Salam dari Taman Bacaan Saulus

Salam dari Taman Bacaan Saulus
Pandangan

Senin, 17 September 2018

BAB 15 KANE AND ABEL . Memulai Kehidupan Profesional dan ... memilih pasangan hidup

Lanjutan ....

Setelah sekian lama absen saya baru sempat melanjutkan cerita ini ... dimana William Kane memulai karier profesionalnya di Bank milik keluarganya. Bank Kane & Cabot.

Selamat menikmati ...


BAGIAN KETIGA
1928 - 1932
BAB  15

Ketika William mulai bekerja sebagai direktur muda di bank Kane & Cabot bulan September 1928, untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa melakukan sesuatu yang sungguh berarti. Ia mulai kariernya di ruangan kecil dekat Tony Simmons direktur investasi bank. Sejak minggu ketika William datang, ia tahu, kalau tak ada suatu pun yang dikatakan, bahwa Tony Simmons mengharap dapat menggantikan Alan Llyod sebagai presiden direktur bank.

Seluruh rencana investasi bank menjadi tanggung-jawab Simmons. Ia dengan cepat mendelegasikan kepada William beberapa aspek pekerjaannya. Khususnya investasi swasta dalam bisnis kecil, tanah, dan setiap kegiatan usaha luar yang melibatkan bank. Salah satu kewajiban resmi William ialah membuat laporan bulanan tentang investasi yang ingin ia rekomendasikan dalam rapat lengkap seluruh dewan. Ketujuh belas warga dewan bertemu sekali sebulan dalam ruangan besar yang berdinding kayu sejenis jati (oak). Dan dihiasi dua buah potret di kedua sisi. Satu potret ayah William. Dan yang lain potret kakeknya. William belum pernah mengenal kakeknya. Tapi ia pasti seorang "pria jempolan" karena telah menikahi Nenek Kane. Masih ada tempat luas di dinding untuk potretnya sendiri.

Selama hari-hari permulaan di bank William bertindak hati-hati. Dan para rekan anggota dewan segera menghargai penilaiannya. Dan mereka mengikuti saran-saran William. Jarang mengadakan pengecualian. Sebab sudah terbukti bahwa saran yang mereka tolak ternyata termasuk saran terbaik yang pernah diberikan William. Pada kesempatan pertama seorang tuan Mayer mencari pinjaman dari bank untuk diinvestasikan dalam "gambar-gambar yang berbicara". Tapi dewan tak mau melihat masa depan atau suatu arti dari ide tersebut. Saat lain, Tuan Paley mendatangi William dengan rencana ambisius untuk menyelenggarakan jaringan siaran radio yang terpadu. Alan Llyod yang penghargaannya terhadap telegrafi sebesar ia menghargai telepathi, tak mau tahu tentang rencana itu. Dewan mendukung pandangan Alan. Dan Louis B. Mayer kelak mengepalai MGM. Sedang William Paley memimpin perusahaan yang menjadi CBS (Columbia Broadcasting System). William percaya akan penilaiannya sendiri dan mendukung dua orang itu dengan uang dari perseroannya. Dan seperti ayahnya, tak pernah memberi tahu para penerima dana tentang sokongannya.

Salah satu segi dari pekerjaan William sehari-hari yang kurang menyenangkan ialah menangani likuidasi dan kebangkrutan dari para klien yang meminjam jumlah besar uang dari bank. Kemudian mereka tak mampu membayar kembali pinjaman mereka. William pada dasarnya bukanlah pribadi yang lunak. Itu telah dialami oleh Henry Osborne dengan pahitnya. Tetapi bila harus mendesak para klien lama dan terhormat untuk melikuidasi saham dan bahkan menjual rumah mereka, maka hal itu membuat orang tak mudah tidur di malam hari. William cepat mengetahui bahwa klien itu terbagi menjadi dua golongan: mereka yang memandang kebangkrutan sebagai bagian bisnis sehari-hari, dan mereka yang ngeri bila mendengar kata itu. Dan mereka ini akan menghabiskan sisa hidup mereka untuk membayar kembali setiap sen yang mereka pinjam. William merasa sudah sewajarnya bersikap tegar terhadap golongan pertama. Tapi selalu jauh lebih lunak bagi golongan kedua, dengan persetujuan Tony Simmons yang menggerutu.

Selama kasus demikian itulah William melanggar salah satu peraturan emas bank. Dan secara pribadi menjadi terlibat dengan seorang klien. Nama klien itu Katherine Brookes dan suaminya Max Brookes. Mereka telah meminjam uang sejuta dollar lebih dari bank Kane & Cabot untuk investasi jual beli tanah yang pasarannya sedang menanjak di Florida tahun 1925. Suatu investasi yang tak akan pernah didukung oleh William seandainya ia pada saat pinjaman itu terjadi sudah bekerja di bank. Tetapi Max Brookes itu semacam pahlawan di Massachusetts. Salah seorang pendukung balon dan penerbang pemberani serta sahabat karib Charles Lindbergh. Itu semua masuk perhitungan. Kematian Brookes yang tragis ketika ia menerbangkan pesawat kecil, hanya 3 meter di atas tanah, dan menumbuk pohon hanya 90 meter setelah lepas landas telah diliput dalam pers dan tersebar di seluruh Amerika sebagai suatu kehilangan tokoh nasional.

William bertindak sebagai wakil bank langsung mengambil-alih tanah milik Brookes yang sudah bangkrut. Melikuidasinya. Dan mencoba mengurangi kerugian bank dengan menjual semua tanah milik di Florida kecuali tanah seluas 2 akre tempat rumah mereka. Kerugian bank ternyata masih meliputi $300.000. Beberapa orang direktur agak mencela keputusan cepat William untuk menjual tanah; suatu keputusan yang tak disetujui Tony Simmons. William telah memasukkan ketidaksetujuan Tony Simmons terhadap tindakan-tindakannya ke dalam notulen, maka beberapa bulan kemudian ia dapat menunjukkan bahwa bank akan kehilangan sebagian besar investasi aslinya sebesar $1000.000 lebih, bila mereka menahan tanah tersebut. Pembuktian visi prospek ini tidak membuat William disayang Tony Simmons. Walau hal itu membuat anggota dewan lainnya menyadari kecerdasan pandangannya yang luar biasa.

Ketika William telah melikuidasi semua milik bank atas nama Max Brookes, ia memalingkan perhatiannya terhadap Nyonya Brookes yang masih memiliki garansi pribadi bagi utang-utang mendiang suaminya. Walaupun William selalu mencoba mengamankan garansi sedemikian itu atas tiap pinjaman kepada bank, namun pelaksanaan kewajiban seperti itu bukannya jalan yang direkomendasikannya kepada sahabat-sahabatnya. Betapapun mereka mempercayai spekulasi ini. Sebab bila gagal, hampir pasti membuat sangat sedihnya pemberi jaminan'

William menulis surat resmi kepada Nyonya Brookes. Ia menyarankan supaya membuat janji untuk membicarakan keadaan itu. William telah membaca berkas Brookes dengan cermat. Ia tahu bahwa Nyonya Brookes baru berusia 22 tahtn. Seorang putrid Andrew Higginson, anggota keluarga Boston yang lama dan terkenal, cucu-sepupu Henry Ire Higginson, pendiri Simfoni Boston. Ia juga mengetahui bahwa nvonya ini memiliki aset sendiri yang cukup substansial. Ia tak menyukai gagasan meminta nyonya itu memindahkan aset tersebut ke bank. Tapi ia dan Tony Simmons, sekali ini sepakat, bahwa itulah garis yang harus dianut. Maka ia menabahkan diri untuk menghadapi pertemuan yang tak menyenangkan ini.

