Salam dari Taman Bacaan Saulus

Salam dari Taman Bacaan Saulus
Pandangan

Kamis, 03 Mei 2012

Si Pisau Terbang Li - Khu Lung Bab 6

Sambungan Bab 5 ....


Bab 6. Penyelamat di Kampung Halaman Si Pemabuk

Sang Kusir tiba-tiba melompat, menanggalkan kemejanya, dan menyambut salju dan angin dingin dengan dada telanjang.

Bagai seekor kuda, ditariknya kereta itu.

Li Xun Huan tidak mencegahnya, karena ia tahu bahwa Sang Kusir memerlukan tempat untuk melampiaskan keputusasaannya. Namun sewaktu pintu kereta tertutup, Li Xun Huan tidak dapat menahan setetes air matanya jatuh ke pipinya.

Setelah berjalan satu jam, sampailah mereka ke Kampung Cow.

Kampung ini adalah desa yang sangat kecil. Hari belum lagi gelap, dan hujan salju telah reda. Orang-orang sedang membersihkan salju dari halaman rumah mereka.

Waktu mereka melihat sang kusir menarik kereta masuk ke dalam kampung, mereka sangat terkejut. Beberapa orang sangat ketakutan dan berlari masuk ke dalam rumah.

Sudah pasti, ada warung arak di kampung itu.

Orang-orang kampung ini belum pernah melihat orang sekuat ini. Jadi ketika Sang Kusir berjalan ke arah warung arak, sebagian besar pengunjungnya menjadi ketakutan dan segera berlalu.

Sang kusir menjejerkan tiga buah kursi, lalu mengalasinya dengan serbet yang bersih. Didukungnya Li Xun Huan masuk ke dalam warung, sehingga ia bisa duduk dengan nyaman.

Li Xun Huan tampak pucat lesi. Seakan-akan tidak ada darah yang mengalir ke wajahnya. Semua orang tahu, ia sakit parah. Warung ini sudah buka selama dua puluh tahun, dan belum pernah kedatangan orang hampir mati yang masih ingin minum. Semua orang di situ memandanginya.

Sang Kusir menggebrak meja, dan berteriak, “Ambilkan arak. Yang terbaik! Jika kau encerkan sedikit saja, kupenggal kepalamu.”

Li Xun Huan memandangnya dan tersenyum. “Kau tahu, selama dua puluh tahun terakhir, baru hari ini kau tunjukkan karakter sesungguhnya dari ‘Si Dada Besi Baja Emas’.”

Tubuh Sang Kusir bergidik. Ia terkejut mendengar julukannya disebut. Namun ia masih bisa tertawa keras. “Aku tak menyangka Tuan Muda masih ingat nama itu. Aku malah sudah lupa.”

Kata Li Xun Huan, “Kau…. Kau harus melanggar sumpahmu hari ini dan minum bersamaku.”

Sahut Sang Kusir, “Baik! Hari ini, berapa banyak Tuan Muda minum, aku akan mengikutimu.”

Li Xun Huan pun ikut tertawa keras. “Kalau aku bisa membuatmu minum arak lagi, hidupku tidak sia-sia.”

Yang lain, melihat mereka tertawa bahagia, jadi tercenung. Tak seorang pun bisa mengerti bagaimana seseorang yang hampir mati bisa begini bahagia.

Araknya memang bukan yang terlezat, tapi paling tidak arak itu murni.

Kata Sang Kusir, “Tuan Muda, maafkan kelancanganku. Aku ingin bersulang untukmu.”

Li Xun Huan ingin menyambutnya, namun ia tak kuasa memegangi cawannya, dan anggur pun berceceran. Ia batuk-batuk sambil berusaha menyeka bajunya yang basah kena anggur, dan sambil tertawa berkata, “Aku tak pernah menyia-nyiakan arak sebelumnya, tapi hari ini….”

Ia tertawa lagi. “Baju ini telah kumiliki bertahun-tahun, memang pantas aku menghadiahinya secawan anggur. Mari, Saudara Baju, aku berterima kasih padamu engkau telah menghangatkan aku bertahun-tahun ini. Aku bersulang untukmu.”

Lalu dituangnya sisa anggur dalam cawan ke bajunya.

Pemilik warung dan para pegawainya memandang dia, dan berbisik-bisik di antara mereka, “Orang ini bukan hanya sakit, dia sudah gila.”

Kedua orang itu minum dan terus minum. Li Xun Huan harus menggunakan kedua belah tangannya untuk memegang cawan anggurnya.

Sang Kusir menggebrak meja lagi. “Hidup ini tidak adil. Kalau saja aku bisa tidak bangun lagi dari kemabukan ini. Sayang, sayang sekali….”

Kata Li Xun Huan, “Kau harusnya berbahagia hari ini. Apa maksudmu tentang ‘tidak adil’, ‘tidak bangun lagi’? Seseorang harus menikmati hari-hari kehidupannya.”

Sang Kusir tertawa lagi. “Kau betul. Betul!” Lalu wajahnya jatuh menghantam meja.

Wajah Li Xun Huan penuh rasa terima kasih. Katanya pada dirinya sendiri, “Dua puluh tahun ini, jika bukan karena kau, aku…. aku mungkin sudah lama mati. Walaupun aku tahu alasanmu, perbuatanmu ini sungguh terlalu merendahkan dirimu. Kuharap suatu hari nanti, kau rebut kembali status dan kejayaanmu di masa lalu. Dengan begitu, walaupun aku telah….”

Sang Kusir tiba-tiba bangun lagi dan memotong cepat, “Tuan Muda, jangan katakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Merusak suasana.”

Mereka tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba menangis, menangis sambil tertawa.

Pemilik warung dan para pegawainya kembali saling pandang. “Sepertinya, dua-duanya gila.”

Saat itulah mereka dikagetkan oleh seseorang yang menyuruk masuk, “Arak. Arak. Bawakan arak sekarang juga.”

Dari wajahnya, kelihatannya ia akan mati jika ia tidak minum arak secepatnya.

Pemilik warung bergumam, “Satu lagi orang gila.”

Orang ini mengenakan baju biru yang sudah terlalu sering dicuci sampai warnanya sudah mendekati putih. Kukunya hitam-hitam. Walaupun mengenakan topi pelajar, rambutnya sungguh acak-acakan. Wajahnya kuning dan tirus. Seperti seorang pelajar miskin.

Pelayan membawakan sebotol arak untuknya.

Siapa sangka, pelajar ini bahkan tidak menggunakan cawan. Ditenggaknya anggur itu langsung dari botolnya. Sekali minum, setengah lebih sudah habis, tapi segera disemburkannya ke luar sambil berteriak, “Kau sebut ini arak? Ini adalah cuka, cuka yang diencerkan lagi…”

Pelayan itu tergagap, “Bukannya kami tidak punya arak yang baik, tapi…..”

Pelajar miskin itu berkata, “Kau pikir aku tidak punya uang. Nih, ambil semua.”

Dilambaikannya 50 tail perak.

Semua orang dan para pelayan terperangah. Kali ini mereka menyuguhkan arak yang terbaik.

Sekali ini pun, si pelajar miskin tak peduli dengan cawan dan menenggak sebotol penuh sekaligus. Lalu duduk diam tak bergerak. Semua orang menyangka ia minum terlalu cepat dan sesuatu telah terjadi. Namun Li Xun Huan tahu, ia sedang menikmati kelezatannya.

Setelah beberapa saat, dihembuskan nafasnya. Mata dan wajahnya berbinar-binar. “Walaupun araknya tidak enak, di tempat seperti ini kurasa inilah yang terbaik.”

Pemilik warung ikut tertawa. Katanya, “Sudah kusimpan botol itu selama sepuluh tahun.”

Si pelajar tiba-tiba menggebrak meja, katanya, “Pantas saja rasanya tidak kental. Beri aku arak yang lebih baru, yang difermentasi tiga tahap saja. Lalu bawakan makanan juga.”

“Masakan apa yang kau inginkan.”

“Aku tahu di tempat kumuh seperti ini kau pasti tak punya makanan enak. Bawakan saja Ayam Angin dan Usus Gagak Goreng Pedas. Pastikan ususnya pedas sekali dan ayamnya tidak berbulu sama sekali.”

Orang ini kelihatan miskin, namun ia benar-benar tahu tentang makanan dan anggur. Li Xun Huan sangat tertarik. Dalam keadaan biasa, ia pasti telah mengundang orang itu paling tidak untuk minum bersamanya. Namun saat itu, ia bisa rebah kapan saja. Ia tidak ingin berkenalan dengan siapa pun lagi.

Orang itu terus minum sendirian. Ia minum sangat cepat.

Sepertinya, selain arak, tak ada hal yang cukup berarti baginya.

Saat itu, terdengar derap langkah kuda mendekat, dan berhenti di depan warung. Wajah orang ini berubah sedikit.

Ia bangkit, hendak pergi. Tapi matanya kembali memandang arak di atas meja dan ia pun duduk kembali. Diminumnya tiga cawan lagi, sambil dinikmatinya usus goreng itu.

Dan terdengarlah suara yang menggelegar, “Dasar pemabuk. Kau hendak lari ke mana?”

Seorang yang lain pun berkata, “Sudah kubilang, kita pasti dapat menemukan orang ini di warung arak.”

Kemudian lima enam orang pun masuk, mengelilingi si pelajar miskin. Kelihatannya ilmu silat mereka cukup tinggi.

Seorang yang tinggi kurus mengacungkan pecut kuda ke depan hidung si pelajar miskin dan berkata, “Kau ambil uang kami, tapi kau menolak memeriksa pasien, malah kabur ke sini untuk minum. Apa yang terjadi?”
Si pelajar miskin tersenyum, “Kau tak mengerti apa yang terjadi? Aku perlu minum anggur. Itu saja. Kau seharusnya tahu, jika Tuan Mei Er perlu minum anggur, dia tidak peduli langit runtuh, apalagi hanya seorang pasien.”

Seorang yang bopengan berkata berang, “Kakak tertua Zhao, kau dengarkah itu? Kita sudah tahu pemabuk ini adalah seorang yang sangat jahat. Waktu ia sudah mendapatkan uangnya, ia tidak peduli lagi akan orang lain.”

Orang yang pertama menyahut, “Siapa yang tidak tahu kepribadian pemabuk ini? Namun dia harus menyembuhkan penyakit saudara ke-4. Kita perlu tabib, apa yang dapat kita perbuat?”

Awalnya Li Xun Huan menyangka orang-orang ini datang untuk balas dendam. Setelah mendengar percakapan mereka, tahulah dia bahwa Mei Er adalah seorang tabib yang hanya mau uang, tapi tak mau mengobati pasien.

Waktu orang-orang ini berteriak-teriak, ia tetap duduk diam. Sambil terus minum.

