas tentang dirimu."
Siau Liong tersentak dan segera bertanya.
"Lo jin keh melihat jelas tentang apa?"
"Walau terus menutupi mengenai dirimu, engkau tidak bisa mengetahui sepasang mata lo ciau. Sudah lama lo ciau mengetahui bahwa dirimu memiliki ilmu silat yang tidak rendah."
Karena orang tua pincang telah mengetabui tentang itu, Siau Liong pun merasa tidak enak untuk menyangkal. Ia manggut-manggut dan tanyanya kemudian.
"Lo jin keh telah tahu tentang itu, lalu kenapa?"
"Tidak apa-apa." Orang tua pincang tertawa. "Hanya saja..... lo ciau berniat menyempurnakan dirimu."
"Mengapa?" Siau Liong tercengang.
"Itu….." Orang tua pincang tertawa lagi sambil menatapnya lembut. "Karena lo ciau sangat menyukaimu, lagi pula kita pun sangat cocok satu sama lain."
"Bagaimana cara lo jin keh menyempurnakan diriku?"
"Menurunkan kepadamu Sam Cau Ciang Hoat dan It Cau Kiam Hoat."
"Jurus pukulan apa dan apa nama jurus pedang itu?" tanya Siau Liong.
Orang tua pincang tidak menyahut, cuma tersenyum lembut.
"Jangan bertanya sekarang, kelak engkau akan mengetahuinya."