Yang tak ditawar-tawar oleh William ialah Katherine Brookes sendiri. Dalam kehidupannya di kemudian hari ia selalu dapat mengenang dengan rinci kejadian di pagi hari itu. Ia habis bercek-cok dengan Tony Simmons mengenai investasi substansial dalam kuningan dan timah yang ingin ia rekomendasikan kepada dewan. Permintaan dari pihak industri akan kedua metal itu tetap meningkat. Dan William percaya bahwa pasti akan disusul dengan kekurangan dunia akan bahan tersebut' Tony Simmons tak dapat menyetujuinya. Ia berpendapat mereka seharusnya lebih banyak menginvestasikan uang tunai ke dalam bursa saham. Dan persoalan itu masih menggejolak di benak William,ketika sekretarisnya mengantarkan nyonya Brookes ke dalam kantornya. Dengan satu senyum coba-coba nyonya itu menghapus seluruh urusan kuningan, timah, dan segala kekurangan dunia dari pikiran William. Sebelum nyonya Brookes dapat duduk ia sudah berada di sisi lain mejanya. Ia mempersilakannya duduk di kursi. Hanya untuk meyakinkan diri bahwa nyonya Brookes tidak akan lenyap seperti khayalan belaka bila diamati lebih teliti lagi. William belum pernah menjumpai wanita yang menurut pandangannya berkecantikan setengah kecantikan Katherine Brookes. Rambut pirang panjang terjuntai menjadi untaian keriting di pundaknya. Dan rambut suri kecil terlepas bebas dari topi dan melingkar di pelipis. Kenyataan bahwa ia sedang berkabung sama sekali tidak mengurangi kecantikan tubuhnya yang ramping. Dan kerangka tulang yang molek memberi kepastian bahwa ia adalah wanita yang akan nampak cantik pada usia berapa pun. Ma-tanya yang coklat sungguh hebat. Mata itu juga jelas-jelas mencemaskan William. Begitu pula apa yang hendak ia katakan.

William mengusahakan nada bisnis dalam suaranya. "Nyonya Brookes, bolehkah saya menyatakan turut berduka cita atas kematian suami nyonya. Dan saya sungguh menyesalkan keharusan meminta nyonya datang ke mari hari'ini."

Satu kalimat mengandung dua dusta. Kalimat yang tentunya benar lima menit sebelum itu. Ia menunggu nyonya Brookes berbicara.

"Terimakasih, Tuan Kane. " Suaranya lembut. Bernada rendah. Empuk. "Saya sadar akan kewajiban saya terhadap bank anda. Dan yakinlah saya akan melakukan segalanya dalam batas kemampuan saya untuk memenuhi kewajiban tersebut. "

William tak berkata sepatah pun. Ia mengharap nyonya Brookes akan terus bicara. Tapi tidak. Maka William mengutarakan keadaan tanah milik Max Brookes. Nyonya Brookes mendengarkan dengan mata tertunduk.

“Nah, nyonya Brookes, anda bertindak sebagai penjamin pinjaman suami anda. Dan ini mengharuskan kami menanyakan aset pribadi anda." William memeriksa berkasnya. "Anda memiliki investasi 80.000 dollar. Kiranya uang keluarga anda sendiri. Dan tujuh belas ribu empat ratus lima puluh enam dollar dalam rekening anda sendiri."

Nyonya Brookes mendongak. "Pengetahuan anda tentang keadaan finansial saya pantas dipuji, Tuan Kane. Namun perlu ditambah: Taman Buckhurst, rumah kami di Florida atas nama Max, dan beberapa perhiasan berharga milik saya sendiri. Semua itu saya taksir seharga tiga ratus ribu dollar. Yaitu jumlah yang anda tagih. Dan saya telah mengatur untuk merealisasikan jumlah tersebirt sepenuhnya bagi anda selekas-lekasnya."

Hanya ada sedikit getaran dalam suaranya. William memandangnya kagum.

“Nyonya Brookes, bank tidak bermaksud mengambil milik anda yang terakhir. Dengan persetujuan anda kami akan menjual semua saham dan surat obligasi anda. Semua hal lain yang anda sebut, termasuk rumah, kiranya tetap akan menjadi milik anda."

Nyonya Brookes ragu. "Kemurahan hati anda sangat saya hargai, Tuan Kane. Namun saya tidak menghendaki berhutang sesuatu kepada bank anda. Atau membiarkan nama suami saya dalam awan kegelapan." Sedikit getaran lagi. Tapi cepat diatasi. "Bagaimanapun juga saya telah memutuskan menjual rumah di Florida dan kembali ke rumah orang tua saya secepat mungkin."

Nadi William memburu ketika mendengar bahwa Nyonya Brookes akan kembali ke Boston.
"Jika demikian, mungkin kita dapat mencapai kesepakatan tentang hasil penjualan." kata William.

"Itu dapat kita laksanakan sekarang." katanya datar. "Anda harus memperoleh seluruh jumlah itu."

William mengusahakan pertemuan sekali lagi. "Jangan membuat keputusan yang terlalu tergesa-gesa. Kiranya akan bijaksana bila berkonsultasi dengan kolega-kolega saya dan membahas hal ini dengan anda lagi."

Nyonya Brookes mengangkat bahu sedikit. "Sesuka anda. Saya sungguh-sungguh tak mempedulikan uang itu. Dengan cara apa pun. Dan saya tidak mau menyulitkan anda lagi."

William berkedip. "Nyonya Brookes, saya harus mengakui sangat tercengang atas sikap anda yang murah hati itu. Paling sedikit izinkanlah saya mengajak anda makan siang."
Untuk pertama kalinya Nyonya Brookes tersenyum. Menunjukkan lesung di pipi kanan yang tak terduga-duga. William memandangnya dengan senang. Dan berusaha keras untuk memancing munculnya lagi selama berlama-lama makan siang di Ritz. Ketika ia kembali ke mejanya lagi sudah pukul 3 lewat.

“Makan siangnya lama amat William" komentar Tony Simmons.

“Ya, masalah keluarga Brookes ternyata lebih pelik daripada yang kuperkirakan."

“Bila kupelajari berkas-berkasnya nampaknya cukup gamblang. " kata Simmons. "Nyonya Brookes kan tidak mengeluh mengenai tawaran kita, bukan? Kiraku kita terlalu murah hati dalam situasi sekarang ini.."

'Ya, ia berpendapat demikian pula. Aku harus meyakinkannya tidak melepas uang dollarnya yang terakhir  untuk membengkakkan dana kita sendiri."

Tony Simmons terpana. "Itu bukan suara William Kane yang kita kenal dan kita sayangi sekali. Namun€memang bank belum pernah mengalami masa sebaik sekarang ini untuk bermurah hati."

William menyeringai. Sejak hari kedatangannya ia semakin tidak sepakat dengan Tony Simmons tentang arah pasar saham. Pasar secara tetap bergerak ke atas sejak Herbert Hoover dipilih ke Gedung Putih bulan Nopember 1928. Sebenarnya hanya 10 hari ke-mudian, Bursa Saham New York membukukan volume tertinggi 6 juta saham lebih dalam sehari. Tapi William yakin bahwa kecenderungan naik yang diperbesar dengan arus uang banyak dari industri mobil akan menghasilkan inflasi harga hingga titik keti-dakstabilan. Sebaliknya Tony Simmons yakin bahwa kenaikan ini akan berkelanjutan. Maka ketika William dalam rapat-rapat dewan menganjurkan sikap hati-hati, ia jelas dikesampingkan. Namun dengan uang perseroannya, ia bebas mengikuti intuisinya, lalu mulai menanam investasi dalam tanah, emas, komoditi, dan bahkan dalam beberapa lukisan gaya impresionis yang dipilihnya secara cermat. Hanya menyisihkan 50% asetnya dalam saham.
Ketika Bank Reserve Federal di New York mengeluarkan keputusan bahwa tak akan memberi rabat pinjaman kepada bank yang mengeluarkan uang kepada nasabah yang hanya bertujuan berspekulasi, William menganggap bahwa para spekulan mulai dimasukkan ke dalam peti mati. Ia langsung memeriksa program peminjaman bank. Dan ia memperkirakan Kane & Cabot mengeluarkan $26 juta lebih dalam pinjaman-pinjaman seperti itu. Ia memintaTony Simmons untuk menarik jumlah tersebut karena ia yakin bahwa dengan peraturan pemerintah di bidang operasional seperti itu, harga saham pasti akan merosot dalam jangka panjang. Mereka hampir-hampir berkelahi dalam rapat dewan bulanan. Dan di dalam pemilihan William dikalahkan dengan suara 12 lawan 2.