Zhao akhirnya melempar pecutnya, menghantam botol anggur dan cawan, sambil berteriak, “Berhenti menunda-nunda. Karena kami telah menemukanmu, kau harus ikut kami pulang dan mengobati pasien. Jika saudara ke-4 kami sembuh, aku jamin kau akan bisa minum berbotolbotol anggur.”

Tuan Mei Er itu hanya menatap cawan anggur yang sudah pecah, menarik nafas panjang, lalu berkata, “Kau sudah tahu perangaiku. Kau pun pasti tahu, aku takkan pernah menyembuhkan tiga macam orang.”

“Tiga macam orang seperti apa?”

“Yang pertama, aku tidak akan menyembuhkan orang yang tidak bayar di muka. Jika kurang sepeser saja, tak akan kusembuhkan dia.”

Salah seorang dari mereka menjawab, “Kami telah memberimu banyak uang!”

Tuan Mei Er meneruskan, “Yang kedua, aku takkan merawat orang yang bersikap kasar padaku. Yang ketiga, aku tak akan pernah merawat penjahat, pencuri, dan pembunuh.”

Ia menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya, “Kau telah melanggar dua aturan terakhir. Kalian masih berharap aku mau menyembuhkannya? Silakan mimpi saja.”

Orang-orang itu menyahut, “Jika kau tidak menyembuhkannya, kami akan membunuhmu.”

“Sekalipun kalian membunuhku, aku tak akan menyembuhkannya!”

Orang yang bopengan itu maju dan menamparnya, sehingga tubuh si tabib terpelanting. Darah keluar dari mulutnya.

Tadinya Li Xun Huan berpikir, tabib ini pura-pura saja tak tahu ilmu silat. Sekarang ia baru sadar, bahwa tabib ini hanya mulutnya keras, tapi tubuhnya tidak.

Kakak tertua Zhao menghunus pisaunya, dan berkata, “Kalau kau berkata ‘tidak’ setengah kali saja, akan kupotong sebelah tanganmu sebelum kau sempat menyelesaikan perkataanmu.”

Tuan Mei Er menyahut, “Kalau aku bilang tidak ya tidak. Kenapa aku harus takut dengan penjahat kelas teri macam kalian?”

Kakak tertua Zhao sudah akan maju, tapi Sang Kusir tiba-tiba menggebrak meja, dan berkata lantang, “Ini adalah tempat minum arak. Jika kalian tidak mau minum, cepat menyingkir!”

Suaranya seperti geledek, Zhao pun merasa jeri. “Siapa kau? Berani-beraninya ikut campur?”

Li Xun Huan tersenyum, katanya, “Hanya menyuruh mereka pergi, kurang menarik. Suruhlah mereka merangkak ke luar.”

“Tuan Muda menyuruh kalian merangkak ke luar. Dengar tidak?”

Kakak tertua Zhao melihat orang ini sakit dan sangat lemah, juga sangat mabuk. Ia jadi tidak takut lagi, katanya, “Karena kalian berdua sangat berani, mari kurobek perutmu.”

Goloknya berkilauan, menyabet ke arah Li Xun Huan.

Sang Kusir menyorongkan tangannya ke depan, berusaha menghalangi sabetan golok. Namun karena ia sangat mabuk, kelihatannya ia malah berusaha menangkap golok itu dengan tangannya.

Si pemilik warung sungguh kuatir karena pastilah lengan orang itu akan putus kena golok. Siapa sangka, lengan itu masih tetap utuh, malahan golok itulah yang mencelat ke atas. Zhao terkejut luar biasa, pikirnya, “Ilmu silat orang itu membuatnya kebal senjata. Apakah dia ini hantu?”

Orang bopengan itu juga menjadi takut sekali, tapi dipaksakannya untuk tertawa sambil berkata, “Bolehkah kutahu namamu, sobat? Kalau tidak bertempur, mana bisa jadi kawan. Marilah kita berkawan saja.”

Sang Kusir menjawab dingin, “Kau tak pantas jadi temanku. Sana keluar!”

Zhao melompat ke depan, sambil berkata, “Kau tak perlu bersikap kasar. Tidak baik bermusuhan dengan kami, kalau….”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, si bopengan membisikkan sesuatu kepadanya. Matanya melirik ke arah pisau di tangan Li Xun Huan.

Wajah Zhao memucat seperti kertas, katanya pelan, “Tidak, tidak mungkin dia.”

“Siapa lagi? Aku dengar setengah bulan yang lalu dari Si Kura-kura Tua bahwa ia telah kembali dari perbatasan. Si Kura-kura Tua mengenalnya sejak dulu. Tidak mungkin ia salah.”

Kata Zhao, “Tapi, pemabuk ini….”

“Orang ini sangat menyukai makanan, anggur, wanita, juga judi. Kesehatannya juga tidak pernah baik. Namun pisaunya….”

Waktu berbicara tentang pisau, suaranya bergetar. “Tidak usahlah kita bermusuhan dengan orang macam dia.”

Zhao tertawa, “Jika aku tahu dia ada di sini, walaupun orang mengancamku dengan pisau, aku takkan mau datang ke sini.”
Ia terbatuk dua kali dan membungkukkan tubuhnya sambil tertawa. “Aku yang kecil ini punya mata, tapi tidak bisa melihat, sehingga tidak mengenali engkau, Tuan. Bahkan aku sudah mengganggu ketenanganmu minum arak. Aku yang kecil ini pantas mati. Kini aku hendak pamit saja.”

Tidak jelas apakah Li Xun Huan mendengar kata-kata ini atau tidak. Ia terus minum dan terus terbatuk-batuk, seperti tidak ada sesuatu pun yang terjadi.

Orang-orang ini datang bagai harimau, kini mereka pergi bagai anjing. Baru sekarang Tuan Mei Er bangkit, namun ia tidak berusaha berterima kasih pada Li Xun Huan. Ia malah berdiri di atas kursinya sambil berteriak-teriak, “Arak! Beri aku arak!”

Para pelayan jadi bingung. Tak bisa dipercaya orang ini baru saja dipukuli.

Pelanggan yang lain sudah pergi semuanya. Yang tinggal hanya ketiga orang ini. Ketiganya terus minum, tak berbicara sepatah katapun.

Li Xun Huan melongok ke luar jendela, dan tiba-tiba tersenyum. “Arak memang sangat aneh. Kalau kau ingin terus sadar, kau akan mabuk lebih cepat. Kalau kau ingin cepat mabuk, kau malah tidak mabuk-mabuk.”

Tuan Mei Er juga terkekeh, “Mabuk dapat menyelesaikan banyak persoalan. Yang paling baik adalah mabuk sampai mati. Tapi sayangnya, Langit tak akan membiarkan seseorang mati semudah itu.”

Alis Sang Kusir terangkat, melihat Tuan Mei Er berjalan terhuyung-huyung ke arah mereka. Ia menatap Li Xun Huan dan bertanya, “Tahukah kau berapa lama lagi kau akan hidup?”

“Tidak lama.”

“Jika kau tahu hidupmu tidak lama lagi, mengapa tak kau bereskan urusanmu sebelum mati, malahan datang ke sini untuk minum?”

Sahut Li Xun Huan, “Mengapa urusan-urusan sepele, macam hidup dan mati, harus mengganggu acara minumku?”

Mei Er bertepuk tangan, tertawa. “Betul. Betul. Hidup dan mati adalah urusan sepele. Sebaliknya, minum arak adalah peristiwa penting. Kata-katamu sungguh sesuai dengan seleraku.”

Tiba-tiba matanya terbuka lebar, katanya, “Kurasa sekarang kau tahu siapa aku, bukan?”

Jawab Li Xun Huan, “Belum.”

“Kau sungguh tidak tahu siapa aku?”

Sang Kusir memotong kasar. “Kalau dia bilang tidak tahu, ya tidak tahu. Kenapa harus diulangulang?”

Tuan Mei Er menatap Li Xun Huan, lalu berkata, “Ternyata kau tidak menyelamatkanku untuk menyembuhkanmu.”

Li Xun Huan tertawa. “Jika kau ingin minum anggur, kita bisa minum bersama. Jika kau datang untuk menyembuhkanku, kusarankan kau pergi saja. Jangan membuang-buang waktu minumku.”

Mei Er terus memandang Li Xun Huan sampai cukup lama. Katanya kemudian, “Beruntung sekali. Sangat beruntung. Kau tahu, kau sangat beruntung bertemu dengan aku.”

Kata Li Xun Huan, “Aku tidak punya uang. Aku juga tidak jauh berbeda dari perampok dan pencuri. Kau boleh pergi.”

Siapa sangka, Mei Er malah menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Tidak tidak tidak. Tidak meyembuhkan orang lain, tidak jadi soal. Tapi jikalau kau menolak aku menyembuhkanmu, kau harus membunuhku.”

Mata Sang Kusir berbinar-binar. “Kau sungguh dapat menyembuhkannya?”

Jawab Tuan Mei Er, “Selain Mei Er, tidak ada seorang pun di dunia yang dapat menyembuhkannya.”

Sang Kusir berdiri, dirapikannya kemejanya, sambil bertanya, “Tahukah kau apa penyakitnya?”

Sahut Tuan Mei Er, “Kalau aku tidak tahu, siapa yang bisa tahu? Kau pikir Saudara keenamku, Si Lebah Madu, sanggup meramu ‘Bubuk Ayam Dingin’?”

“Bubuk Ayam Dingin? Racun itu Bubuk Ayam Dingin?”

Tuan Mei Er terkekeh. “Selain Bubuk Ayam Dingin milik keluarga Mei, racun apa yang dapat membunuh Li Xun Huan?”

Sang Kusir terkejut sekaligus gembira, “Jadi maksudmu kaulah yang meramu racun Si Lebah Madu?”

Mei Er tertawa terbahak-bahak. “Selain ‘Si Orang Tengah Sakti’ Tuan Mei Er, siapa yang dapat meracik racun sehebat ini? Sepertinya kau bukan orang berpengetahuan. Hal seperti ini saja tidak tahu.”

Kini Sang Kusir girang bukan kepalang. “Jadi dialah yang meramu racun itu. Tuan Muda, kau pasti akan selamat.”

Li Xun Huan tertawa pahit. “Aku tahu hidup itu sulit, tapi aku baru tahu untuk mati dengan tenang pun sangat sulit.”

Kini mereka sudah ada dalam kereta. Sang Kusir merawat Li Xun Huan, tapi ia juga mengawasi Tuan Mei Er.

Ia masih belum puas. Tanyanya, “Jika kau bisa menyembuhkan keracunannya, mengapa kita harus pergi menemui orang lain?”

Sahut Tuan Mei Er, “Aku tidak mencari orang ‘lain’. Ia kakakku. Rumahnya dekat.”

“Jangan kuatir. Jika aku sudah berkata aku akan menyembuhkan dia, ia tidak akan mati.”