Senin, 01 November 2010

Panji Sakti - Khu Lung - Bagian 1

Bagian ke 1: Orang Tua Pincang
Udara amat dingin, angin yang berhembus pun terasa menusuk tulang. Siapa pun terhembus angin itu, sekujur badannya pasti menggigil kedinginan.
Dalam udara yang sedemikian dingin, orang biasanya, tidak akan keluar dari rumah kalau tiada urusan penting, lebih baik duduk di hadapan Anglo (tungku) untuk menghangatkan badan.
Akan tetapi, apabila ada urusan penting, itu apa boleh buat, terpaksa harus keluar rumah juga.
Siauw keh cung (Perkampungan keluarga Siauw), terletak lima belas li (mil) di sebelah selatan Teng Hong Sia (Kota Teng Hong). Perkampungan tersebut terdiri dari dua puluhan kepala keluarga, dan setiap keluarga pasti she Siauw (marga Siauw), tiada satu pun yang marga lain.
Cung cu (Majikan perkampungan) itu bernama Siauw Thian Lin, usianya lima puluh tahunan, baik budi dan tergolong orang kaya di daerah Teng Hong, bahkan sangat terkenal dan dihormati penduduk setempat.
Rumah Siauw Thian Lin sangat besar, di kiri kanan pintu rumah itu terdapat sepasang singa batu yang amat besar, maka membuat rumah tersebut tampak bertambah mentereng.
Ketika hari mulai gelap, terdengar suara langkah yang tidak teratur mendekati rumah Siauw Thian Lin, ternyata seorang anak lelaki berusia sekitar lima belas tahun berjalan tertatih-tatih mendekati rumah tersebut.
Rambut anak lelaki itu awut-awutan, mukanya pun tampak agak kekuning-kuningan.
Dia tampak seperti pengemis kecil, sebab pakaiannya sangat kumal dan robek sana-sini. Sungguh kasihan anak lelaki itu!
Ketika itu pintu rumah Siauw Thian Lin tertutup rapat, dan di pintunya terdapat sepasang gelang besi yang cukup besar. Meskipun hari sudah gelap, sepasang gelang besi itu masih tampak gemerlapan.
Pengemis kecil itu berdiri mematung di depan pintu. Berselang beberapa saat kemudian, ia memberanikan diri untuk menggoyang-goyangkan salah satu gelang besi itu.
Tak lama, terdengar suara sahutan yang serak dari dalam. Tampaknya suara orang tua.
"Siapa yang mengetuk pintu?"
"Aku," jawab pengemis kecil itu cepat. "Orang lewat, Lo Jin Keh (Orang tua), tolong buka pintu!"
Tak seberapa lama kemudian pintu itu terbuka. Yang membuka pintu itu ternyata seorang kakek berusia tujuh puluhan. Rambutnya sudah putih semua, dan kakinya pincang.
Orang tua pincang itu menatap si pengemis kecil dengan tajam, kemudian mengernyitkan kening.
"Siau hengte (saudara kecil), engkau ada urusan apa?" tanyanya.
"Lo jin keh, saat ini udara sangat dingin, cayhe (aku yang rendah), tidak punya uang untuk menginap di rumah penginapan, maka ingin menumpang semalam di sini, besok pagi segera pergi Boleh tidak?" sahut pengemis kecil dengan suara rendah dan sopan.
"Saudara kecil!" Orang tua pincang mengamatinya dengan penuh perhatian, lalu bertanya, "Engkau dari mana?"
"San Si (nama kota)," jawab pengemis kecil jujur.
"Mau ke mana?" tanya orang tua pincang lagi.
"Lam Hai (Laut Selatan)," jawab pengemis kecil itu dengan merendahkan suaranya.
Orang tua pincang tampak terperanjat, ia memandang pengemis kecil itu seraya berkata.
"Lam Hai? Tempat itu jauh sekali!"
Pengemis kecil manggut-manggut dan berkata.
"Benar, tempat itu memang jauh sekali." wajah pengemis kecil itu mencerminkan kebulatan hatinya, kemudian melanjutkan, "Meskipun berada di ujung langit, aku harus ke sana."
Ucapan yang mantap tersebut membuat orang tua pincang tergerak hatinya, bahkan sepasang matanya pun menyorotkan sinar yang aneh.
"Saudara kecil, engkau begitu bertekad ke Lam Hai, sebetulnya ada urusan apa?" tanya orang tua pincang sambil menatapnya.
Pengemis kecil itu tidak segera menjawab, malah mendadak mengalihkan pembicaraan.
"Lo jin keh, aku sangat lelah, lapar dan kedinginan. Bolehkah aku ke dalam untuk menghangatkan badan di depan tungku, setelah itu barulah kita mengobrol. Bagaimana?"