Tanggal 21 Maret 1929, Blair dan Perusahaannya mengumumkan konsolidasi dengan Bank Amerika. Itu merupakan penggabungan yang ketiga dalam rangkaian merger yang nampaknya menunjukkan masa depan cerah. Dan tanggal 25 Maret Tony Simmons mengirim nota kepada William menunjukkan bahwa pasar membuat terobosan lagi menuju rekor sepanjang masa. Dan ia bergerak memasukkan uang bank lebih banyak lagi ke dalam saham. Pada saat itu William sudah mengatur kembali modalnya sehingga hanya tinggal 25% ditanam dalam pasar saham. Tindakan ini telah memakan biaya $2 juta. Dan telah menyebabkan William mendapat teguran penuh kecemasan dari Alan Llyod.

“Ya ampun, kuharap engkau tahu apa yang sedang kau lakukan,William."
“Alan, aku sudah mengalahkan pasar saham sejak aku umur 14 tahun. Dan aku selalu melakukannya dengan melawan arus kecenderungan."

Tetapi karena pasar menanjak terus selama musim panas 1929, maka bahkan William pun berhenti menjualnya. Ia bertanya-tanya jangan-jangan penilaian Simmons memang benar.
Menjelang masa pensiun Alan Llyod semakin dekat, maksud jelas Tony Simmons untuk menggantikanya sebagai presiden direktur mulai Nampak seperti fait accompli. Prospek itu meresahkan William. Ia menganggap pemikiran Simmons terlalu kon-vensional. Ia selalu semeter di belakang orang-orang lain dalam pasar. Hal itu baik-baik saja selama tahun-tahun gemuk bila investasi berjalan lancar. Tetapi dapat berbahaya bagi bank dalam masa-masa kurus dan penuh persaingan. Seorang investor yang cerdik, demikian pandangan William, belum tentu lari bersama kawanannya. Dengan suara menggeledek ataupun sebaliknya.

Tapi ia memperhitungkan sebelumnya kawanan itu akan berpaling ke arah mana dalam masa berikutnya. William masih merasakan bahwa investasi dikemudian hari dalam bursa saham nampak penuh risiko. Sedang Tony Simmons yakin bahwa Amerika sedang memasuki zaman keemasan.

Masalah William yang lain ialah karena Tony Simmons baru berusia 39 tahun. Itu berarti bahwa William tidak dapat mengharapkan menjadi presiden direktur bank Kane & Cabot selama paling sedikit 26 tahun lagi. Itu tak sesuai lagi dengan apa yang di Harvard disebut "pola karier seseorang".

Sementara itu citra Katherine Brookes tetap jelas membekas di benak William. William menyuratinya sekerap mungkin mengenai penjualan saham dan surat obligasinya. Surat-surat resmi diketik, yang menimbulkan jawaban tak lebih dari surat-surat resmi ditulis tangan. Nyonya Brookes pasti mengira William adalah bankir paling teliti di seluruh dunia. Kemudian dalam awal musim gugur Nyonya Brookes menulis telah menemukan perusahaan yang mau membeli tanahnya di Florida. William menyurati supaya ia diperbolehkan bernegosiasi syarat-syarat penjualan atas nama bank dan Nyonya Brookes setuju.

William bepergian ke Florida di awal bulan September 1929. Nyonya Brookes menjemputnya di stasiun. Dan William terpesona karena penampilan pribadi Nyonya Brookes jauh lebih cantik daripada yang ada dalam ingatannya. Angin sepoi menghem-bus gaun hitamnya menempel tubuh ketika ia berdiri menanti di perron. Sosok ini menunjukkan profil yang memastikan setiap pria kecuali William akan meman-dangnya untuk kedua kalinya. Mata William tidak pernah meninggalkannya.

Nyonya Brookes masih berkabung. Dan kelakuannya terhadap William terasa terkendali dan korek. William semula tak bergairah untuk bertindak mengesankan baginya. Ia mengadakan perundingan selama mungkin dengan petani yang hendak membeli Buckhurst Park. Dan meyakinkan Katherine Brookes untuk menerima 1/3 dari harga yang sudah disetujui, sedang bank menerima yang 2/3. Akhirnya ketika dokumen-dokumen hukum itu sudah ditandatangani, ia tak lagi mempunyai dalih untuk tidak pulang ke Boston. William mengundangnya makan malam di hotel. Dengan keputusan untuk mengungkapkan sesuatu dalam perasaannya terhadap Nyonya Brookes. Bukan  untuk pertama kalinya Nyonya Brookes mengejutkan William. Sebelum William memulai pembicaraan, Nyonya Brookes memintanya, sambil mutar-mutar gelas dan menghindari pandangan William, apakah suka tinggal beberapa hari di Buckhurks Park.

“Semacam liburan bagi kita berdua'" Nyonya Broorkes memerah. Dan William tetap bungkam.

Akhirnya Nyonya Brookes berani melanjutkan “Saya tahu, ini gila, tapi William perlu menyadari bahwa aku akhir-akhir ini sangat kesepian. Hal yang luar biasa ialah bahwa aku lebih menikmati beberapa hari akhir-akhir ini dengan William daripada masa-masa lain seingatku." Ia memerah lagi' "Aku telah menjelaskannya dengan buruk. Dan engkau pasti memikirkan yang terburuk tentang diriku."

Nadi William menggejolak. "Kate, selama 9 bulan terakhir ini aku ingin mengatakan sesuatu yang paling sedikit sama buruknya."

“Nah, kamu akan tinggal beberapa hari William?"

“Ya Kate, aku mau."

Malam itu Kate Brookes menempatkan William dalam kamar tamu utama di Buckhurst Park. Dalam kehidupannya kelak William selalu memandang beberapa hari itu sebagai masa selingan emas dalam hidupnya. Ia bermobil dengan Kate. Dan Kate mendahului keluar sebelum dibukakan pintu. Ia berenang dengannya dan Kate jauh meninggalkannya. Ia berjalan-jalan dengannya dan selalu pulang kembali lebih dahulu. Dan akhirnya terpaksa main poker dengannya dan menang $3,5 juta dalam 3,5 jam main.

"Apa menerima cek?" kata Kate anggun.

"Engkau lupa, aku tahu berapa nilaimu, Nyonya Brookes. Tapi aku akan berbisnis denganmu. Kita akan terus main, hingga akhirnya engkau memperolehnya kembali."

"Itu mungkin berlangsung beberapa tahun. “ kata Kate.

"Aku akan menunggu. " jawab William.

Tanpa disengaja ia menceritakan kepada Kate peristiwa-peristiwa yang telah lama terpendam dalam masa silam. Hal-hal yang hampir tak pernah diperbincangkan. Bahkan dengan Matthew juga tidak. Rasa hormat terhadap ayahnya. Cinta kepada ibunya. Kebencian yang membuta terhadap Henry Osborne. Ambisinya bagi Kane & Cabot. Pada gilirannya Kate menceritakan masa kanak-kanaknya di Boston. Masa ia sekolah di Virginia. Dan pernikahannya dengan Max Brookes.

Tujuh hari kemudian ketika Kate mengucapkan selamat jalan kepada William di stasiun, William menciumnya untuk pertama kali.

'Kate, aku akan mengatakan sesuatu yang sangat lancang. Aku harap suatu saat engkau akan lebih sayang kepadaku daripada kepada Max."

“Aku mulai merasakan demikian sekarang ini. " kata Kate tenang.

William tetap menatapnya. “Jangan ke luar dari hidupku selama 9 bulan lagi."

“Aku tak bisa. Engkau telah menjual rumahku."

·                *           *

Dalam perjalanan pulang ke Boston William mengkonsep laporan tentang penjualan Buckhurst Park. Ia merasa lebih bahagia dan lebih mapan daripada pada waktu-waktu lain sejak kematian ayahnya. Pikiran

William terus-menerus kembali ke Kate dan lima hari yang baru saja berselang. Tepat sebelum kereta api bergerak ke Stasiun Selatan, ia menulis surat cepat-cepat dengan tulisannya yang rapi tapi hampir tak terbaca.

Kate. Kurasa aku sudah merindukan dirimu. Padahal ini baru beberapa jam saja. Tulislah surat dan beritahu bila akan datang ke Boston. Sementara itu aku akan kembali menekuni bisnis bank.
Aku ternyata dapat melupakanmu selama waktu yang cukup lama (yaitu 10 atau kurang lebih 5 menit) dalam satu kurun waklu.
Sayang,
William.