“Mengapa kau perlu bertemu dengan kakakmu?”

“Karena dia punya obat penawarnya. Sudah puas?”

Kini ia benar-benar diam.

Tuan Mei Er menggelengkan kepalanya sambil tertawa. “Aku sungguh tak mengira ada orang yang melatih ilmu silat sebodoh ini. Hanya berguna untuk melawan preman jalanan.”

Sang Kusir menjawab dingin, “Ilmu silat yang bodoh lebih baik dari pada tidak tahu silat.”

Tuan Mei Er sama sekali tidak marah. Ia terus tersenyum. “Yang kudengar, untuk melatih ilmu silat macam ini, kau harus tetap perjaka. Tidakkah pengorbanan semacam itu sedikit terlalu besar?”

“Hmmh.”

Lanjut Mei Er lagi, “Yang kudengar, dalam lima puluh tahun terakhir, hanya ada satu orang yang sungguh bodoh yang mau memperlajari ilmu silat ini. Namanya ‘Si Dada Besi Baja Emas’, Tie Zhuan Jia. Namun dua puluh tahun lalu, terjadi sesuatu padanya. Kini tidak ada yang tahu apakah dia sudah mati, atau masih hidup. Mungkin dia belum mati. Mungkin dia masih bisa minum anggur.”

Mulut Sang Kusir tertutup rapat. Apa pun yang dikatakan Mei Er, ia diam saja.

Tuan Mei Er memejamkan mata, berusaha memulihkan tenaganya.

Setelah beberapa saat, Sang Kusir balas berkata, “Yang kudengar, ‘Tujuh Orang Sakti’ tidak peduli akan reputasi mereka. Sepertinya kau tidak demikian.”

Jawan Mei Er, “Aku mengambil uang orang, lalu menolak untuk menyembuhkannya. Kau pikir itu kurang bejad?”

“Jika kau akhirnya setuju untuk merawat dia, maka kaulah yang akan kehilangan muka. Mengambil uang dan menyembuhkan orang adalah dua hal yang berbeda. Tak ada alasan untuk tidak mengambil uang dari orang-orang macam mereka.”

Mei Er menyahut, “Tampaknya kau tak sebodoh yang kukira.”

Sang Kusir berkata lagi, “Orang yang dianggap licik oleh banyak orang, mungkin sebenarnya tidak terlalu licik. Akan tetapi dari sekian banyak orang yang disangka gagah, berapa banyakkah yang benar-benar gagah?”

Li Xun Huan duduk diam sambil tersenyum. Sepertinya ia mengikuti pembicaraan, tapi sepertinya juga pikirannya ada di tempat lain.

Di luar, salju telah memberi warna putih pada segala sesuatu.

Jika seseorang masih dapat bertahan hidup, bukankah itu suatu hal yang baik?

Bayangan seseorang tergambar dalam benak Li Xun Huan.

Wanita itu mengenakan pakaian ungu, dan mantel berwarna ungu muda tersampir pada pundaknya. Ia berdiri dengan latar belakang salju putih, dan tampak sangat cantik.

Ia ingat Si Dia sangat menyukai salju. Setiap kali turun salju Si Dia akan menarik tangannya ke luar ke halaman, melemparinya dengan bola salju dan menantangnya untuk mengejar Dia.

Ia ingat, hari dia membawa Long Xiao Yun pulang, juga turun salju. Si Dia sedang duduk di paviliun dalam taman plum. Sedang menikmati indahnya salju dan pohon plum.

Ia ingat bahwa tiang-tiang paviliun itu merah cerah. Tapi sewaktu Si Dia duduk di antara tiangtiang itu, warna kedua tiang dan warna seluruh pohon plum menjadi pudar.

Ia tidak memperhatikan reaksi Long Xiao Yun saat itu. Namun di kemudian hari, ia bisa membayangkannya. Saat itu, hati Long Xiao Yun pasti sudah hancur berantakan.

Kini, apakah paviliun itu masih sama? Masih seringkah Si Dia duduk di sana, menghitung bungabunga plum?

Li Xun Huan berusaha bangun dan tersenyum pada Tuan Mei Er. “Ada arak dalam kereta. Mari kita minum.”

Salju, kadang lebat kadang berhenti.

Dengan petunjuk Tuan Mei Er, kereta berbelok ke jalan kecil, dan sampai pada sebuah jembatan kecil. Kereta itu tak dapat menyeberang.

Sang Kusir mendukung Li Xun Huan menyeberangi jembatan. Terlihat sebuah gubug kecil di antara pohon-pohon plum. Sewaktu mereka mendekat, terdengar suara dari dalam hutan. Seorang laki-laki berpakaian rapi menyuruh dua orang pembantunya menyiramkan air pada pohon yang tertutup salju.

Sang Kusir berbisik, “Inikah Tuan Mei Da?”

Jawab Mei Er, “Selain orang tolol ini, siapakah yang menyiramkan air untuk membersihkan es dan salju dari batang pohon?”

Sang Kusir tak dapat menahan tawa. “Maksudmu dia tidak tahu bahwa dengan menyiramkan air, salju akan tetap menempel dan airnya malah akan jadi es?”

Mei Er tertawa getir, dan mengeluh, “Ia bisa tahu keaslian suatu benda seni sekali tengok. Ia juga bisa meramu dalam sekejap racun yang paling mematikan dan penawar yang paling hebat. Namun ia tidak dapat mengerti hal-hal yang sederhana.”

Selagi mereka bercakap-cakap, Mei Da memalingkan wajahnya dan melihat kedatangan mereka. Wajahnya terkesiap seperti sedang memandang anak-anak nakal. Katanya, “Cepat! Cepat sembunyikan seluruh lukisanku yang berharga. Kalau sampai dilihatnya, akan digadaikannya untuk membeli sebotol arak.”

Mei Er tersenyum. “Kakak pertama. Jangan kuatir. Aku sudah minum arak hari ini. Aku datang
dengan dua teman….”

Sebelum kalimatnya selesai, Mei Da menutup mata dengan kedua tangannya, katanya, “Aku tak ingin melihat teman-temanmu. Semua temanmu adalah orang jahat. Kalau aku melihat seorang saja, aku akan sial tiga tahun.”

Mei Er jadi kesal, maka katanya, “Baik. Kau menghina aku. Kau pikir aku tak mungkin punya teman yang baik. Mari Li Tan Hua, kita pergi saja.”

Sang Kusir menjadi gusar, “Mana obat penawarnya? Kita tidak bisa pergi begitu saja!”

Tak disangka, ekspresi wajah Mei Da berubah cepat. “Maksudmu dia dari keluarga yang turuntemurun lulus ujian kenegaraan, ayah dan kedua anaknya mendapat gelar Tan Hua, Li Tan Hua
yang ITU?’

Mei Er menjawab dingin, “Kau tahu Li Tan Hua yang lain?”

Kata Li Xun Huan, “Ya. Itulah aku.”

Pandangan Mei Da menyelidik dari kepala sampai ke kakinya. Tiba-tiba ia menjabat tangan Li Xun Huan dan tertawa senang, “Terkenal selama dua puluh tahun, tak kusangka akhirnya aku dapat bertemu denganmu. Saudara Li.”

Ia menjadi sangat ramah setelah tahu siapa tamunya.

Kemudian kata Mei Da, “Tuan Li, maafkanlah kekasaranku tadi. Teman-teman adikku selalu saja menyebalkan. Dua tahun yang lalu ia mengajak dua temannya berkunjung, katanya mereka ini penggemar benda seni. Tapi siapa sangka, setelah kutunjukkan pada mereka dua lukisan yang sangat berharga, mereka menukarnya dengan kertas kosong! Aku sangat marah, sampai-sampai tiga bulan aku tak bisa tidur.”

Li Xun Huan pun tertawa. “Tuan Mei Da, jangan terlalu menyalahkan adikmu. Ketika seorang pemabuk ingin minum arak tapi tidak punya uang, perasaannya pun sangat kacau.”

Tuan Mei Da tersenyum sambil berkata, “Sepertinya Saudara Li juga mempunyai kebiasaan yang sama.”

Li Xun Huan ikut tersenyum. “Minum arak dapat membuat seseorang terbang ke awan.”

Kata Mei Da, “Bagus. Qi He, sudah cukup kau bersihkan pohon itu. Pergi dan ambilkan arak Zhu Ge Ying berusia 20 tahun itu. Aku ingin Saudara Li mencicipinya. Aku telah menyimpan arak ini bertahun-tahun untuk disuguhkan pada tamu yang hebat, seperti Saudara Li ini.”

Kata Mei Er, “Memang betul. Kalau tamu biasa yang datang, cuka saja tidak disuguhkannya. Akan tetapi, Saudara Li datang bukan untuk minum anggur.”

Mei Da memandang sekilas pada Li Xun Huan, katanya, “Racun itu masalah kecil. Saudara Li jangan kuatir, dan mari minum. Aku tahu bagaimana caranya mengurus hal-hal kecil itu.”

Setelah minum tiga cawan, Mei Da tiba-tiba bertanya, “Katanya, lukisan yang sangat langka Qing Ming Da He Tu ada dalam kediamanmu. Apakah itu benar?”

Kini Li Xun Huan tahu mengapa ia sangat ramah menyambut mereka. “Betul.”

Mei Da girang luar biasa. “Dapatkah kau bawa ke sini kapan-kapan supaya aku dapat melihatnya?”

Jawab Li Xun Huan, “Jika Tuan Mei Da sungguh-sungguh ingin melihatnya, aku tak dapat menolak. Tapi sungguh sayang, aku telah memberikan lukisan itu, dan seluruh milikku, pada orang lain.”

Tuan Mei Da melongo memandangnya, seperti kepalanya dipentung orang. Ia terus bergumam, “Sayang… sungguh sayang….”

Lalu katanya, “Qi He, bereskan anggur ini. Li Tan Hua sudah selesai minum.”

Kata Mei Er, “Jadi tanpa Qing Ming Da He Tu, tidak ada anggur?”

Jawab Mei Da dingin, “Arakku bukan untuk diminum sembarang orang.”

Li Xun Huan tidak merasa marah, bahkan ia tersenyum. Ia merasa orang ini labil, sangat lugu, tapi paling tidak ia lebih baik daripada para orang gagah yang palsu.

Namun Sang Kusir tak bisa menahan kekuatirannya, dan ia berkata keras, “Tanpa Qing Ming Da He Tu, tidak ada obat penawar juga?”

Sahut Mei Da, “Jika tidak ada anggur, dari mana datangnya obat penawar?”

Sang kusir menjadi berang dan siap menyerang.

Namun Li Xun Huan menahannya, katanya, “Mei Da tidak mengenal kita. Ia tidak berkewajiban memberikan obat penawar itu. Kita telah berhutang padanya beberapa cawan anggur yang lezat. Mengapa kau ingin bertindak kasar?”