Memang, pengemis kecil itu tidak mau menjawab pertanyaan dari kakek pincang tadi. Sementara orang tua pincang manggut-manggut seraya berkata.
"Baiklah saudara kecil, silakan masuk!"
"Terima kasih!" Pengemis kecil itu melangkah ke dalam.
Orang tua pincang menutup pintu, lalu melangkah ke dalam seraya berkata pada pengemis kecil itu.
"Saudara kecil, mari ikut aku!"
Pengemis kecil mengikuti orang tua pincang itu ke sebuah rumah yang tak jauh dari situ. Rumah itu kecil dan terletak di sebelah kiri rumah Siauw Thian Lin.
Di dalam rumah kecil itu terdapat sebuah meja, dua buah kursi dan sebuah tungku di atas meja tersebut. Di sisi tungku itu terdapat sebuah teko dan dua buah cangkir.
Rumah kecil itu sederhana sekali, tetapi sangat bersih dan rapi, itu pertanda orang tua pincang tersebut suka akan kebersihan.
Orang tua pincang itu ternyata penjaga pintu rumah Siauw Thian Lin, tetapi orang luar tidak ada yang tahu. Dia pun jongos tiga turunan keluarga Siauw. Oleh karena itu cung cu Siauw Thian Lin juga harus menaruh hormat dan merasa segan padanya.
Entah sudah berapa kali Siauw Thian Lin menyuruh orang tua itu agar tinggal di rumahnya untuk hidup senang dan nyaman. Namun orang tua pincang itu selalu menolak, alasannya lebih cocok menghuni rumah kecil itu.
Siauw Thian Lin tahu jelas sifat aneh jongosnya itu, maka ia tidak pernah mendesaknya lagi, cuma diam-diam menarik nafas panjang.
Begitu memasuki rumah kecil itu, sekujur badan si pengemis kecil pun merasa hangat dan nyaman, sehingga membuatnya menjadi bersemangat, apalagi setelah berdiri di depan tungku yang menyala.
Orang tua pincang tersenyum, kemudian mengangkat teko sekaligus menuang air teh yang masih hangat ke dalam gelas.
"Saudara kecil, duduklah!" ujar orang tua pincang sambil menaruh minuman ke hadapannya.
Pengemis kecil mengangguk lalu duduk. Kini wajahnya tidak begitu pucat lagi. Sepasang matanya yang tadi redup pun sudah mulai bersinar, begitu bening dan tajam.
"Saudara kecil, silakan minum! Lo Ciau (Aku yang tua) mau ke dapur menyiapkan makanan untukmu."
Pengemis kecil segera menjura hormat.
"Terima kasih, lo jin keh! Aku sungguh merepotkan," ucapnya singkat, tetapi sopan dan ramah. Itu pertanda dia berpendidikan, bahkan mungkin mempunyai latar belakang keluarga yang baik.
Orang tua pincang menatapnya dalam-dalam. Hatinya pun semakin tergerak.
"Anak ini sedemikian tahu diri dan tahu kesopanan, tentunya bukan berasal dari keluarga biasa. Tapi….. mengapa menjadi begini rupa, lagi pula kenapa harus pergi ke Lam Hai yang sangat jauh itu?" batin lelaki tua pincang itu. "Suadara kecil, engkau tidak perlu sungkan-sungkan. Minumlah!" ujarnya dengan lembut, lalu dia melangkah ke dalam, sedangkan pengemis kecil mulai meneguk air teh hangat itu. Wajahnya mulai tampak kemerah-merahan penuh semangat.
Setelah membatin, dia pun tersenyum.
Tak seberapa lama kemudian, orang tua pincang sudah kembali. Tangannya membawa sebuah nampan kayu berisi semangkok nasi, sepiring daging dan semangkok sop ayam.
Pengemis kecil segera bangkit berdiri, lalu menyambut nampan kayu itu seraya berkata dengan haru.
"Terima kasih banyak, lo jin keh!"
"Saudara kecil," ujar orang tua pincang sambil tersenyum lembut. "Lo ciau tidak suka akan kesopanan palsu. Mumpung nasi dan sayur masih hangat, cepatlah engkau makan! Seusai makan, lo ciau ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu."
Pengemis kecil manggut-manggut, lalu menaruh nampan kayu itu di atas meja lalu duduk dengan kepala tertunduk dan mulai makan.
Orang tua pincang duduk di kursi lain. Ia mengambil cangklong sekaligus menyalakannya, kemudian menghisapnya dalam-dalam.
Pengemis kecil bersantap bagaikan harimau lapar. Maklum sudah satu hari perutnya tidak. diisi. Maka dalam waktu sekejap, habislah sudah nasi dan semua hidangan itu.
Orang tua pincang tersenyum. "Bagaimana? Engkau sudah kenyang belum? Kalau belum, akan lo ciau ambilkan lagi."