Ia baru saja memasukkan amplop ke dalam bis surat di Charles Street, ketika semua gagasan tentang Kate terusir dari pikirannya karena teriakan anak penjual koran.
"Wall Street jatuh!"

William menyambar koran selembar. Dan cepat-cepat membaca berita utama. Semalam pasar sudah terjungkir. Beberapa ahli keuangan memandangnya sebagai suatu penyesuaian saja. William memandangnya sebagai permulaan tanah longsor yang telah beberapa bulan ia ramalkan.

Ia buru-buru ke bank dan langsung ke ruangan presiden direktur.

"Saya rasa pasar akan kembali stabil dalam jangka panjang. " kata Alan Llyod menenteramkan.

"Tak akan" kata William. "Pasar sudah terlalu jenuh. Jenuh dengan investor-investor kecil yang mengira mereka masuk tinggal mencari untung dengan cepat. Mereka pasti lari sekarang menyelamatkan hidup mereka. Tak tahukah kau balon hamper meletus? Aku akan menjual segala-galanya. Menjelang akhir tahun alasnya akan menghilang dari pasar ini. Dan aku telah memperingatkan dirimu di bulan Februari, Alan."

"Aku masih belum setuju denganmu, William. Tapi aku akan mengundang rapat pleno dewan esok pagi. Kita akan dapat mendiskusikan pandangan-pandanganmu secara lebih rinci."

"Terima kasih." kata William. Ia kembali ke ruangannya. Dan menyambar telepon antar kantor.

"Alan, aku tadi lupa mengatakan kepadamu. Aku telah menemukan wanita yang akan kunikahi."

'Apa ia sudah tahu?" tanya Alan.

'Belum" jawab William.

*Oh, begitu. " kata Alan. "Kalau begitu pernikahanmu sangat mirip kariermu sebagai bankir, William. Setiap orang yang terlibat secara langsung baru diberitahu setelah engkau mengambil keputusan. "

William tertawa. Mengambil telepon lain. Menjual semua miliknya di pasar. Dan mencairkannya dalam tunai. Tony Simmons tepat baru saja masuk. Ia berdiri di pintu terbuka. Ia mengamati William. Dan mengira ia sendiri sudah menjadi gila.

“Engkau bisa jatuh miskin dalam semalam dengan menjual sahammu,dalam keadaan pasar seperti sekarang ini."

“Aku akan kehilangan lebih banyak lagi bila aku menahannya. " jawab William.

Minggu berikutnya ia kehilangan $1000.000 lebih. Itu pasti mengguncangkan seseorang yang kurang percaya diri.

Dalam rapat dewan hari berikutnya ia juga kalah suara (8 lawan 6) ketika mengusulkan likuidasi saham-saham bank. Tony Simmons meyakinkan dewan, tidaklah bertanggungjawab bila tidak bertahan sebentar lagi. Satu-satunya kemenangan kecil yang dibukukan William ialah meyakinkan kolega-kolega direktur supaya bank tidak menjadi pembeli saham lagi.

Pesar menanjak sedikit pada hari itu. Itu memberi kesempatan kepada William untuk menjual sahamnya sendiri. Pada akhir pekan, ketika indeks telah naik dengan mantap selama empat hari berturut-turut, William mulai bertanya-tanya apakah ia tidak bereaksi kelewat batas. Namun latihan di masa silam dan nalurinya mengatakan bahwa ia telah membuat keputusan yang benar. Alan Llyod tak berkata apa-apa. Uang William yang hilang bukan miliknya. Dan ia mengharapkan segera pensiun dengan tenang.

Pada tanggal 22 Oktober pasar anjlok lagi. Dan Lagi-lagi William meminta-minta kepada Alan Llyod supaya keluar selagi ada kesempatan. Kali ini 'Alan mendengarkannya dan mengizinkan William untuk memerintahkan penjualan saham bank yang besar-besar. Hari berikutnya pasar merosot lagi melalui penjualan dengan harga bantingan. Dan tak ada artinya lagi persoalan apa yang hendak diselesaikan bank, sebab memang tidak ada pembelinya lagi. Pengobralan saham menjadi suatu rebutan, sebab setiap investor kecil di Amerika menawarkan penjualan untuk mencoba keluar dari bawah. Demikian besar paniknya sehingga pita pengetik telegram tak mampu menangani semua transaksi. Hanya setelah Bursa dibuka di pagi hari, setelah para pegawai bekerja semalam suntuk, para pedagang tahu secara faktual mereka kehi-langan berapa sehari sebelumnya.

Alan Llyod mengadakan pembicaraan per telepon dengan bank Morgan. Dan ia setuju Kane & Cabot bergabung dengan kelompok bank-bank yang mencoba menanggulangi keruntuhan nasional dengan saham-saham besar. William tidak menolak kebijakan ini, dengan alasan bila harus diadakan usaha kelompok, Kane & Cabot harus terlibat secara bertanggungjawab dalam tindakan itu. Dan sudah barang tentu bila berhasil, semua bank akan lebih baik kedaannya. Richard Whitney, wakil presiden direktur Bursa Saham New York, wakil kelompok Morgan, telah bergabung, mendasari Bursa hari berikutnya, dan menanam investasi $30 juta dalam saham-saham kuat. Pasar mulai jadi. Pada hari itu telah diperdagangkan sejumlah 12.894.650 saham. Dan selama dua hari berikutnya pasar tetap mantap. Setiap orang, dari Presiden Hoover hingga para pesuruh pialang mengira bahwa yang terburuk kini telah lewat.

William telah menjual hampir semua saham pribadinya. Dan uangnya sendiri yang hilang relative lebih kecil daripada uang bank yang hilang. Bank kehilangan 3 juta lebih dalam 4 hari. Bahkan Tony Simmons telah mulai mengikuti semua saran William. Pada tanggal 29 Oktober, hari Selasa Hitam, sebagaimana Hari itu kemudian dikenal, pasar jatuh lagi. Enam belas juta enam ratus sepuluh ribu tiga puluh buah saham diperdagangkan. Bank di seluruh negeri tahu bahwa nyatanya mereka kini bangkrut. Jika setiap nasabah mereka meminta uang tunai, atau kalau mereka pada gilirannya mencoba menarik kembali semua pinjaman mereka, seluruh sistem perbankan akan tenggelam cukup dalam.

Scbuah rapat dewan tanggal 9 November dibuka dengan mengheningkan cipta satu menit lamanya untuk mengenang John J. Riordan, ketua Perseroan Dearah dan seorang direktur Kane & Cabot, yang bunuh diri dengan menembak diri sendiri di rumahnva. Itu adalah bunuh diri kesebelas di kalangan perbankan di Boston dalam waktu dua minggu. Almarhum adalah sahabat karib Alan Llyod sendiri. Pak Presiden Direktur melanjutkan pengumuman bahwa Kane & Cabot telah kehilangan $4 juta. Kelompok Morgan gagal dalam usaha mempersatukan bank. Dan kini setiap bank diharapkan bertindak demi keuntungan sendiri. Hampir semua investor kecil bank jatuh. Dan kebanyakan yang lebih besar mendapat kesulitan uang tunai.. Rakyat banyak yang marah mulai berkumpul di luar bank di New york. Dan penjaga yang lebih tua harus dilengkapi dengan Pinkerton. Bila begini ini seminggu lagi, kata Alan, maka setiap orang dari kelompok kita akan tergusur. Ia mengajukan permohonan berhenti. Tapi para direktur tak mau tahu tentang hal itu. Kedudukannya tidak berbeda dari kedudukan setiap presiden direktur setiap bank Amerika yang besar. Tony Simmons juga memohon pemberhentian. Tapi kolega-kolega direktur tak mau tahu. Tony nampak seolah-olah ia tak lagi ditakdirkan untuk menggantikan tempat Alan Llyod. Maka William tetap bungkam menunjukkan budi luhur. Sebagai kompromi Simmons dikirim ke London untukmenangani investasi luar negeri. Bebas dari marabahaya, demikian pikir William, yang kini ditunjuk sebagai Direktur Investasi yang mengurusi seluruh investasi bank. Ia langsung mengundang Matthew Lester bergabung dengannya sebagai wakilnya. Kali ini Alan Llyod bahkan tidak mengernyitkan alis.