“Tapi Tuan Muda, kau… kau…”

Li Xun Huan mengibaskan tangannya dan tersenyum. “Kurasa kita harus pamit.”

Tiba-tiba Mei Da bertanya, “Kau sungguh tidak mau obat penawarnya?”

Jawab Li Xun Huan, “Kita mempunyai kepentingan masing-masing. Aku tidak suka memaksa orang.”


Kata Mei Da, “Tahukah kau, bahwa tanpa obat penawar itu kau akan segera mati?”

“Hidup dan mati ditentukan oleh Langit. Aku sendiri tidak peduli.”

Mei Da menatapnya lekat-lekat, katanya perlahan, “Betul. Betul. Jika seseorang bisa menghadiahkan Qing Ming Da He Tu pada orang lain, mengapa dia harus mempedulikan nyawanya? Orang seperti ini sangat langka, sangat sangat langka….”

Lalu ia berteriak, “Qi He, keluarkan lagi araknya.”

Sang Kusir seketika timbul harapannya. “Bagaimana dengan obat penawarnya?”

Mei Da memandangnya sekejap, lalu katanya dingin, “Sekarang sudah ada arak, kau kuatir tidak ada obat penawar?” 

Selasa, 01 Mei 2012

Si Pisau Terbang Li- Khu Lung Bab 5

Sambungan ....


Bab 5. Pengejaran di Malam Bersalju

Li Xun Huan mengambil botol arak dan menghabiskan seluruh anggur di dalamnya. Lalu ia terbatuk-batuk dan terus terbatuk-batuk, sampai wajahnya yang pucat menjadi merah darah. Tangannya memegang dadanya dan berkata pada dirinya sendiri, “Xiao Yun, Shi Yin. Aku tak pernah menyalahkan kalian berdua. Apa pun yang dikatakan orang, aku tak akan menyalahkan kalian, sebab kalian memang tidak berbuat salah. Semua kesalahan, akulah yang melakukannya.”

Tiba-tiba pintu kayu itu terpentang lebar.

Seseorang merangkak masuk. Ia terlihat seperti bakso raksasa, penuh lemak di sekujur tubuhnya. Rambut dan kumisnya acak-acakan, seperti tidak pernah mandi bertahun-tahun. Bau busuknya dapat tercium dari lebih dari satu kilometer.

Ia merangkak, karena kedua belah kakinya buntung.

Li Xun Huan mengangkat alisnya dan berkata, “Jika kau ingin mengemis makanan, kau datang pada saat yang salah.”

Orang ini tidak menghiraukannya. Ia memang cacad, tapi gerakannya sangat gesit. Dengan satu gulingan, ia telah tiba di depan perapian.

Tanya Li Xun Huan, “Apakah kau juga datang untuk Rompi Benang Emas?”

Tangan orang ini mendorong badannya ke depan dan sampailah dia pada mayat di dekatnya. Tentu saja rompi itu ada pada mayat itu.

Kata Li Xun Huan dingin, “Pisau di tanganku ini sanggup membunuh orang. Jika kau tidak berhenti, aku kuatir jumlah mayat di ruangan ini akan bertambah satu.”

Orang itu tetap tidak menghiraukan, dan terus melucuti Rompi Benang Emas dari mayat itu. Rompi itu hanya serupa rompi biasa yang berwarna keemasan, tanpa aura misterius sama sekali.

Orang itu memegang rompi itu erat-erat, dan tertawa keras-keras, “Waktu kepiting dan kerang bertempur, nelayanlah yang menikmati hasilnya. Aku masih tak dapat percaya, mustika ini akhirnya ada dalam genggamanku.”

Sahut Li Xun Huan dingin, “Pisauku masih di sini. Kurasa kata-katamu keluar terlalu dini.”

Orang ini membal dengan tangannya, seperti katak, ke arah Li Xun Huan, dan tersenyum sambil memandangnya. Gigi-giginya kuning semua.

Ia terkekeh sambil berkata, “Kalau kau punya pisau, mengapa kau tak membunuhku? Pisau si Li Kecil tak pernah luput. Kau hanya perlu menggunakan pisaumu, dan tidak mungkin aku, seorang cacad, dapat menghindarinya.”

Li Xun Huan jadi tersenyum, katanya, “Kau adalah seorang yang menarik, aku jadi tak tega membunuhmu.”

Orang aneh ini tertawa beberapa saat, dan berkata, “Jika kau tidak mau mengakuinya, biarlah aku yang mengatakannya.”

Lanjutnya sambil terus tertawa, “Semua orang mungkin mengira kau tidak keracunan, tapi aku tahu bahwa kau memang keracunan. Namun kau memang sangat tenang, jadi kau bisa mengelabui orang-orang itu.”

Ekspresi Li Xun Huan tidak berubah. “Begitukah sangkamu?”

Orang aneh ini berkata, “Kau takkan mungkin bisa mengelabui aku, karena aku tahu pasti, racun dalam anggur itu tidak berasa dan tidak berwarna. Bahkan jika hidungmu bisa mencium lebih baik daripada anjing, kau tidak akan mungkin bisa menciumnya.”

Li Xun Huan menatap orang ini lekat-lekat, lalu tersenyum kecil, “Benar-benar yakinkah kau akan hal ini?”

Orang aneh ini terkekeh lagi. “Yakin sekali, karena akulah yang meracuni arak itu. Aku tahu pasti apakah kau keracunan atau tidak. Kau bisa mengelabui semua orang, kecuali aku.”

Ekspresi Li Xun Huan tetap tidak berubah, namun otot-otot di sekitar matanya mulai bergerakgerak. Setelah diam beberapa saat, ia menghela nafas dan berkata, “Belum lagi habis satu hari, namun enam, tujuh peristiwa besar telah terjadi. Kurasa peruntunganku cukup baik.”

Kata orang aneh ini, “Kau tidak ingin tahu, tangan siapakah yang membunuhmu?”

Sahut Li Xun Huan, “Aku baru saja hendak bertanya.”

Orang aneh ini menjawab, “Kau berpengetahuan luas, jadi kau pasti tahu bahwa ada 7 orang licik dalam dunia persilatan.”

Dengan terkejut Li Xun Huan menjawab, “Tujuh Orang Sakti.”

Orang aneh ini berkata lagi, “Tepat. Ketujuh orang ini sangatlah licik tak terbayangkan. Ilmu silat mereka memang tidak hebat, tapi kalau soal racun, mencuri, menipu, dan bedusta, kelihaian mereka tak ada bandingannya.”
Mata Li Xun Huan bersinar, “Apakah kau salah satu dari Tujuh Orang Sakti?”

Orang aneh ini menjawab, “Yang paling licik dari Tujuh Orang Sakti adalah….”

Jawab Li Xun Huan, “Tuan Sakti Lebah Madu.”

Kata orang aneh ini, “Hampir betul. Nama lengkapnya adalah ‘Tuan Sakti Berhati Hitam’. Kemampuan orang ini sangat terbatas. Ia sangat pengecut, bahkan takut untuk mencuri dan merayu wanita. Namun dalam hal racun, Si Anak 5 Racun yang terkenal itupun kadang-kadang harus memanggilnya Kakek.”

Kata Li Xun Huan, “Kelihatannya kau tahu banyak tentang orang ini.”

Jawab orang aneh itu, “Tentu saja. Karena akulah dia, dan dialah aku.”

Li Xun Huan menghela nafas dan terdiam.

Si Lebah Madu tertawa, “Apakah kau terkejut bahwa Si Tuan Sakti telah berubah menjadi segumpal bakso?”

Sahut Li Xun Huan, “Jika kau dapat merayu wanita, wanita itu pastilah buta.”

Si Lebah Madu menjawab, “Lagi-lagi salah. Mata mereka tidaklah buta, bahkan sangat cantik. Namun jika seseorang telah disekap, dipatahkan kakinya dan dicekoki makanan berlemak setiap hari selama bertahun-tahun, ia akan berubah menjadi bakso.”

Kata Li Xun Huan, “Kutebak ini adalah perbuatan pasangan Sun Kui.”

Si Lebah Madu berpikir sejenak, lalu tersenyum. “Sun Kui telah bercerita padamu sebelumnya. Aku akan menceritakan padamu kisah yang lain. Kisahku jauh lebih menarik.”

“O ya?”

Si Lebah Madu melanjutkan, “Tahun itu peruntunganku kurang baik. Pada saat itu, aku tergilagila wanita dan kurayu istri si Jenggot Besar, Nyonya Qiang Wei. Kami bahkan sampai punya anak. Jadi ia harus lari bersamaku.”

Li Xun Huan terperangah. “Jadi orang yang diceritakannya itu adalah kau? Ialah yang harus membayar akibat kesalahanmu?”

Kata Si Lebah Madu, “Ia bohong sedikit. Aku tidak mencuri harta bendanya. Walaupun aku mau, aku tidak mungkin bisa. Ia jauh lebih licik daripada aku. Akan tetapi, memang benar, kami dikejar oleh orang-orang suruhan Si Jenggot Besar. Aku memang seorang pengecut, jadi kubujuk dia untuk menemukan seseorang sebagai penggantiku untuk sementara waktu. Mulanya ia raguragu, katanya wajah Sun Kui kurang gagah. Namun akhirnya ia setuju.”

Kata Li Xun Huan, “Jadi kalian berdualah yang merencanakan semua ini.”

Lanjut Si Lebah Madu, “Jika saat itu aku benar-benar meninggalkannya, semua akan jadi baikbaik saja. Namun aku ingin juga harta bendanya, jadi kukatakan setelah semuanya kembali tenang, kami akan membunuhnya dan kembali bersama. Siapa sangka, ia jatuh cinta pada Sun Kui. Mereka bahkan mematahkan kakiku dan memenjarakan aku seperti ini selama hampir dua puluh tahun.”
Li Xun Huan bertanya, “Mengapa ia tidak membunuhmu?”

Sahut Si Lebah Madu, “Jika aku mengerti jalan pikiran wanita, aku takkan mungkin jadi seperti ini. Aku pikir aku tahu hati wanita. Itulah sebabnya aku jadi seperti ini. Jikalau seorang laki-laki berpikir ia mengerti tentang wanita, maka ia harus menerima konsekuensinya.”

Kata Li Xun Huan, “Benar-benar suatu kisah yang luar biasa.”

“Namun kau belum mendengar bagian yang paling menarik.”

“Apa?”

Kata Si Lebah Madu, “Setelah kau kena racun, kau takkan bisa menggunakan pisaumu, dan kau pun tak akan bisa hidup lebih dari 6 jam. Maka dari itu, aku takkan membunuhmu sekarang, karena aku ingin kau mengetahui rasanya menunggu datangnya kematianmu.”