Pengemis kecil tertawa tersipu. Hatinya merasa tidak enak karena telah menghabiskan semua hidangan itu.
"Terima kasih, lo jin keh! Aku….. aku sudah kenyang," jawabnya. Wajahnya pun tampak segar seusai bersantap.
Orang tua pincang memandangnya dengan penuh perhatian.
"Saudara kecil, lo ciau ingin bertanya padamu, apakah engkau sudi menjawab secara jujur?" tanyanya sambil terbatuk-batuk ringan.
Pengemis kecil berpikir sejenak.
"Itu tergantung pada pertanyaan lo jin keh." jawabnya kemudian.
"Lo ciau ingin menanyakan namamu serta riwayat hidupmu."
Pengemis kecil mengernyitkan kening, lama sekali barulah berkata,
"Lo jin keh, aku cuma numpang menginap semalam di sini dan besok pagi akan pergi. Kenapa lo jin keh harus menanyakan itu?"
Orang tua pincang tertawa-tawa, kemudiar memandangnya seraya menjawab.
"Tentunya lo ciau punya alasan tertentu untuk menanyakan itu."
"Apa alasan to jin keh?"
"Begitu melihatmu, lo ciau terkesan baik."
"Ooooh…..!" Sepasang bola mata pengemis kecil berputar. "Terima kasih atas kesan baik lo jin keh namun ku harap lo jin keh jangan bertanya tentang itu."
"Kenapa?" Orang tua pincang tercengang "Apakah engkau punya suatu rahasia yang tidak bisa diberitahukan pada orang lain?"
Air muka pengemis berubah. Ia manggut-manggut seraya berkata,
"Betul. Aku memang punya suatu rahasia yang tidak bisa diberitahukan pada orang lain."
"Oh?" Orang tua pincang mengernyitkan kening. "Namamu juga tidak boleh di diberitahukan pada lo ciau?"
Pengemis kecil diam sejenak. "Lo jin keh nama kecil ku Siau Liong, maka panggil saja Siau Liong!" jawabnya kemudian dengan suara rendah.
"Ngmm!" Orang tua pincang manggut-manggut. "Siau Liong, mau apa engkau pergi ke Lam Hai? Bolehkah lo ciau tahu?"
Pengemis kecil tersenyum getir, kemudian sahutnya dengan suara dalam.
"Lo jin keh, maafkanlah aku sebab aku ke Lam Hai untuk mengurusi sesuatu yang amat penting, itu pun merupakan harapan kecil. Oleh karena itu, untuk sementara ini, aku tidak mau berpikir, juga tidak leluasa untuk membicarakannya."
Orang tua pincang diam, berselang sesaat barulah membuka mulut untuk bertanya. "Siau Liong, jarak dari sini ke Lam Hai puluhan ribu li. Saat ini musim dingin, lagi pula engkau tidak punya uang, bagaimana mungkin pergi ke sana?"
Tentang ini, memang merupakan kesulitan. Akan tetapi, Siau Liong tampak seakan sudah mempunyai jalan untuk mengatasi semua kesulitan itu. Oleh karena itu, Siau Liong malah tersenyum.
"Lo jin keh, mengenai semua kesulitan ini, aku telah memikirkan jalan keluarnya."
"Oh?" Orang tua pincang menatapnya tajam.
"Meskipun harus menempuh puluhan ribu li, aku telah membulatkan hati dan bertekad dengan segala keberanian, paling lambat setengah tahun pasti tiba di Lam Hai. Mengenai musim dingin, tiga bulan kemudian akan berganti musim semi yang nyaman. Maka dari sini ke Lam Hai, udara akan berubah nyaman perlahan-lahan. Aku memang tidak punya uang, tapi masih bisa memetik buah-buahan di hutan untuk mengisi perut. Malam harinya, aku akan berteduh di goa agar tidak kedinginan."
Ucapan Siau Liong itu membuat orang tua pincang itu kagum, kemudian tertawa gelak seraya berkata.
"Engkau memang anak baik dan pemberani bahkan punya tekad yang sungguh diluar dugaan. Namun......" Orang tua pincang menghentikan ucapannya sejenak, kemudian melanjutkan, "Sebenarnya aku punya cara terbaik. Cara itu tidak hanya dapat mengurangi penderitaanmu menahan lapar dan dingin, bahkan dapat mempercepat waktu agar engkau tiba di Lam Hai. Siau Liong sudikah engkau menuruti cara lo ciau?"
Siau Liong tertegun, lalu bertanya dengar heran.
"Lo jin keh punya cara apa untuk mengatur semua itu?"
"Engkau tinggal di sini tiga bulan, setelah musim semi tiba, barulah berangkat. Lo ciau akan bermohon pada cung cu agar menghadiahkan padamu seekor kuda yang kuat dan sehat serta pek gin (uang perak) ratusan real. Nah, engkau bisa berangkat tanpa kekurangan apa pun."