Matthew setuju bergabung dengan William pada awal musim semi. Itu adalah saat secepat ayahnya dapat melepaskannya. Keluarga Lester tidak kekurangan kesulitan sendiri. Maka William menangani sendiri bagian investasi itu hingga Matthew datang. Musim  dingin tahun 1929 ternyata menjadi waktu yang sangat merepotkan baginya. Sebab ia melihat perusahaan kecil maupun besar yang dijalankan oleh seseorang dari Boston yang ia kenal, gulung tikar. Bahkan  sementara lamanya ia bertanya-tanya apakah Kane & Cabot dapat bertahan hidup.

Pada masa Natal William tinggal seminggu lamanya di Florida di tempat Kate. Ia menolongnya mengepak milik Kate dalam kotak teh untuk perjalanan kembali ke Boston. (Kotak-kotak itu diperbolehkan Kane & Cabot untuk dimiliki Kate sendiri. Demikian goda Kate.) Hadiah Natal William memenuhi sebuah kotak teh lain lagi. Dan Kate merasa bersalah atas  kemurahan hati William.

“Seorang janda tak berduit mau berharap ganti memberikan hadiah apa kepadamu?" katanya berpura-pura. William menjawab dengan mengepak Kate ke dalam kotak teh sisanya. Dan memasang label “Hadiah William".

Ia  kembali ke Boston penuh semangat. Sambil berharap semoga masa bersama Kate meramalkan permulaan tahun yang lebih baik lagi.Ia menempati bekasruang kerja Tony Simmons untuk membaca pos pagi. Ia tahu harus memimpin dua atau tiga rapat likuidasi seperti biasanya yang telah dijadwalkan pada minggu itu. Ia menanyakan kepada sekretaris siapa yang harus ditemuinya lebih dahulu.

“Kiranya ada yang bangkrut lagi, tuan Kane"

“Oh ya, aku ingat kasus itu. " kata William. Nama itu tak berarti apa-apa baginya. 

"Semalam aku telah membaca berkasnya. Peristiwa sangat menyedihkan. Pukul berapa gilirannya?"

"Pukul sepuluh. Tapi orang itu telah berada di lobi menunggu anda, tuan."

"Baik" kata William. *Antarkan ia masuk. Mari segera kita selesaikan."
William membuka berkasnya lagi. Untuk mengingatkannya kembali akan fakta-fakta yang menonjol.

Nama klien yang asli dicoret yaitu Davis Leroy. Sudah diganti dengan nama tamu pagi itu: Abel Rosnovski.

William masih ingat segar akan pembicaraannya yang terakhir dengan Tuan Rosnovski. Dan ia menyesalinya.

Kamis, 10 Agustus 2017

BAB 14 KANE DAN ABEL. WILLIAM KANE KULIAH DI HARVARD

Sementara Abel DI Columbia University, Kane hebat di Harvard. Dimasa depan keduanya akan bertarung sengit dalam sisi bisnis, namun yang lucu dalam sisi kemanusiaan mereka saling bantu tanpa tahu siapa yang dibantu dan terbantu. Akhirnya ... silakan ikuti terus kisah yang bagus ini ....

BAB 14

William dengan Matthew memulai tahun pertamanya di Harvard dalam musim gugur tahun 1924. Walau tak disetujui neneknya, William menerima beasiswa matematika Hamilton Memorial. Dan dengan biaya $290 ia memanjakan diri membeli "Daisy", mobil Ford Model T, yang merupakan kesayangan pertama dalam kehidupan William. Daisy dicatnya kuning cerah. Ini menyebabkan harganya jatuh menjadi setengahnya. Tapi sekaligus melipatgandakan jumlah teman-teman gadisnya. Calvin Coolidge memenangkan pemilihan dengan kelebihan suara amat banyak untuk kembali ke Gedung Putih. Dan volume Bursa Saham New York mencapai rekor selama 5 tahun yaitu dengan jumlah 2.336.160 saham.

Kedua anak muda itu ("kita tak lagi dapat menyebut mereka sebagai anak-anak" demikian penjelasan Nenek Cabot) sudah merindukan kuliah. Setelah menghabiskan musim panas dengan melampiaskan energi main tennis dan golf mereka siap mengejar sesuatu yang lebih serius. William mulai belajar pada hari pertama ia tiba di kamar baru mereka di 'Paltai Emas". Jauh lebih bagus daripada kamar sempit mereka di St. Paul. Sementara Matthew mencari klab dayung di Universitas. Matthew terpilih menjadi kapten awak perahu dari tahun pertama. Dan William meninggalkan buku-bukunya setiap minggu siang untuk mengamati temannya dari tebing Sungai Charles. Secara diam-diam ia menyukai sukses Matthew. Tetapi secara lahiriah ia memberi komentar pedas.'Hidup itu bukan seperti 8 orang besar mendorong potongan kayu berat melintasi air berombak. Sedang seorang yang lebih kecil meneriaki mereka." demikianlah penjelasan William dengan sombong.

"Katakan hal itu tadi kepada Yale," kata Matthew. Sementara itu William dengan cepat membuktikan kepada para professor matematika bahwa ia adalah tepat seperti Matthew itu: jauh mendahului dalam bidangnya. William juga menjadi Ketua Kelompok Diskusi mahasiswa tingkat pertama. Ia juga membujuk Rektor Lowell, yang masih merupakan kakek-paman, memasukkan rencana asuransi pertama di universitas.

Para alumni Harvard akan mengambil asuransi hidup sebesar $1000 setiap orang dan akan menyebutkan universitas sebagai ahliwaris. William memperkirakan ongkos setiap peserta kurang dari satu dollar perminggu. Dan jika 40% dari alumni mengikuti asuransi itu, Harvard akan menerima pendapatan pasti sekitar $ 3 juta setahun dari tahun 1950 seterusnya. Rektor sangat terkesan. Dan mendukung sepenuhnya rencana tersebut. Dan setahun kemudian ia mengundang William untuk bergabung dalam dewan Panitia Pengumpul Dana Universitas. William menerimanya dengan bangga. Ia tidak menyadari bahwa penunjukan itu adalah untuk seumur hidup. Rektor Iowell member informasi kepada Nenek Kane bahwa ia telah menangkap salah seorang genius keuangan terbaik dalam generasi itu dengan cuma-cuma. Nenek Kane memberi kesaksian kepada sepupunya bahwa "tiap-tiap hal ada tujuannya sendiri. Dan ini akan mengajar William membaca cetak halus dalam laporan keuangan bank-"

Begitu tahun kedua dimulai tibalah saatnya memilih (atau dipilih) memasuki salah satu Klab Penamatan Studi yang mendominasi kehidupan sosial orang-orang kaya di Harvard. William di "bom" untuk memasuki Klab Porcellius: salah satu klab tertua, ter-kaya, dan paling eksklusif dan paling tidak mencolok. Di wisma Klab di Massachussetts Avenue yang terletak tak begitu serasi di atas kafetaria murah Hayes-Bickford, ia duduk di kursi empuk, mengamati masalah peta empat. warna, mendiskusikan dampak pengadilan Loeb-Leopold. Dan santai memandang jalanan di bawah melalui cermin yang terpasang tepat terarah sambil mendengar'kan radio besar yang baru saja terpasang.

Ketika liburan Natal tiba, William dapat diyakinkan untuk ikut ski bersama Matthew ke Vermont Dan menghabiskan seminggu terengah-engah naik bukit mengikuti temannya yang lebih gesit.

"Nah Matthew, apa faedahnya menghabiskan satu jam mendaki bukit lalu menuruninya lagi beberapa detik dengan risiko besar bagi tubuh dan hidupmu ?"

Matthew menggerutu. "Pasti mendorongku lebih baik daripada teori diagram, William. Mengapa tidak kau akui saja bahwa kamu tidak bagitu baik bila mendaki maupun turun?"
Mereka berdua cukup banyak belajar dalam tahun kedua untuk bisa lulus. Walau interpretasi mereka tentang "lulus" itu jauh berbeda. Selama dua bulan pertama dalam liburan musim panas mereka bekerja sebagai pembantu manajer muda di bank Charles Lester di New York. Ayah Matthew sudah lama menyerah dalam perang menjauhkan William. Ketika hari-hari terpanas di bulan Agustus tiba, mereka menghabiskan kebanyakan waktu mereka dengan meluncur di pedalaman New England dengan "Daisy". Mereka berlayar di Sungai Charles dengan gadis berbeda-beda sebanyak-banyaknya. Dan mereka menghadiri setiap pesta rumah bila mendapatkan undangan. Dalam waktu singkat mereka menjadi tokoh-tokoh yang diakui di Universitas. Dikenal oleh para cognoscenti (pengenal) sebagai Si Cendekia dan Si Manis. Di lingkungan masyarakat Boston sudah menjadi pengetahuan umum bahwa gadis yang menikah dengan William Kane atau Matthew Lester tak usah mencemaskan hari depan lagi. Tapi begitu ibu-ibu penuh harapan muncul dengan putri-putri mereka yang berparas ceria, maka Nenek Kane dan Nenek Cabot tanpa ampun memulangkan mereka.