Li Xun Huan menyahut tenang, “Sebetulnya tidak perlu juga. Sudah beberapa kali aku menunggu datangnya kematianku.”

Si Lebah Madu tertawa, “Aku berjanji, inilah yang terakhir kali.”

Li Xun Huan pun tertawa kecil. “Jika demikian, tak ada lagi yang perlu diperbincangkan. Hanya saja, di luar sedang turun salju, dan angin pun kencang, bagaimana kau akan pergi?”

Sahut Si Lebah Madu, “Jangan kuatir. Kakiku memang buntung, tapi aku masih bisa naik kuda.”

“Kalau begitu, hati-hatilah di jalan. Maaf, aku tidak bisa mengantar.”

Suara derap langkah kuda pun segera lenyap ditelan hujan salju.

Li Xun Huan duduk diam dan mencium anggur itu. “Sungguh-sungguh tak berbau dan tak berasa. Ilmu racun yang hebat sekali.”

Diminumnya secawan lagi, lalu dipejamkan matanya. “Namun arak ini sungguh lezat. Aku mati karena minum secawan. Aku pun akan mati kalau minum sebotol penuh. Mengapa tidak kuhabiskan saja?”

Diminumnya arak beracun itu sampai habis.

Lalu ia mulai berbicara pada dirinya sendiri, “Oh, Li Xun Huan. Kau seharusnya sudah mati bertahun-tahun yang lalu. Apa salahnya mati? Tapi kau tak seharusnya mati di dapur bersama dengan mayat-mayat ini.”

Maka ia bangkit, dan terhuyung-huyung menuju ke pintu.

Tampak jejak-jejak kaki di salju, menuju ke arah tenggara.

Li Xun Huan mencari tempat yang agak bersih dan duduk di situ. Dikeluarkan dari sakunya, ukirannya yang belum selesai.

Figur kayu itu menatap Li Xun Huan.

Tiba-tiba Li Xun Huan tertawa keras, katanya, “Mengapa kau masih menatapku? Aku hanya seorang pemalas dan pemabuk. Kau mengambil keputusan yang tepat menikah dengan Xiao Yun. Akulah yang salah.”

Dicobanya menyelesaikan ukirannya dengan pisau.

Namun ia telah kehabisan tenaga.

Li Xun Huan mulai terbatuk-batuk lagi. Tiap kali batuk seakan-akan ia sedang berteriak, “Shi Yin, Shi Yin.”

Dapatkah Shi Yin mendengarnya?

Tak mungkin Shi Yin dapat mendengarnya. Namun, ada yang mendengar.

Sang kusir segera membopong Li Xun Huan, dan berlari kalap melalui hutan.

“Jika kita dapat menemukan orang buntung kaki yang kelihatan seperti bakso dalam waktu dua jam, mungkin aku bisa selamat. Orang yang menaruh racun, pasti punya penawarnya.”

Inilah kalimat terakhir yang sanggup diucapkan Li Xun Huan.

Sang kusir mengerahkan seluruh kekuatannya, air matanya membeku, menyambut angin dingin yang menyayat kulit.

Tiba-tiba terdengar suara dari jauh.

Sang kusir ragu-ragu sebentar, lalu berlari ke arah suara itu. Mula-mula ditemukannya kuda di tengah jalan. Ia tidak bertemu dengan Si Lebah Madu. Ia hanya menemukan mayatnya.

Tampak ratusan senjata rahasia tertancap di sekujur tubuhnya. Sang kusir tidak bisa tidak merasa iba. Namun ia teringat masalah yang lebih penting.

Tanyanya cepat, “Inikah orangnya?” Ia sungguh berharap mayat ini bukanlah orang yang mereka cari.

Jawab Li Xun Huan, “Betul.”

Sang Kusir menggigit bibirnya. Ia menanggalkannya mantelnya, menghamparkannya di sebatang pohon dan menurunkan Li Xun Huan dari punggungnya. “Mungkin obat penawarnya masih ada. Akan kucari.”

Kata Li Xun Huan, “Hati-hati. Jangan sampai tergores senjata rahasia.”

Bahkan saat hidupnya sendiri ada di ujung tanduk, ia tetap memikirkan keselamatan orang lain.

Sang Kusir merasa hawa panas naik dari perutnya. Sekuat tenaga, ditahannya air matanya, sambil mencari obat penawar pada mayat itu.

Setelah sekian lama, ia berdiri.

Kata Li Xun Huan, “Obat penawarnya tidak ada.”
Sang Kusir tak mampu berkata-kata, lidahnya kelu.

Li Xun Huan tersenyum, katanya, “Aku seharusnya sudah tahu. Setelah dipenjara bertahuntahun, tak mungkin ia punya obat penawarnya.”

Sang Kusir mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dipukulnya kepalanya sendiri dan berkata, “Kalau saja aku bisa tahu siapa yang membunuhnya…. Mungkin orang itu mengambil obat penawarnya.”

Li Xun Huan memejamkan matanya, wajahnya sungguh kelam. “Mungkin…. Mungkin juga tidak.”

Kata Sang Kusir, “Sayangnya senjata rahasia jenis ini sangat umum. Banyak orang menggunakannya.”

“Ya.”

Lanjut Sang Kusi lagi, “Tapi ada begitu banyak senjata rahasia yang tertancap di badannya. Kemungkinan pembunuhnya lebih dari satu orang.”

“Ya.”

Nafasnya jadi lambat, seperti akan terlelap. Ia begitu kuatir akan keselamatan orang lain, namun tidak dipedulikannya hidupnya sendiri.

Sang Kusir meninju-ninju tangannya sendiri, dan tiba-tiba melompat girang, “Aku tahu! Aku tahu siapa pembunuhnya!”

“Ha?”

Sang Kusir segera berlari ke samping Li Xun Huan. “Pembunuhnya hanya satu orang. Tapi orang itu sanggup menyambitkan 13 senjata rahasia secara bersamaan.”

“Ha?”

Lanjut Sang Kusir, “Ada 13 macam senjata rahasia yang menancap di tubuhnya. Sebenarnya satu saja pun telah sanggup membunuhnya. Hanya ada satu orang di dunia sang sekejam dan segila ini.”

Li Xun Huan mengeluh. “Kau memang benar. Hanya ada satu. Si Tangan Seribu Luo Cha. Akhirnya Si Lebah Madu mati di tangan seorang wanita.”

Lanjut Sang Kusir, “Selain dia, tidak ada orang lain yang dapat menyambitkan 13 macam senjata rahasia secara bersamaan.”

Tiba-tiba ia berhenti, dan berkata. “Seharusnya kau sudah bisa menebaknya.”

Bibir Li Xun Huan menyunggingkan senyum getir, katanya, “Apa bedanya aku tahu atau tidak? Si Tangan Seribu Luo Cha datang dan pergi secara misterius. Ia pasti sudah pergi jauh. Tak ada gunanya mengejar.”

Kata Sang Kusir, “Kita harus dapat menemukan dia.”

Li Xun Huan menggelengkan kepala, katanya, “Tak usahlah. Kalau kau bisa memberiku arak, aku bisa mati dalam keadaan mabuk, aku akan berterima kasih padamu untuk selama-lamanya. Aku sangat, sangat lelah. Aku hanya ingin beristirahat dengan tenang.”

Sang Kusir berlutut, dan tak bisa lagi membendung air matanya. “Tuan Muda, aku tahu betapa lelahnya engkau. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kau tidak merasa bahagia. Kesedihan dan penderitaan, sungguh membuat seseorang merasa letih.”

Tiba-tiba dirangkumnya wajah Li Xun Huan, dan katanya keras-keras, “Namun Tuan Muda, kau tidak boleh mati. Kau harus mengumpulkan tenagamu. Jika kau mati sekarang, semua orang akan berpikir bahwa kau hanyalah seorang pemalas dan pemabuk. Tuan Besar tidak akan dapat beristirahat dengan tenang di alam baka.”

Li Xun Huan memejamkan matanya rapat-rapat, air matanya membeku.

Namun ia tetap tersenyum, sahutnya, “Pemalas, pemabuk, tidak jelek juga kan. Paling tidak lebih baik daripada tuan-tuan palsu itu.”

Wajah Sang Kusir masih bersimbah air mata, katanya, “Tapi… tapi, Tuan Muda, kau sepantasnya mendapatkan reputasi tertinggi di dumia. Kebaikan hatimu tak terkira. Mengapa kau siksa dirimu sendiri? Apakah wanita itu, Lin Shi Yin, sebegitu berharga?”

Seketika, kilat menyambar dari mata Li Xun Huan, dengan berang ia menyembur, “Diam. Beraniberaninya kau sebut namanya!”

Sang Kusir menundukkan kepalanya, katanya, “Maaf, Tuan.”

Li Xun Huan menatapnya beberapa saat, lalu kembali memejamkan matanya. “Baiklah. Kalau kau ingin pergi mencarinya, mari kita pergi. Dunia ini sungguh luas dan waktu kita terbatas. Ke mana kita pergi?”

Sang kusir segera bangkit. “Langit akan membantu mereka yang pedih hatinya. Kita pasti akan menemukannya.”

Baru saja ia akan membopong Li Xun Huan di punggungnya, setetes salju jatuh dari atas pohon ke dahinya. Waktu ia menyekanya, tangannya bernoda darah.

Ada seseorang di atas pohon. Seseorang yang sudah mati. Seorang wanita yang sudah mati.

Ia tergantung di batang pohon itu, tubuhnya telah membeku. Pedang pendek menembus
dadanya, memakukan tubuhnya pada batang pohon.

Kedua orang ini sibuk dengan mayat yang tergeletak di tanah, mereka tidak melihat mayat di atas pohon. Sang Kusir, bagaikan seekor elang, melompat membawa turun mayat wanita itu.

Wajahnya tertutup es, sehingga sulit ditebak usianya. Namun bisa dipastikan, ia adalah seorang wanita yang cantik sebelum kematiannya.

Tiba-tiba Li Xun Huan tertawa. “Kurasa memang Langit yang membantu kita menemukannya.”

Sang Kusir kembali mengepalkan tangannya, sergahnya, “Kudengar Si Tangan Seribu Luo Cha memang sangat kejam. Tapi mengapa setelah dibunuh, pakaiannya pun dilucuti?”

Jawab Li Xun Huan, “Mungkin pakaiannya indah sekali.”
Mata Sang Kusir berbinar. “Kau benar sekali. Kabarnya, ia memang seorang pesolek. Pakaiannya terbuat dari emas, dan penuh taburan batu permata.”

Li Xun Huan tertawa getir. “Jikalau tanduk rusa tidak mahal harganya, dan jika rusa tidak bertanduk, mereka tidak akan dibunuh oleh pemburu.”

“Si pembunuh datang untuk mengambil Rompi Benang Emas, tapi ia tetap tidak bisa melewatkan pakaian yang nilainya tidak seberapa dibandingkan dengan rompi itu. Cuma ada satu orang yang rakus seperti ini.”