"Tinggal di sini tiga bulan?" Itu sungguh di luar dugaan Siau Liong. "Tanpa suatu syarat apa pun?"
"Tentunya engkau tidak bisa cuma makan tidur. Di kolong langit tiada urusan semacam itu. Ya, kan?" Orang tua pincang tersenyum.
"Betul, lo jin keh!" Siau Liong manggut-manggut. "Aku ingin bertanya, apa syarat itu?"
"Kerja keras," jawab orang tua pincang bernada dingin.
"Kerja keras?" Siau Liong tertegun.
Orang tua pincang manggut-manggut, wajahnya pun tampak dingin. "Engkau takut kerja keras?"
"Takut sih tidak, hanya saja…..." Siau Liong menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan ucapannya, "Merasa kaget dan sungguh di luar dugaan."
"Kenapa begitu?"
"Cuma kerja keras tiga bulan bisa mendapat uang perak ratusan tael, bukankah itu merupakan suatu kejutan?"
"Jadi….." Orang tua pincang menatapnya dingin. "Engkau merasa terlampau banyak uang imbalan itu?"
"Ya." Siau Liong mengangguk. "Uang imbalan itu amat banyak, maka sungguh di luar dugaan."
"Engkau tahu betapa susahnya kerja keras itu?"
"Mohon diberitahukan!"
"Itu adalah kerja yang sangat sulit sekali." ujar orang tua pincang dan tetap bernada dingin.
"Susah sampai bagaimana?"
"Sampai waktunya engkau akan mengetahuinya."
"Sekarang tidak boleh mengetahuinya?"
Orang tua pincang menggelengkan kepala, dan menatap Siau Liong dengan dingin seraya berkata, "Tidak boleh."
"Lo jin keh…..." Siau Liong mengerutkan sepasang alisnya. "Ada alasan tertentu?"
"Pokoknya tidak boleh memberitahukan," sahut orang tua pincang dingin. "Lagi pula tidak perlu harus ada alasan tertentu."
Jawaban itu agak ketus, tidak masuk akal dan tidak beraturan. Namun orang tua pincang mempunyai maksud lain.
Siau Liong anak yang cerdas dan pintar, tapi baru berkenalan dengan orang tua pincang itu. Tentunya ia tidak mengenal watak maupun sifatnya. Lebih-lebih tidak akan menduga masih ada maksud lain dalam benak orang tua pincang itu.
Hening sesaat suasana dalam rumah kecil itu, kemudian mendadak orang tua pincang berkata dengan nada dingin lagi.
"Bagaimana Siau Liong? Lo ciau sedang menunggu jawabanmu."
Siau Liong mengernyitkan kening, lama sekali barulah menjawab dengan wajah serius.
"Banyak-banyak terima kasih, lo jin keh. Aku telah bertekad berangkat ke Lam Hai, lain hari akan kembali ke mari untuk memberi jawaban."
Orang tua pincang menatapnya.
"Tentang tinggal di sini tiga bulan, itu tidak perlu dibicarakan lagi." Siau Liong menambah ucapannya dengan tegas.
Mendadak orang tua pincang tertawa gelak, lalu ujarnya dengan suara dalam,
"Kalau begitu, engkau telah memutuskan tidak akan menerima apa yang lo ciau atur itu?"
"Mohon lo jin keh memberi maaf, aku berpikir lebih baik aku berangkat esok pagi saja." Siau Liong tertawa hambar.
"Apa alasanmu, Siau Liong?" Orang tua pincang menatapnya tajam.
"Lo jin keh, pergi atau tinggal adalah hak ku, maka tidak perlu alasan apa pun," tegas Siau Liong.
"Ha ha!" Orang tua pincang tertawa terbahakbahak. "Siau Liong, apa yang kau katakan itu memang tidak salah. Pergi atau tinggal tergantung padamu dan itu merupakan hakmu. Tapi….. lo ciau tahu itu cuma merupakan alasan belaka, padahal sesungguhnya terdapat sebab musabab lain."
"Lo jin keh kira ada sebab musabab apa?" tanya Siau Liong.
"Takut kerja keras. Ya, kan?" sahut orang tua pincang sambil menatapnya dalam-dalam.
Sepasang alis Siau Liong tampak berkerut lantaran merasa tersinggung oleh sahutan itu.
"Lo jin keh ingin memanasi hatiku?" tanyanya.
Orang tua pincang tersenyum hambar.
"Anggaplah benar lo ciau memanasi hatimu, lagi pula sesungguhnya..... engkau cuma keras di mulut saja. Sama sekali takut kerja keras." jawabnya.
"Maksud lo jin keh?" Ucapan Siau Liong terputus, karena mendadak berkelebat sosok bayangan memasuki rumah kecil itu. Muncullah seorang pemuda berusia tujuh belas tahunan, mengenakan jubah hijau. Pemuda itu cukup tampan, namun sikapnya agak angkuh. dia berdiri dekat pintu.