Pada tanggal 18 April 1927,William merayakan hari ulang tahunnya yang ke-21 dengan menghadiri rapat terakhir para wali milik tanahnya. Alan Llyod dan Tony Simmons telah menyiapkan semua dokumen untuk ditandatangani.

"Nah, William sayang," kata Milly Preston seolah-olah suatu tanggungjawab besar sudah diangkat dari pundaknya.

"Aku yakin, engkau pasti bisa melakukan sesuatunya dengan baik seperti kami juga"'
ifunulp demikian, Nyonya Preston' Tapi bila aku suatu saat perlu tahu bagaimana kehilangan setengah juta dollar dalam waktu semalam, maka aku tahu aku harus menelepon siapa'"

Milly Preston merah padam' Tapi tak berusaha menjawabnya.

Perseroan itu kini memiliki $32 juta lebih' Dan William mempunyai rencana yang pasti untuk menangkarkan uang itu. Tapi ia juga menugaskan diri untuk memperoleh uang satu juta dollar sendiri sebelum meninggalkan Harvard' Itu bukan jumlah uang yang banyak bila dibandingkan dengan uang perseroanya. tapi harta kekayaan yang diwarisinya tidak begitu berarti baginya dibanding dengan neraca rekeningnya di bank Lester.

Pada musim panas itu, kedua nenek karena takut akan adanya luapan gadis-gadis ganas, mengirim William dan Matthew untuk keliling Eropa' Itu ternyata merupakan sukses besar bagi mereka berdua' Matthew mengatasi segala hambatan bahasa, menemukan gadis jelita di setiap ibukota besar di Eropa' Cinta itu begitu ia meyakinkan William, adalah komoditi internasional. Dari London, ke Berlin, Roma' kedua orang muda itu meninggalkan jejak beberapa hati yang patah dan para bankir yang cukup terkesan' Ketika mereka kembali ke Harvard di bulan September' mereka berdua siap menyerbu untuk tahun mereka yang terakhir.

Dalam musim dingin yang keras di tahun 1927, Nenek Kane meninggal. Berusia 85 tahun. Dan untuk pertama kalinya sejak kematian ibunya William menangis.

"Ayolah," kata Matthew setelah beberapa hari bertenggang rasa terhadap depresi William. ..Nenek telah hidup dengan bahagia. Dan ia lama menunggu untuk mengetahui apakah Tuhan itu anggota keluarga Cabot atau Lowell."

William tak menangkap kata-kata cerdik yang tak begitu ia hargai selama kehidupan neneknya. Dan ia menyelenggarakan suatu pemakaman yang pasti dihadiri dengan bangga oleh nenek. Walau nyonya besar tiba di makam dengan mobil jenazah packard warna hitam. ("Salah satu alat aneh yang keterlaluan. Haruslah melintasi mayatku.', Tapi nyatanya di bawah mayatnya!). Satu-satunya kritik nenek terhadap pemuliaan pemakamannya oleh William mestinya hanya mengenai alat transpor yang tidak sesuai ini. Kematiannya memacu William untuk bekerja dengan lebih terarah pada tujuannya selama tahun terakhir di Harvard itu. Ia berdharmabakti untuk meraih hadiah tertinggi di Universitas di bidang matematika demi kenangan akan neneknya. Nenek Cabot meninggal kira-kira 6 bulan sepeninggal nenek Kane. Kemungkinan besar, kata William, karena tidak ada siapa-siapa lagi yang diajaknya bicara.

Pada bulan Februari tahun 1928, William dikunjungi ketua Kelompok Diskusi. Akan diadakan diskusi dengan pakaian lengkap bulan berikutnya mengenai mosi *Sosialisme atau kapitalisme bagi hari depan Amerika'. Dan sudah barang tentu William diminta mewakili kapitalisme.

'Dan bagaimana bila aku mengatakan aku hanya mau bicara atas nama massa yang diinjak-injak?" Demikian pertanyaan William. Dan ketua itu terkejut. William sedikit sakit hati memikirkan bahwa pandangan inteleltualnya hanya diasumsikan saja oleh orang-orang luar sebab ia mewarisi nama terkenal dan bank yang subur.

“Nah, sebenarnya William, kami memperkirakan bahwa preferensimu adalah A-"
“Memang. Aku menerima undanganmu. Aku mengandaikan bahwa aku bebas memilih partnerku?"

“Tentu!"

"Baiklah. Nah, aku memilih Matthew Lester. Bolehkah aku tahu siapalawan kami?"

"Engkau tak boleh diberitahu hingga sehari sebelumnya, bila poster-poster telah dipasang di Halaman.”

Selama sebulan berikutnya Matthew dan William mengubah kritik selama sarapan mereka terhadap koran tentang kiri dan kanan, dan diskusi malam tentang "Makna hidup ", menjadi sarasehan strategi untuk yang kini oleh kampus sudah mulai disebut sebagai "Debat Besar". William memutuskan Matthew' harus yang memulai.

Ketika hari amat penting itu sudah dekat- menjadi jelaslah bahwa kebanyakan para mahasiswa yang sadar politik, para professor, bahkan beberapa orang terkemuka di Boston dan Cambridge akan datang menghadiri. Pada pagi hari sebelum kedua sahabat itu berangkat menuju halaman untuk mengetahui siapa lawan mereka :

"Leland Crosby dan Thaddeus Cohen. Apakah salah satu nama itu kaukenal William? Kiraku Crosby itu pasti salah seorang dari Crosby di Philadelphia."

"Sudah barang tentu. 'Maniak Merah dari Lapangan Rittenhouse' sebagaimana bibinya sendiri menjulukinya. Persis. Ia adalah seorang revolusioner paling meyakinkan di kampus. Ia siap tembak. Ia menghabiskan semua uangnya untuk kepentingan perkara-perkara radikal populer. Aku dapat mendengar pidato pembukaannya sekarang."

William membuat olok-olok atas nada Crosby yang menjengkelkan.

"Saya tahu dari tangan pertama ketamakan dan kekurangsadaran sosial kelas orang-orang Amerika yang beruang. " Jika tak ada seorang pun di antara para pendengar yang belum pernah mendengar itu hingga 50 kali, kiraku ia akan menjadi lawan yang tangguh.

"Dan Thaddeus Cohen?"

"Belum pernah dengar."

Sore hari hari berikutnya, mereka berdua karena tak mau mengakui terkena demam panggung, mereka berjalan melintasi salju dan diterpa angin dingin. Sementara mantol-mantol tebal menggelepar di belakang mereka. Mereka melewati pilar-pilar mengkilat Perpustakaan Widener menuju Balai Boylston. Seperti ayah William, putra sang donatir, telah tenggelam di atas kapal Titanic.

"Dengan cuaca semacam ini, paling sedikit bila kita menerima pukulan, tak akan ada banyak orang yang mau bicara. " kata Matthew penuh harapan. Tapi ketika mereka mengitari sisi perpustakaan, mereka dapat melihat rombongan sosok-sosok memadati, merentak-rentak kaki, mendaki tangga dan memenuhi balai. Di dalam balai mereka ditunjukkan kursi mereka di atas podium. William duduk tenang. Tapi matanya memperhatikan orang-orang yang ia kenal di antara hadirin. Rektor Lowell duduk santun di deretan tengah. Newbury St. John kuno, profesor botani. Sepasang bluestocking yang ia kenal dari pesta-pesta di Rumah Merah. Dan di kanannya sekelompokpria dan wanita muda yang nampak bebas. Beberapa di antaranya bahkan tak mengenakan dasi. Mereka ini berpaling dan mulai bertepuk tangan ketika juru bicara mereka, Crosby dan Cohen, berjalan menuju panggung.