Kata Li Xun Huan, “Kau benar. Aku pikir juga cuma ada satu orang.”

Sahut Sang Kusir cepat, “Ia yang mencuri bahkan dari peti mati, ‘Si Mati Demi Uang’.”

Li Xun Huan berkata, “Coba cabut pedang itu.”

Pedang itu halus buatannya, bahkan dihiasi batu kumala.”

Li Xun Huan menambahkan, “Yao Xian menghargai uang bagaikan nyawa. Mana mungkin ia meninggalkan senjata macam ini?”

Sang Kusir berpikir sejenak, lalu berkata, “Tidak banyak senjata yang berharga seperti ini di dunia. Mungkinkan ini perbuatan Fan Xiao An?”

Jawab Li Xun Huan, “Ya. Kurasa mereka bekerja sama.”

Kata Sang Kusir, “Yang satu menghargai uang bagai nyawa, yang satu lagi menganggap uang tak ada artinya. Dua orang ini memiliki pandangan yang sangat bertentangan. Bagaimana mereka bisa bekerja sama?”

Li Xun Huan tertawa. “Tuan Fan terkenal royal akan segala sesuatu, pakaian, makanan, dalam kehidupan,dalam bepergian. Bagi Yao Xian, mengikutinya berarti mendapatkan fasilitas yang tak terbatas. Mengapa tidak?”

Wajah Sang Kusir menjadi cerah, dengan bangga ia berkata, “Ini sangat baik. Dalam cuaca buruk seperti ini, Fan Xiao An tidak dapat naik kuda, dan tidak mungkin ia mau berjalan kaki. Ia pasti naik kereta. Kalau ia naik kereta, kita pasti dapat mengejarnya.”

Memang benar, terlihat jejak roda kereta di atas salju di jalan. Mereka pasti naik kereta.

Kereta macam ini sangat nyaman, tapi tak bisa lari kencang.

Sang Kusir lari dengan segenap kekuatannya. Bahkan dengan seseorang di punggungnya, ia dapat bergerak dengan cepat dan gesit. Tak bisa dipercaya, seseorang dengan ilmu meringankan tubuh sebaik itu, hanya menjadi seorang kusir. Dan lagi, orang dengan ilmu meringankan tubuh setaraf ini seharusnya cukup terkenal dalam dunia persilatan.

Setelah beberapa saat, jejak roda kereta tidak tampak lagi. Tak adanya jejak di salju menandakan bahwa tidak ada yang lewat di sini paling tidak empat sampai enam jam terakhir.

Lalu dilihatnya ada jalan kecil di samping. Ia tidak terlalu memperhatikan jalan kecil ini sebelumnya. Jalan ini menuju ke kuburan seseorang yang kaya raya.

Ditelusurinya jalan kecil itu. Betul saja, jalan itu buntu.

Tapi tampak ada kereta kuda di depan kuburan. Kudanya tidak ada lagi. Tiga orang, dengan mantel bulu domba tergeletak di tanah. Di dalam kereta tampak seseorang dengan pakaian rapi danwajah yang gagah. Usianya 40-an, cambangnya tercukur rapi.

Di jarinya terlihat cincin yang luar biasa indah. Pastilah ini Fan Xiao An.

Ada dua wanita di samping kanan kirinya. Keduanya mati dengan cara yang sama. Jalan darah mereka yang utama tertotok seluruhnya.

Perbuatan siapakah ini?

Sang Kusir bertanya, “Mungkinkah ini perbuatan Yao Xian?”

Sebelum kalimatnya selesai, satu lagi mayat terlihat. Kepalanya botak, wajahnya menelungkup ke tanah. Hanya kedua tangannya memegang…. sepertinya ia berusaha mempertahankan sesuatu sebelum kematiannya, namun tidak berhasil.”

Ini adalah Yao Xian. Ia tidak akan bisa lagi mencuri dari peti mati.

Kata Li Xun Huan, “Tidak jadi soal jika seseorang suka berjudi atau pergi ke rumah bordil. Tapi jangan sampai seseorang berkawan dengan orang yang salah. Mereka akan berakhir seperti Fan Xiao An, bahkan tidak tahu siapa pembunuhnya.”

“Tapi…”

Lanjut Li Xun Huan, “Selain Fan Xiao An, semua orang terkesima. Mereka tak bisa percaya Yao Xian tega berbuat demikian. Terutama kedua wanita itu, yang bahkan mungkin telah menjalin hubungan dengan Yao Xian sebelum mereka mati. Jadi mereka sungguh-sungguh tidak percaya.”

Sang Kusir tiba-tiba berkata, “Kudengar ilmu totok Yao Xian adalah yang terhebat di Provinsi Shan Xi. Ia terkenal dengan julukan ‘Si Jari Satu Pengejar Nyawa’. Kelihatannya ini adalah hasil kerjanya, namun….”

Sambung Li Xun Huan, “Kemungkinan besar Yao Xian telah bersama-sama dengan Fan Xiao An untuk sekian lama. Kali ini Fan Xiao An menginginkan Rompi Benang Emas, dan Yao Xian ingin terus menjadi benalu Fan Xiao An, sehingga ia pun ikut serta. Siapa sangka, rompi itu begitu menawan. Yao Xian tidak lagi mempedulikan persahabatan dan membunuh mereka semua.”

“Tapi jangan lupa, dia juga mati.”

Li Xun Huan tertawa. “Mungkin waktu dia beraksi, seorang iseng mengintip di sekitar kuburan. Yao Xian memergokinya dan berusaha membunuhnya juga untuk membungkamnya. Tapi sebaliknya, ia tidak dapat membungkan mulut orang itu, malah dia yang terbunuh.”

“Tapi ilmu silat Yao Xian tidak rendah. Siapa yang sanggup membunuhnya.”

Ia mendekat ke arah kuburan. Terlihatlah bahwa tidak ada sedikitpun luka di tubuhnya. Hanya ada satu lubang tambahan di tenggorokannya.”

Li Xun Huan masih ada dalam gendongan Sang Kusir. Kedua orang ini menatap sejenak, dan keduanya menghela nafas. Namun di sudut bibir keduanya, terbayang sebentuk senyuman. Hampir bersamaan mereka berkata, “Ternyata dia.”

Sang Kusir tertawa, “Pedang Tuan Fei lebih cepat dari kilat. Tak heran Yao Xian tak sempat melawan.”

Li Xun Huan menutup matanya sambil tersenyum. “Bagus. Bagus sekali. Rompi itu telah menemukan pemilik yang pantas. Kini Si Bandit Bunga Plum pasti akan tertangkap.”

Sang Kusir kemudian berkata, “Mari kita cari Tuan Fei. Ia pasti belum pergi lama.”

Li Xun Huan bertanya, “Buat apa?”

“Untuk mendapatkan obat penawarnya.”

Sahut Li Xun Huan, “Jika Si Lebah Madu punya obat penawarnya, dan obat itu telah diambil, maka obat itu pasti ada pada Yao Xian. Ah Fei tidak akan pernah mengambil barang orang lain. Ia mengambil Rompi Benang Emas itu hanya karena menurut pendapatnya, rompi itu adalah milikku.”

Sang Kusir memandangi perhiasan pada tubuh Fan Xiao An dan kedua wanita itu, lalu mengeluh. “Kau benar. Bahkan jika emas tersebar di seluruh permukaan tanah, Tuan Fei tidak akan mengambil satu pun.”

“Jadi jika obat penawar itu tidak ada pada Yao Xian, percuma juga mencari Ah Fei.”

Sang Kusir mengangkat mayat itu. Ini adalah kesempatan yang terakhir.

Lalu dilihatnya tulisan di dinding kuburan.

“Aku telah membalaskan dendammu, aku mengambil kudamu.”

Li Xun Huan terbahak-bahak. “Tadinya aku hanya menebak, sekarang aku yakin ini benar-benar perbuatannya. Hanya Ah Fei yang tidak membiarkan orang, sekalipun sudah mati, berhutang padanya.”

Dilanjutkannya dengan senyum lebar, “Anak ini sungguh baik. Sayangnya aku….”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, namun Sang Kusir tahu apa yang hendak dikatakannya. Obat penawar itu memang tidak ada.

Sungguh sayang, ia tidak bisa lagi bertemu dengan anak yang baik ini.

Sang Kusir pun kehabisan tenaga. Ia hampir pingsan.

Namun Li Xun Huan tetap tersenyum. “Jangan kuatir akan diriku. Kematian tidaklah seburuk yang kau bayangkan. Sekarang aku sangat lemah, tapi aku jadi merasa tenang. Aku hanya ingin minum arak.” 

Jumat, 27 April 2012

Si Pisau Terbang Li - Khu Lung Bab 4

sambungan ................


Bab 4. Kecantikan yang Menyentuh Sanubari

Sun Kui menjawab, “Kau tahu apa? Jika aku berhasil membunuh Si Bandit Bunga Plum, tidak saja akan kudapatkan ketenaran, tapi juga banyak keuntungan yang lain.”

“Apa?”

Jawab Sun Kui, “Setelah Si Bandit Bunga Plum menghilang tiga puluh tahun yang lalu, orang menyangka dia pergi untuk selama-lamanya. Siapa sangka ia akan kembali lagi? Dalam waktu 8 bulan, ia telah membuat lebih dari 80 kasus, bahkan memperkosa anak perempuan ketua partai Hua San.”

Li Xun Huan berkata, “Orang ini kan sudah berumur 70 tahunan sekarang. Mana mungkin ia masih tertarik pada gadis-gadis?”

Sun Kui hanya melanjutkan, “Setelah ia muncul kembali, setiap orang yang mempunyai benda berharga, atau anak gadis yang cantik, menjadi gelisah. Maka lebih dari 90 keluarga telah mengumumkan bahwa siapa yang dapat membunuh Si Bandit Bunga Plum akan mendapatkan sebagian kekayaan mereka. Bisa kau bayangkan betapa banyak uang yang terlibat di sini.”

Tanya Li Xun Huan lagi, “Jadi ini bukan rahasia lagi.”

Sun Kui mengangguk. “Dan satu lagi. Wanita tercantik di dunia persilatan sudah berjanji akan menikahi siapa pun yang dapat membunuh Si Bandit Bunga Plum.”

Li Xun Huan mengeluh. “Uang dan wanita memang bisa menggerakkan hati manusia. Tak heran kau rela mengorbankan nyawamu demi urusan macam ini. Bahkan membunuh istrimu sendiri. Sepertinya, sudah giliranku untuk mati sekarang.”

Kata Sun Kui, “Sebenarnya di hati kecilku, aku tidak ingin kau mati. Tapi aku harus membunuhmu.”

Tiba-tiba Li Xun Huan tertawa keras, “Sebenarnya di hati kecilmu, benarkah kau yakin kau sanggup membunuhku?”