Rabu, 27 Oktober 2010

Ringkasan Cersil Panji Sakti

PANJI SAKTI (JIT GOAT SENG SIM KI)
Panji Hati Suci Matahari Bulan)
Karya: Khu Lung

RINGKASAN
Suatu kejadian telah menggemparkan bu lim (Rimba persilatan), yakni musnahnya CIOK LAU SAN CUNG (Perkampungan Loteng Batu). Seluruh penghuni perkampungan itu terbunuh, termasuk majikan perkampungan yang tidak lain adalah pasangan pendekar Pek Mang Ciu dan isterinya.
Namun tidak tampak mayat Pek Giok Liong, yaitu putra satu-satunya pasangan pendekar tersebut. Apakah Pek Giok Liong dapat meloloskan diri? Tiada seorang bu lim pun yang mengetahuinya.
Tak lama kemudian, muncul seorang pemuda berpakaian kumal. Siapa pemuda itu? Tidak lain Pek Giok Liong. Ternyata dia dapat meloloskan diri.
Pek Giok Liong menuju ke Lam Hai (Laut Selatan). Dalam perjalanan, dia sering dikejar orang-orang yang tak dikenalnya, sekaligus ingin membunuhnya pula.
Siapa yang membantai Ciok Lau San Cung? Itu merupakan kejadian misterius. Dan siapa pula yang mengejar Pek Giok Liong dengan maksud membunuhnya? Apakah Pek Giok Liong bisa tiba dengan selamat di Lam Hai? Bertujuan apa dia ke Lam Hai, dan siapa yang menolongnya?
Pek Giok Liong memperoleh sebuah Jit Goat (Gwe) Seng Sim Ki (Panji Hati Suci Matahari Bulan). Apa kegunaan panji itu dan siapa yang memberinya?
Dapatkah Pek Giok Liong mempelajari kepandaian tinggi untuk membalas dendam berdarah kedua orang tuanya? Siapa pembunuh-pembunuh kedua orang tuanya, dan apa pula yang akan terjadi atas dirinya?

Kamis, 21 Oktober 2010

Hina Kelana - Chin Yung - Bagian 141-Tamat

sambungan

Bab 141. Yim Ngo-heng Mati, Pertikaian pun Berhenti

Ketika para anggota Tiau-yang-sin-kau mendengar ucapan sang kaucu mendadak berhenti setengah-setengah, suaranya juga kedengaran serak, semua orang menjadi kaget dan sama mendongak, maka terlihatlah kulit muka sang kaucu berkerut-kerut, tampaknya sangat kesakitan, menyusul tubuh sang kaucu menggeliat terus roboh terjungkal.

“Kaucu!” Hiang Bun-thian berseru kaget.

“Ayah!” Ing-ing pun berseru khawatir. Keduanya sama-sama memburu maju dan sempat menahan tubuh Yim Ngo-heng yang roboh itu.

Tapi tubuh Yim Ngo-heng hanya berkelojotan beberapa kali saja, lalu berhenti bernapas.

Itulah nasib manusia pada umumnya, apakah dia seorang pahlawan atau nabi sekalipun, baik seorang penjahat besar maupun orang alim, akhirnya toh meninggal dunia juga.

Sementara itu Lenghou Tiong yang turun ke bawah gunung dalam keadaan mabuk, sampai lewat tengah malam barulah dia sadar kembali. Sesudah sadar, baru diketahui dirinya sudah berada di tengah ladang luas, para murid Hing-san-pay sama berduduk di kejauhan untuk menjaganya. Teringat seterusnya mungkin tiada harapan buat berjumpa kembali dengan Ing-ing, berdukalah hati Lenghou Tiong.

Hina Kelana - Chin Yung - Bagian 120-140

sambungan

Bab 120. Matinya Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong

Pada saat itulah tiba-tiba pandangan semua orang serasa kabur, tampaknya seperti Lim Peng-ci melompat ke sana dan mengadang di depan kuda Bok Ko-hong, tapi segera pemuda itu kelihatan sedang kebas-kebas kipasnya dan duduk tenang di tempatnya seperti tidak pernah meninggalkan bangkunya.

Selagi semua orang merasa bingung, mendadak terdengar Bok Ko-hong menggertak agar kudanya cepat lari.

Namun bagi tokoh-tokoh kelas wahid seperti Lenghou Tiong, Ing-ing dan Ih Jong-hay, dengan jelas mereka dapat melihat Lim Peng-ci telah menjulur tangannya mencolok dua kali kepada kuda Bok Ko-hong, tentu ada apa-apa yang telah dikerjainya.