Di antara kedua orang itu Crosbylah yang lebih mengesankan. Tinggi dan kurus. Hampir-hampir seperti karikatur. Ia berpakaian sembarangan. Atau sangat hati-hati. Dengan setelan lusuh. Tapi kemeja diseterika licin. Dan sebuah pipa menggelayut tak jelas terikat pada tubuh, pada bibir sebelah bawah. Thaddeus Cohen lebih pendek. Dan mengenakan kacamata lornyet. Bersetelan wol gelap yang sangat sempurna potongannya.

Keempat pembicara bersalaman hati-hati. Sementara persiapan-persiapan akhir dilaksanakan. Lonceng Gereja Memorial, yang hanya berjarak sekitar 30 meter, berdentang samar dan tak jelas tujuh kali.

"Tuan Leland Crosby muda" kata ketua.

Pidato Crosby menyebabkan William memberi selamat kepada diri sendiri. Ia telah mengantisipasi segala hal. Nada pidatonya melengking. Pokok-pokok pembicaraan terlalu ditekankan. Bahkan hampir-hampir histeris. Ia seakan-akan menderas litani radikalisme Amerika: Haymarket, Money Trust, Standard Oil, bahkan Cross of Gold. Menurut pendapat William, Crosby hanya memamerkan diri belaka. Tidak lebih. Walau ia menunda tepuk tangan yang diharapkan dari supporter sewaan di sebelah kanan William.

Ketika Crosby duduk kembali, ia jelas tidak memperoleh supporter baru. Dan bahkan nampaknya ia kehilangan beberapa supporter lama. Perbandingan dengan William dan Matthew, sama-sama kaya, sama-sama menonjol dalam aspek sosial, tapi karena egois menolak mati sahid demi kemajuan keadilan sosial, malah akan merusak saja.

Matthew berpidato bagus. Dan tepat sasaran. Ia menyejukkan pendengarnya. Ia mengejawantahkan toleransi liberal. William menyambut tangan sahabatnya dengan hangat, ketika Matthew kembali ke kursi dengan tepuk tangan riuh.

"Kini telah selesai. Tinggal teriakannya kiraku,, ia “berbisik.

Tapi Thaddeus Cohen mengejutkan hampir semua orang. Ia berperilaku menyenang kan. Malu-malu. Dan bergaya simpatik. Rujukan-rujukannya dan kutipannya katolik, terarah, dan memperjelas persoalan. Kepada para pendengar ia tak memberikan perasaan dengan sengaja dibuat terkesan. Ia memancarkan kesungguhan moral yang membuat segalanya Nampak tak begitu gagal bagi manusia rasional' Ia bersedia mengakui ekses-ekses pihaknya serta ketidak-konsekwenan para pemimpinnya. Tapi ia meninggalkan kesan bahwa walau berbahaya, tak ada alternatif lain kecuali sosialisme, bila nasib umat manusia hendak diperbaiki.

William bingung. Penyerangan logis seperti pisau bedah di panggung politik para lawannya akan sia-sia belaka menghadapi presentasi Cohen yang lembut dan persuasif. Namun mengalahkannya sebagai pembicara harapan dan kepercayaan akan semangat manusiawi juga tidak mungkin. William mula-mula memfokuskan diri membantah beberapa dakwaan Crosby. Kemudian menyerang argumen Cohen dengan deklarasi kepercayaannya sendiri akan kemampuan sistem Amerika untuk membuahkan hasil paling baik melalui persaingan intelektual maupun ekonomis. Ia merasa telah memainkan permainan defensive yang baik. Tapi tak lebih dari itu. Dan duduk dengan mengandaikan ia telah dikalahkan oleh Cohen.

Crosby merupakan pembicara penangkis dari lawan-lawannya. Ia mulai dengan ganas. Kedengarannya seolah-olah ia kini perlu memukul Cohen maupun William dan Matthew. Dan bertanya kepada para pendengar dapatkah mereka mengidentifikasi –musuh rakyat" di antara mereka sendiri malam itu. Ia memandang seputar ruangan beberapa detik lamanya. Sebab para pendengar menggeliat diam kebingungan.

Sedang para supporternya yang setia hanya memperhatikan sepatu mereka. Kemudian ia bersandar ke depan serta menggeledek: "Ia berdiri di muka saudara. Ia baru saja bicara di tengah-tengah saudara. Namanya William Lowell Kane." Sambil membuat gerakan satu tangan terhadap William. Tapi tanpa memandangnya. Ia menggeledek: "Banknya memiliki tambang emas di mana para buruh mati untuk memberikan sejuta dollar dividen ekstra setiap tahunnya kepada pemiliknya-pemiliknya. Banknya mendukung diktator Latin Amerika yang berdarah dan kelewat korup. Melalui banknya Perwakilan Rakyat Amerika disuap untuk mengganyang petani kecil. Banknya. . .”

Beberapa menit lamanya semprotan itu berlangsung terus. William duduk diam. Dingin. Kadang mencatat sebuah komentar di atas notes kuningnya. Beberapa pendengar mulai berteriak. ..Tidak,,. Para supporter Crosby berteriak kembali dengan setia. Para petugas mulai nampak senewen.

Waktu yang dijatahkan kepada Crosby sudah hampir habis. Ia mengacungkan kepalan dan berkata "Saudara-saudara, saya menyampaikan bahwa tidak lebih dari 200 yard dari , ruangan ini, kita menemukan jawaban atas bukti Amerika.Di sana terdapat perpustakan Widener, perpustakaan swasta terbesar di seluruh dunia. Para imigran cendekiawan yang miskin datang kemari bersama-sama dengan orang-orang Amerika yang terdidik paling baik intuk menambah pengetahuan dan kesejahteraan dunia. Sebab seorang playboy kaya bernasib malang 16 tahun yang lalu berlayar dalam kapal pesiar Titanic. Maka kusarankan saudara-saudara, hanya bila bangsa Amerika menyerahkan kepada setiap anggota kelas yang memerintah sebuah karcis masuk kabin pribadi dalam kapal Titanic kapitalisme, maka kekayaan bertimbun-timbun benua besar ini akan terbebas dan dibaktikan untuk mengabdi kebebasan, persamaan, dan kemajuan."

Ketika Matthew mendengar pidato Crosby, perasaannya berubah menjadi sorak-sorai karena ketololan ini. Maka kemenangan pasti di pihaknya. Karena malu atas kelakuan lawannya yang mengamuk dengan menyebut kapal Titanic. Ia tak dapat membayang kan bagaimana jawaban William atas provokasi sedemikian ini.

Ketika ketenangan sudah diusahakan kembali, ketua berjalan menuju mimbar, dan berkata "Tuan William Lowell Kane".

William menuju ke podium. Dan memandang para hadirin. Seluruh ruangan hening penuh harapan.

"Menurut hematku pandangan-pandangan yang diutarakan tuan Crosby tidak layak ditanggapi."

Ia duduk kembali. Sesaat hening. Kaget. Kemudian meledaklah tepuk tangan riuh.

Ketua kembali ke podium. Tapi nampak tak pasti apa yang akan dilakukannya. Suatu suara di belakangnya memecah ketegangan.

"Jika diizinkan, tuan ketua, saya ingin meminta Tuan Kane apa boleh mempergunakan waktu tangkisannya." Itu adalah Thaddeus Cohen.

William mengangguk setuju kepada ketua.

Cohen berjalan menuju mimbar. Dan menatap para hadirin penuh pesona. Lama sekali memang merupakan kebenaran" demikian ia memulai ,.bahwa hambatan terbesar sukses sosialisme demokratis di Amerika Serikat adalah ekstremisme dari beberapa sekutunya. Tak ada yang lebih jelas menunjukkan fakta yang menyedihkan ini daripada pidato kolegaku malam ini. Kecenderungan untuk merusak perjuangan progresif dengan menuntut kepunahan fisik para lawan mungkin bisa dipahami dalam diri seorang imigran yang tegar tertempa perjuangan. Seorang veteran dari peperangan luar negeri yang lebih ganas dari peperangan kita. Di Amerika hal ini merupakan penyakit dan dapat dimaafkan. Berbicara bagi diri saya sendiri, saya menyampaikan permohonan maaf yang setulus-tulusnya kepada Tuan Kane.',

Kali ini tepuk tangan meledak serentak. Sebenarnya seluruh hadirin berdiri sambil terus-menerus bertepuk tangan.