Sun Kui sudah mulai bergerak, namun segera berhenti waktu mendengar ucapan ini. Ditatapnya Li Xun Huan, lalu bibirnya mengembangkan senyum, katanya, “Orang seperti engkau bisa hidup sampai hari ini. Sepertinya kau adalah orang yang sukar mati. Namun sekarang….”

Tiba-tiba terdengar suara dari luar.

Seseorang tertawa nyaring. “Sebenarnya di hati kecilmu, apakah betul ia tampak keracunan?”

Sun Kui terperanjat. Ia tidak tahu kapan orang berpakaian hijau ini muncul di pintu depan. Wajahnya tampak pucat dan kaku. Mungkin ia memakai topeng, mungkin juga tidak.

Ia menyembunyikan tangannya di balik punggung, dan berjalan masuk sambil berkata, “Jika seseorang menaruh racun dalam anggur seorang peminum, bukankah orang itu sangat tolol? Betul tidak?”

Kalimat terakhir ditujukannya pada Li Xun Huan. Li Xun Huan melihat mata orang ini sangat memikat, jauh berbeda dari wajahnya.

Bagaikan sepasang mutiara di muka seekor babi mati.

Li Xun Huan menatap sepasang mata itu, lalu tersenyum. “Menipu saat berjudi dengan penjudi. Meracuni arak seorang peminum. Memuji kecantikan wanita lain di depan istrimu. Siapa pun yang melakukan ini akan hidup dengan penyesalan.”

Laki-laki berpakaian hijau ini pun berkata dingin, “Waktu orang-orang ini menyesali keputusan mereka, itu sudah terlambat.”

Sun Kui memandang mereka berdua, lalu segera memeriksa botol anggur tadi.

Li Xun Huan tersenyum, “Jangan kuatir. Racunnya ada di situ.”

“Jadi kau…..”

Kata Li Xun Huan, “Mungkin orang lain tak akan tahu bahwa di dalam arak itu ada racunnya. Tapi seorang peminum macam aku, dapat mencium perbedaan aromanya.”

“Tapi aku lihat kau meminumnya!”

Jawab Li Xun Huan, “Aku memang meminumnya. Tapi kumuntahkan lagi saat aku batuk-batuk.”

Tubuh Sun Kui menggigil, botol anggur di tangannya jatuh ke lantai.

Laki-laki berbaju hijau pun berkata, “Sepertinya ia sudah menyesali perbuatannya, tapi sayang sudah terlambat.”

Sun Kui meraung dan segera menyerang laki-laki itu. Tiga kali dengan kepalannya yang kuat.

Dalam waktu dua puluh tahun, ilmu silatnya tidak menurun, bahkan bertambah baik. Kepalannya sungguh bertenaga dan sangat cepat.

Bisa dibayangkan, pukulan ini dapat meremukkan kepala orang.

Kelihatannya laki-laki berbaju hijau ini tak punya waktu untuk mempertahankan diri, bahkan untuk menghindari pukulan itu.

Siapa sangka, ia tidak menangkis dan tidak menghindar. Ia hanya mengibaskan tangannya.

Ia memang bergerak sesudah Sun Kui, tapi kepalan Sun Kui tidak berhasil menyentuh bajunya, malah telapak tangannyalah yang menghantam wajah Sun Kui.

Tampaknya tangan itu digerakkan dengan ringan, namun Sun Kui langsung menjerit-jerit kesakitan, sambil berguling-guling di lantai.

Waktu ia bangkit berdiri, wajahnya sudah tidak keruan. Sebagian ungu bercampur merah, sebagian ungu setengah transparan. Satu mata telah tersodok ke samping.

Laki-laki itu berkata lagi, “Sebenarnya di hati kecilku, aku tidak ingin kau mati. Aku tidak bermaksud membunuhmu, tapi tanganku….”

Separuh wajah Sun Kui yang tidak terkena pukulan terlihat sangat biasa. Namun setengah lagi kelihatan seperti daging busuk. Sangat menjijikkan.

Mata yang masih dapat melihat penuh rasa kaget melihat tangan orang yang hijau. “Tanganmu… tanganmu…”

Tangan laki-laki berbaju hijau itu terbungkus sepasang sarung tangan besi berwarna hijau. Sangat jelek kelihatannya.

Wajah Sun Kui menggambarkan putus sudah harapannya. Dengan suaranya lirih ia berkata, “Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa aku harus bertemu Tangan Setan Hijau. Li… Li Tan Hua. Kau adalah orang baik. Kumohon kau bunuh aku sekarang.”

Li Xun Huan tetap duduk tak bergeming, memandangi laki-laki itu dan tangan hijaunya. Lalu ditendangnya tombak patah yang tergeletak di lantai ke arah Sun Kui.

Sun Kui memungut tombak itu, katanya, “Terima kasih. Terima kasih. Aku takkan melupakan belas kasihanmu, bahkan dalam kematian.”

Lalu digunakannya sisa kekuatannya yang terakhir untuk menusukkan tombak itu ke lehernya. Darah hitam mengalir ke luar seiring dengan kematiannya.

Li Xun Huan menengadah ke atas. “Ada 7 racun utama dalam dunia persilatan. Yang paling mematikan adalah Tangan Setan Hijau. Sepertinya itu bukan bualan.”

Laki-laki berbaju hijau ini pun memandangi tangannya sambil berkata, “Semua orang juga bilang bahwa siapa pun yang kena pukulan tangan ini lebih memilih mati daripada merasakan sakitnya. Sepertinya mereka tidak melebih-lebihkan.”

Mata Li Xun Huan bergerak memandang ke wajahnya. “Namun kau bukan Si Setan Hijau, Yi Ku.”

Laki-laki itu menjawab, “Bagaimana kau tahu? Kenalkah kau padanya?”

“Ya.”

Laki-laki ini hampir tertawa. “Aku tidak bermaksud berpura-pura jadi dia. Aku hanyalah….”

Potong Li Xun Huan, “Yi Ku tidak punya murid.”

Laki-laki berbaju hijau pun menjawab, “Siapa bilang aku muridnya? Ia bahkan tidak cukup berharga menjadi muridKU.”
“O ya?”
“Kau pikir aku bercanda?”
Sahut Li Xun Huan, “Aku tidak tertarik pada asal-usulmu.”

Mata laki-lakinya tiba-tiba membara, menatap Li Xun Huan. “Lalu apa yang ingin kau ketahui? Rompi Benang Emas?”

Li Xun Huan diam saja. Ia hanya memutar-mutar pisau kecil di tangannya.

Pandangan laki-laki berbaju hijau itu juga terarah pada pisau. Katanya, “Orang bilang sekali sambit pisaumu tak pernah luput. Apakah mereka mengada-ada?”

Jawab Li Xun Huan, “Dulu banyak orang yang tidak percaya.”
“Sekarang?”
Di wajah Li Xun Huan tersirat secercah kebanggaan, dan katanya, “Sekarang mereka sudah mati.”

Laki-laki berbaju hijau itu berpikir sejenak lalu tertawa terbahak-bahak. Tawanya sangat aneh, seperti dipaksakan. Walaupun ia tertawa keras, ekspresi wajahnya tidak berubah. “Sesungguhnya, aku ingin sekali mecobanya.”

Kata Li Xun Huan, “Lebih baik jangan.”

Laki-laki itu berhenti tertawa. Katanya, “Rompi itu dipakai orang mati ini kan?”
“Ya.”
Laki-laki itu bertanya lagi, “Kalau aku memindahkan orang mati ini, maka….”
Li Xun Huan memotong cepat. “Maka kau pun akan jadi orang mati!”
Laki-laki itu tertawa lagi. “Aku tidak takut padamu. Tapi aku tidak terbiasa berjudi. Aku pun tidak suka menyerempet bahaya.”

Jawab Li Xun Huan, “Kebiasaan yang sangat baik.”

Laki-laki itu pun berkata lagi, “Tapi aku punya cara untuk membuatmu menyerahkan rompi itu padaku.”

“Oh?”

Kata laki-laki itu lagi, “Kau seharusnya tahu bahwa Tangan Setan Hijau ini dibuat dari logam langka, dicampur dengan ratusan jenis racun. Diperlukan 7 tahun untuk membuatnya. Bisa dikatakan ini adalah senjata terampuh dalam dunia persilatan.”

Sahut Li Xun Huan, “Dalam daftar senjata Bai Xiao Sheng, Tangan Setan Hijau ada di urutan ke 9. Aku yakin itu barang yang sangat berharga.”

Kata laki-laki berpakaian hijau itu lagi, “Jadi jika kuserahkan sarung tangan ini padamu, kau berikan rompi itu padaku?”

Li Xun Huan berpikir sedetik. Lalu jawabnya, “Pisauku dibuat oleh pandai besi biasa dalam waktu 6 jam. Namun menurut daftar senjata Bai Xiao Sheng, pisauku menempati urutan ke-3!”

Laki-laki itu mengeluh. “Maksudmu senjata tidaklah penting. Yang penting adalah manusia pemegang senjata. Begitu kan?”

Sahut Li Xun Huan, “Kau sangat tanggap.”

Kata laki-laki itu lagi, “Jadi kau tidak mau barter?”

Jawab Li Xun Huan, “Kalau aku mau, barang itu sudah ada di tanganmu sekarang.”

Laki-laki berbaju hijau itu berpikir lagi, lalu mengeluarkan sebuah kotak. Dibukanya kotak itu, dan dikeluarkannya sebilah pedang pendek yang berkilauan.

Lalu ia berkata, “Pedang mustika pantas untuk pahlawan. ‘Pedang Usus Ikan’ ini tak ada tandingannya di dunia. Ini cukup berharga untukmu, bukan?”

Li Xun Huan mengernyitkan kening dan bertanya, “Apakah kau ini murid Tetua Naga Rahasia dari
Istana Pedang Rahasia?

“Bukan.”

“Lalu dari mana pedang ini kau dapatkan?”

Laki-laki itu menjawab, “Tua bangka itu sudah mati. Anaknya, You Long Sheng menghadiahkan pedang ini padaku.”

Kata Li Xun Huan, “Pedang ini sungguh berharga. Istana Pedang Rahasia jadi terkenal karena pedang ini. Waktu pedang ini dicuri beberapa tahun silam, mereka mengerahkan segala daya upaya untuk mendapatkannya kembali. Mana mungkin You Long Sheng memberikan pedang ini dengan cuma-cuma?”

Kata laki-laki itu, “Bukan saja pedang itu. Kalau kuminta kepalanya pun, dia akan mempersembahkannya padaku di atas nampan perak. Kau tidak percaya?”

Li Xun Huan berpikir sejenak, lalu menjawab, “Nilai pedang ini jauh di atas rompi itu. Kenapa kau ingin barter?”