Benar juga, baru saja Bok Ko-hong melarikan kudanya beberapa langkah, sekonyong-konyong kuda itu menubruk cagak gubuk. Karena tumbukan yang keras itu, setengah gubuk itu menjadi ambruk.

Cepat Ih Jong-hay melompat keluar gubuk, sedangkan kepala Lenghou Tiong dan Lim Peng-ci penuh teruruk oleh alang-alang kering yang digunakan sebagai atap gubuk itu. Lekas-lekas Gi-lim membersihkan rumput-rumput yang menutup kepala Lenghou Tiong itu.

Dengan mata melotot Lim Peng-ci menatap Bok Ko-hong, tertampak orang bungkuk itu ragu-ragu sejenak, lalu melompat turun dari kudanya sambil melepaskan tali kendali. Segera kudanya berlari lagi ke depan, tapi segera kepala menumbuk batang pohon, terdengar kuda itu meringkik panjang dan roboh terkapar dengan kepala penuh darah.

Begitu aneh kelakuan kuda itu, terang disebabkan kedua matanya sudah buta dan dengan sendirinya karena dikerjai Peng-ci dengan kecepatan luar biasa tadi.

Hina Kelana - Chin Yung - Bagian 101-119

sambungan

Bab 101. Lenghou Tiong Mengetuai Kaum Nikoh

Setelah membedakan arah, Lenghou Tiong terus menuju ke Siau-lim-si lagi. Menjelang magrib tibalah di tempat tujuan. Ia menyatakan maksud kedatangannya kepada hwesio penyambut tamu dan mohon dibolehkan mengusung jenazah Ting-sian dan Ting-yat Suthay pulang ke Hing-san.

Setelah dilaporkan, kemudian hwesio penyambut tamu memberitahukan, “Menurut Hongtiang, jenazah kedua suthay sudah diperabukan dan sekarang sedang dilakukan sembahyangan oleh segenap penghuni biara ini. Tentang abu jenazah kedua suthay selekasnya akan kami antar ke Hing-san.”

Lenghou Tiong anggap keterangan itu memang beralasan, ia minta diperbolehkan memberi hormat kepada abu kedua suthay, habis itu baru mohon diri karena Hong-ting Taysu toh tidak mau menemuinya.

Sampai di bawah gunung salju masih belum juga reda, malamnya ia mengendon pada rumah seorang petani. Besoknya ia terus menuju ke utara. Di suatu kota kecil ia membeli seekor kuda, sementara itu cuaca sudah terang.

Karena lengan kiri masih terasa kaku, maka perjalanannya rada terganggu, setiap hari hanya ditempuh beberapa puluh li saja lantas mencari tempat penginapan. 
Ia menurutkan ajaran Yim Ngo-heng untuk melancarkan jalan darah lengannya. Sepuluh hari kemudian urat nadi lengannya telah lancar kembali.

Hina Kelana - Chin Yung Bagian 90 - 100

sambungan

Bab 90. Pat-kwa-kiam-tin Bu-tong-pay Dibikin Kocar-kacir oleh Lenghou Tiong

Karena orang-orang yang berkumpul ini terdiri dari berbagai golongan dan lapisan, tapi semuanya adalah manusia-manusia yang suka cari gara-gara. Mereka menjadi kegirangan dan bersorak-sorai mendengar perintah Lenghou Tiong itu.

Besok paginya, kembali ada beberapa puluh orang Kangouw yang datang menggabungkan diri. Lenghou Tiong memberi tugas kepada Coh Jian-jiu, Keh Bu-si, dan Lo Thau-cu untuk membikin panji-panji yang diperlukan serta membeli tambur dan sebagainya.

Menjelang tengah hari Coh Jian-jiu bertiga sudah menyelesaikan tugasnya, berpuluh panji putih dengan macam-macam semboyan yang tertulis di atasnya telah disiapkan. Hanya tambur yang kurang, cuma dua buah saja yang dapat dibeli.

“Marilah kita lantas berangkat, kota-kota yang kita lalui sepanjang perjalanan dapat kita singgahi untuk membeli lagi alat-alat yang kita perlukan,” kata Lenghou Tiong.