William melintas ke seberang untuk bersalaman dengan Thaddeus Cohen. Keduanya tidaklah terkejut bahwa William dan Matthew memenangkan pemilihan dengan selisih lebih dari 150 suara. Acara malam itu sudah usai. Para hadirin berbondong ke luar menuju jalan yang hening dan tertutup salju. Mereka berjalan di tengah jalanan. Sambil berbincang penuh semangat dengan suara lantang.

William mendesak supaya Thaddeus Cohen bergabung dengannya dan Matthew untuk minum_minum. Mereka berangkat bersanma menyeberangi Massachusetts Avenue. Hampir-hampir tak bisa melihat akan ke mana mereka pergi dalam salju yang tertiup angin itu. Dan mereka berhenti di luar pintu hitam besar hampir langsung berhadapan dengan Balai Boylston. William membukanya dengan kuncinya.

Dan ketiga orang itu memasuki ruang depan. Sebelum pintu tertutup Thaddeus Cohen berkata "Aku khawatir jangan-jangan aku tidak disukai di sini." William sesaat terkejut.

"Omong kosong. Engkau bersamaku." Matthew' melayangkan pandangan kepada sahabatnya supaya berhati-hati. Tapi ia melihat bahwa William sudah bulat niatnya. Mereka menaiki tangga.Memasuki ruangan besar yang dilengkapi perabotan nyaman tapi tidak luks. Disitu arda sekitar 12 orang muda sedang duduk di kursi bersandaran. Atau berdiri dalam kelompok dua atau tiga orang. Begitu William muncul di gang, mereka langsung memberi ucapan selamat.

"Kamu hebat, William. Itu cara yang tepat untuk menanggapi orang-orang semacam itu."

"Masuklah dalam kemenangan, Bolski pembunuh."

Thaddeus Cohen tetap di belakang. Masih setengah terlindungi jalan masuk, tapi William tidak melupakannya.

"Dan tuan-tuan, perkenankan saya memperkenalkan lawan saya Tuan Thaddeus Cohen."
Cohen melangkah maju agak ragu-ragu.

Semua suara berhenti. Beberapa kepala berpaling. Seolah-olah mereka memandang pohon elm di Halaman. Ranting-rantirignya bergayut penuh salju baru. Akhirnya ada geretak di lantai ketika seorang anak muda meninggalkan ruangan melalui pintu lain. Kemudian ada lain lagi yang pergi. Tak tergesa-gesa.

Tanpa persetujuan yang nampak. Seluruh kelompok itu keluar semua. Orang terakhir yang pergi menatap William lama-lama. Kemudian membalik. Dan menghilang.

Matthew memandang sahabat-sahabatnya penuh kecemasan. Thaddeus Cohen menjadi merah padam. Dan berdiri dengan kepala tertunduk. Bibir William terkatup rapat. Ketat. Marah seperti ketika Crosby menyebut-nyebut Titanic.

Matthew menyentuh lengan sahabatnya. ..Kita sebaiknya pergi saja."

Ketiganya bersusah-payah menuju kamar William. Dan diam-diam minum brendi biasa saja.

Ketika William bangun di pagi hari, ada amplop diselipkan di bawah pintu. Di dalamnya terdapat berita pendek dari ketua Klab Procellius yang member informasi kepadanya bahwa ia berharap "Jangan sampai insiden kemarin malam itu terulang lagi. Dan sebaiknya dilupakan saja."

Menjelang makan siang ketua itu menerima dua pucuk surat pengunduran diri.

Setelah berbulan-bulan lamanya belajar setiap hari dengan tekun, William dan Matthew sudah himpir siap (tak seorang pun merasa sudah siap) menghadapi ujian-ujian akhir mereka. Selama 6 hari mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan, mengisi halaman per halaman buku biru kecil. Kemudian mereka menunggu. Tidak sia-sia. Sebab mereka berdua sebagaimana yang diharapkan, diwisuda di Harvard bulan Juni 1928.

Seminggu setelah ujian, diumumkan bahwa William memenangkan Hadiah Rektor di bidang matematika. Ia sebenarya menginginkan seandainya ayahnya masih hidup ayah William itu masih dapat menyaksikan penyerahan hadiah itu pada hari wisuda'

Matthew berhasil lulus memperoleh nilai "C dengan persetujuan" yang melegakan dirinya. Dan tak mengherankan semua orang. Keduanya tak berminat melanjutkan studi. Keduanya telah memilih terjun ke dunia *nyata" secepat mungkin.

Rekening William di bank di New York mencapai satu juta dollar delapan hari sebelum ia meninggalkan Harvard. Pada saat itulah ia sangat rinci membicarakan dengan Matthew tentang rencana jangka panjang mengendalikan bank Lester dengan cara menggabungkannya dengan bank Kane & Cabot.

Matthew sangat antusias terhadap gagasan itu. Dan ia mengakui 'Itulah kiranya satu-satunya jalan memperbaiki diriku atas peninggalan ayahku bila ayahku meninggal."

Pada hari wisuda, Alan Llyod, kini berusia 60 tahun, datang ke Harvard. Setelah upacara wisuda, William mengajak tamunya minum teh di plaza' Alan memandang anak muda yang bertubuh tinggi besar itu penuh sayang.

'Nah, apa yang hendak kaulakukan kini engkau meninggalkan Harvard? "

'Aku akan bergabung dengan bank Charles Lester di New York. Aku ingin mendapat pengalaman dulu beberapa tahun sejak sekarang, sebelum aku memasuki Kane & Cabot."

"Tapi William, engkau telah hidup di bank Lester sejak berusia 12 tahun. Mengapa engkau tak langsung bergabung dengan kami sekarang juga? Kami akan menunjukmu langsung sebagai direktur."

Alan Llyod menunggu jawaban. Tapi tak juga keluar.

'Nah William, aku perlu menegaskan, bukan sifatmulah bisa dibuat bungkam oleh sesuatu."

'Tapi aku tak pernah membayangkan engkau akan mengajakku masuk dewan sebelum aku berusia 25 tahun. Ketika ayah . . ."

"Memang benar, ayahmu dipilih ketika berusia 25. Namun itu tidak merupakan halangan bagimu untuk bergabung dalam dewan sebelum itu, jika direktur-direktur lain mendukung gagasan tersebut. Dan aku tahu,mereka mendukungnya. Bagaimanapun juga, ada alasan pribadi mengapa aku menghendaki engkau menjadi direktur secepatnya. Bila aku pensiun dari bank 5 tahun lagi, kita pasti harus memilih presiden direktur yang tepat. Engkau akan berposisi lebih kuat untuk mempengaruhi keputusan itu, bila engkau telah bekerja di Kane & Cabot selama 5 tahun itu. Bukan sebagai pejabat besar di bank Lester. Nah nak, apa mau masuk dewan?"

Itu kali kedua hari itu saat William berharap ayahnya masih hidup.

"Aku seharusnya dengan senang menerimanya, Pak. " katanya.

Alan mendongak ke William. 'Itu tadi pertama kali engkau menyebutku dengan Pak, sejak kita main golf bersama. Aku harus menjagamu dengan sangat hati-hati."

William tersenyum.

“Baiklah. " kata Alan Llyod'Beres. Engkau akan jadi direktur muda bertugas di bidang investasi. Langsung di bawah Tony Simmons."

'Apakah aku dapat menunjuk sendiri pembantuku?" tanya William.

Alan Llyod memandangnya menyelidik. Tak salah lagi. Pasti Matthew Lester."

“Ya"

'Tidak. Aku tak mau ia berbuat di bank kita hal yang hendak kaulakukan di bank mereka. Thomas Cohen pasti telah mengajarmu hal itu."

William tak berkata apa-apa. Tapi ia tak pernah meremehkan Alan lagi.

Charles Lester tertawa ketika William menceritakan ulang pembicaraan itu kata demi kata.


"Sayang, mendengar kamu tak jadi bergabung dengan kami. Walaupun hanya sebagai mata-mata." katanya gemilang. “Tapi aku merasa pasti. suatu saat kamu akan berakhir di sini entah dalam kapasitas sebagai apa."