Jawab laki-laki itu, “Aku punya tabiat yang aneh. Semakin sulit kudapatkan, semakin ingin aku mendapatkannya.”

Balas Li Xun Huan, “Aku pun punya tabiat yang sama.”

Laki-laki itu bertanya penuh harap, “Jadi kau mau barter?”

“Tidak.”

Laki-laki itu bertanya, “Mengapa kau begitu menginginkan rompi itu?”

Jawab Li Xun Huan, “Bukan urusanmu.”

Lalu laki-laki berbaju hijau itu terkekeh, “Yang kudengar, Li Tan Hua tidak peduli akan ketenaran dan harta benda. Sepuluh tahun yang lalu dilepaskannya ketenarannya, harta bendanya, dan mengasingkan diri. Aku tidak menyangka orang semacam ini tertarik pada sepotong rompi.”

Jawab Li Xun Huan, “Alasanku mungkin sama dengan alasanmu.”

Laki-laki itu menatapnya, “Maksudmu kau menginginkan wanita tercantik di dunia itu?”

Li Xun Huan tersenyum, “Mungkin.”

Laki-laki itu pun tersenyum, “Sudah lama kudengar, kau tak bisa melewatkan wanita cantik dan arak lezat.”

Sahut Li Xun Huan, “Sayangnya kau bukan wanita cantik.”

Laki-laki berbaju hijau itu tertawa. “Bagaimana kau tahu?”

Tawanya tiba-tiba berubah. Berubah menjadi tawa yang mengundang. Selagi tertawa, dilepasnya sarung tangannya, memperlihatkan tangannya.

Li Xun Huan belum pernah melihat tangan yang secantik itu. Ia telah mengenal banyak wanita cantik dalam hidupnya. Bahkan sebelum memegang pisau dan cawan anggur, telah dipegangnya begitu banyak tangan wanita cantik.

Akan tetapi, setiap tangan memiliki kekurangannya masing-masing. Bahkan wanita yang diimpikannya, wanita yang lekat di hatinya, punya kekurangan pada tangannya.

Namun tangan yang dipertunjukkan di hadapannya ini sungguh sempurna.

Orang itu bertanya, “Menurutmu apakah tanganku lebih indah daripada Tangan Setan Hijau?”

Suaranya menjadi sungguh memikat.

Li Xun Huan mengeluh, katanya, “Jika kau menggunakan tangan ini untuk membunuh orang, mereka akan merasa bahagia mati di tanganmu. Mengapa harus kau gunakan Tangan Setan Hijau?”

Orang itu tersenyum lembut, “Apakah tawaranku jadi lebih menarik sekarang?”

Jawab Li Xun Huan, “Masih belum cukup.”

Orang ini terkikik, katanya, “Laki-laki selalu saja rakus, terutama mereka yang gagah. Semakin gagah, semakin rakus jadinya.”

Tubuhnya meliuk sedikit dan tanggallah baju luarnya.

Li Xun Huan menuangkan arak yang tidak beracun, lalu berkata, “Perlu anggur untuk menemani pertunjukan yang menarik.”

Orang ini bertanya lagi, “Belum cukupkah?”

Jawab Li Xun Huan, “Laki-laki memang rakus.”

Tubuhnya memang sangat menggiurkan, bahkan dapat membuat laki-laki merasa tak pantas mendapatkannya. Ia tersenyum manis dan membuka sepatunya. Kakinya pun luar biasa indah, membuat jantung berdebar-debar. Kalau dikatakan banyak laki-laki rela mati diinjak kaki ini, rasanya tidak berlebihan.

Lalu ditunjukkannya kakinya yang panjang.

Li Xun Huan hampir berhenti bernafas.

Tanyanya lagi, “Sudah cukupkah?”

Sambil meneguk anggurnya ia menjawab, “Kalau aku bilang cukup, aku adalah orang paling tolol.”

Lalu ditanggalkan seluruh pakaiannya. Tak terkatakan kemolekan tubuhnya. Dan ia bersedia memperlihatkan segalanya untuk Li Xun Huan.

Yang tertinggal hanya topengnya.

Ditatapnya Li Xun Huan sambil berkata, “Nah, sekarang sudah cukup, bukan?”

Jawab Li Xun Huan lagi, “Belum. Sedikit lagi.”

Katanya, “Kau harus tahu waktunya merasa puas.”

Sahut Li Xun Huan, “Mereka yang cepat puas, biasanya kehilangan banyak kesempatan.”

Ia bertanya, “Mengapa harus kau lihat wajahku? Mengapa tak kau biarkan imajinasimu bekerja sedikit? Mungkin itu akan membuat jadi lebih menarik.”

Li Xun Huan menjawab, “Karena aku tahu banyak wanita yang bertubuh indah, berwajah buruk.”

“Kau pikir wajahku buruk?”

“Mungkin.”

Wanita itu menghela nafas, “Tampaknya kau memang tak mau kalah. Tapi aku tetap berpendapat sebaiknya kau tidak melihat wajahku.”

“Mengapa?”

Sahutnya, “Setelah kudapatkan Rompi Benang Emas itu, aku akan segera pergi. Kita tidak akan pernah bertemu lagi. Telah kuberikan padamu kepuasan yang terbesar dalam hidupmu, jadi barter kita adil. Lebih baik kita tidak usah bertemu lagi.”

“Sangat logis kedengarannya.”

“Namun jika kau melihat wajahku, kau takkan mungkin melupakan aku. Dan mungkin aku tidak bisa bersikap manis lagi padamu. Lalu kau hanya bisa memimpikan aku. Hanya membuatmu putus asa.”

Li Xun Huan tersenyum, “Kau sangat percaya diri.”

Sahutnya, “Mengapa tidak?”

Jawab Li Xun Huan, “Mungkin aku tidak ingin barter.”

“Apa?”

Akhirnya wanita itu melepaskan topengnya. Wajahnya sempurna. Ditambah dengan kemolekan tubuhnya, siapakah laki-laki di dunia yang dapat menampiknya.

Li Xun Huan menghela nafas, “Tak heran Yi Ku memberikan Tangan Setan Hijaunya, dan You Long Shen menghadiahkan mustika keluarganya padamu. Sekarang aku percaya.” Dewi cantik ini hanya tersenyum.

Ia tidak perlu berkata-kata. Karena matanya bisa bicara, senyumnya bisa bicara, tangannya, dadanya, kakinya, semua bisa bicara.

Ia tahu ini sudah cukup. Kalau seorang laki-laki tidak mengerti perasaannya, ia seorang yang luar
biasa bodoh.

Sang dewi hanya menunggu.

Namun Li Xun Huan tetap duduk. Ia malah menuang secawan lagi anggur, dan berkata, “Terima kasih. Mataku sudah begitu lama tidak dipuaskan begitu rupa.”

Ia menggigit bibirnya. “Tak kusangka laki-laki seperti engkau masih perlu arak untuk menambah keberanian.”

Sahut Li Xun Huan, “Karena wanita cantik sulit merasa puas.”

Lalu wanita itu tiba-tiba menghambur ke dalam dekapan Li Xun Huan.

Cawan anggur pecah pun berkeping-keping.

Satu tangannya mulai membelai punggung wanita itu. Tangan yang satu masih memegang pisau, pisau yang kecil dan tajam.

Kata wanita itu dengan lembut, “Ketika seorang laki-laki ada dalam situasi seperti ini, tak sepantasnya ia memegang pisau.”

Li Xun Huan pun berbisik dengan lembut, “Ketika seorang laki-laki memegang pisau, tak seharusnya kau berada dalam pelukannya.”

Wanita muda itu tertawa, “Maksudmu, kau tega membunuhku?”

Li Xun Huan juga tertawa, “Seorang wanita muda tidak seharusnya sombong, dan tidak seharusnya menanggalkan pakaiannya untuk merayu laki-laki. Ia seharusnya mengenakan pakaiannya baik-baik dan menunggu laki-laki itu merayunya. Kalau tidak, bagaimana laki-laki itu bisa merasa puas?”

Sekarang tangannya mengangkat pisau itu. Ujungnya menyentuh leher wanita itu. Setetes darah keluar, mengalir ke dadanya yang putih bersih, bagai bunga plum di tengah padang salju.

Kini wanita itu sangat terkejut. Tubuhnya pun mengejang.

Li Xun Huan tertawa, “Apakah kau masih percaya diri sekarang? Masihkah kau sangka aku tak tega membunuhmu?”

Ujung pisau itu masih menyentuh kulit lehernya.

Bibirnya gemetar, tak sanggup bicara.

Li Xun Huan menghela nafas lagi, dan berkata, “Kuharap kini kau menyadari dua hal. Satu, lakilaki tidak suka jadi pihak yang pasif. Dua, kau tidak secantik yang kau kira.”

Wanita muda itu menggigit bibirnya erat-erat. Katanya, “Aku mengaku kalah. Kumohon simpanlah pisaumu sekarang.”

Li Xun Huan berkata lagi, “Aku ada satu pertanyaan lagi.”

“Katakanlah.”

Kata Li Xun Huan, “Banyak laki-laki akan memberikan apa pun yang kau minta. Oleh sebab itu kau pasti tidak tertarik akan harta benda. Mengapa kau begitu menginginkan rompi itu?”

Sahutnya, “Sudah kukatakan tadi. Semakin sulit didapat, semakin aku menginginkannya.”

Li Xun Huan berpikir sejenak, lalu berkata lagi, “Jika aku tidak mengangkat pisau ini dari lehermu, kau pikir kau akan dapat menyingkir dari pisauku?”

Wanita muda itu segera pergi dari pelukannya, seperti seekor kucing yang terluka.

Setelah beberapa saat, ia tersenyum lagi, “Sudah kukatakan, kau tak akan tega membunuhku.”

“Benarkah? Kenapa?”

Pisau itu masih ada di tangannya, dan katanya lagi, “Jika kau masih ada di sini waktu kalimat ini selesai, akan kubunuh kau, sehingga kau percaya.”

Wanita itu seketika berhenti bicara.

Dikumpulkannya pakaiannya dan melesat keluar.

Ia menjerit keras-keras dengan rasa benci yang mendalam, “Li Xun Huan, kau bukan laki-laki. Kau bahkan bukan manusia! Kau sungguh tak berguna. Tak heran tunanganmu direbut oleh sobat karibmu. Kini aku tahu apa sebabnya!”

Salju menutupi seluruh permukaan tanah. Di bawah cahaya bulan bersalju, pemandangan di luar sangat indah. Namun dapur ini terasa bagaikan kuburan, membuat orang segera ingin pergi.

Tapi Li Xun Huan duduk di sana termenung sendirian.

Matanya penuh kesesakan dan kesedihan. Kata-kata wanita itu, bagaikan jarum yang menusuk relung hatinya yang terdalam.

Tunanganku….. Sahabatku……