Semua orang bersorak mengiakan. Segera ada yang mulai membunyikan tambur, lalu berangkatlah mereka menuju ke utara dengan berbaris.

Lenghou Tiong sudah pernah menyaksikan anak murid Hing-san-pay disergap musuh di atas Sian-he-nia, maka sekarang ia lantas mengatur, tujuh kelompok diberi tugas tertentu. Dua kelompok di depan sebagai pelopor jalan, dua kelompok menjaga sayap kiri, dan dua kelompok menjaga sayap kanan. Satu kelompok lagi sebagai bala bantuan di belakang, selebihnya ikut dalam pasukan induk. Selain itu kelompok Sin-oh-pang dari Hansui diberi tugas sebagai kurir yang kian-kemari menyampaikan berita.

Sin-oh-pang adalah gerombolan orang-orang Kangouw setempat, wilayah pengaruhnya cukup luas, maka segala kabar berita yang penting dapat diketahui mereka dengan cepat.

Begitulah semua orang sama kagum dan tunduk melihat cara mengatur Lenghou Tiong yang rapi itu.

Selama beberapa hari dalam perjalanan, berturut-turut bergabung pula kelompok-kelompok dari berbagai tempat. Suatu hari sampailah mereka di kaki gunung Bu-tong-san.

“Lenghou-kongcu, kita harus melalui Bu-tong-san, apakah kita harus menghentikan suara tambur dan menggulung panji atau tetap lalu secara terang-terangan begini?” Coh Jian-jiu minta petunjuk kepada Lenghou Tiong.

Jawab Lenghou Tiong, “Bu-tong-pay adalah aliran persilatan nomor dua di dunia persilatan, pengaruh dan wibawanya cuma di bawah Siau-lim-pay saja. Kepergian kita buat menyambut Seng-koh ini sedapat mungkin menghindari percekcokan dengan Siau-lim-pay, dengan sendirinya lebih baik pula kalau kita pun tidak bersengketa dengan Bu-tong-pay. Maka sebaiknya kita mengitar ke jurusan lain saja sebagai tanda penghormatan dan keseganan kita terhadap Tiong-hi Totiang, itu ketua Bu-tong-pay yang hebat. Demikianlah pendapatku, entah bagaimana pikiran Saudara-saudara?”

“Apa yang dirasakan baik oleh Lenghou-kongcu, sudah tentu kami hanya menurut saja,” kata Lo Thau-cu. “Memangnya tujuan kita hanya menyambut pulang Seng-koh dan tidak ingin menimbulkan perkara lain dan menambah musuh. Apa gunanya kita terhambat oleh urusan yang berlawanan dengan maksud tujuan kita sekalipun Bu-tong-pay dapat kita tumpas umpamanya?”

“Benar, harap siarkan perintahku agar menggulung panji-panji dan menghentikan bunyi tambur, kita membelok dulu ke arah timur untuk kemudian mengitar lagi ke utara,” kata Lenghou Tiong.

Begitulah rombongan mereka lantas mengarah ke timur. Kira-kira beberapa puluh li jauhnya, tiba-tiba dua anggota Sin-oh-pang datang memberi lapor, “Di selat gunung belasan li sana telah menunggu beberapa ratus tosu, mereka mengaku dari Bu-tong-pay dan minta bicara dengan Bengcu.”

Seketika jago-jago di samping Lenghou Tiong menjadi gusar, mereka sama mengomel, “Kurang ajar benar kawanan tosu Bu-tong-pay itu!
Kita menghargai mereka, sebaliknya mereka mengira kita takut kepada mereka. Kurang ajar, benar-benar minta diajar!”

“Coba kita maju ke sana untuk melihat apa maksud tujuan mereka,” ujar Lenghou Tiong.
Segera ia mendahului melarikan kudanya ke depan dan mencapai selat gunung sana.

Ketika melihat datangnya Lenghou Tiong, kedua kelompok yang menjadi pelopor, yaitu Hong-bwe-pang dan Jing-liong-pang, sama bersorak-sorai.

Lenghou Tiong melompat turun dari kudanya, ia berlari maju dengan cepat, dilihatnya di ujung selat gunung situ berbaris beberapa puluh tojin berjubah hijau, semuanya bersenjata pedang, jalan lewat telah dirintangi mereka.